Dance With Life

Dance With Life
Episode 29 - Teman Lama Atau CLBK? (5)


__ADS_3

Mendengar itu Heru tersentak! Bagaikan disiram air, Tiba-tiba semangatnya meyala lagi, sekonyong-konyong tenaganya muncul lagi, dia lalu mempercepat kerjanya mengangangkat barang-barang itu. “Cyn akan aku tunjukan kalo aku tidak payah!” ucapnya, mendengar itu Cynthia hanya tersenyum sambil dia sendiripun terus mengecek bahan-bahan makanan tersebut.


Tiga hari kemudian, kerja keras merekapun selesai! Dan Margareth Café&Resto pun secara resmi dibuka! Berkat iklan yang disusun oleh ‘tim kreatif’ Yumi dan Andy, café itu cukup ramai dikunjungi oleh para pembeli, harga makanan yang cukup bersahabat dengan berbagai kalangan termasuk mahasiswa yang diimbangi dengan porsi makanannya yang cukup serta rasanya yang diatas rata-rata, membuat para pengunjung terus berdatangan dan ketagihan untuk berkunjung ke Margareth Café&Resto, maka Darwin cs pun sibuk dibuatnya, teruama Darwin, Cynthia, Devi, dan Sylvia yang bekerja di bagian dapur.


*****


Pada hari ketiga, Yumi dan Andy sengaja mengundang beberapa wartawan untuk mencicipi makanan di cafénya Mimi dan menulis artikel tentangnya, maka tim ‘dapur’ Darwin, Cynthia, Devi, dan Sylvia pun buru-buru menyiapkan masakan terbaiknya untuk para wartawan-wartawan tersebut, sepeti biasa, menu-menu andalan mereka yaitu Shrimp Salad, Bestik Ala Solo, Ayam Bakar Sambal Petis, Nasi goreng Ala Thai, Gurame Saus Singapore, Chocolate Melted Cake, serta Viena Ice Tiramisu Coffe segera terhidang.


Para Wartawan yang mecicipi masakan merekapun berdecak kagum setelah merasakan rasanya yang diatas rata-rata itu. “Hebat! Rasanya mantap!” puji salah satunya, “Saya puas dengan semua yang dihidangkan ini!” puji yang satu lagi.


Namun tidak dengan salah satu wartawan yang datang terkahir tadi, setelah dia mencicipi semua menu yang dihidangkan, dia terdiam sejenak, lalu menatap tajam pada Darwin, Cynthia, Devi, dan Sylvia. “Hmm… rasanya memang enak! Tapi rasanya seperti MSG! apa penggunaan MSGnya sangat banyak?”


Darwin dan Cynthia saling tatap beberapa detik, kemudian Darwin menjawab. “Maaf Pak, kami disini tidak menggunakan MSG karena smenyajikan makanan yang enak serta highienis, kami juga ingin menyajikan makanan yang sehat untuk dikonsumsi para pelanggan kami.”


Wartawan itu lalu menunduk menatap makanan-makanan itu sejenak. “Oya? Lalu apa rahasia dari masakan-masakan anda di café ini?”


Darwin terdiam sejenak, lalu memandang berkeliling kesemua café itu, dilihatnya Fina, Mutia, Yumi, Nicole, Carla, Cynthia, Devi, Sylvia, Togar, Dony, Heru, Andy, serta Mimi yang membuat alasan dia berada disitu dan memasak, dia lalu menghela nafas panjang.


“Pak, rahasianya adalah perasaan kita pada saat memasak, kebetulan kami semua disini adalah sahabat! Kami semua disini karena ingin membantu sahabat kami, kami merasa saling terikat satu sama lain! Kami juga merasa sangat bertanggung jawab untuk memberikan yang terbai serta memuaskan para pelanggan kami, maka kami juga menganggap kalau semua pembeli kami adalah sahabat kami. Kami semua memasak dengan perasaan cinta pada sahabat kami, itulah rahasianya adalah rasa cinta pada saat sedang memasak masakan ini!”


Wartawan itu tercengang mendengar jawaban Darwin yang tidak umum itu, dia lalu tersenyum. “Hmm… jawaban yang sangat thetaterical! Jawaban yang tidak umum dari para chef! Ok baiklah, saya sangat puas dengan semua menu yang anda hidangkan! Kami akan memuat artikel tentang café ini di edisi akhir minggu.”


“Hore!” teriak Mimi dan yang lainnya yang hampir melompat kegirangan! Darwin pun tersenyum lebar, dan menundukan tubuhnya.


“Terima kasih banyak Pak!” ucapnya, ya baru kali ini dia merasa sangat puas dengan hasil kerjanya walaupun dia tidak mendapat bayaran untuk itu.

__ADS_1


Sementara itu Anisa dan Hasan sedang jalan berdua. “Nis, kita mau dinner dimana nih?” Tanya Hasan.


“Eh kita nyobain café baru yang diiklanin di radio sama web kampus itu yuk!” ajak Anisa, Hasan pun mengangguk tanda setuju, Anisa yang mengetahui kalau café yang diiklankan di radio kampus oleh Andy dan Yumi adalah café milik Mimi itu tersenyum, dia bermaksud untuk memperbaki hubungannya dengan teman-temannya dan ada maksud tertentu yang ingin ia lakukan.


Pintu café itu terbuka. “Selamat datang!” ucap Fina yang datang dengan tergopoh-gopoh, tapi bertapa terkejutnya ia melihat kalau tamu yang datang itu adalah Anisa dan Hasan. Anisa nampak biasa saja, tapi Hasan nampak terkejut melihat Fina yang menyambutnya.


Untuk beberapa saat, mereka terdiam dan saling berpandangan. Mutia, Togar, dan juga Dony tercengang melihat kedatangan Anisa dan Hasan yang tiba-tiba itu, Mimi yang sedang menjaga kassa tak kalah kagetnya melihat kedatangan Anisa dan Hasan. “Anisa?!” desisnya.


Hingga untuk beberapa saat mereka terdiam hanya terdengar suara nyanyian Nicole dan Carla yang sedang menyanyi diatas panggung dan obrolan para pembeli yang lain.


Anisa menghela nafasnya, kemudian dia menyapa Fina dan yang lainnya untuk mencairkan suasana.


“Hallo Fin dan yang lain!”


Melihat ekspresi Anisa yang biasa saja, Hasan merasa heran, diapun bertanya pada Anisa “Lho Nis, kamu tahu kalo mereka kerja disini?”


Hasan terdiam mendengar jawaban Anisa tersebut, dia mencoba menerka apa maksud Anisa mengajaknya ke tempat ini.


Di lain pihak, Fina seakan baru tersadar, dia buru-buru memasang mka ramah dan mempersilahkan Anisa dan Hasan duduk. “Mari silakan duduk!” ucapnya sambil menunjuk ke salah satu meja yang kosong.


Anisa dan Hasanpun duduk di meja tersebut, setelah duduk Anisa kemudian memandang berkeliling. “Mana si Darwin? Ah dia pasti di bagian dapur…” tebaknya dalam hati.


Saat itu, Fina menyerahkan buku menunya pada Anisa dan Hasan, dia memperhatikan tingkah laku Anisa yang celingukan seperti mencari sesuatu. “Hmm… dia pasti nyariin si Darwin! Pake ngajak si Hasan lagi! Ah dia pasti mau manas-manasin si Darwin!” pikirnya.


Anisa membaca buku menu itu, dia lalu melihat ada beberapa menu recommended dari Chef, salah satunya ada Bestik Ala Solo. “Bestik Ala Solo? Hmm… ini kan makanan favoritnya Darwin, pasti dia yang masak ini, aku pesen ini aja ah!” gumamnya dalam hati, “Fin, aku pesen Bestik Ala Solo! Minumnya Orange Juice aja”, Fina pun menuliskan pesanan Anisa tersebut, “San kamu pesen apa?” Tanya Anisa, “Samain aja Nis!” jawab Hasan.

__ADS_1


Setelah menulis pesanan Anisa dan Hasan, Fina lalu menyerahkan pesanannya kepada Darwin di dapur. “Win, tahu siapa yang datang?”


Darwin menggelengkan kepalanya. “Enggak, emang siapa Fin?”


Fina menjawab dengan raut muka yang menunjukan ketidak sukaan. “Anisa sama Hasan Win! Kayanya mereka mau manas-manasin kamu deh!”


Darwin terdiam sejenak setelah mendengar jawaban dari Fina tersebut, tetapi kemudian, respon yang ia tunjukan sama sekali berbeda dengan yang Fina duga, Darwin hanya tersenyum pahit.


“Ah biarin aja Fin, mereka kan pembeli kita, kita harus memberikan yang terbaik buat mereka!” Setelah mengucapkan itu, Darwinpun mulai memasak, Fina hanya terdiam melihat respon dari Darwin tersebut.


Tak lama kemudian, makanan dan minuman yang dipesan oleh Anisa dan Hasan pun datang, mereka lalu mulai mencicipi makanan tersebut, ketika mencicipi Bestik Ala Solo, Anisa terkejut bukan main. “Enak! Ini bener masakannya si Darwin?!” serunya dalam hati.


Melihat Anisa yang makan sambil senyum-senyum sendiri itu, Hasan jadi merasa heran “Nis, kamu kok makannya sambil senyum-senyum gitu?”


“Oh ini San, makanannya enak banget!” jawab Anisa, kemudian dia menatap Hasan “San, aku punya permintaan sama kamu.”


Hati Hasan tercekat melihat tatapan mata Anisa tersebut. “Oya? Apa itu Nis? Bilang aja!”


Anisa menundukan kepalanya, kemudian memandang kesekeliling café tersebut.


“Sebenernya aku pengen bantuin temen-temenku San, mereka semua ada disini karena lagi bantuin Mimi yang lagi membangun kembali café ini setelah terancam bangkrut kemaren, nah aku juga pengen kamu ikut aku ngebantu mereka San, buat nemenin aku.”


Hasan terdiam beberapa saat memikirkan permintaan Anisa tersebut, sebenarnya, dia merasa segan untuk menjadi seorang pramuniaga di café seperti ini, tetapi saat melihat tatapan Anisa, hatinya luluh juga dan akhirnya ia mengangguk setuju. “Ya, ok lah kalo gitu Nis, apa sih yang enggak buat kamu.”


Gadis hitam manis berambut panjang lurus hitam ini tersenyum senang mendengar kesanggupan Hasan tersebu.t “Makasih ya San!”

__ADS_1


Setelah selesai makan, Anisa lalu memanggil Fina. “Fin, ada yang mau aku omongin sama kalian semua ntar, dan aku juga pengen ikut sama kalian bantuin Mimi!” ucapnya. Fina terdiam sejenak, “Ok Nis, ntar kita ngobrol aja setelah cafenya tutup.”


__ADS_2