
Beberapa jam kemudian, setelah café tersebut tutup, Anisa, dan Hasan, mulai membicarakan maksud mereka. “Jadi gitu Mi, aku pengen ngebantu kamu sama temen-temenku, aku juga mau minta maaf sama Fina dan yang lainnya karena udah beberapa hari ini gak ngumpul bareng kalian.” ujar Anisa.
Sementara Hasan hanya terdiam dengan perasaan bercampur aduk, apalagi setelah ia tahu kalau Darwin juga bekerja di sana, tapi ia juga sudah memutuskan untuk mengikuti kemauan Anisa, maka ia memilih mengikuti apa saja yang hendak Anisa lakukan.
Mimi mengangguk. “Oh gitu, tapi…” Mimi pun melirik Darwin, sebenarnya Mimi merasa kurang nyaman dengan kehadiran Anisa, karena ia tahu hubungan Anisa dengan Darwin, ya dari dulu ada semacam persaingan ‘dingin’ di antara mereka untuk menarik perhatian Darwin, tetapi nampaknya selalu bersikap netral walaupun jelas hubungannya dengan Anisa lebih akrab, karena sudah berteman semenjak kecil.
Darwin terdiam mendengar penuturan Anisa tersebut, dan tanpa dia sadari semua teman-temannya memandang dirinya, hingga ia menjadi pusat perhatian dalam obrolan itu, semuanya nampak meminta Darwin yang mengambil keputusan.
Kemudian Darwin menatap Anisa dan Hasan secara bergatian, hatinya memang merasa panas melihat kedekatan Anisa dengan Hasan, apalagi ketika Anisa yang mengetahui kalau drinya sedang diperhatikan Darwin, semakin memanas-manasinya.
Darwin berusaha menekan perasaannya dan mendinginkan kepalanya, apapun maksud Anisa dengan Hasan terhadap dirinya, yang ia pikirkan hanyalah Anisa dan Hasan hanya ingin membantu Mimi yang sedang kesulitan, apalagi Anisa sudah meminta maaf pada semua temannya, maka ia pun mengambil keputusan yang cukup bijak, seulas senyum mengembang di wajahnya yang sudah nampak kelelahan itu.
“Ok, apa tidak sebaiknya kita berikan seragam café ini pada mereka sekarang?”
Fina dan yang lainnya melongo mendengar ucapan Darwin tersebut, “Maksudmu Win?” Tanya Mimi.
“Ya, besok kan hari sabtu, artikel tentang café kita akan dimuat di Koran-koran serta majalah yang ditulis oleh wartawan-wartawan kemarin yang kita undang, jadi mungkin kita bakalan akan sangat sibuk! Anisa bisa membantu kita di dapur, sedangkan Hasan karena kuliah di Manajemen, bisa membantu Bu Lily mengurus keungan café kita.” jawab Darwin sambil tersenyum.
Mereka semua terdiam dan saling berpandangan, mereka tidak mengira sikap Darwin yang sedemikian ramah dan bersahabat pada Anisa dengan Hasan tersebut, sementara Anisa tersenyum senang karena teman-temannya sudah memaafkannya dan mengizinkannya untuk membantu mereka, diapun bisa melaksanakan maksud hatinya pada Darwin. Di lain pihak, ada perasaan tidak enak dalam diri Hasan, ternyata Darwin yang ‘memimpin proyek’ tersebut.
“Ok kalo gitu, aku ambilin dulu seragamnya ya!” ucap Mimi, entah apa yang dia rasakan saat itu, karena kedatangan Anisa adalah untuk membantu dirinya, dan ia juga masih belum bisa menebak apa maksud Anisa yang mengajak Hasan untuk membantu mereka.
***
Keesokan harinya di sebuah gedung perkantoran di Jakarta, Bu Leny terlihat sedang sibuk meskipun hari ini adalah hari sabtu, pada saat ia sedang bekerja, ada yang mengetuk pintu ruangannya. “Masuk!” jawabnya, dan masuklah Pak Deny seorang karyawan kepercayaannnya.
“Ada apa Pak?” Tanya Bu Leny.
__ADS_1
Pak Deny lagsung menunjukan Koran hari itu. “Ini Bu, café yang pernah membuat karyawan kita keracunan dengan Cateringnya telah buka kembali, ini beritanya.”
Bu Leny kemudian membaca Koran itu, setelah membaca ia berkata. “Ah biarkan saja Pak!” Pak Denypun mengangguk.
“Baik Bu.” jawabnya.
Sementara itu di Margareth Café&Resto, Darwin cs tampak sibuk melayani para pembeli, seperti yang mereka perkirakan sebelumnya, hari ini café mereka akan sangat ramai karena artikel tentang café mereka di beberapa Koran dan majalah yang medapat tanggapan positif.
Hasan yang bertugas di bagian keuangan pun turun tangan membantu tugas di bagian dapur terutama membantu tugas Anisa, beberapa kali Darwin sempat melihat keakraban Anisa dan Hasan ditengah kesibukannya, bahkan ia sempat melihat ketika Anisa mengelap keringat Hasan yang bercucuran, namun Darwin tidak mau ambil pusing dengan itu karena ia sedang sangat sibuk.
Malam harinya, sekitar jam 9 malam, café tersebut mulai sepi, hanya tinggal beberapa pembeli yang masih menikmati santapan mereka. Darwin pun beristirahat sejenak melepas lelahnya, ia melihat Anisa pun sedangg minum sambil mengelap keringatnya, Darwin terdiam menatap Anisa, “Ah Anisa… ya sepertinya inilah yang terbaik yang harus aku lakukan!” tegasnya dalam hati, dia lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan berjalan mendekati Anisa.
Anisa yang sedang duduk sambil minum untuk melepas lelahnya itu tahu kalau Darwin sedang berjalan mendekatinya, namun ia pura-pura tidak tahu dan memasang wajah jutek. “Nah akhirnya dia ngedeketin Aku! Aku harus jual mahal sama jaim nih!” gumamnya.
“Nis!” sapa Darwin, Anisa pun menoleh dengan malas dan wajah jutek. “Apa Win?” jawabnya dengan tidak bersahabat.
“Iya, aku masih nunggu kamu ngembaliin lukisanku!” jawab Anisa ketus!
Mendengar jawaban Anisa yang ketus dan melihat wajahnya yang jutek itu, Darwin tertunduk lemas, “Ok Nis kalo gitu, tapi aku pengen ngobrol bentar sama kamu diluar.”
Hati Anisa tersentak mendengar itu, “Nah akhirnya dia mau ngomong juga!” serunya dalam hati, kemudian dia mengikuti Darwin ke halaman belakang café itu.
Sementara itu, seorang pria paruh baya dengan agak sempoyongan masuk ke café itu, Mimi yang menyambutnya karena yang lainnya sedang beristirahat setelah seharian ini sibuk melayani para tamu. “Selamat datang!” sambut Mimi.
Pria itu terdiam sejenak karena terpesona melihat Mimi, kemudian diapun duduk di meja yang telah dipilihnya, “Mau pesan apa?” Tanya Mimi sambil menyerarhakn buku menunya. Setelah melihat-lihat diapun menyebutkan pesanannya.
“Saya pesan Gurame saos Singapore dan Melon Juice!” ujarnya dengan suara agak melantur.
__ADS_1
“Baik Pak, tunggu sebentar!” jawab Mimi yang merasa ngeri melihat keadaan pria itu, kemudian Mimipun berlalu menuju ke dapur, Pria itu terus menatap Mimi dari belakang.
Di halaman belakang, Darwin menatap mata Anisa dengan sayu, kelakuan Darwin tersebut membuat Anisa bertanya-tanya, “Kok matanya sayu sih? Haduh Win, aku tuh mengaharapkan kamu minta maaf dan menyatakan perasaanmu ke aku dengan tegas, bukan dengan lesu kaya gitu!” ucapnya dalam hati.
“Nis, aku liat kamu dengan Hasan akrab banget! Selamat ya!” ujar Darwin dengan lesu.
“Apa?” Tanya Anisa, dia merasa kaget karena Darwin berkata seperti itu.
Darwin menundukan kepalanya, dia berusaha menekan perasaannya. “Nis, aku minta maaf soal lukisan-lukisanmu itu, tapi aku nggak bisa ngembaliin lukisan-lukisan itu karena terlanjur suka sama lukisan-lukisan itu, dan…”
Dengan jantung berdebar Anisa menunggu Darwin melanjutkan ucapannya, lalu. “Nis, jujur, aku sayang banget sama kamu! Sayang banget! Dan sebenernya aku ngeharepin kamu mau jadi pacarku sekaligus sahabatku!”
Jantung Anisa semakin berdegup kecang, wajah gadis hitam manis bermata bulat tajam tersebut memerah mendengar itu, namun raut wajahnya berubah ketika Darwin meneruskan ucapannya. “Tapi… Nis aku nggak berhak buat mencintaimu! Aku…”
“Hah…?! Tapi kenapa Win?!” seru Anisa, yang akhirnya kelepasan juga karena tidak dapat menahan gejolak dihatinya.
Darwin lalu menyodorkan kotak makanan yang diapakai oleh Anisa untuk mengirim masakannya beberapa hari yang lalu dengan wajah tertunduk. “Nis, makasih untuk makan siangnya, aku makan habis semuanya! Dan maafin semua kesalahanku!” setelah mengucapkan itu, Darwinpun berlalu meninggalkan Anisa.
“Kenapa Win? Kenapa?! Aku kan cuma tahan gengsi dikit! Aku bawa Hasan kesini tuh cuma buat manas-manasin kamu! Tapi kenapa kamu kok nyerah gitu aja?!” lirihnya dalam hati, air matanya mulai berlinang karena merasa sangat kecewa dengan sikap Darwin yang pesimis itu.
Didalam, Pria paruh baya, pengunjung tadi mengikuti Mimi yang masuk ke kantor, Mimi terkejut ketika melihat pria itu terus mengikutinya.
“Ah Bapak mau apa?!” pekiknya kaget.
Pria itu hanya tertawa sinis, matanya merah menandakan ia sedang mabuk. “Tenang Nona manis! Aku hanya mau ngobrol denganmu kok!”
“Ngobrol apa?!” pekik Mimi lagi yang ketakutan ketika melihat pria itu terus mendekatinya, tapi pria itu tidak menjawab, dengan serta merta dia memeluk Mimi dengan kasar dan ******* bibir Mimi dengan kasar pula! Mimi terus berontak dan berteriak. “Tolooooonggggg!!!!!!”
__ADS_1
Tapi pria itu tidak mempedulikan teriakan dan rontaan Mimi, malah tangannya berusaha untuk merobek baju Mimi! Pada saat kritis itulah tiba-tiba pintu kantor itu terbuka dan terderngarlah suara teriakan menggelegar! “Lepaskan dia!”