Dance With Life

Dance With Life
Episode 28 - Teman Lama Atau CLBK? (4)


__ADS_3

Didalam café, Darwin cs disambut dengan hangat oleh Bu Lily, ibunya Mimi, serta Pak Sastro sang satpam dan Sylvia, si pembuat kopi yang masih setia bekerja di café itu. Bu Lily segera menyapa Darwin. “Nak Darwin, Mimi udah cerita kalau Nak Darwin dan kawan-kawan mau membantu di café keluarga kami ini, Tante sangat berterima kasih lho!”


Darwin mengangguk sambil tersenyum. “Ah bukan apa-apa Bu, sebagai teman baik, kami wajib membantu Mimi yang sedang kesusahan, dan kamipun sangat berterima kasih sudah diberi kesempatan untuk menimba pengalaman di café keluarga Tante ini.”


Bu Lily mengangguk-ngangguk sambil tersenyum, dia merasa kagum pada kesopanan dan kerendah hatian Darwin, serta ia merasa ada semangat optimism yang menyala-nyala dalam diri Darwin ketika ia menatap mata pemuda itu, “Baik, kalo begitu, silakan Nak Darwin mengemukakan ide-idenya.”


Darwin mengangguk. “Baik, pertama-tama saya ingin melihat daftar menunya dulu.” kemudian Sylvia memberikan buku menu di café itu, Darwin pun meliht-lihat menu-menu tersebut.


“Sebenarnya café kami hanya menyediakan masakan barat dan juga spesialisasi kami adalah kopi, tapi dulu kami juga menyediakan beberapa menu masakan Indonesia khusus untuk pesanan catering, bukan untuk menu ala carte.” ujar Mimi.


Darwin berpikir sejenak, lalu. “Menurutku, kalau kita hanya menyediakan masakan barat untuk ala carte nya, kita akan sulit bersaing disini, karena banyak sekali café saingan kita di kawasan Kemang ini yang menyediakan masakan barat, bagimana kalau kita rubah sedikit konsepnya menjadi Café&Resto? Menunya kita tambah dengan masakan Indonesia dan Asia, bagaimana?”


“Lalu siapa yang jadi chef nya kalau begitu? Karena kebetulan chef kami sudah pada berhenti, tinggal Sylvia saja yang ahli membuat kopi.” Tanya Bu Lily.


“Kemarin kami semua sudah berunding, untuk bagian memasak kami sudah sepakat kalau Cynthia dan saya sendiri serta dibantu oleh Devi yang akan mengurus bagian memasak, Cynthia menangani Appetizer dan Maincourse untuk masakan Asia, sementara saya menangangi Maincourse untuk masakan Indonesia dan masakan barat serta Desert, dibantu oleh Devi sebagai Asisten dan tentunya Sylvia yang akan menangani masalah minuman.” jawab Darwin.


“Lho nak Darwin bisa masak?” Tanya Bu Lily,


“Iya apa kamu bisa masak Win?” sambung Mimi.


Darwin mengangguk. “Bisa, bagaimana kalo kita coba sekarang?” Bu Lily dan Mimi saling pandang, lalu mempersilahkan ke dapur mereka. Dengan bahan-bahan makanan yang masih tersisa didalam kulkas, Darwin, Cynthia, dan Devi pun segera memasak, Darwin juga meminta Sylvia untuk membuat kopi dengan varian yang pernah menjadi menu andalan café ini.


Tak berapa lama, terhidanglah Shrimp Salad, Bestik Ala Solo, Ayam Bakar Sambal Petis, Nasi goreng Ala Thai, Gurame Saus Singapore, Chocolate Melted Cake, serta Viena Ice Tiramisu Coffe di meja Mimi dan Bu Lily. Bu Lily, Mimi, dan yang lainnya menelan ludahnya ketika melihat dan mencium aroma masakan-masakan tersebut, mereka pun segera mencicipinya, dan berdecak kagum dengan rasanya, “Maknyus!” seru Fina, “Prikitiew banget!” puji Mimi, ya mereka semua memuji masakan Darwin, Cynthia, Devi yang dibantu oleh Sylvia, malah masakan ‘tester’ itu habis tanpa sisa dilahap Mutia, Togar, dan Dony yang nafsu makanannya mengagumkan itu.


“Mengagumkan! Sekarang Tante percaya sama keahlian kalian dalam memasak!” puji Bu Lily, “Kamu belajar masak dimana Win?” Tanya Mimi.


“Oh aku pernah les masak dulu.” jawab Darwin yang memang pernah mengambil les masak dan membuat kue dulu.

__ADS_1


“Ok, masalah menu udah fix, sekarang apa lagi?” Tanya Mimi.


Darwin berpikir sejenak, “Hmm… gimana kalo nama café ini kita ganti saja untuk memberikan image baru?”


Beberapa lama kemudian, setelah berdiskusi cukup panjang, pembagian tugaspun sudah selesai, Darwin, Cynthia, Devi, dan Sylvia bertugas di dapur, Fina yang kebetulan ayahnya mempunyai bisnis sebagai pemasok bahan makanan, mengatur pasokan bahan makanan, Mutia, Heru dan Dony menjadi Waiterss, Yumi dan Andy yang kuliah di Fikom bertugas untuk mengiklankan café ini dan sesekali membantu sebagai Waiterss, sementara Togar dengan ‘terpaksa’ membantu tugas Pak Sastro sebagai security, Nicole dan Carla menjadi penyanyi panggung di café itu khusus hari libur, Mimi pun bertugas menjadi penjaga kassa, dan masalah keuangan ditangani langsung oleh Bu Lily.


Nama café itu pun dirubah menjadi ‘Margareth Café&Resto’ yang diambil dari nama tengah Mimi yang bernama lengkap Mimi Margareth Liem, sesuai dengan kesepakatan bersama, setelah itu mereka pun pulang kerumahnya masing-masing untuk beristirahat, karena besok akan menjadi hari yang berat bagi mereka yakni membereskan dan mendekor tempat itu agar menjadi café yang nyaman.


***


Keesokan harinya, Darwin bangun pada pagi buta, ia lalu berjalan ke kamar mandinya, kepalanya terasa sangat pusing dan telinganya berdengung, setelah meminum obatnya dia lalu berkaca di cermin washtafel di kamar mandinya, dia mengusap-usap kepalnya dan beberapa rambutnya mulai rontok.


“Ya Allah, sepertinya sakiku makin parah!” lirihnya dengan mata sayu.


Dia lalu teringat pada perkataan Dokter Yudi dan beberapa Dokter yang lainnya, bahwa dia membutuhkan keajaiban untuk terus bertahan hidup, bahkan kalaupun dioperasi, kesempatan berhasilnya sangat kecil.


Disaat itu tiba-tiba sosok Anisa terlintas di benaknya, ya dia merindukan kehadiran Anisa disisinya, “Anisa ah, aku sangat rindu sama kamu! Kenapa kamu sekrang malah jalan sama Hasan?!” Berbagai perasan berkecamuk dihatinya, dadanya terasa sesak, hingga air matanya perlahan mengalir keluar.


“Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya pada Anisa? Ah tidak! Aku tidak mau membebani Anisa, dan mungkin Anisa memang lebih baik jalan dengan Hasan daripada dengan aku yang sedang sekarat!”


Siangnya, terlihat kesibukan di café itu, Darwin cs sedang membereskan dan mendekor ulang café itu. Ada beberapa kejadian lucu ketika mereka melakukan pekerjaannya itu, Togar dan Dony bertugas untuk membetulkan saluran air, namun karena ketelodoran mereka, saluran itu malah makin rusak dan membuat mereka basah kuyub! Togar dengan berbafsu segera membiting Dony yang gemuk itu. “Kurang ajar kali kau! Kusuruh membantuku, malah membuat aku basah kuyub!”


“Aduh! Lepasin gua dong Gar! Gua kan cuma ngelakuin apa yang lu suruh!” bela Dony sambil meronta, “Udah-Udah Woi! Kalian kok malah berantem sih?” ucap Fina dengan kesal yang melerai mereka.


Sementara itu, di halaman belakang yang merupakan areal terbuka, Darwin sedang mengecat dinding, pada saat itu Mutia berlari melewati Darwin dengan tergesa-gesa, dan Brangggg! Dia terpeleset oleh kaleng cat yang sedang dipakai Darwin untuk mengecat, Mutia yang wajah dan bajunya belepotan cat pun bangun dan langsung mendamprat Darwin. “Heh! Kalo nyimpen barang tuh ati-ati dong! Nih liat gue mpe jatuh! Mana jadi blepotan cat gini lagi!”


“Elu yang kudunya liat-liat! Ngapain sih msti lari-lari segala?!” jawabnya tak kalah ketus.

__ADS_1


Mimi segera melerai mereka.


“Kalian kok jadi pada ribut sih?” dengan masih bernafsu, Darwin menunjuk Mutia.


“Tuh Dianya noh! Jalan nggak pake mata!”


Mutia segera membalsnya “Elu tuh! Yang nggak ati-ati nyimpen barang!”


“Udah! Udah! Jangan ribut lagi!” bentak Mimi.


“Elu Tuh” gerutu Darwin, “Eluya nyolot sih!” balas gerutu Mutia.


Di lain ruangan, Yumi dan Andy sedang berdiskusi untuk mengiklankan café Margareth dan menyusun menunya, “Jadi gimana Yang?”


Andy berpikir sejenak, lalu menjentikan jarinya. “Nah! Gimana kalo kita adain dulu harga promo selama satu minggu untuk menarik minat para pengunjung, terus kita iklanin di Koran sama Radio dan Web Kampus?”


Yumi mengangguk-ngangguk, “Ok, ide bagus tuh, nah kita juga bisa nyuruh Nicole sama Carla buat nyanyi jingle iklan café ini di radio kampus!”


“Setuju! Dan untuk masalah menu gimana?” sahut Andy.


“Ya seperti yang udah kita rundingin, untuk menu andalan café ini adalah Shrimp Salad, Bestik Ala Solo, Ayam Bakar Sambal Petis, Nasi goreng Ala Thai, Gurame Saus Singapore, Chocolate Melted Cake, serta Viena Ice Tiramisu Coffe. Terus ada beberapa menu Bento porsi kecil buat anak kecil, ditambah sandwich, dan beberapa menu paket hemat…” jawab Yumi, sepasang kekasih itu pun terus berunding tentang tugas mereka diseling tawa dan canda.


Sementara di dapur, Cynthia, Devi, Sylvia, dan Heru sedang mengecek pasokan bahan makanan. “Via, gimana pasokan buat Beverage nya?” Tanya Cynthia pada Sylvia.


“Udah, beres Cyn!” jawab Sylvia, kemudian Cynthia melirik pada Devi dan Heru. “Heh! Kamu jangan letoy gitu dong bantu Devinya! Kasian Devinya kalo kamu letoy gitu bantunya!” tegur Cynthia pada Heru yang agak ‘payah’.


“Tapi aku cape banget Cyn!” keluh Heru, Cynthia melotot pada Heru. “Ah dasar cowok payah! Nyesel gue jadian ama elu!”

__ADS_1


__ADS_2