
Mendengar ucapan Darwin yang tulus dan terdengar lembut itu sangat menyejukan hati Mimi, gejolak didadanya perlahan mereda. Sama seperti dulu, ucapan Darwin selalu bisa meluluhkan hati Mimi, hingga akhirnya rasa percaya pada Darwin timbul! Mimi lalu mengusap air matanya lagi dan mulai bercerita.
"Gini Win, sebenarnya alasan aku dan keluargaku pulang ke Indonesia karena bisnis Papihku di Australia mengalami kebangkrutan!"
Darwin kaget mendengar itu, ketika dilihatnya bahu Mimi mulai berguncang lagi, dengan lemah lembut ia mengusapi tangan Mimi, Mimi merasa nyaman dengan perlakuan Darwin tersebut, tindakan Darwin tersebut membuatnya berbesar hati lagi untuk meneruskan ceritanya, "Makanya sekarang kehidupan kami hanya bergantung dari bisnis Ibuku yakni toko kue bolu kukus dan sebuah café di kawasan Kemang."
Darwin terus memegang tangan Mimi sambil menunggu Mimi meneruskan ceritanya, setelah menghela nafas panjang, Mimi meneruskan ceritanya. "Pada awalnya café kami cukup ramai, kami juga melayani pesanan catering di sebuah perusahaan besar, namun setelah bencana itu terjadi, café kami mulai ditinggal para pelanggan kami."
Mimi terdiam sejenak, ia lalu meminum minumannya untuk membasahi tenggorokannya. "Pada suatu saat, karena kelalayan para Karyawan di café kami, kami mendapatkan pasokan bahan makanan yang sudah busuk, kami lalai tidak mengeceknya karena sudah terlanjur percaya kepada pemasok itu, akibatnya catering yang kami buat untuk para karyawan di perusahaan itu basi, dan beberapa karyawan mereka sakit keracunan makanan! Untung mereka tidak menuntut kami, hanya pemutusan hubungan kerja saja! Tetapi berita itu ternyata telah tercium wartawan surat kabar dam dimuat dalam surat kabarnya, sejak saat itu café kami menjadi sepi pengunjung, perlahan karyawan-karyawan kami mulai mengundurkan diri, hingga tinggal beberapa orang saja yang masih setia bekerja. Maka sekarang ekonomi keluarga kami hanya tergantung pada usaha bolu kukus saja Win!"
Darwin mengangguk-ngangguk, dia menunggu Mimi tenang dulu, baru setelah Mimi tenang, dia membuka suara. "Mimi, nggak ada yang nggak mungkin kalo kita mau berusaha! Tenang aja, aku pasti akan membantu kesulitanmu itu!"
Mata Mimi melotot mendengar itu. "Hah? Apa maksudmu Win?"
Darwin menepuk pundak Mimi "Aku dan teman-temanku akan membantu usaha café orang tuamu Mi!"
Malam harinya, Mimi tiduran sendiri di kamarnya, dia terus teringat pada Darwin yang mengucapkan akan membantu kesulitannya itu, hatinya merasa tenang, nyaman, dan hangat ketika mendengar ucapan Darwin yang optimistis itu hingga semangatnya menyala kembali. "Win, kamu emang selalu bisa membesarkan hatiku dari dulu!" gumamnya dalam hati.
"Ah kenapa aku bisa begitu bodoh untuk menghindar dari Darwin selama 6 bulan belakangan ini?" desahnya dengan penuh penyesalan.
__ADS_1
Dia lalu bangun dan berjalan menuju ke rak bukunya, dia lalu mengambil sebuah foto yang ia beri pigura, Mimi tersenyum melihat foto itu, foto itu adalah foto Darwin dan Mimi sewaktu masih anak-anak, "Darwin kamu selalu ada untuku dikala aku dalam kesusahan, kamu bagaikan Super Hero yang selalu siap membantuku!" ucapnya dalam hati sambil menatap foto itu.
***
Keesokan harinya, Mimi menemui Darwin di kantin kampus, seperti yang Darwin janjikan kemarin, di sana juga ada Fina, Mutia, Dony, Togar, Yumi, Cynthia, Devi, Heru, Andy, serta Nicole dan Carla. Mimi terkejut melihat mereka semua yang berkupul di sana. "Nah Mi, inilah bala bantuan yang kubilang kemarin!" ucap Darwin.
Mimi melotot mendengar itu, dia merasa sedikit tidak enak karena mungkin orang tuanya tidak akan mampu membayar mereka semua. "Apa? Tapi Win..."
Darwin faham dengan maksud Mimi tersebut, maka ia buru-buru menjawab "Hehehe... tenang Mi, aku tahu maksudmu, coba denger deh kata mereka!"
"Mi, tenang aja, kami mau membantu kamu sebagai teman, kami nggak minta bayaran kok!" ucap Fina. "Iya Mi, aku mau bantu kamu itung-itung ngelunasin hutang-hutangku!" timpal Mutia.
"Oh, kenalin, aku Yumi, kemarin Darwin minta tolong padaku buat menolong seorang temennya, ya aku aku mau aja soalnya Darwin juga pernah nolongin aku sama cowokku" jawab Yumi. "Dan Aku Cynthia, ini Devi, aku juga pernah ditolong Darwin, makanya pas sekarang dia minta bantuan kita buat menolong kamu, aku mau-mau aja." jawab Cynthia.
Nicole dan Carla tak ketinggalan, mereka berdua merangkul Mimi. "Mi, lu nggak lupa sama kita berdua kan?" Tanya Carla, "Iya kita berdua juga mau nolongin kamu, karena selain kita teman, yang minta bantuan sama kita buat nolongin kamu adalah Darwin, aku berhutang budi sama dia." sambung Nicole.
Mimi merasa sangat terharu mendengar semua itu, lagi-lagi berkat Darwin dia merasa mempunyai harapan lagi, begitu banyak orang yang membantunya berkat Darwin! "Semuanya makasih ya udah mau bantuin Mimi!"
Darwin menepuk bahu Mimi. "Ah sudahlah Mi, sebaiknya kita segera liat keadaan café mu dan mulai Briefing pembagian tugas di sana!"
__ADS_1
Anisa yang juga sedang duduk di sana bersama Hasan, Samuel dan teman-temannya merasa tidak enak karena ia tidak diajak Darwin untuk membantu Mimi, hatinya juga panas karena melihat kedekatan Mimi dan Darwin serta semua yang Darwin lakukan untuk Mimi! Dia tertunduk lesu karena ada rasa penyesalannya karena sudah beberapa hari ini menolak untuk berkumpul dengan teman-temannya dan malah berkumpul dengan Hasan dan Samuel.
Padahal seharusnya ia tidak menjauhi teman-temannya hanya karena ia sedang bertengkar dengan Darwin, ia menyesal karena baru menyadarinya sekarang.
Sepeninggal Darwin, Mimi, dan yang lainnya, Anisa terus termenung, angannya melayang ketika dia bersama Darwin, Fina, Mutia, Dony, dan Togar sering bersama untuk menghabiskan waktunya, kini ia merasa heran pada dirinya sendiri, mengapa ia menghindar dari mereka dan malah berkumpul dengan Samuel cs yang mempunyai hubungan kurang baik dengan teman-temannya? Hasan merasa heran dengan perubahan ekspresi Anisa yan tadinya ceria menjadi murung begitu, tanynya pun meluncur. “Nis, kamu kenapa?”
Anisa segera tersadar dari lamunannya, dia langsung menggelengkan kepalanya. “Eh nggak apa-apa kok San, oya aku duluan ya” ucap Anisa sambil bangkit dari duduknya.
Hasan semakin heran dengan sikap Anisa itu. “Lho mau ke mana kamu Nis? Ayo aku anter!”
“Ah nggak usah San, aku mau naik taksi aja, aku lupa kalo aku lagi ada perlu sekarang!” jawab Anisa sambil mulai melangkah.
Hasan segera berdiri dan mencoba mencegah Anisa. “Tapi Nis, aku sengaja kesini buat ngejemput kamu! Hei Nis tunggu!” namun Anisa tidak mendengarnya dan terus berlalu.
Anisa mengendap-endap mengintip Darwin dan yang lainnya menuju kekendaraannya masing-masing, setelah mereka pergi, Anisa buru-buru berlari dan memanggil taksi. “Pak tolong ikuti mobil itu!” pinta Anisa pada sopir taksi sembari menunjuk mobil Darwin,maka taksi itu pun terus mengikuti mobil Darwin dan yang lainnya.
Beberapa saat kemudian, sampailah mereka ke daerah Kemang, mobil Darwin dan yang lainnya berbelok dan parkir di sebuah bangunan yang menyerupai café tutup yang tak terurus, kemudian mereka semua masuk kedalam bangunan tersebut. Taksi yang ditumpangi Anisa berhenti disebrangnya, ia lalu memperhatikan café tutup itu dengan seksama. “Oh ini toh cafenya Mimi?” gumamnya.
Sambil terus memperhatikan café tersebut, Anisa terus berpikir. “Apa yang harus kulakukan ya? Hmm…” lalu munculah idenya .“Oya, gimana kalo aku minta maaf sama mereka semua terus nawarin bantuanku buat ngebantu cafenya Mimi, aku juga akan ngajak si Hasan!” gumamnya dalam hati. Setelah itu taksi itu pun pergi dari tempat itu.
__ADS_1