
Akhirnya setelah menimang-nimang, Samuel menyetater mobilnya dan mobilnya kembali hidup, setelah melihat mobil Samuel sudah menyala kembali, Darwin lalu mengabil tissue dari mobilnya dan mengelap tangannya, setelah yakin mobilnya sudah betul kembali, Samuel keluar dari mobilnya, dia lalu menghardik Darwin. “Darwin! Jangan kau kira urusan kita sudah selesai dengan hanya kau membetulkan mobilku!”
Darwin hanya tersenyum pahit mendengarnya, sementara Anisa jadi terpancing emosinya “Heh Samuel! Denger baik-baik ya! Darwin tuh udah nolongin elo walau gara-gara ulah elo tadi siang dia dipukulin sama Andy! Sekarang dia cape-cape abis pulang dari Dokter nolongin ngebenerin mobile lo! Kenapa sih lo kayanya benci banget sama Darwin?!” bentaknya.
Samuel menjawab sambil menyeringai, “Enggak ada alesan apa-apa gue ngebenci dia, pokoknya gue benci dia aja!”
Mata Anisa melotot memandangi Samuel. “Elo tuh ya?! Kurang ajar banget sih?!”
Melihat Anisa yang makin emosi pada Samuel, dia segera melerai Anisa. “Sssttt… udahlah Nis, biarin aja! Yuk kita pulang”, Darwin pun segera menarik tangan Anisa lalu meninggalkan Samuel sendiri, sementara Samuel masih diam berdiri mematung memandang kearah kepergian Darwin dengan Anisa.
Kemudian Darwin menuntu Anisa masuk kedalam mobilnya, setelah jalan lagi Anisa yang masih emosi itu bertanya pada Darwin. “Win kenapa sih lu harus nolongin si Samuel segala? Udah tahu kan dia ngemusuhin elu sejak dulu, padahal biarin aja dia semaleman di jalan nemenin mobilnya yang mogok!”
Darwin tersenyum mendengar Anisa. “Nis, kita wajib menolong siapapun yang sedang kesusahan, apapun tanggapan mereka ke kita, yang penting kitanya ikhlas.”
Anisa agak kaget mendengar itu, biasanya Darwin selalu bersikap cuek apalagi pada Samuel, dengan emosi dia menjawab lagi. “Kok elu jadi bodoh sih Win? Dia kan benci banget ama lu Win! Orang kaya gitu ga pantes dikasih hati!”
Darwin segera menenangkan Anisa dan mengubah topik pembicaraannya. “Ah udahlah Nis! Oya mpe dimana kita tadi? Oya kita kan mau makan malem, mau makan dimana Nis?”
Dengan wajah masih cemberut Anisa menjawab. “Terserah deh! Ini kan udah malem! Gara-gara lu nolongin si Samuel sih!”
Darwin tersenyum, dia tetap kalem mengahadapi rengekan Anisa itu. “Ya ok deh kalo gitu, karena udah malem, kita makannya yang deket komplek kita aja ya”, akhirnya merekapun makan malam disebuah café di dekat komplek rumah mereka, perlahan muka cemberut Anisa menghilang seiring dengan obrolannya dengan Darwin, entah mengapa Anisa merasa sangat senang dengan makan malam dengan Darwin kali ini, dia merasa hatinya berbunga-bunga melihat senyum Darwin, meskipun pipi Darwin masih biru akibat pukulan Andy tadi siang.
__ADS_1
Pagi itu Anisa terbangun dari tidurnya, ketika ia membuka matanya sambil menggeliat, bukan main terkejutnya ia ketika melihat Darwin yang sedang tertidur pulas dengan mulut sedikit terbuka disampingnya! Dengan gerak reflex Anisa segera menyilangkan tangannya didadanya, matanya melotot lebar. "Astagfirullah! Apa yang telah aku lakukan?! Kok aku bisa tidur bareng si Darwin?!" gumamnya dalam hati.
Kemudian Anisa mulai merasa panik, perasaannya bercampur aduk antara marah, heran, dan kaget, sehingga ia tidak tahu harus melakukan apa! Setelah ia bisa menguasai dirinya lagi, ia lalu menendang-nendang Darwin dengan keras dan kasar, "Hei Bangun! Bangun!" teriaknya, kemudian Bruukkk! Darwin terjatuh dari tempat tidurnya.
Darwin lalu bangun sambil memegangi kepalanya yang terbentur akibat jatuh dari tempat tidurnya setelah ditendang Anisa tadi. "Aduuuhhh! Kamu tuh kenapa sih Nis?! Sakit tahu! Pamali kamu nendang-nendang aku kaya gitu!"
Sambil memegangi kepalanya, Darwin melongo mendapati dampratan dari Anisa itu, "Astagfirullah! Nis, kamu itu kenapa sih? Semalem aku kan melaksanakan kewajibanku, udah itu ya tidur bareng kamu!"
Anisa memegangi dadanya, air matanya mulai menetes, "Kewajiban? Kewajiban apa?! Astagfirullah! Darwin aku nggak nyangka kalo kamu tuh cowok hidung belang!" teriak Anisa dengan histeris, dia lalu memukuli Darwin sekuat tenaganya!
Darwin kelabakan menahan pukulan-pukulan Anisa yang sedang menangis histeris itu. "Anisa stop! Masyaallah! Kamu lupa ya?! Kita kan udah Muhrim Nis!"
"Muhrim apanya?!" teriak Anisa, pukulannya malah semakin membabi-buta.
__ADS_1
Darwin lalu memegang tangan Anisa. "Anisa! Anisa! Dengerin dulu! Kamu lupa ya kalo kemarin kita udah nikah? Aku ini suamimu Nis!"
Anisa kemudian menghentikan pukulannya, lalu melongo keheranan. "Nikah? Suami? Sejak kapan?"
Darwin menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian jarinya menunjuk keseluruh kamar tersebut. "Masyallah! Anisa, Anisa! Kita kan baru aja nikah kemaren, dan sekarang kita lagi ada di kamar hotel tempat resepsi kita kemaren, tuh liat tirai-tirai sama bunga-bunga ini! Kita lagi di kamar penganten kita Nis!"
Anisa lalu melihat kesekeliling kamar itu, kemudian setelah ia menginga-ngingat lagi, tertawa cengengesan "Hehehe iya bener, sory aku lupa Win!"
Mata Darwin melotot menatap Anisa yang sedang cengengesan itu. "Apa? Kamu lupa kalau kita udah nikah kemaren? Astagfirullah Nis! Sungguh terlalu dirimu! Muda-muda udah pikun!"
"Biarin, maklumin aja! Aku kan baru bangun tidur, belum sepenuhnya sadar, dan kaget pas liat kamu lagi tidur disebelahku!" jawab Anisa sambil cemberut.
"Haaaahhhh...!!!" Anisa terbangun dari tidurnya dengan teriakan tertahan, dia lalu melihat kesebelahnya, disebelahnya hanya ada guling dan beberapa boneka kesayangannya, kemudian dia memperhatikan kamar disekelilingnya, ternyata dia berada di kamarnya sensiri di rumahnya. "Cuma mimpi ternyata…" gumamnya.
Kemudian dia melihat jam wekernya "Wah baru jam 4 shubuh ternyata…" Anisa lalu rebahan lagi di tempat tidurnya, dia lalu senyum-senyum sendiri mengingat mimpinya barusan. "Kok aku bisa mimpi gitu ya? Apa karena aku terlalu mikirin si Darwin?"
Anisa terus terdiam. "Eh kalo kata orang tua dulu, katanya kalo mimpi pas jam 2 sampai jam 4 itu suatu pertanda tentang sesuatu yang akan terjadi nanti, terus apa artinya mimpiku itu barusan ya?" gumamnya, kemudian dia tersenyum manis, "Darwin" gumamnya sambil menghela nafas menahan deburan gelora yang bergejolak dihatinya ketika mengingat mimpinya barusan.
__ADS_1