Dance With Life

Dance With Life
Episode 32 - Ambil Keputusan! (1)


__ADS_3

Malamnya, Darwin melemparkan tubuhnya ke kasurnya, seluruh tubuhnya terasa lemas tak bertenaga, hatinya merasa sakit melihat ‘kemesraan’ Anisa dengan Hasan! Hatinya menggalau hebat! “Ohhh! Rasanya aku tak sanggup lagi melihat kedekatan Anisa dengan Hasan! Hatiku sangat sakit setiap melihat mereka berdua!” desahnya dalam hati.


“Anisa, aku… aku merasa kesepian tanpamu Nis! Sejak kecil kamu selalu menemaniku dalam suka dan duka! Kamu selalu bisa membesarkan hatiku ketika aku sedang jatuh! Kamulah satu-satunya gadis yang bisa membuka pintu hatiku! Anisa! Kamu satu-satunya cewek yang aku suka! Aku cinta sama kamu Nis!” teriaknya dalam hati yang keluar dari lubuk hatinya yang terdalam!


Ya Darwin merasa kesepian, selama ini biasanya Anisa selalu berada disisinya, namun sekarang dia harus melihat Anisa yang berada disisi pria lain!


Di lain tempat, Anisa sedang berbaring di atas tempat tidurnya, malam itu dia tidak bisa memejamkan matanya, pikirannya terus melayang pada Darwin “Win, sampe kapan sih aku harus berbuat kaya gini? Aku juga nggak suka tahu kalau harus terus deketan sama Hasan buat manas-manasin kamu!” desahnya dalam hati.


Air matanya mulai mengalir ketika mengingat kejadian malam itu, tatkala melihat Darwin dan Mimi saling berpelukan. “Win, kenapa kamu nyakitin hatiku Win? Kenapa kamu malah milih Mimi? Win aku cinta banget sama kamu! Aku tuh nunggu kamu menyatakan cintamu padaku! Tapi dua kali kamu menyatakan perasaanmu padaku, kamu selalu bikin ulah yang bikin aku sakit hati! Aku jadi bingung tahu harus ngapain?!”


Keesoka harinya di sebuah gedung perkantoran, Bu Leny sedang sibuk bekerja, tiba-tiba ada yang mengetuk pintunya. “Masuk!” jawabnya.


Masuklah Pak Deny dengan tergopoh-gopoh. “Maaf mengganggu Bu Presdir, tapi ada kabar penting!”


“Kabar penting apa Pak?” Tanya Bu Leny.


Pak Deny segera menyodorkan sebuah surat kabar. “Ini Bu, di surat kabar sore ini, Pak Jelal, pemilik PT. Jaya Utama mengajukan tuntutan kepada pengurus café Margareth Café&Resto, dan dia juga mengajukan tuntutan pada pekerja café tersebut yang bernama Darwin Wijaya dan Margareth Mimiina karena telah melakukan penganiayaan terhadap dirinya! Pihak Pak Jelal melalui kuasa hukumnya telah mengajukan somasi 3x24 jam untuk meminta permintaan maaf dan pertanggung jawaban dari pihak Margareth Café&Resto!”


Bu Leny terkejut bukan main mendengar itu. “Darwin? Darwin Wijaya katamu?!” Pak Deny mengangguk, “Aneh! Apa Darwin bekerja di café itu? Apa yang dilakukan oleh Darwin? Darwin kan anak yang baik dan pendiam, kenapa sekarang tiba-tiba dia bisa jadi kena masalah itu? Sepertinya Lily harus menjelaskan semuanya padaku!” gumamnya dalam hati.


“Pak Deny, tolong hubungi pengacara kita Pak Syarif Lubis! Sekarang juga kita ke café itu!” perintahnya pada Pak Deny.


“Baik Bu” jawab Pak Deny, merekapun segera menuju ke café Mimi.


Sore itu keadaan di Margareth Café&Resto agak lenggang setelah tadi siang dipenuhi para pengunjung, sehingga para pekerjanya bisa agak santai dan beistirahat sejenak, Darwin pun terlihat sedang duduk di dapur untuk melepas lelahnya, sesekali dia melirik pada Anisa yang sedang ayik mengobrol dengan Hasan, kedekatan mereka berdua menambah lesu dirinya.


Pada saat Darwin sedang termenung seperti itu, tiba-tiba Mutia datang dengan tergopoh-gopoh. “Win gawat Win!” teriaknya.


“Gawat kenapa? Ada apa Mut?” Tanya Darwin.

__ADS_1


“Win gawat Win! Orang yang lu pukul waktu itu dateng mau nuntut kita! Dia minta lu sama Mimi buat meminta maaf padanya!” jawab Mutia dengan panik.


“Apa?!” Darwin kaget bukan main mendengar itu, dia langsung melangkah keluar untuk menemui orang itu, Mutia pun segera menyusulnya, Anisa tercengang mendengar semua itu, dia merasa khawatir akan nasib Darwin.


“Haduh! Gimana nih?!” kemudian dia segera melngkah keluar menyusul Darwin, Hasan merasa tidak enak melihat ekspresi wajah Anisa yang tampak cemas tersebut, maka ia pun segera ikut melngkah keluar.


Di salah satu meja, Jelal sang Bos PT. Jaya Utama beserta pengacaranya dan beberapa anak buahnya duduk sambil tersenyum sinis, dihadapannya nampak Darwin, Mimi, dan Bu Lily yang berwajah cemas.


“Kalian tentu sudah tahu maksud kedatanganku bukan? Seperti yang tertulis di berita Koran sore ini, aku akan menuntut kalian!” ucap Jelal dengan sinis.


Semua yang mendengarnya terdiam, Mimi tampak menundukan kepalanya, air matanya tak terbendung lagi, Bu Lily nampak kebingungan, hanya Darwin yang berani menatap mata Jelal dengan tajam, tanda ia tidak gentar sedikitpun dengan ancaman Jelal!


“Tapi kalian tenang saja, aku baru mensomasi kalian, aku bisa mencabut tuntutanku kalau kalian bersedia meminta maaf secara tertulis di beberapa media cetak, dan juga kalau Mimi dan Darwin bersedia meminta maaf dengan cara khusus padaku! Bagaimana?” ucap Jelal dengan congkak!


Mendengar itu Darwin tak bergeming, mulutnya tetap membisu, matanya terus menatap Jelal, Mimi terus menitikan air matanya dengan tertunduk, sementara Bu Lily terlihat kebingungan karena sedang memikirkan jalan keluar dari masalah ini.


Jelal tersenyum lebar. “Bagus! Lalu bagaimana dengan Mimi dan Darwin?”


Mendengar itu Darwin melirik pada Mimi yang sedang menangis, lalu melirik pada Bu Lily. “Tapi Tante! Kita tidak bersalah! Dia yang mencoba memperkosa Mimi! Kita punya bukti rekaman CCTVnya! Kenapa kita yang harus meminta maaf pada orang ini?!”


Bu Lily menatap Darwin, kemuidan dia menatap Mimi yang sedang menagis. “Nak Darwin, tolong pahamilah posisi kami yang sulit ini, Tante mohon agar kamu dan Mimi mau meminta maaf pada Pak Jelal!”


Darwin terdiam mendengar ucapan Bu Lily tersebut, dia memang memahami situasi yang sedang dihadapi oleh Bu Lily, dia merasa ini semua adalah kesalahannya yang tidak bisa mengontrol nafsunya sehingga ia memukul Jelal saat itu.


Akan tetapi ia merasa tidak rela kalau dirinya harus meminta maaf pada Jelal dan melihat Mimi meminta maaf padanya karena mereka tidak bersalah!


Namun dia juga menyadari kalau saat ini dia tidak bisa melakukan apa-apa, dia merasa menjadi orang tidak benar-benar tidak berguna saat itu.


“Pak, apa yang harus Mimi dan Darwin lakukan?” Tanya Bu Lily pada Jelal.

__ADS_1


Jelal tersenyum sinis, dia lalu mengangkat kakinya “Mereka berdua harus berlutut di kakiku, dan memohon pemerian maaf dariku!”


“Apa?! Mi kamu tidak harus melakukan ini!” ucap Darwin pada Mimi. Akan tetapi dia melihat Mimi terus terdiam, Bu Lily juga terdiam, dan tiba-tiba Mimi berjalan mendekat pada Jelal dan hendak membungkukan badannya!


Darwin tersentak melihat Mimi yang hendak melakukan permintaan Jelal yang keterlaluan itu, ketika Mimi mulai membungkukan badannya, Darwin langsung menarik tangannya dan menggusurnya keluar. “Mimi! Aku bilang kamu nggak usah melakukan itu!” bentak Darwin.


“Tapi Win…” lirih Mimi sambil menangis, Jelal marah bukan main mendapati sikap Darwin tersebut “Kurang Ajar! Kau benar-benar mau mencari masalah denganku hah?!”


Darwin tidak mempedulikan ancaman Jelal tersebut, dia terus menarik tangan Mimi dan melangkah keluar, namun belum sampai dia ke pintu, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya dan beberapa orang lainnya masuk ke café itu, Darwin terkejut bukan main melihat wanita itu. “Mamah!” desisnya.


Bu Leny terdiam sejenak memandang Darwin yang menggunakan pakaian koki dan celemek yang belepotan itu, kemudian tanpa berkata apa-apa dia melangkah melewati Darwin dan Mimi menghampiri Jelal.


Jelal terkejut melihat kedatangan Bu Leny, dia langsung berdiri dan membungkukan badannya. “Ah rupanya ada Bu Presdir PT. Trackindo! Senang kita bisa berjumpa disini…”


Bu Leny memandang Pak Jelal dengan tajam dan dingin, yang membuat Jelal merasa tidak enak dan grogi. “Ya, saya juga senang menemui anda disini, karena saya sengaja kesini untuk menemui anda!”


Pak Jelal semakin tidak enak mendengar ucapan Bu Leny yang tegas itu. “Menemui saya? Tapi kenapa kita bertemu disini? Kita tentu bisa membuat janji untuk bertemu di kantor saya atau di tempat yang lebih nyaman.”


“Sengaja saya menemui anda disini, karena saya tahu anda pasti akan kemari, saya minta anda untuk melepas semua tuntutanmu pada café ini!” jawab Bu Leny dengan tegas.


Jelal terkejut mendengar itu. “Apa? Ini urusan pribadi saya Bu! Kenapa saya harus mencabut tuntutan saya pada café ini?!”


Bu Leny tersenyum sinis sambil menatap Jelal. “Karena orang yang bernama Darwin yang kau tuntut itu adalah Anakku! Dan pemilik café ini adalah sahabatku!”


Bagaikan disengat petir di tengah hari bolong, Jelal sangat terkejut mendegar itu. “Apa?! Jadi Darwin itu adalah anakmu?”


Bu Leny mengangguk dengan angker dan berwibawa. “Betul! Darwin Wijaya adalah anakku! Dan saya minta supaya anda membatalkan tuntutan anda dan segera mengumumkan permintaan maaf anda di surat kabar karena sudah mencemarkan nama baik café ini! Kalau tidak kita akan berhdapan di pengadilan, dan pemeblian saham serta obligasi perusahaan anda untuk menyelamatkan perusahaan anda akan kami batalkan!”


Pak Jelal yang tadinya banyak gaya itu kini terdiam, dia nampak shock mendengar ucapan Bu Leny tersebut, kini dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena seperti yang disebutkan oleh Bu Leny, perusahaannya sedang bermasalah sehingga harus menjual saham dan obligasi pada perusahaan Bu Leny, selain itu dia juga merasa enggan jika harus berhadapan dengan Bu Leny di meja hijau.

__ADS_1


__ADS_2