
Beberapa lama kemudian Heru dan Darwin sudah selesai memperbaiki selang radiator mobil Cynthia, Heru lalu mengelap tangannya, “Mbak coba stater mobilnya, apa temperaturnya masih panas.”
Cynthia pun segera menstater mobilnya, dan betul saja, temperatur mobilnya sudah turun dan tidak panas lagi. “Udah dingin lagi Mas!” jawabnya.
Cynthia segera keluar dari mobilnya dan menghampiri Heru. “Makasih ya Mas, oya kita belum kenalan, aku Cynthia Tan atau biasa dipanggil Cynthia, ini temenku namanya Devi Novianty.”
Heru pun mengulurkan tangannya. “Ya salam kenal juga, aku Heru Sutadi dan ini temenku Darwin Wijaya dari Biologi, oya kalo enggak salah kan kita sejurusan, Cuma beda kelas doang, aku dari kelas A.” dia tersenyum dalam hati karena sudah mengetahui itu ebab dia sudah lama mengincar Cynthia.
“Oh iya, aku dari kelas B.” jawab Cynthia. Sebenarnya Cynthia dan Devi sudah lama mendengar tentang Heru ini, karena prestasi akademiknya yang cemerlang, akan tetapi menurut kabar yang mereka dengar, Heru adalah orang yang aneh, dan mereka telahh menyaksikannya sendiri kemarin ketika Her uterus mengikuti status Cynthia di Twitter, akan tetapi, apa yang dilihatnya saat ini sungguh berbeda! Heru nampak seperti mahasiswa kebanyakan, malah dia terlihat keren dengan penampilannya saat ini yang berbeda dengan kemarin, inilah yang sedikit menggetarkan hati Cynthia.
Setelah mengucapkan terima kasih dan saling berpamitan, Cynthia pulang bersama Devi, ada sebuah kesan yang aneh pada diri Cynthia setelah pertemuannya dengan Heru tadi, begitupun dengan Devi, hingga ia membuka mulutnya. “Cyn enggak nyangka banget ya, kok si Heru bisa berubah drastis gitu dari kemaren ya? Dan kebetulan juga kita bisa kenalan sama dia dan Darwin dalam keadaan kaya tadi”.
“Iya Dev!” jawab Cynthia singkat.
Tapi kemudian Devi mengernyitkan keningnya. “Tapi aneh ya, kabar tentang dia kok beda ya? Ada apa sebenernya?”
Cynthia terdiam mendengar ucapan sahabatnya itu, Devi lalu meneruskan ucapannya. “Tapi walaupun gimanapun, kayanya punya maksud tertentu deh pas tadi nolongin kita Cyn, apa mungkin dia nolongin kita karena dia pengen kenalan ama lu, Setelah dia gagal menarik perhatian lu kemaren?”
Cynthia seakan tersentak oleh ucapan Devi yang barusan, dia jadi memikirkan perkataan Devi itu, “Apa bener kalau tujuan si Heru nolongin aku itu buat kenalan ma aku? Hmm…” gumamnya dalam hati.
***
__ADS_1
Malam itu Darwin terlihat gelisah di kamarnya, waktu sudah menunjukan pukul 02.00 dini hari, tapi dia belum mengantuk, ada pergolakan dalam hantinya ketika dia mengingat Anisa! “Waduh, kok gua jadi mikirin si Anisa terus ya?” gumamnya.
Kemudian dia membuka laptopnya dan melihat-lihat foto Anisa, lalu dia juga membuka album-album masa kecilnya, dia terus melihat-lihat foto-foto dirinya ketika sedang bersama Anisa. “Aneh, aku kan sering bertengkar dengan si Anisa, tapi kok makin lama makin kepikiran ya?” gumamnya. Darwin dekat dengan Anisa sedari kecil, ayah mereka adalah rekan bisnis sekaligus sahabat dekat sejak masa kuliah.
Dia lalu teringat pada masa kecilnya ketika ia sering bermain bersama Anisa sampai bertengkar, selain mereka sebaya (Darwin hanya lebih tua 2 bulan dari Anisa) dia mempunyai kesamaan sifat dengan Anisa, ya Darwin termasuk anak yang Bengal dan susah diatur! Begitupun Anisa yang dulunya tomboy, yang sama-sama Bengal, hingga setiap bertemu dan bermain bersama, pasti saja terlibat keributan, namun ketika mereka lama tidak bertemu, mereka saling merindukan, dan tak jarang saling bertegur sapa lewat telefon, itu terjadi sejak mereka kecil sampai sekarang, dan yang sangat kebetulan, dia dan Anisa selalu satu sekolah, bahkan satu kampus dan sejurusan pada saat mereka kuliah.
Darwin tersenyum sendiri lalu tertawa. “Hehehe… Gila tuh cewek! Kayanya dia udah berhasil ngeracunin otak gue!” di pelupuk matanya terbayang jelas ketika Anisa dan dirinya sedang berlari-lari di sebuah taman bermain, kejar-kejaran, main kucing-kucingan, lalu Anisa jatuh dan menangis, Darwin kecil lalu berusaha menghiburnya, setelah Anisa kecil agak tenang Darwin lalu menggedongnya pulang ke rumah Anisa.
Masih segar dalam ingatannya ketika dia dibawa orang tuanya berkunjung ke rumah Anisa, dia melihat Anisa sedang berada di dalam dus mainan bonekanya, ketika ditanya. “Kamu lagi ngapain Nis?”
Anisa menjawab sambil cengengesan. “Iseng aja Win!”, ia juga geli tertawa sendiri ketika mengingat logat bicara Anisa yang sangat medok Jawa tapi suka berteriak nyaring dan berbicara nada keras sehingga terkesan sangat lucu bagi Darwin, pria berkacamata itu tertawa-tawa sendiri sambil menepuk keningnya ketika teringat Anisa memarahinya dengan logat medoknya itu.
***
Sabtu pagi yang cerah itu, Darwin mengendarai mobilnya menuju ke rumah Anisa, setelah sampai didepan rumah Anisa dia jadi kebingungan sendiri. “Halah! Gue emang pengen banget ketemu Anisa, tapi gue mau ngomong apa ya sama dia?”
“Aneh, kok gue enggak bisa kaya dulu lagi ya sama si Anisa? Apa gara-gara gue jadi keseringan mikirin dia terus jadi jatuh cinta beneran sama dia?” gumamnya sendiri.
Pada saat itu dia melihat Anisa keluar dari rumahnya dengan membawa bungkusan, dia lalu masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan rumahnya, Darwin yang sedang mengamatinya lalu mengikutinya dari belakang. “Hmm… mau ke mana dia?”
Darwin terus mengikuti mobil Anisa dari agak jauh, karena dia takut ketahuan Anisa sebab Anisa hafal betul mobilnya Darwin. Setelah jalan cukup jauh, Darwin melihat Anisa membelokan mobilnya dan parker di suatu galeri seni, Anisa lalu keluar dan membawa bungkusan yang dibawanya itu, “Hmm… mau ngapain dia ke galeri itu?” Tanya Darwin dalam hati, iapun memarkirkan mobilnya di café sebelah galeri itu.
Darwin lalu mengendap-endap masuk ke galeri itu, di bagian galeri lukisan ia melihat Anisa sedang berbincang dengan seseorang, Anisa lalu membuka bungkusannya, dan ternyata isi bungkusan itu adalah lukisan, dari perbincangannya dengan pria itu, Darwin dapat mengetahui kalau Anisa berniat menjual lukisan itu di galeri ini.
Setelah Anisa pergi meninggalkan galeri itu, Darwin lalu melihat-lihat lukisan itu. Ternyata lukisan Anisa cukup indah dan menarik perhatian untuk ukuran seorang pemula, Darwin yang sedang memperhatikan lukisan itu lalu tersenyum sendiri, dia teringat kalau Ansa memang suka melukis, dia hoby melukis sejak kecil, pernah suatu ketika Darwin kecil mengganggu Anisa kecil yang sedang asyik melukis, Anisa lalu marah menangis, dia lalu mencorat-coret muka Darwin dengan catnya, “Wah kejadian itu udah 10 tahun yang lalu, tapi rasanya kaya baru kemaren hehehe…” gumamnya.
__ADS_1
Pada saat itu datanglah seorang pria setengah baya mendekatinya “Tertarik sama lukisan ini Dek?”
Darwin menoleh pada pria itu. “Eh iya Pak”.
“Lukisan ini baru saja dipajang disini, pelukisnya baru saja pergi.” ujar pria itu.
Darwin mengangguk-ngangguk. “Oh…”, dia lalu melihat bandrol harganya, cukup murah harga lukisan Anisa tersebut kalau dibandingkan dengan lukisan-lukisan lain karya dari para seniman lukis yang sudah ternama.
Pria itu lalu mengulurkan tangannya. “Perkenalkan, nama saya Luqman, saya pemilik Galeri seni ini.”
Darwin pun menyambut uluran tangan itu “Saya Darwin Pak.”
“Apakah kamu punya ketertarikan pada lukisan Dek?” Tanya Pak Luqman.
“Oh tidak terlalu Pak, saya hanya sedang mencari beberapa lukisan untuk menghiasi dinding rumah saya.” jawab Darwin.
Pak Luqman memperhatikan Darwin yang sedari tadi hanya memperhatikan lukisan Anisa itu sampai tersenyum-senyum sendiri, dia malah mengabaikan lukisan-lukisan lain karya para seniman lukisan ternama, maka rasa penasarannya pun terbit, “Kamu tertarik pada lukisan ini? Apa tidak tertarik dengan lukisan lain?”
“Ya Pak, saya sangat tertaik pada lukisan ini karena saya dapat merasakan perasaan yang kuat dari si pelukis pada lukisannya ini.” jawab Darwin sambil terus memperhatikan lukisan burung merak karya Anisa itu.
Pak Luqman mengernyitkan keningnya mendengar jawaban dari Darwin tersebut, sebab sebagai seorang pemilik galeri lukisan, ia tahu persis kalau lukisan yang sedang ditaksir oleh pemuda dihadapannya adalah lukisan seorang pemula alias amatir, goresan kuasnya masih terlihat kasar, namun sebagai seorang pedagang, ia merasa senang saja kalau ada yang akan membeli lukisan dagangannya tersebut.
Akhirnya Darwin pun memutuskan untuk membeli lukisan ini, setelah mencapai kesepakatan harga, lukisan Anisa yang ‘Fresh From The Oven’ itupun diboyong Darwin ke mobilnya. Setelah pulang, Darwin lalu memasang lukisan Anisa tersebut di ruang baca dekat kamarnya, sebersit kekaguman pada Anisa terlintas dalam benaknya. “Ternyata kamu emang cewek hebat Nis, lukisanmu indah sekali! Aku jadi, Ah…” Darwin tidak meneruskan gumaman dalam hatinya itu, namun benaknya dipenuhi oleh bayangan-bayangan Anisa dan kenang-kenangannya yang telah ia lalui bersama Anisa.
__ADS_1