Dance With Life

Dance With Life
Episode 33 - Ambil Keputusan! (2)


__ADS_3

Akhirnya Jelal tertunduk pasrah. “Baiklah Bu, saya akan menuruti semua permintaan Ibu, saya juga meminta maaf pada pihak café ini karena telah membuat keributan, sekarang saya permisi!” ucapnya, kemudian ia beserta pengacara dan anak-anak buahnya meninggalkan café tersebut.


Darwin masih terdiam, dia masih terkesima melihat ‘aksi’ Ibunya barusan. Sementara Bu Lily dengan segan mendekati Bu Leny.


“Len, Eh Bu Leny, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Ibu karena sudah menolong kami.”


“Ah Lily, jangan sungkan-sungkan begitu, panggil saja aku Leny, kita kan sahabat baik!” jawab Bu Leny.


Namun meskipun Bu Leny berkata seperti itu, Bu Lily masih nampak sungkan terutama karena masalah Darwin. “Len, aku minta maaf mengenai masalah Darwin, aku sama sekali tidak tahu kalau Darwin adalah anakmu!”


Bu Leny menggelengkan kepalanya, “Ah tidak apa-apa Ly, masalah Darwin, Darwin sendiri yang harus menjelskannya!”


Setelah mendengar itu, akhirnya Darwinpun memberanikan diri mendekati ibunya, “Mamah kenal sama Bu Lily?” tanyanya.


Bu Leny menatap Darwin dengan kesal. “Ya tentu saja Mamah kenal! Bu Lily adalah teman sebangku Mamah waktu SMA! Dan itu juga alasannya aku tidak menuntut café ini sewaktu karyawan kita keracunan gara-gara catering dari café ini!”


Darwin terkejut mendengar itu “Apa? Jadi itu perusahaan kita?” Mimi pun tak kalah terkejutnya dengan Darwin, dia tidak mengira kalau Darwin adalah anak Bu Leny, Presiden Dirketur PT. Trackindo, yang pernah bermasalah dengan café mereka perihal catering itu.


“Sudahlah, sekarang kamu yang harus menjelaskan! Kenapa kamu tidak bilang-bilang ke Mamah kalau kamu kerja disini? Jadi Koki lagi!” Tanya Bu Leny dengan kesal.


Darwin menjawab sambil menunduk. “Maafin Darwin Mah, sebenarnya Darwin nggak kerja disini kok, Darwin cuma membantu Mimi saja jadi koki disini tanpa bayaran.”


Bu Leny melotot mendengar jawaban Darwin tersebut. “Apa?! Membantu orang tanpa bayaran katamu?! Lalu apa tujuanmu membantu Mimi disini?!”


“Ya Darwin cuma pengen membantu Mimi aja Mah, Mimi kan sahabat baik Darwin, selain itu Darwin juga ingin mencari pengalaman dengan menjadi koki disini!” jawab Darwin.


Bu Leny menggeleng-gelengkan kepalannya medengar jawaban Darwin tersebut. “Apa cuma bantu teman katamu?! Astaga kenapa kamu bisa begitu bodoh Win?! Siapa yang mengajarkanmu itu?! Di dunia ini tidak ada yang gratis! Dan kalau kamu ingin mencari pengalaman, kenapa tidak bekerja paruh waktu di kantor kita?! Kamu akan tetap digaji seusuai dengan jatah pegawai paruh waktu walaupun kamu anak Mamah!”

__ADS_1


Darwin menunduk mendengar ucapan Bu Leny yang pedas itu, namun Bu Leny tidak peduli, unek-uneknya pada Darwin terus meluncur. “Ya Tuhan! Mamah nggak ngira kamu bisa sebodoh ini Win! Mamah juga nggak suka liat kamu jadi jongos buat orang lain! Kamu itu calon penerus almarhum Papahmu Win!”


Darwin merasa terusik dengan ucapan Ibunya itu, akhirnya dia mengangkat mukanya. “Tapi Mah, apa salahnya kalo Darwin bantuin temen sendiri? Selama ini mereka semua yang selalu nemenin Darwin! Lagipula Darwin suka kok menjadi seorang koki!” ucapnya dengan pelan tapi tegas!


Bu Leny terbelalak mendengar ucapan Darwin tersebut. “Ya Tuhan! Kamu sudah mulai berani membantah Mamah ya?! Berani kamu membentak Mamah sekarang?!”


Darwin buru-buru menundukan kepalanya. “Maafin Darwin Mah, bausan Darwin nggak berpikir dengan jernih…” ucapnya dengan pelan dan lembut.


“Ah sudahlah, mulai sekarang lakukan apa saja yang kamu suka! Toh Kamu juga sudah mulai berani membantah Ibumu ini! Lily aku pulang duluan ya!” pungkas Bu Leny seraya bangkit dari duduknya sambil pamit pada Bu Lily.


Darwin terdiam, dia hanya menatap kosong kearah Ibunya melangkah keluar, setelah Ibunya keluar, dia melangkah menuju ke dapur dengan gontai, ya baru kali ini dia berani membantah Ibunya, dan baru kali ini pula Ibunya marah padanya!


“Darwin…” desah Anisa yang menatap langkah Darwin yang gontai dan lesu itu, dia merasa sangat prihatin dengan apa yang baru saja dialami oleh Darwin, biasanya dia selalu ada untuk menemani Darwin, tapi kali ini dia merasa seperti ada sebuah tembok besar yang menghalangi mereka.


Darwin duduk termenung sendiri di sudut dapur itu, perasaannya bercampur aduk, dia juga merasa tidak enak pada Mimi dan Bu Lily, disisi lain dia merasa sangat kesepian dan membutuhkan sosok Anisa disampingnya! Namun kini ia sendirian tanpa Anisa disampingnya.


“Lu nggak apa-apa Bro?” Tanya Dony sambil menepuk bahu Darwin.


“Ah nggak apa-apa kok Bro!” jawab Darwin sambil tersenyum, namun senyumnya terlihat jelas amat dipaksakan.


Mimi menghampiri Darwin dan duduk disebelahnya. “Win, maafin aku ya, semuanya gara-gara aku! Coba kalau…”


Darwin segera memotong ucapan Mimi yang sedang menyalahkan dirinya sendiri tersebut. “Sssttt… Sudahlah Mi! Kamu nggak salah kok, aku menolongmu dengan ikhlas, dengan senang hati malah! Dan masalah si Jelal itu, emang orang kaya Jelal harus diberi pelajaran biar kena batunya!”


“Tapi kamunya kan jadi dapet masalah sama Mamah kamu, aku jadi merasa bersalah banget!” ucap Mimi yang matanya mulai memerah lagi.


Darwin segera merangkul sahabatnya yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu, hati Anisa mendesir ketika melihatnya. “Mimi udah dong! Kamu nggak usah menyalahkan dirimu sendiri kaya gini!”

__ADS_1


Mimi terdiam, hanya bahunya saja yang mulai berguncang, Darwin menghela nafas. “Mimi, kamu itu sahabat baikku yang sudah aku anggap seperti adikku sendiri! Kalau kamu sedih, aku juga jadi ikut sedih!”


Anisa yang mendengar itu langsung merasa lega! Hatinya yang tadinya sudah panas, perlahan mulai sejuk kembali! Namun perasaan bersalahnya pada Darwin mulai mengemuka karena ternyata ia sudah salah sangka, dan perasaan tidak enak pun terbit kepada Hasan karena ia sudah menggunakannya sebagai ‘alat pemanas’ untuk Darwin, maka ia pun melirik pada Hasan.


“San, keluar bentar yuk, ada yang mau aku omongin!”


Hati Hasan merasa tidak enak mendapat ajakan Anisa tersebut, dia seperti mendapat firasat yang tidak baik, namun akhirnya dia hanya mengangguk saja mengiyakan ajakan Anisa tersebut.


Sementara itu, mata Mimi masih menitikan air mata. “Tapi gimana dengan masalahmu sama Ibumu Win?”


Darwin terdiam sejenak, ia lalu menatap ke langit-langit dapur café itu. “Dulu Ayahku meninggal karena penyakit kanker darah, satu-satunya cara untuk menyelamatkannya adalah mendapatkan sumsum tulang belakang yang cocok dengan Ayahku, pada saat keadaan Ayahku semakin kritis, akhirnya pihak rumah sakit menemukan donor sumsum tulang belakang yang cocok yakni seorang perempuan yang sedang hamil.


Perempuan itu menolak mendonorkan sumsum tulang belakangnya karena sedang mengandung anaknya, mengetahui penolakannya itu, Ibuku bertekad untuk menglakukan semua cara agar mendapatkan sumsum tulang belakangnya, namun Ayahku melarangnya karena penolakannya itu adalah hak bagi si pendonor itu.


Karena tidak menemukan donor tulang sumsum lain yang cocok, akhirnya Ayahpun meninggal, dan sebelum meninggal ia pernah membisikan Sesutu padaku yaitu "Jadi Orang Bodoh yang Hanya Membantu Orang Lain!’”


Darwin lalu menoleh pada Mimi yang terdiam mendengar cerita Darwin tersebut. “Sayangnya Ibuku tidak mendengar pesan terakhir Ayahku itu, kalau Ibuku mendengarnya mungkin dia akan menjadi orang yang berbeda dengan yang sekarang!”


“Tapi maksudnya Jadi Orang Bodoh yang Hanya Membantu Orang Lain itu apa Win?” Tanya Mimi.


“Dulu aku juga tidak mengerti apa maksudnya, aku baru mengerti maksudnya baru-baru ini, ketika aku mulai memahami arti hidup yang diberikan oleh Tuhan kepada kita, yaitu Hidup bukan berarti menang atau kalah, hidup bukan berarti menjadi "Figur" hidup bukan berarti hanya menjadi sumber inspirasi, tetapi bagaimana kita ikhlas dalam berusaha melakukan yang terbaik sebagai manusia insan Tuhan, insan sosial, serta insan dengan alam semesta, dan nilai yg paling tinggi dari suatu kehidupan itu adalah proses ketika dia berusaha melewati setiap prosesnya menuju akhir, menjadi insan yang welas asih dan senantiasa berguna bagi mahluk lainnya, walaupun mungkin orang lain akan menganggap kita orang bodoh karena melakukan hal ini.” jelas Darwin dengan panjang lebar.


Pada saat itu datanglah Sylvia. “Win, ada tamu yang pesen Tenderloin steak satu, sama Chicken Cordeon Bleu, yang tenderloinnya medium done ya!"


Darwin segera bangkit dari duduknya. “Ok sip!” tapi saat itu Cynthia mencegahnya “Win, sebaiknya kamu istirahat aja dulu, biar aku yang masakin pesanannya!”


“Ah nggak usah Cyn, ini kan bagian pekerjaanku, aku mesti tanggung jawab sama pekerjaanku!” jawab Darwin dengan tegas, Cynthia hanya mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


__ADS_2