
Anisa terdiam dengan wajah memerah, jantungnya berdegup kencang namun pikirannya masih diliputi kebingungan dan kebimbangan apa yang harus ia lakukan pada perasaan Darwin padanya, sekaligus ia pun merasa penasaran kenapa Darwin berucap seperti itu.
Sementara itu Darwin menarik nafas dalam-dalam, ia mengumpulkan keberaniannya, menindih perasaannya, dan mengahalau rasa tegangnya untuk meneruskan ucapannya, hingga ia membuka suaranya kembali.
“Namun… Maafkan aku… Aku menarik kembali kata-kataku! Mengatakan bahwa aku menyukaimu dan melakukan tindakan sepihak yang tidak kamu sukai untuk membeli semua lukisanmu, kemudian memohon, bukan, bukan memohon tapi memaksamu untuk menerima perasaanku tanpa memikirkan perasaanmu, tanpa memikirkan persahabatan kita… Kurasa itu sudah sangat keterlaluan! Maaf… Aku sangat menyesal!”
Gadis yang mempunyai sorot mata teduh ini terdiam menatap wajah Darwin yang salah tingkah dan Nampak jelas grogi tersebut, Darwin pun menghela nafas lalu menatap mata bulat Anisa.
“Anisa, saat pertama kali aku memutuskan untuk membantu Mimi, Mimi bilang padaku kalau ia sebenarnya tidak menyukai bisnis kuliner, dia bisnis kuliner dengan membuka café ini karena ia mewarisinya, sebenarnya ia tidak menyukainya, bukankah itu mengejutkan? Meski ia tidak menyukainya, tapi ia bisa membuat café ini ramai kembali, dan bahkan berhasil membuatnya menjadi salah satu café yang paling laris di kawasan Kemang ini!”
Alis tebal indah Anisa terangkat, ia mencoba menebak apa yang dimaksudkan oleh Darwin sebenarnya, Darwin dapat menangkap keheranan Anisa, maka ia pun berujar.
“Tapi inilah yang dia katakan padaku… Aku tak suka berbisnis kuliner dengan membuka café seperti ini, aku masih sangat trauma dengan kegagalan bisnis orang tuaku di bidang kuliner ini, tapi… Aku tidak membencinya, jika aku membencinya kurasa aku tak akan bisa bangkit dan melanjutkannya sampai seperti ini, dan baru-baru ini, saat Darwin dan semua teman-teman membantuku untuk bangkit, aku jadi benar-benar menyukainya! Dia mengatakannya dengan sangat mantap sambil tersenyum! Mendengar itu membuatku berpikir, tidak masalah jika pada awalnya kamu tidak mencintaiku…”
Anisa menatap Darwin dengan tatapan sangat keheranan. “Heh? Apa maksudmu?”
“Jika kau tak bisa mencintaiku karena aku melukai harga dirimu, membuatmu tersinggung dengan membeli semua lukisanmu, atau merusak persahabatan kita, atau apapun alasannya itu… Sehingga kamu menjaga jarak dariku… Maka haruskah kita memulai dari sesuatu yang tidak kamu benci? Jika kamu mengatakan bahwa kamu tidak membenciku, maka mulai sekarang aku akan mengakui kalau dari dulu aku sudah sangat mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu… Aku… Aku yakin dengan perasaanku karena sudah sangat lama aku memendam perasaan ini, dari sejak aku kecil! Aku… Aku akan selalu mencintaimu!” tegas Darwin.
Anisa menundukan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang tersipu merah, kedua tangannya memegangi dadanya yang seolah jebol karena degupan jatungnya yang begitu dahsyat kencangnya, perasaan hangat, nyaman, sekaligus lega membuncah didalam dasar sanubarinya.
Darwin menghela nafas panjang, ia lalu memegang pundak Anisa, Anisa pun mengangkat kepalanya sehingga kedua pasang mata mereka berdua beradu. “Anisa Pramudyawardhani… Karena itu biarkan aku menanyakan satu hal kepadamu, apakah kau membenciku? Ataukah kamu tidak membenciku?”
Anisa langsung melepaskan pegangan tangan Darwin di bahunya, tangan kanannya langsung bergerak dengan cepat kearah pipi kiri Darwin, dan… Plakkk!!! Darwin terkejut mendapati tamparan Anisa di pipinya, dilihatnya Anisa memelototkan matanya yang merah dan mulai menitikan air mata.
“Bodoh! Dasar Darwin Bodoh! Bodoh!” jerit Anisa yang kecewa dengan pertanyaan Darwin barusan.
“Tentu saja aku tidak membencimu! Mana mungkin aku bisa membencimu?! Walaupun kamu tih nyebelin banget, dari kecil dulu sering buat aku marah dan nangis! Tapi… Tapi mana mungkin aku bisa membencimu?! Aku hanya sebal karena kamu orangnya terlalu kompleks! Omonganmu selama ini ke aku selalu muter-muter nggak jelas! Aku tuh pengennya kamu terus terang aja, ngomong yang simple tapi jelas biar aku bisa nangkep maksud kamu! Kamu tahu kana kalau aku paling nggak suka sama hal-hal yang kompleks?!”
Darwin melongo sambil memegangi pipinya yang kena tampar Anisa, Anisa lalu membalikan tubuhnya hendak meninggalkan Darwin. “Kalau yang ingin kamu katakan cuma itu, ya sudah… Aku sudah menjawabnya kalau aku tidak benci kamu… Sudah sekarang aku mau pulang!”
__ADS_1
Darwin langsung memegang tangan Anisa. “Tunggu!”
Anisa pun membalikan badannya “Apa lagi?” tanyanya dengan nada suara malas.
“Baik, karena sekarang aku sudah tahu kalau kamu gak benci aku… Aku… Aku akan terus terang dan mengatakannya dengan sesimpel mungkin tanpa muter-muter lagi!” jawab Darwin.
Darwin kemudian menggenggam tangan Anisa erat-erat, ia menatap tajam pada kedua bola mata Anisa, dengan menahan deberan jantungnya yang hebat, ia berkata. “Anisa Pramudyawardhani Aku menyukaimu! Aku mengaggumimu! Aku menyanyangimu! Aku mencintaimu! Maukah kamu menerima perasaanku?”
Wajah Anisa memerah karena tersipu mendengar pengakuan dari Darwin tersebut, tentu saja hatinya sangat senang, serasa mengawang ke langit karena inilah yang selama ini ia tunggu-tunggu, namun ia masih penasaran dan akan memberikan satu ujian lagi pada Darwin, maka bibirnya yang tipis dan merah ranum berucap.
“Ok… Ok… kalo gitu, aku tunggu kamu besok di café deket sekolah SMA kita dulu jam 12 siang tepat! Aku akan ngasih jawabannya disitu, dan kalo sampe kamu nggak dateng, aku udah nggak mau tau lagi semua tentangmu!”
“Ok! Kalo gitu aku akan dateng jam 12 tepat!” jawab Darwin dengan tegas.
“Tapi kamu jangan seneng dulu, aku belum bilang kalau aku menyukaimu atau menerimamu atau apapun itu!” cibir Anisa yang kembali jual mahal pada Darwin. Darwin mengangguk. “Tentu saja aku tidak akan salah paham, Tapi sebaiknya sekarang aku anter kamu pulang dulu Nis, udah malem, daripada naik taksi!”
Anisa pun mengangguk setuju dan berjalan menuju ke mobil Darwin.
Pada saat ia berjalan menuju ke kamarnya, ia melihat Linda yang sedang menonton TV di ruang keluarga. “Apa gue tanya sama Kak Linda aja ya?” tanyanya dalam hati, kemudian ia pun mendekati Linda.
“Malem Kak!” sapa Anisa.
Linda menoleh pada Anisa, “Malem Nis, eh udah pulang, gimana cafénya Mimi tadi? Rame?”
Anisa mengangguk perlahan “Iya Kak, lumayan rame.”
“Oh gitu, ya udah kamu istirahat dulu sana!” jawab Linda, namun ia melihat Anisa masih terdiam seperti ada yang hendak akan ia katakan. “Kamu kenapa Nis? Apa ada yang mau diomongin sama Kaka?”
Jantung Anisa berdegup kencang, kemudian setelah menelan ludahnya, barulah ia berkata “Ini Ka, aku mau nanyain sesuatu…”
__ADS_1
“Oya? Apa itu?” tanya Linda.
“Waktu Kakak ditembak sama cowok yang bener-bener Kakak cintai dan selalu Kakak harapkan kedatanganya, apa yang Kakak lakukan? Apa Kakak tahan harga atau pasrah dan langsung nerima dia?” ujar Anisa.
Linda mengerutkan keningnya. “Dulu Kakak pasrah nerima dia soalnya dia udah udah membuktikan cintanya sama Kakak dan sebelumnya dia juga berkali-kali juga menyatakan perasaannya meski bukan lewat lisan tapi lewat sikapnya! Kenapa kamu nanyain itu Nis?”
Wajah Anisa memerah, dia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Eh nggak apa-apa kok Kak! Udah dulu ya, aku mau mandi dulu!”
Linda memperhatikan wajah Anisa yang memerah itu. “Lho muka kamu kok jadi merah Nis? Hei jangan-jangan Darwin nembak kamu ya Nis?!”
“Enggak kok Kak! Enggak! Aku cuma nanya aja!” jawab Anisa berbohong sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Linda.
“Lho?! Tunggu Nis! Kamu beneran ditembak sama Darwin?! Hei tunggu!” cegah Linda, namun Anisa terus melangkah meninggalkannya.
“Haduh! Harusnya gue nggak usah nanya yang gituan sama Kak Linda, jadi aja ketahuan kalo Darwin nembak gue! Ahhh!” gerutunya dalam hati.
*****
Disaat yang bersamaan, Darwin baru sampai kerumahnya, ketika ia masuk dan berjalan menuju kekamarnya ia melihat ada Mbok Darmi sedang berjalan menuju ke kamar Bu Leny sambil membawa mangkuk, “Mbok, Mamah udah lama pulangnya?” tanya Darwin.
Mbok Darmi mengangguk. “Iya Den, Nyonya udah pulang dari tadi sore, tapi kayanya Nyonya lagi ada masalah Den, dari tadi Nyonya muram terus, Nyonya juga nggak mau makan sama minum apa-apa!”
“Ah pasti gara-gara masalah tadi sore! Hmm… Aku udah salah sama Mamah karena membantah dan melawannya tadi…” gumam Darwin dalam hati dengan lesu, “Itu apa Mbok? Apa buat Mamah?” tanya Darwin.
“Iya Den, ini Bubur Kacang buat Nyonya, sengaja si Mbok buatin buat Nyonya, soalnya dari tadi Nyonya nggak mau makan apa-apa!” jawab Mbok Darmi.
“Kalo gitu, biar aku saja yang ngasihin ini ke Mamah, si Mbok istirahat saja!” ucap Darwin, Mbok Darmi pun memberikan mangkuk yang berisi bubur kacang hijau itu pada Darwin, dan Darwin pun segera menuju ke kamar Ibunya.
Darwin mengetuk pintu kamar Ibunya beberapa kali, namun tidak ada jawaban dari dalam, maka ia memutuskan untuk masuk. Ketika mengetahui Darwin yang masuk, Bu Leny yang sedang berbaring diatas kasurnya itu langsung memalingkan wajahnya!
__ADS_1
Darwin sangat sedih melihat Ibunya yang membuang muka darinya itu, dia lalu berjalan mendekat, mangkuk yang berisi bubur kacang hijau itu ia taruh diatas meja, dia lalu memegang tangan Ibunya. “Mah, Darwin tahu kalau Darwin salah udah ngelawan Mamah, Darwin minta maaf ya Mah, Darwin nggak akan mengulanginya lagi!”