Dance With Life

Dance With Life
Episode 17 - Sahabat Masa Kecil (1)


__ADS_3

 


 


Sepulangnya dari rumah Anisa, Darwin masuk kedalam rumahnya, ketika melewati ruang keluarga, dia melihat Ibunya sedang melihat TV, Darwin lalu mencium tangan ibunya. “Lho Mamah udah pulang?”


 “Iya Win, dari mana aja kamu? Kok rapih bener?” Tanya Bu Leny.


“Oh Darwin abis pulang dari rumah Anisa Mah, Pak Hady ngundang Darwin buat makan makan malam, ya sebenernya sih ngundang kita berdua, oya Mamah kapan pulang?” jawab Darwin.


“Mamah baru nyampe 2 jam yang lalu, oya di ruang baca diatas kok jadi banyak lukisan? Kata Mbok Darmi kamu yang beli?” Tanya Bu Leny.


Darwin mengangguk “Iya Mah, Darwin yang beli.”


Bu Leny mengangkat alisnya. “Kok Kamu tiba-tiba jadi seneng lukisan? Dan lukisan sebanyak itu… kamu pasti ngabisin uang sakumu buat beli lukisan-lukisan itu ya?”


Darwin jadi agak grogi mendapati pertanyaan itu. “Eh iya Mah.”


“Ya udah sekarang kamu istirahat dulu sana!”


Darwin lalu mencium tangan Ibunya lagi “Baik Mah, Darwin mau istirahat dulu, met malem Mah!”


Sementara itu dikamarnya Anisa sedang melamun. “Ah sial! Kok si Darwin selalu aja bisa meluluhkan hati gue? Padahal kan mie ayam rica tadi aku buat untuk menghukum dia karena belum juga menyatakan cintanya padaku!”


Tiba-tiba ia teringat pertemuannya dengan Hasan tadi siang. “Tapi, kok tiba-tiba aku bisa ketemuan ma si Hasan ya?” gumamnya, kemudian bayangan sosok Hasan yang bertubuh tinggi besar itu, berputar-putar bergantian dengan sosok Darwin di benak Anisa, Anisa menjadi bingung dibuatnya karena ia tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan.


 


 

__ADS_1


Esok paginya muka Darwin terlihat sangat kusut sekali, sudah beberapa kali ia bolak-balik ke toilet. “Bener-bener! Tega banget ya si Nisa mpe gue menderita gini! man cabe lagi mahal lagi! duhhh… Sebenernya gue nggak ngerti kenapa dia tiba-tiba ngerjain gue, gue kan nggak lagi ribut ama dia!”


Dengan muka kusut dia terus menggerutu, ia lalu berjalan ke ruang baca dimana ia memajang lukisan-lukisan Anisa, setelah memandangi lukisan-lukisan itu mukanya jadi berubah tersenyum, wajah Anisa seperti tergambar di lukisan-lukisan itu. “Tapi ah… aku nggak bisa marah sama kamu Nis! Heran kenapa aku jadi bener-bener seperti bertekuk lutut sama kamu? Kayanya aku udah pasrah sama kamu Nis!” desahnya perlahan.


Sedang asyik melamun seperti itu, datanglah Mbok Darmi menghampirinya. “Den, maaf itu dipanggil nyonya buat sarapan bareng.”


“Oya makasih Mbok.” jawab Darwin, dia termenung sejenak, tidak biasanya Ibunya mengajaknya untuk sarapan bersama, dia berharap kalau Ibunya sudah berubah dan menjadi perhatian padanya.


“Pagi Mah.” salam Darwin sambil mencium tangan Ibunya.


“Pagi Win, ayo sarapan!” jawab ibunya.


Setelah selesai sarapan, Bu Leny membuka suara lagi. “Jadi uang kamu beneran abis buat beli lukisan-lukisan itu ya?”


Darwin mengangguk. “Iya Mah.”


“Mamah pengen tahu kenapa kamu tiba-tiba jadi suka sama lukisan, kenapa kamu tiba-tiba jadi suka lukisan?” Tanya Bu Leny.


Bu Leny menatap tajam pada Darwin. “Ah sudahlah Win kalau kamu nggak mau menjawabnya, untuk saat ini lakukanlah apa yang kamu suka asalkan itu bukan hal-hal yang negatif, karena mungkin dalam beberapa hari ini Mamah bakalan pulang malam terus, kita nggak punya kesempatan buat ngobrol!”


Darwin terdiam, ia merasa sedih karena apa yang diharapkannya ternyata meleset, Ibunya mengajaknya sarapan bersama hanya untuk mengatakan hal ini, dan hubungannya dengan Ibunya yang kaku seperti ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Padahal ia sangat ingin mendapatkan perhatian dari Ibunya sebagai dukungan moril untuk menghadapi sakitnya itu.


“Ok kalo gitu ntar Mamah transfer uang sakumu ke rekeningmu, dan ingat satu hal! Kamu harus belajar untuk bisa mengungkapkan alasanmu secara jelas dan tegas! Karena kelak kamu yang akan memimpin perusahaan kita!” ujar Bu Leny.


Darwin hanya mengangguk dengan wajah datar. “Baik Mah!” jawabnya.


Setelah Ibunya berangkat, Darwin terdiam sendiri di kamarnya, dia sedih karena merasa perhatian Ibunya kepanya hanya karena ia kelak akan mewarisi perusahaan yang didirikan oleh almarhum Kakeknya itu, di antara kesedihannya oleh sikap ibunya sendiri yang seolah tidak menaruh perhatian padanya, tiba-tiba terlintas wajah Anisa yang sedang tersenyum, diapun jadi senyum-senyum sendiri mengingat wajah Anisa. “Haduh! Baru tadi malem aku ketemu Anisa, tapi kok sekarang aku udah pengen ketemu lagi ya? Inikah yang dinamakan kangen?”


Dia langsung mengambil HPnya, dan mengirimkan satu LINE pada Anisa. “Hallo Nis, hari ini kamu ada waktu? Kita main yuk?”

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian masuklah satu LINE balasan dari Anisa. “Maaf Win, hari ini aku ada janji, lain kali aja ya :)”


Darwin terdiam membaca LINE balasan dari Anisa itu. “Enggak biasanya Anisa nolak kalo kuajak jalan, tunggu dulu! Janji? Janji apa? Jangan-jangan…” Darwin langsung keluar dari kamarnya, dia lalu menuju ke rumahnya Anisa dengan ngebut, rasa khawatirnya tumbuh yang kemudian menjurus pada rasa cemburunya.


Darwin menghentikan mobilnya agak jauh dari pintu gerbang rumah Anisa, beberapa menit kemudian, Anisa terlihat keluar membukakan pintu gerbang rumahnya, lalu mobil yang dikendarai Linda keluar dari rumah itu, setelah menutup gerbang, Anisa kemudian masuk kedalam mobil dan meninggalkan rumahnya, Darwin segera mengikutinya agak jauh dari belakang. “Lho sama Kak Linda? Mau ke mana dia?” gumamnya.


Di sebuah café, Anisa turun dari mobilnya kemudian masuk ke café itu, sementara Linda pergi lagi, melihat itu Darwin segera memarkirkan mobilnya, ia keluar dengan mengenakan topi dan kacamata hitam, ia lalu membeli Koran, ya Darwin berlagak jadi detektif dan masuk ke café tersebut.


Setelah Anisa masuk kedalam café tersebut, ia celingukan mencari Nicole dan Carla yang memang sudah janjian untuk saling bertemu di sana, lalu ia melihat Nicole dan Carla melambaikan tangannya, ia pun duduk di meja yang sama dengan Carla dan Nicole, sementara ‘detektif’ Darwin duduk tak jauh dari mereka dan menguping pembicaraan mereka.


“Nicole, Carll udah lama nunggunya? Sory gue telat soalnya gue nungguin dulu Kak Linda.” sapa Anisa.


“Ah nggak apa-apa kok Nis, kita juga belum lama kok.” jawab Carla.


Anisa lalu melirik pada Nicole. “Oya gimana kabarmu Nicole? Lama nggak jumpa!”


“Kabarku baik kok Nis, cuma lagi sibuk skripsi aja, kabarmu sendiri gimana Nis?” jawab seorang gadis yang wajah dan perawakannya mirip dengan Carla, bedanya hanya bentuk wajahnya yang lebih ouval dan tidak berkacamata.


“Ya gue juga baik Nicole! Wah gak kerasa ya, sekarang kita semua lagi pada sibuk skripsi! Hehehe…” jawab Anisa sambil tertawa yang diamini oleh Nicole dan Carla.


Setelah selesai makan, Anisa lalu melirik pada Carla, Carla yang tanggap pada maksud Anisa itu segera membuka pembicaraan lagi. “Oya Nicole, sebenernya aku ngajak Anisa buat makan siang bareng itu karena pengen membicarakan sesuatu.”


“Oya? Apa itu? Tanya Nicole.


Carla terdiam sejenak sambil menarik nafas panjang, sebenernya ia merasa tidak enak untuk membicarakan ini. “Sebelumnya gue minta maaf ya Nicole, aku ngajak Anisa buat ngobrol bareng sebenernya karena pengen menolong asalah kamu Nicole!”


“Apa?!” mata Nicole melotot pada Carla, ekspresi mukanya langsung berubah. “Carl! Kan udah gue bilang! Lu jangan ikut campur masalah gue yang ini!”


“Tapi Nicole, sebagai sepupu dan temen baikmu, aku sama Anisa wajib buat nolongin kamu!” jawab Carla.

__ADS_1


 


 


__ADS_2