Dance With Life

Dance With Life
Episode 22 - Sahabat Masa Kecil (6)


__ADS_3

Tak lama kemudian dokter yang akan mengoperasi Pak Tomy datang, Pak Tomy pun segera dibawa ke ruangan operasi, saat mereka sedang menunggu dengan jantung berdebar, tiba-tiba HP Darwin bergetar, ternyata Bu Leny yang meneleponnya, setelah menutup teleponnya Darwinpun menghampiri Anisa “Nis, maaf Ibuku nelepon, aku disuruh pulang karena kemarin seharian ga pulang, kamu ga apa-apa kan kalau kutinggal?”


Anisa menggelengkan kepalanya. “Iya ga apa-apa kok Win ntar aku minta Kak Linda buat ngejemput aku, maaf ya udah nyusahin kamu.”


“Ah ga apa-apa kok Nis”, Darwin kemudian melirik pada Nicole, dia mengembangkan senyumnya pada Nicole. “Nicole, fighting!” Nicole pun tersenyum sambil mengangguk pada Darwin, setelah itu Darwin pun pamit pada Bu Rosy dan Carla.


Setelah Darwin pergi, Anisa menatap pada Nicole “apa yang Darwin lakukan ya, sampai Nicole mau merubah pendiriannya?” tanyanya dalam hati.


Beberapa jam kemudian, Dokter yang mengoperasi Pak Tomypun keluar, Bu Rosy segera menghampirina. “Dok, bagaimana hasilnya?”


Dokter itu tersenyum. “Syukur Bu, operasinya berjalan lancar, tapi Pak Tomy masi butuh istirahat, dan dia tidak boleh terlalu banyak beban pikiran!”


Beberapa saat kemudian Anisa mengajak ngobrol Nicole di taman rumah sakit itu “Emh… Nicole, akhirnya kamu mau berubah pikiran dan datang nengok Ayahmu.”


Nicole mengangguk sambil tersenyum. “Hehehe… iya, sebenernya aku mau datang dan mau menerima kembali ayahku berkat orang itu.”


Anisa mengangkat alisnya “Darwin maksud mu?”


“Iya, tadi aku ngobrol banyak sama Darwin, berkat dia mata hatiku terbuka!” jawab Nicole sambil tersenyum.


“Oya? Kalian ngobrol apa?” Tanya Anisa lagi.


Nicole termenung sejenak. “Emh… gini ceritanya.”


Setelah Anisa dan Ibunya pergi untuk menengok Pak Tomy yang keadaannya sedang kritis di rumah sakit, Nicole duduk termenung sendiri di kamarnya, hatinya merasa gundah, sebenarnya dia juga ingin sekali untuk menengok ayahnya di rumah sakit dan menyemangatinya agar cepat sembuh, tapi rasa benci dan dendamnya juga masih berkobar di hatinya karena dia sudah sekian lama ditelantarkan oleh ayahnya, perasaan antara benci, marah, dendam, sayang, kasihan, dan rindu saling bergulung dihatinya, hingga ia menggalau hebat!

__ADS_1


Ting-Tong! Tiba-tiba bel pintu rumahnya berbunyi, mendengar itu ia segera berlari dan membukakan pintu. “Darwin!” ucapnya ketika melihat orang yang memijit bel rumahnya itu.


“Apa maksud kedatanganmu kemari Win? Apa tujuanmu sama dengan Anisa?” Tanya Nicole dengan ketus.


“Iya Nicole, tujuanku memang sama dengan tujuan Anisa!” jawab Darwin perlahan.


“Kalo gitu silakan pergi!” ucap Nicole dengan ketus dan hendak mentup pintu rumahnya.


Darwin buru-buru menahan pintunya. “Tunggu Nicole! Biarkan aku bicara dulu!”


“Bicara apa lagi?! Udah aku nggak mau denger lagi tentang ayahku! Dia udah nelantarin aku selama ini! Dia nggak bertanggung jawab pada kewajibannya buat ngerawat aku!” bentak Nicole!


Darwin menatap tajam pada mata Nicole. “Kalo gitu kamu sama aja kaya Ayahmu Nicole! Bahkan lebih parah lagi!”


“Iya, karena kamu juga akan meninggalkan Ayahmu, sementara Ayahmu sedang dalam keadaan kritis, dia harus dioperasi Nicole! Tapi dia hanya mau dioperasi setelah bertemu denganmu dan kamu menerima permintaan maafnya.” lanjut Darwin.


Nicole terdiam mendengar ucapan Darwin tersebut, ekspresi mukanya terlihat bercampur aduk, dadanya serasa sesak mendengarnya, merasa ucapannya mulai mengena, Darwin lalu menggemgam tangan Nicole, dia menatap Nicole dengan teduh, Nicole tergetar hatinya mendapati tatapan mata Darwin yang teduh itu.


“Nicole, kamu boleh dan berhak untuk membenci Ayahmu, tapi apakah seluruh hidupmu akan kamu habiskan dengan kebencian yang akan berujung pada penyesalan?


Nicole, kamu masih bisa menyelematkan Ayahmu dengan memaafkan semua kesalahnnya, hanya maafmu yang bisa menyelamatkan Ayahmu untuk saat ini! Apakah kamu mau kebencian terus menggerogoti hatimu, hingga akhirnya kamu menyesal karena tidak akan pernah mempunyai kesempatan lagi untuk bertemu ayahmu?”


Darwin tersenyum kecil, kata-katanya mengalir dengan kalem sehingga terasa sejuk didengar Nicole, tatapan matanya sangat teduh dirasa Nicole, sehingga kata-kata Darwin meresap kedalam relung hatinya yang terdalam, tak terasa olehnya ketika beberapa butir air matanya menetes, “Nicole, bukankah waktu kecil kamu sangat ingin bertemu dengan ayahmu? Nah Tuhan sudah mendengar doamu Nicole, sekarang ayahmu sudah hadir didalam hidupmu, bukalah kembali hatimu Nicole! Dan nikmatilah semua waktu yang masih tersisa bersama dengan Ayahmu yang sangat kamu inginkan kehadirannya sejak kecil dulu!”


Bahu Nicole berguncang, kemudian dengan serta merta Nicole memeluk Darwin. “Win aku… aku cuma tidak tahu dengan apa yang harus kulakukan! Hatiku masih terasa sangat berat!”

__ADS_1


Darwinpun membalas memeluk Nicole. “Nicole, denger! Kamu masih lebih beruntung daripada aku! Ayahku sudah lama meninggal, aku tidak bisa menemuinya lagi, sedangkan kamu… Tuhan masih memberikan kesempatan padamu untuk berkumpul kembali dengan Ayahmu! Maafkanlah semua kesalahannya, karena Tuhanpun akan memaafkan setiap kesalahan umatnya dan memberikan kesempatan kedua untuk memperbaikinya! Nicole, semua berhak mendapatkan kesempatan kedua, sekarang berikanlah kesempatan kedua untuk Ayahmu, dan nikmatilah waktu yang tersisa bersamanya!”


Nicole mengangguk sambil menyeka air matanya. “Baik Win, aku akan aafkan semua kesalahan ayahku dan memulai lagi semuanya dari awal! Tolong anterin aku kerumah sakit!”


Darwin tersenyum lebar mendengar itu. “Siippp! Ayo kita bergegas!”, singkat kata, merekapun menuju kerumah sakit untuk menemui Pak Tomy yang keadaannya sedang kritis itu.


“Gitu Nis, ceritanya…” pungkas Nicole.


Anisa melongo mendengar cerita Nicole tersebut, hatinya jadi semakin bertambah kagum pada Darwin, Nicole lalu menatap Anisa sambil tersenyum kecut “Tapi sayang Nis!”


Anisa mengangkat alisnya, “Lho apanya yang sayang?”


“Sebenernya aku merasa kagum sama Darwin, dan hatiku terasa sejuk setiap mendengar kata-katanya yang kalem serta tatapan matanya yang teduh itu, dan aku jadi merasa aman serta nyaman kalau berada didekatnya, tapi ah…” Nicole menghela nafsanya sebelum meneruskan ucapannya.


Mata Anisa melotot, jantungnya berdebar menunggu ucapan Nicole, dia takut kalau dia akan merasa cemburu oleh ucapan Nicole itu, “Sekarang aku tahu kenapa Darwin bisa menjadi idola di kampus kita dan semasa sekolah dulu, karena selain dia ganteng banget, dan anak orang kaya, dia juga baiknya bukan main! Bahkan kadang dia lebih mempedulikan orang lain daripada dirinya sendiri! Selamat ya Nis!” lanjut Nicole.


Anisa melongo. “Selamat? Selamat buat apa Nicole?”


Nicole menatap Anisa sambil tersenyum, “Selamat, karena kayanya Darwin suka banget sama kamu! Kamu juga suka sama Darwin kan?”


“Ah enggak kok! Kami cuma sahabat baik dari kecil kok Nicole!” jawab Anisa sambil tersipu.


“Ah jangan pura-pura Nis! Itu buktinya, kamu masih pake jaketnya Darwin! Itu pasti jaket cowok kan? Siapa lagi yang terus bareng sama kamu selain Darwin?” ucap Nicole sambil memegang jaket yang sdang diapakai Anisa.


Anisa baru tersadar kalau ia sedang memakai jaketnya Darwin, dia menepuk keningnya “Oh iya! Waduh gue lupa ngembaliinnya!”

__ADS_1


__ADS_2