Dance With Life

Dance With Life
Episode 15 - Masakan Spesial Anisa (1)


__ADS_3

Heru segera berbalik dan menatap Cynthia. “Be… Benarkah itu Cyn?” Cynthia mengangguk sambil tersenyum, saing gembiranya Heru hampir meloncat karena kegirangan “Asyik! Aduhduh…aduh!” Heru langsung mengerang kesakitan karena luka diperutnya yang masih basah itu, Cynthia segera memegangi Heru “Aduh Her makanya hati-hati!”


Fina yang mengintip mereka berdua dari jendela tersenyum lebar. “Yes! Misi kita sukses! Mereka jadian! Cihuy!”


Darwin tersenyum mendengar ucapan Fina tersebut, Anisa lalu menyenggol bahu Darwin. “Lega sekarang kan? Jadi kamu gak usah takut lagi sama ramalan dukun tarot itu kan?” ucap Anisa dengan nada menyindir.


Darwin agak tidak enak dengan sindiran Anisa itu, karena ia menyadari, selain menyindir, nada bicara Anisa juga seperti yang sedang menyelidik, ia hanya bisa mengangguk sambil tersenyum. “Eh iya Nis hehehe…”


“Misi enam sekawan sukses!” teriak Fina.


“Iya misi kita sukses!” sahut Mutia, mereka kemudian saling berpandangan.


Mendengar keributan itu, seorang Suster mendatangi mereka akibat kebisingan yang mereka buat. “Sssttt! Jangan berisik! Kalian nggak tahu kalau ini rumah sakit?” tegurnya dengan wajah masam, “Iya maaf Sus!” jawab Mutia.


Baru saja Suster itu berlalu, Doni mendekati Darwin dan berbisik pada telinganya. “Win, gue pinjem duit dong! Kantong gue kering banget nih!”


“Ya ilah! Urusan ama lu duit mulu ya?! Makanya jangan rampus! Makanan terus yang ada di otak elu sih!” jawab Darwin.


“Aduh pelan-pelan Win! Ya gue minjem 100 ribu aja!” ratap Doni.


“Enggak punya Don! Gue lagi banyak pengeluaran bulan ini! Hutang lu yang kemaren juga belom lu bayar!” jawab Darwin.


“Masa sih elu bisa bokek? Ayo Win!” ratap Doni. Anisa segera menarik pundak Doni “Ya ampun! Doni, Doni… Darwin kan udah bilang kalau dia lagi nggak punya duit!”


“Yah Nis, masa ama temen gitu sih?” jawab Doni sambil cemberut.


Melihat itu, Fina segera memanas-manasi Anisa dan Darwin “Adeuh Anisa perhatian banget ama Darwin! Udah tunggu apa lagi? Heru ama Cynthia juga udah jadian, kalian kapan mau jadian?!”


Mendengar itu, gadis hitam manis ini melotot dan langsung memukul-mukul tangan Fina “Fina ih!” teriaknya, semnetara Darwin hanya mesem-mesem saja sambil menatap Anisa “Sory Bro, gue juga lagi bokek jadi nggak bisa minjemin duit, duit gue abis buat ngeborong lukisannya Anisa!”.

__ADS_1


*****


Keesokan harinya Anisa nampak sedang mengetik dengan laptopnya di perpustakaan, saat ia sedang asyik mengetik, seseorang menepuk pundaknya dari belakang. “Hallo Nis!”.


Anisa segera menoleh, dihadapannya berdiri seorang gadis berwajah oriental, bentuk wajahnya bulat menggemaskan, berkacamata, gayanya nampak agak genit dan centil, bertubuh tinggi semampai, berambut sepundak berwarna cokelat gelap, ia langsung memeluk orang yang menepuk pundaknya. “Carla! Ke mana aja? Lama nggakketemu!”


“Eh gue ada kok Nis, cuma sibuk ama skrispsi doang kok Nis! Oya gimana skripsi lu?” Tanya Carla.


Muka Anisa jadi sedikit cemberut. “Ya gitu deh Carl! Dicorat-coret terus! Oya gimana kabar sepupumu Nicole? Aku juga kangen ma dia, udah lumayan lama nggak ketemu!”


Muka Carla yang tadinya ceria itu jadi berubah muram. “Itulah Nis, sebenernya gue ngajak lu ketemuan disini tuh mau ngobrolin masalah Nicole, dia lagi punya masalah Nis!”


Anisa mengangkat alisnya. “Oya? Masalah apa?”


Carla terdiam sejenak sebelum menjawab, mukanya berubah lagi menjadi sedih. “Eh gimana kalau nanti malem aja kita ajak Nicole sekalian buat ngobrolin ini? Soalnya gue nggak enak kalo langsung nyeritain ke elu tanpa sepengetahuan Nicole.”


“Wah maaf Carl, kayanya male mini gue nggak bisa, soalnya ada acara keluarga! Gimana kalo besok kita makan siang bareng aja?” jawab Anisa.


Carla pun mengangguk. “Ya Ok deh kalo gitu…” Mereka pun lalu mengganti topik pembicaraannya, Anisa yang sedang asyik mengobrol tidak sadar kalau seorang pria yang bertubuh tinggi besar sedang memperhatikan dirinya sedari tadi.


Carla terpaksa harus meninggalkan Anisa karena ada kelas lagi, pahal mereka berdua masih kangen dan masih ingin untuk mengobrol lagi, mereka berdua pun berjalan meninggalkan perpustakaan kampus dan berpisah di halaman perpustakaan, pada saat itu seseorang yang bertubuh tinggi besar menyapa Anisa dari belakang. “Hallo Nis! Lama nggak jumpa!”


Anisa langsung menoleh, dia terkejut melihat pria yang menyapanya itu. “Hasan?! Astaga! Ke mana aja kamu? Udah lama banget kita nggak ketemu!”


Pria berwajah bertubuh tinggi besar yang bernama Hasan itu tersenyum lebar ketika mendapati Anisa yang bisa langsung mengingatnya. “Hahaha ada kok Nis, sekarang aku tinggal lagi di Jakarta lho!”


“Oya? Kukira kamu nggak akan balik ke Jakarta San, kan katanya kamu kuliah di Malaysia ngikutin keluargamu?” Tanya Anisa.


“Aku udah pindah ke Universitas Salakanagara Nis, keluargaku juga udah pada balik kok ke Jakarta.” jawab Hasan yang terus mengembangkan senyum manisnya.

__ADS_1


“Lha? Terus ngapain kamu ke kampus ini San?” Tanya Anisa lagi.


“Aku berkunjung ke Kampus ini khusus buat nemuin kamu Nis!” jawab Hasan sambil tersenyum manis, matanya menatap tajam pada mata Anisa.


Anisa jadi sedikit grogi mendapati tatapan mata dan senyum Hasan, ia jadi teringat memori-memori masa lalunya, tapi ia segera menguasai dirinya lagi, tangannya bergerak mencubit tangan Hasan. “Ah elu San! Masih aja jadi raja gombal dari dulu! Yang bener! Kamu mau ngapain kesini?”


Hasan tertawa mendengar ucapan Anisa tersebut, “Hahaha… yah, kebetulan aku mampir ke perpus Atmanagara mau minjem buku buat refrensi karena buku yang kucari nggak ada di kampusku, nah pas tadi di perpus kebetulan ketemu sama kamu Nis!”


“Lho kenapa tadi di perpus kamu nggak nyapa aku San?” Tanya Anisa.


“Soalnya tadi kulihat kamu lagi asyik ngobrol ma Carla, aku nggak enak kalo harus ganggu kamu!” jawab Hasan.


“Oh gitu…” Anisa lalu melihat jam tangannya, “Eh San, udah dulu ya, aku ada kelas nih!”, sebelum Anisa dan Hasan berpisah, mereka saling bertukar no HP terlebih dahulu.


Setelah Anisa pergi, Hasan masih berdiri mematung di tempat itu, dia terseyum menatap kepergian Anisa. “Wah Nis, kamu makin cantik aja!” gumamnya.


Pada saat ia termenung sendiri seperti itu, datanglah seorang temannya menepuk pundak Hasan dari belakang. “Gimana Bro? info dari gue akurat kan?”


Hasan mengangguk mengiyakan. “Iya bener Bro, thanks ya Sam buat infonya!”


Orang itu lalu tersenyum lebar sambil tertawa mengkehkeh, “Hehehe… tahap awal dari rencanaku sukses!” gumam orang itu yang tak lain adalah Samuel.


*****


Malam harinya sekitar jam 7 malam, Anisa terlihat sibuk didapur bersama Linda dan ibunya, mereka sedang memasak untuk mempersiapkan acara makan malam keluarganya, Linda dari tadi terlihat heran ketika melihat Anisa seperti sedang mempersiapkan masakan khusus. “Kamu masak apaan Nis?”


“Eh ini Kak, pokoknya ini masakan special deh!” jawab Anisa dengan muka cemberut.


“Tapi kok muka kamu cemberut banget sih Nis? KAmu berantem lagi sama Darwin ya?” Tanya Linda lagi.

__ADS_1


“Enggak kok Kak!” jawab Anisa. Ketika ayahnya Anisa Pak Hady tiba-tiba memutuskan untuk mengajak Darwin untuk makan malam, entah kenapa Anisa jadi merasa sangat senang, ia jadi berpikir yang macam-macam, namun tiba-tiba rasa kesal dan dongkol pada Darwin juga terbit dihatinya, ia merasa kesal karena hingga saat ini Darwin belum juga memastikan hubungan mereka berdua sebenarnya sebagai kekasih atau sahabat, maka ia sengaja akan menyiapkan “Masakan Spesial” untuk Darwin!


__ADS_2