
Beberapa saat kemudian, jam kuliah telah usai, Anisa seperti yang telah dijanjikan, Anisa dijemput oleh Hasan, Hasan menunggunya di kantin kampus, Hasan Nampak sangat terpesona dengan gaya Denim gadis hitam manis yang ia taksir tersebut, Anisa nampak sangat cocok dan cantik dengan gaya denimnya tersebut.
Setelah itu mereka berjalan menuju ke mobil Hasan di tempat parkir, pada saat mereka berjalan ke tempat parkir, tiba-tiba Anisa melihat Darwin sedang berjalan berdua dengan Mimi! Betapa terkejutnya ia melihat itu!
Sekonyong-konyong hatinya merasa panas dan bergejolak melihat Darwin yang sedang berjalan berdua dengan Mimi itu. "Mimi! Kok dia ada disini?!" desisnya dalam hati.
Hasan yang melihat perubahan ekspresi wajah Anisa itu, merasa heran. "Lho kamu kenapa Nis?"
Anisa menggelengkan kepalanya. "Eh nggak apa-apa kok San!" jawabnya, kemudian merekapun meninggalkan kampus Atmanagara.
"Eh Nis, kita makan siang dulu yuk? Kamu mau makan siang dimana?" Tanya Hasan.
Anisa menggelengkan kepalanya. "Aduh maaf San, aku lagi nggak enak badan, aku mau langsung aja, kita makan siangnya ntar-ntar lagi aja ya" jawabnya dengan lemas. Hatinya merasa sangat galau akan kehadiran Mimi, di pelupuk matanya terus terbayang-bayang ketika Darwin sedang berjalan berdua dengan Mimi di tempat parkir tadi.
"Oh gitu? Ya udah nggak apa-apa, besok-besok aja lagi kita makan siangnya ya." jawab Hasan.
Ketika sampai dirumahnya, Anisa langsung rebahan di kamarnya. "Duuhhh! Kenapa sih gue harus panas liat si Darwin jalan ama Mimi?! Gue kan udah memutuskan kalo gue nggak akan jalan sama si Darwin akibat sikapnya padaku itu!" geramnya dalam hati.
Tapi bagaimapun dia menepis perasaan galaunya, hatinya tetap menggalau hebat melihat Darwin yang sedang berjalan berdua dengan Mimi! "Ok akan gue selidiki semua ini!" tekadnya dalam hati.
Sementara itu disebuah café di mall, Darwin dan Mimi sedang makan siang berdua. "Mi, kenapa kamu pindah kuliah dari Australia?" Tanya Darwin.
"Oh itu, karena urusan bisnis Papihku udah selesai di sana, makanya kami memutuskan buat pulang ke Indonesia, itu, makanya aku nerusin kuliahku di Universitas Atmanagara." jawab Mimi.
Darwin mengangguk-ngangguk. "Oh gitu... tapi kenapa kamu nggak ngasih tahu ke aku kalo kamu udah pulang, dan malah kuliah satu Universitas denganku Mi?"
Mimi terlihat menjadi salah tingkah mendapati pertanyaan itu. "Eh itu karena... itu..."
__ADS_1
Darwin yang melihat Mimi seperti yang salah tingkah itu langsung tanggap "Ok nggak apa-apa kok Mi kalo kamu nggak mau jawab, yang penting kamu udah pulang, terus kita bisa ngobrol bareng lagi dan kita masih bersahabat kan?"
Mimi mengangguk. "Iya Win, kita masih kaya dulu kok!", tak berapa lama kemudian, makanan yang mereka pesanpun datang "Selamat makan!" ucap Darwin sambil tersenyum, mereka pun lalu makan. Mimi tersenyum melihat Darwin yang sedang makan, angannya melayang kepada kejadian beberapa tahun yang lalu, saat ia mulai berkenalan dengan Darwin.
Pada saat itu mereka masih duduk di bangku kelas 5 SD, Mimi kecil, seorang anak yang pendiam dan lebih senang menyendiri sedang membuka bekal makannya di taman sekolah, pada saat ia hendak menyantap bekalnya, tiba-tiba beberapa anak laki-laki nakal mendekatinya. "Mau apa kalian?" hardik Mimi.
Anak-anak nakal itu hanya tertawa cengengesan. "Hehehe... kita cuma mau main bareng sama Mimi kok!" jawab seorang anak yang bertubuh besar yang tampaknya pemimpin mereka.
"Enggak mau! Aku nggak mau main sama kalian!" bentak Mimi.
"Ayolah! Jangan begitu! Ayo kita main!" ucap Anak itu, lalu mereka mengambil kotak bekal Mimi dan membawanya lari.
"Kembaliin!!!" rengek Mimi, tapi anak itu malah melemparkan kotak bekal Mimi! Bruukkk! Makanan bekal Mimi jatuh berantakan, Mimi pun menangis!
Anak-anak nakal itu pun terawa tergelak. "Hahaha... rasain lu cewe sombong!" ucap mereka bersamaan.
Pada saat itu tiba-tiba ada seorang anak laki-laki berlari menghampiri mereka. "Hoi! Hentikan! Beraninya sama cewek lo!" teriaknya, kemudian dia berdiri dihadapan Mimi.
"Mau apa lu?" Tanya pemimpin anak nakal itu.
Anak laki-laki itu lalu mencolek hidungnya dengan jempolnya, dengan 'sok jago dan sok gagah' ia menjawab. "Huh! Darwin Wijaya nggak akan membiarkan kalian seenaknya membuat onar!"
Pemimpin anak-anak nakal itu tertawa melihat gaya anak laki-laki yang tak lain adalah Darwin itu. "Sok jago banget lu! Ayo sikat!" ucapnya, member komando pada teman-temannya, maka segera anak-anak nakal itu mengroyok Darwin.
Melihat itu Mimi segera berusaha melerai mereka. "Hei stop! Hentikan!" jeritnya! Anak-anak nakal itu pun berhenti setelah Darwin kecil jatuh tersungkur akibat dipukuli mereka "Hahaha itulah akibannya kalo ada anak yang sok jago mau ngelawan kita-kita! Ayo cabut!" ucap pemimpin anak nakal itu, merekapun meninggalkan Darwin dan Mimi berdua sambil tertawa-tawa.
Mimi lalu menghapiri anak yang menolongnya itu yang dalam keadaan babak-belur. "Aduh kamu nggak apa-apa? Maafin aku ya, gara-gara aku, kamu jadi dipukulin mereka!"
__ADS_1
Dengan susah payah Darwin kecil berdiri, dia lalu mecolek hidungya dengan jempolnya, dia masih berlagak 'sok jago' juga. "Ah udahlah aku nggak apa-apa kok!"
Mimi lalu melihat makanan bekalnya yang berantakan, air matanya terus mengalir. Darwin yang melihat Mimi terus menagis lalu mengambil sapu tangannya dan menyeka air matanya.
"Oya, nama kamu Mimi kan? Udah nggak usah nangis, ini kita makan bekalku aja!" ucap Darwin sambil mengambil bekal makanannya.
Mimi terkejut karena senang saat melihat bekal Darwin. "Wah ada Udang Tempura sama Sosis Bratwurst Panggang! Mari makan!" ucapnya sambil menyerobot kotak bekal itu.
Darwin kecil tersenyu melihat kelakuan Mimi itu, pada saat Mimi hendak mengambil makanan itu, ia baru sadar kalau itu makanan Darwin. "Eh maaf aku lupa kalu ini bekalmu."
Darwin tersenyum. "Ah nggak apa-apa kok Mi, mari kita makan bersama!" Mimi pun mengacungkan jempolnya dengan penuh semangat.
"Iya mari kita makan!" mereka berduapun makan dengan lahapnya, seolah lupa kejadian yang baru saja mereka alami.
Kini moment pertemuan pertama mereka seolah terbayang lagi dengan jelas di mata Mimi, meskipun usia mereka terus bertambah dan tentunya perubahan bentuk disikpun tak bisa mereka hindari, menurut Mimi, Darwin tetaplah sama, tidak ada yang berubah dari sosok pria yang sangat ia kagumi itu, masih hangat, ramah, serta bersahabat dengan siapa saja.
"Oya Mi, gimana kabar kedua orang tuamu?" Tanya Darwin.
Mendengar pertanyaan itu, wajah Mimi langsung berubah menjadi sedih, butiran air matanya mulai mengalir, ada gemuruh gejolak yang menderu di hati Mimi. Darwin merasa tidak enak melihat perubahan ekspresi Mimi tersebut. "Lho kenapa Mi? Apa ada sesuatu yang terjadi pada orang tuamu?"
Mimi tidak menjawab, hanya bahunya saja mulai berguncang tanda ia sedang menahan isak tangisnya! Darwin jadi merasa semakin tidak enak, "Mi, aku minta maaf ya kalau pertanyaanku kurang berkenan dihatimu." ucapnya dengan lemah lembut.
Nampaknya nada bicara Darwin yang lemah lembut itu agak mempengaruhi Mimi, Mimi lalu menyeka air matanya. "Ah nggak apa-apa kok Win."
Darwin mengangkat alisnya, nada bicaranya tetap lemah lembut. "Lalu kenapa kamu menangis Mi? Apa ada sesuatu?"
Mimi menggelengkan kepalanya perlahan, Darwin lalu memegang tangan Mimi. "Mi, nggak apa-apa kalo kamu nggak mau cerita sama aku, tapi masih sama seperti dulu, kalo ada yang bisa aku bantu, katakan saja! Jangan sungkan-sungkan! Kita ini kan temen baik!"
__ADS_1