
Keesokan paginya Anisa bangun lebih pagi dari biasanya, dia terlihat sedang asyik memasak sambil bernyanyi-nyani kecil. “Wah kamu keliatannya lagi seneng banget Nis? Masak apa Nis? Pasti buat Darwin ya?” Tanya Linda kakaknya.
Anisa menjawab sambil tersipu malu. “Eh iya Kak, sekalian aku mau ngembaliin jaketnya yang aku pinjem.”
Linda mengangkat alisnya. “Minjem Jaket? Emang kalian abis ngapain? Oya kemarin kan kamu ga pulang seharian! Jangan-jangan…”
“Ih Kakak jangan mikir yang aneh-aneh deh! Kakak mau keluar kan? Aku numpang dong anterin kerumahnya Darwin!” sergah Anisa dengan cemberut.
Tak berapa lama kemudian, Anisa sudah sampai kerumahnya Darwin, Mbok Darmi membukakan pintu. “Eh ada Non Anisa, silakan masuk Non!”
“Makasih Mbok, Darwinnya ada?” Tanya Anisa sambil melangkah masuk.
“Ada Non, tapi Den Darwinnya lagi mandi, Non tunggu aja bentar.” jawab Mbok Darmi.
“Iya Mbok, saya tunggu di ruang baca aja ya.” ucap Anisa, karena Anisa dan Darwin sudah sangat akrab, maka Mbok Darmi mempersilakan Anisa untuk menunggu di ruang baca, Anisa pun lalu menuju keruang baca, tapi bertapa kagetnya melihat keadaan di ruang baca tersebut, ruang baca itu dipenuhi oleh lukisan-lukisan buatannya, Anisa terus memelototi lukisan-lukisan itu.
Ketika itu Darwin baru keluar dari kamar mandi hendak menuju kekamarnya melewati ruang baca itu, betapa terkejutnya ketika mendapati Anisa sedang tercengang di ruang baca itu, Anisa lalu membalikan badannya dan menatap Darwin dengan tajam, sorot matanya menandakan Anisa sedang marah! “Win apa maksud semua ini?!” Tanya Anisa setengah membentak!
Darwin tersentak dengan bentakan Anisa itu, hatinya tergetar melihat tatapan Anisa yang tajam dengan sorot mata yang menunjukan kemarahan yang teramat sangat itu. “Nis… aku…” ucapnya dengan terpatah-patah.
Mata bulat nan tajam gadis hitam manis tersebut memelototi Darwin, dadanya serasa sesak karena luapan emosinya! Terbitlah rasa marah dan benci pada Darwin yang segera menghempaskan rasa cinta, kagum, sayang dan suka pada Darwin! “Win, kamu tahu apa tujuanku membuat lukisan-lukisan ini?” ucapnya perlahan dengan suara bergetar.
__ADS_1
Darwin tercengang melihat sikap sahabatnya yang ia sukai tersebut tersebut, perasaan panik segera mengemuka, ya dia tidak tahu kenapa Anisa seperti hendak akan segera menumpahkan amarahnya kepadanya, dia hanya terdiam sambil menatap Anisa, “Win kamu tahu apa tujuanku membuat lukisan-lukisan ini?!” Tanya Anisa dengan membentak.
Darwin masih terdiam, hatinya benar-benar tergetar hebat mendapati bentakan Gadis berambut panjang hitam lurus yang indah tersebut, walaupun selama ini mereka sering bertengkar, tapi belum pernah Darwin melihat Anisa semarah ini! “Win aku tuh… Aku tuh buat lukisan ini karena ingin belajar hidup Mandiri! Aku ingin mencari uang saku sendiri dari hasil keringatku!”
Air mata Anisa mulai mengalir, dengan bahu yang terguncang, dia menatap tajam pada Darwin. “Win, waktu aku tahu kalau lukisan-lukisanku laris dengan cepat, aku tuh seneng banget! Aku kira orang-orang suka sama lukisanku, tapi ternyata… ternyata malah kamu yang membeli semua lukisanku ini! Sekarang jawab! Apa maksud kamu membeli semua lukisanku?!”
Dengan hati tergetar dan suara berat Darwin menjawab, “Eh Nis… Itu…”.
Anisa membentak lagi, “Jawab!”
“Nis, aku membeli semua lukisanmu karena aku suka sama lukisanmu!” jawab Darwin pada akhirnya.
Darwin menelan ludahnya, dia tidak dapat menahan lagi gejolak di hatinya, maka akhirnya dia mengatakan hal yang sejujurnya pada Anisa. “Ok Nis, jujur, aku membeli semua lukisanmu itu karena aku suka sama kamu Nis! Aku suka sama kamu!”
Mata Anisa melotot mendengar pengakuan dari Darwin itu, dadanya terasa sesak dan bergemuruh dahsyat! Dia lalu menundukan kepalanya. “Win, terus terang aku sudah lama menanti pengakuan darimu itu, dan seharusnya aku senang mendengarnya, tapi kalau itu alasan kamu membeli semua lukisanku… Kamu sungguh keterlaluan Win! Keterlaluan! Aku ingin lukisanku dibeli oleh orang yang dapat menikmati unsur seni dan perasaan yang aku curahkan kedalamnya! Aku ingin mempunyai uang saku sendiri dari hasil kerja kerasku bukan hasil dari bantuanmu! Kalau alasan kamu membeli semua lukisanku karena kamu suka padaku, aku merasa terhina!”
Bukan main terkejutnya Darwin mendengar ucapan Anisa yang histeris itu, dia merasa bumi yang dipijaknya bagiakan amblas hingga menguburnya hidup-hidup dalam kegelapan! Dia lalu berjalan mendekati Anisa. “Nis maafin aku…”
Plaakkk! Satu tamparan Anisa mendarat di pipi Darwin! “Win kenapa sih kamu nggak pernah bisa ngertiin aku?! Tadinya aku datang kesini untuk mengembalikan jaketmu dan mengajakmu makan siang bareng dengan masakanku ini tapi sekarang…” Brakkk! Anisa menjatuhkan kotak makanan yang ia bawa hingga makanannya berceceran!
Anisa lalu memberikan jaket Darwin pada Darwin. “Win, makasih buat pijaman jaketnya, dan aku tunggu kamu membawa semua lukisanku padaku, dan aku akan mengembalikan semua uangmu! Setelah itu sebaiknya kita nggak perlu bertemu lagi!” setelah mengucapkan itu, dengan berurai air mata, Anisa bergegas meningglkan Darwin yang masih melongo mendapati peristiwa itu.
__ADS_1
Darwin terdiam sejenak mendengar ucapan Anisa yang sangat mengejutkannya tadi, setelah sadar, ia lalu segera berlari mengejar Anisa! “Nis tunggu Nis!” teriaknya, namun Anisa terus berjalan meninggalkannya seolah tidak mendengar teriakannya!
Beberapa meter diluar rumah Darwin, Darwin berhasil menyusulnya, dia pun segera memegang tangan Anisa. “Nis! Tunggu Nis! Dengerin aku dulu!”
“Dengerin apa lagi sih Win?!” bentak Anisa sambil melepaskan tangannya.
“Nis, aku minta maaf! Biar aku jelasin dulu semua ini!” ucap Darwin dengan memohon.
“ENGGAK USAH WIN! Semua udah jelas! Dan ucapanku juga udah jelas kan? Kamu bawa semua lukisanku dan aku akan mengembalikan semua uangmu, setelah itu kita nggak usah ketemu lagi!” bentak Anisa lagi dengan mata melotot.
“Win, kamu kan mengenal aku udah lama, kamu tahu kan kalo aku paling nggak suka sama ketidak jujuran, kejutan, dan hal-hal yang kompleks! Dan selama ini kamu aku masih menahan diri ketika kamu berubah! Kamu berubah, seperti ada yang disembunyikan olehmu! Tapi sekarang aku udah nggak tahan lagi Win!” ujar Anisa dengan air mata yang semakin deras mengucur.
“Win, yang aku minta cuma kejujuran Win! Aku tidak mau suatu saat aku terkejut dan pusing oleh sikapmu yang seolah selalu tertutup itu! Dan kayanya kamu nggak bisa ngasih aku itu semua!” lanjut Anisa dengan terisak-isak.
Pada saat itu, ada sebuah mobil berhenti dihadapan mereka, seorang pria bertubuh tinggi besar menghampiri mereka. “Lho Anisa? Kamu lagi ngapain disini?” sapanya.
“Hasan!” ucap Anisa melihat kedatangan pria itu, dan bukan main terkejutnya Darwin ketika melihat pria itu “Hasan!” desisnya.
Hasan melirik pada Darwin dengan tersenyum mencemooh. “Kayanya kalian lagi berantem ya? Nis, dari dulu sudah kubilang kan kalau kalian itu nggak cocok! Sekarang apakah cowo ini mengganggu kamu lagi?”
“Iya, dia selalu aja nyakitin hatiku San! Cukup tau aja deh!” jawab Anisa sambil menyeka air matanya.
__ADS_1