Dance With Life

Dance With Life
Episode 37 - Keputusan Hati (1)


__ADS_3

Dokter Yudi tersenyum melihat Darwin yang masih tampak pucat itu tersenyum, tapi kemudian wajahnya kembali muram. “Win, kemampuan otakmu sudah tidak seperti orang normal lainnya, perlahan tapi pasti, fungsi otakmu sudah rusak! Maafkan, aku tak sanggup untuk menolongmu! Hanya kuasa Tuhan dengan Kasih dan KeajaibanNYAlah yang dapat menolongmu!” lirihnya dalam hati.


Lalu Dokter Yudi pun mempersilahkan teman-teman Darwin untuk masuk, Anisa, Mimi, Fina, Mutia, Togar dan Donypun masuk, ketika masuk, Anisa langsung berlari dan memeluk Darwin! “Win kamu sudah sadar!”


Darwin tersenyum bahagia mendapatkan pelukan dari Anisa tersebut. “Alhamdulillah Nis!” jawabnya.


Anisa terus memeluk Darwin sambil menitikan air matanya “Alhamdullilah Darwin sudah sadar! Ya Tuhan semoga mimpiku itu tidak pertanda apa-apa!” gumam Anisa dalam hati, dia tidak dapat mengusir perasaan khawatir dan firasat buruk dari hatinya itu.


Darwin tersenyum bahagia mendapati pelukan Anisa yang mesra itu, bagaikan mentari di pagi hari yang cerah dan hangat, menyibak kegelapan malam, setelah selama ini hubungannya dengan Anisa renggang. “Makasih ya Nis, oya aku minta maaf karena tidak memenuhi janjiku buat ketemu kamu kemaren, maafin aku ya Nis!”


ucapnya dengan lembut ketelinga Anisa.


“Bodoh! Kamu nggak usah ngomongin itu! Yang penting kamu udah sadar dan segera sehat kembali!” jawab Anisa yang pelukannya semakin erat.


“Oya, sebenernya kemarin aku punya hadiah buat kamu Nis, Bunga Mawar yang berwarna putih hasil risetnya Pak Henry, bunganya bagus banget sama harum banget! Tapi sayang, kayanya sekarang udah layu karena kusimpan di dalam mobilku…” ucap Darwin.


“Enggak apa-apa Win, yang penting kamu segera sehat dan selalu ada disisiku!” ucap Anisa yang benar-benar khawatir dengan firasat buruk tentang Darwin yang ia dapatkan dari mimpinya kemarin.


Semua teman-teman mereka yang melihat mereka tersenyum termasuk Mimi, Darwin merasa sedikit tidak enak pada Mimi. “Mimi, maafin aku ya, aku terpaksa bolos kerja.”


“Enggak apa-apa kok Win, Dokter kan bilang kamu harus banyak istirahat! Oya kebetulan Om ku yang pernah sekolah Chef di Perancis udah pulang, jadi café kami bakalan menggunakan jasa Omku buat jadi Chefnya.” jawab Mimi.


“Tapi itu artinya bukan memecatku secara halus kan?” tanya Darwin.


“Ya bukanlah Win, kapan aja kalo kamu mau bantu kami masak di café, kamu dateng aja! Kan berkat kamu sekarang café kami rame lagi!” jawab Mimi.


“Eh kok jadi ngomongin masalah kerjaan? Darwinnya kan harus istirahat, biar Anisa aja yang nemenin Darwin! Kita nunggu diluar ya.” ucap Fina sambil merangkul Mimi, kemudian dia mengedipkan matanya pada Anisa. Merekapun semua keluar dari ruangan itu, hanya Anisa yang menemani Darwin.


Darwin tersenyum jahil pada Anisa. “Ah Fina tau aja kalo aku lagi pengen ngobrol berdua ama kamu Nis!”

__ADS_1


Anisa jadi merasa lucu juga melihat Darwin yang masih terkulai lemas tersenyum jahil seperti itu. “Ih apaan sih? Kamu kok malah mau ngobrol sih? Kamu kan harus istirahat Win!”


Darwin lalu memegang tangan Anisa dan menatap tajam pada mata Anisa, sehingga membuat Anisa terdiam karena tergetar hatinya oleh tatapan Darwin tersebut, wajahnya memerah. “Karena aku seneng banget, akhirnya cewek yang aku suka sejak dari kecil mau menemaniku lagi seperti dulu!”


Anisa tersipu malu mendengarnya, namun sebelum ia sempat menjawab, masuklah seorang suster membawakan makanan dan obat untuk Darwin. Setelah suster itu pergi, Anisa menyuruh Darwin untuk makan sebab ia melihat Darwin malas untuk makan. “Ayo dong Win, makan, biar kamu bisa minum obat nanti!”


“Enggak mau! Makanan di rumah sakit pasti nggak enak!” rengek Darwin.


“Makan dong, udah itu minum obat! Kan biar kamunya cepet sehat lagi!” bujuk Anisa.


“Ok, aku mau makan, asal kamu suapin, terus kalo aku udah sehat kamu janji mau nonton ke bioskop berdua sama aku!” jawa Darwin dengan manja.


“Huh! Dasar cowok manja! Ok deh, aku suapin kamu dan ntar kalo kamu udah sehat kita nonton ke bioskop berdua aja!” jawab Anisa dengan kesal karena kemanjaan Darwin itu, dia lalu mulai menyuapi Darwin makan suap demi suap, walaupun Darwin merasa makanan itu tidak enak, namun karena ia disuapi oleh gadis yang sangat ia cintai makanan itu menjadi terasa sangat enak!


“Makasih banget Nis, kamu udah mau nyuapin aku! Kapan lagi coba aku disuapin sama kamu cewek yang sangat aku cintai?!“ gumam Darwin dalam hati.


Fina yang mengintip mereka dari jendela, merasa gembira melihat kemesraan Darwin dengan Anisa tersebut. “Wah Anisa nyuapin Darwin makan! Uh So Sweet! Romantis juga si Anisa!”


“Bah ngapain kau ngintip-ngintip gitu? Dasar usil kau!” tegur Togar pada Fina yang memang usil dan selalu ingin tahu urusan orang lain, walaupun ia juga ikut mengintip Darwin dan Anisa.


“Eh gue cuma liat situasi aja! Inget-inget pesan Mamah lah Gar! Menurut Oma Titiek Puspa, apabil seorang laki-laki dan permpuan hanya berdua, itu bisa berbahaya!” bela Fina.


“Inang! Lagi pula yang menyuruh kita keluar dan membiarkan mereka berdua kan kau!” jawab Togar.


Mutia segera melerai mereka berdua. “Alah! Udah-udah! Gitu aja kok jadi ribut! Lagian ada benernya juga si Fina ini Gar, kita kan jadi bisa nagih makan-makan sama mereka berdua buat ngerayain jadiaannya mereka!”


“Makan?! Itu baru gua setuju!” sahut Dony yang berbadan subur itu.


“Nah, kalo begitu setuju jugalah aku ini!” ucap Togar pada akhirnya, merekapun lalu pulang kerumahnya masing-masing setelah pamit kepada Darwin.

__ADS_1


Mimi yang melihat kemesraan Darwin dengan Anisa itu hanya tersenyum. “Ya Tuhan, aku sudah cukup bahagia melihat Darwin bisa tersenyum senang seperti ini! Bagiku cukuplah Darwin bisa selalu bahagia dengan apa yang dia inginkan, semoga kamu berbahagia selalu ya Win!” ucapnya dalam hati.


***


Malamnya, setelah semua teman-temannya pulang, Darwin menyuruh Anisa untuk pulang juga karena kemarin ia sudah menunggui dirinya semalaman, awalnya Anisa menolak tapi setelah dibujuk oleh Darwin, akhirnya Anisa mau pulang juga, sementara Bu Leny juga tidak bisa menunggui Darwin karena sedang sangat sibuk.


Setelah Anisa pulang, Darwin termenung seorang diri di kamarnya. “Ya Tuhan, aku tahu dengan keadaanku yang semakin kritis ini! Dan aku juga segan untuk dioperasi karena kemungkinan untuk berhasilnya sangat tipis, bisa-bisa dioperasi malah memperpendek umurku! Kalau perkiraan Dokter Yudi benar, waktuku hanya tinggal 4 bulan lebih 15 hari lagi! Ahh….” Desahnya dalam hati.


Kemudian tiba-tiba ia teringat pada Anisa, hatinya merasa sangat sangat rindu pada Anisa padahal baru saja Anisa pulang kerumahnya, ya Anisa belum mau memberikan jawaban atas cintanya, Anisa baru mau memberikan jawabannya setelah Darwin keluar dari rumah sakit. “Anisa! Hmm… buat apa aku berlama-lama di rumah sakit ini? Toh diam di rumah sakit ini juga nggak akan merubah nasibku! Ah sebiaknya aku keluar saja dari rumah sakit ini dan menghabiskan waktuku yang tersisa dengan orang-orang yang kucintai terutama Anisa, sambil menyelesaikan skripsiku!” ucapnya dalam hati.


Ia lalu mengganti pakaian pasien rumah sakitnya dengan pakaian sendiri, kemudian keluar dari kamar itu dengan mengendap-ngendap, kemudian langsung kabur dari rumah sakit itu!


Sementara itu, Dokter Yudi sedang termenung diruangannya, di telinganya masih terngiang-ngiang penolakan Darwin pada tawarannya untuk melakukan operasi, Darwin khawatir dengan kemungkinan keberhasilan operasi yang sangat kecil itu hanya memperpendek umurnya.


“Ah alasanmu memang sangat masuk akal Win! Kemungkinan keberhasilan operasi itu hanya sekitar 5 persen saja, sampai aku terpaksa berbohong kepada semua orang tentang keadaanmu tapi… Apa yang harus aku lakukan? Aku sangat menyanyangimu, kamu sudah kuanggap seperti anakku sendiri! Aku ingin kau terus melanjutkan hidupmu!”


Pada saat itu, ia dikejutkan oleh seorang suster yang menghampirinya “Dok! Celaka! Pasien Dokter yang bernama Darwin Wijaya itu kabur!”


“Apa?” Dokter Yudi bukan main terkejutnya, ia segera menuju ke kamar tempat Darwin dirawat tadi, ketika sampai, betul saja, kamar itu sudah kosong! Semua barang-barang Darwin sudah tidak ada disitu.


“Apa yang harus kita lakukan Dok?” tanya Suster itu.


Dokter Yudi berpikir sejenak, kemudian ia mengangguk-ngangguk. “Sudah biarkan saja, semua biayanya biar aku yang tanggung!” suster itu sangat heran mendengar jawaban Dokter Yudi tersebut, tapi akhirnya ia mengangguk juga.


Setelah selsai mandi dan makan, Anisa langsung membaringkan dirinya diatas kasurnya, pikiran dan hatinya hanya dipenuhi oleh Darwin seorang. “Alhamdulliah ya Allah, Darwin hanya kecapaian dan kena Anemia, dia cuma butuh istirahat yang cukup sama makan makanan yang bergizi tinggi!” gumamnya.


Ia lalu teringat ketika ia menyuapi Darwin tadi sore di rumah sakit, ia jadi tersenyum sendiri.


“Ternyata si Darwin manja juga ya, dan dia romantis juga ternyata! Berarti selama ini dia cuma Jaim aja sama gue! Akhirnya dia mau menunujukan perasaannya yang sebenenya dan jujur sama gue hihihi…”

__ADS_1


__ADS_2