Dance With Life

Dance With Life
Episode 13 - Perjuangan Heru (1)


__ADS_3

 


 


Sementara itu Anisa masih senyum-senyum sendiri di halaman belakang rumahnya, tangannya menggemgam gitar yang sedari tadi dia mainkan mengiringi lagu-lagu yang ia lantunkan, hatinya merasa sangat senang ketika mengingat-ngingat mimpinya tadi malam, tiba tiba mukanya jadi berubah cemberut. "Darwin kamu kapan mau mulai sih? Aku udah nggak sabar tau nungguin kamu!" gerutunya dalam hati.


 Kemudian ia melihat HPnya, belum ada satupun LINE ataupun SMS dari Darwin, ia jadi gemas dibuatnya. "Kamu tuh lagi ngapain sih? Tau nggak kalo aku tuh kangen berat ama kamu!" inilah yang terjadi pada diri Anisa kalau dalam sehari saja ia belum sempat bertegur sapa dengan Darwin walau hanya lewat SMS, Line, atau Media Sosial lainnya, mengobrol dengan Darwin bagaikan menjadi candu bagi dirinya. Merasa tidak sabar lagi, ia lalu mengirim LINE pada Darwin, isinya. "Hallo Win lagi ngapain?"


 Tak lama kemudian datanglah balasan LINE dari Darwin. "Hallo juga Nis :D, eh aku lagi ada urusan penting, maaf sekalarang lagi nggak bisa ngobrol lama-lama dulu, mpe nanti ya!”


 Anisa jadi cemberut mendapatkan jawaban itu, "Huh urusan penting apaan sih?" tanyanya dengan hati kesal.


 Anisa lalu merenung, mengingat-ngingat tanggal hari ini, dia lalu menepuk keningnya. "Oh iya, ini kan hari itu!" gumamnya, iapun segera berganti pakaian dan mengendarai mobilnya menuju ke suatu tempat.


 Setelah sampai Anisa lalu memarkirkan mobilnya di tempat yang teduh di pemakaman itu, dia lalu mengenakan kerudung hitam yang dibawanya kemudian berjalan melewati makam-makam yang ditata dengan rapih itu. Beberapa meter kemudian, Anisa dapat melihat Darwin bersama Mbok Darmi, Mang Ujang, dan Pak Mail sedang berdoa di sebuah makam, ia buru-buru bersembunyi dibalik sebuah pohon sambil terus mengintip Darwin. "Ia ini kan peringatan 10 tahun meninggalnya Pak Sunarya, Ayahnya Darwin" gumam Anisa, ia kemudian teringat pada sosok Pak Sunarya sahabat ayahnya itu, muka Darwin yang saat ini benar-benar mirip dengan Pak Sunarya dulu yang tampan, gagah, selalu nampak kalem dan bersahaja itu.


 Anisa lalu memutuskan untuk tidak mengganggu Darwin, setelah Dawin dan yang lainnya meninggalkan makam Pak Sunarya, Anisa melangkahkan kakinya menuju ke makam sahabat ayahnya itu, kemudian ia pun menghaturkan doana untuk almarhum Pak Sunarya.


*****


 Pada waktu yang sama disebuah Mall, Cynthia dan Devi sedang asyik berbelanja, mereka tidak menyadari kalau ada dua orang pria yang mengikutinya sejak tadi "Bah! Aku tidak percaya kalau aku mau saja kau ajak buat ngikutin mereka itu!" ucap salah seorang penguntit itu yang tak lain adalah Togar.


 "Sorry deh Gar, gue minta tolong ama lu sekali ini aja! Perasaan gue nggak enak terus kalo nginget Cynthia!" jawab penguntit yang satunya lagi yang tak lain adalah Heru, yang sudah merubah gaya bicaranya semenjak ia di make over oleh Darwin cs.


 Sedang beradu bicara seperti itu, Cynthia dan Devi nampak meninggalkan tempat baju itu, mereka pun lalu mengikuti Cynthia dan Devi yang terus berjalan menuju ke tempat parkir. Di tempat parkir tiba-tiba ada seorang pria yang menghadang langkah Cynthia dan devi, Cynthia dan Devi terkejut bukan main melihat pria itu, namun yang paling terkejut adalah Cynthia, "Ody!" desisnya.

__ADS_1


 Pria yang bernama Ody itu menyeringai, "Hallo Cyn, lama ga jumpa! Kamu ganti nomer HP ya? Soalnya pas aku hubungi nggak pernah nyambung!"


 "Bukan urusan elu! Ayo Dev!" jawab Cynthia dengan ketus sambil membuka pintu mobilnya.


 "Tunggu!" hardik Ody sambil menahan pintu mobil Cynthia.


 "Apa lagi sih Dy?!" Tanya Cynthia dengan kesal dan ketus.


 "Cyn, aku tuh sayang anget sama kamu! Aku mau kita jalan lagi kaya dulu!" jawab Ody setengah merengek.


 Cynthia melotot pada Ody. "Kaya dulu?! Nggak bisa Dy! Sejak kamu jadi pecandu narkoba, kita nggak akan bisa kaya dulu lagi!"


 Ody sepertinya tidak mempedulikan ucapan Cynthia itu, dia terus merengek sambil memegang tangan Cynthia. "Cyn please! Aku cinta ma kamu!"


 Cynthia langsung meronta, "Lepasin! Dy! Lepasin!", namun Ody malah mengencangkan pegangannya. "Cynthia! Kalau kamu nggak mau nerima aku lagi, aku akan maksa kamu buat ikut denganku!!!" bentak Ody.


 Ody marah kemudian mendorong Devi dengan keras hingga Devi terjatuh! Pada saat itulah tiba-tiba Heru menghapiri Ody "Lepasin dia!" hardikanya.


 "Heru!" ucap Cynthia.


 Ody marah melihat Heru yang menghadangnya, "Minggir lu!" bentaknya, namun Heru tak bergeming, ia malah membentak Ody lagi "Lepasin dia!"


 Ody tidak dapat menahan kesabarannya lagi, ia lalu melepaskan Cynthia, kemudian mengeluarkan pisau dari dalam sakunya, dengan mendengus, ia menusukan pisaunya ke perut Heru, Cynthia melotot karena kaget melihat itu. "Heru!!!!" teriaknya.


 

__ADS_1


 


Heru terdiam, dia tidak menyadari apa yang sedang terjadi pada dirinya, hanya matanya saja yang melotot. Barulah ketika Ody menarik pisaunya dari perut Heru ia tersadar, dengan meringis menahan sakitnya, ia segera memegangi perutnya yang mengeluarkan darah akibat ditusuk oleh pisaunya Ody.


“Tolong! Tolong!” teriak Cynthia yang elihat Heru terjatuh dengan luka yang menganga mengeluarkan darah!


Kemudian Cynthia segera berlari menghampiri Heru. Namun belum sampai Cynthia pada Heru, Ody segera menarik tangan Cynthia dengan kasar. “Heiiittt! Mau ke mana Cyn? Kau harus ikut denganku!”


Cynthia terus meronta sambil berteriak-teriak. “Ga mau! Lo udah gila Dy! Tolong! Tolong!”


Sementara itu Togar sedang mencari-cari Heru di dekat tempat kejadian itu. “Alamak! Ke mana pula si Heru itu? Aku tinggal sebentar membeli minum sudah hilang dia!”


“Tolong! Tolong!” Togar terbengong sejenak mendengar teriakan yang sepertinya ia kenali suaranya itu. “Bah! Rasanya aku kenal suara itu!” gumamnya sambil melangkah ke arah suara itu.


Ody sudah mulai kehilangan kesabarannya pada Cynthia yang berteriak-teriak dan meronta-ronta terus, dengan kasar tangannya segera menutup mulut Cynthia, dan tangan kanannya menodongkan pisaunya ke muka Cynthia. “Diam!”


Bertepatan pada saat yang genting itu, Togar sangat kaget melihat kejadian itu, apalagi ketika dilihatnya Heru sedang tergeletak dengan luka di perutnya yang terus mengeluarkan darah, sampai-sampai botol minumannya yang sedang ia pegang terjatuh tanpa ia sadari! “Alamak! Ada apa ini?!”


Cynthia yang merasa senang melihat kedatangan Togar, segera melepaskan tangan Ody dari mulutnya. “Gar tolong!”.


Togar menatap tajam pada Ody. “Hei Lepaskan dia!” hardikanya dengan suara menggelegar!


Ody yang makin marah dengan kedatangan Togar itu segera menghardik. “Kurang ajar kau berani mencampuri urusanku! Mau cari mati kau?!”


Togar tidak gentar sedikitpun pada ancaman Ody, dengan mantap dan penuh kewaspadaan, ia melangkah mendekati Ody. “Kurang Ajar! Diajari apa kau sama Mamak kau? Bisa-bisanya berbuat brengsek macam ini?!” bentaknya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2