
Amarah Ody sudah sampai ke ubun-ubunnya! Dia segera melepaskan Cynthia, dan segera menerjang Togar dengan pisaunya, Togar membuang dirinya kesamping, dan menangkap tangan Ody, ia lalu memelintir tangan Ody hingga pisaunya terlepas dari tangannya, setelah pisaunya terlepas Togar lalu mengirimkan pukulannya pada wajah Ody hingga Ody mundur terhuyung-huyung kebelakang!
Namun nampaknya Ody belum menyerah, segera setelah ia menguasai dirinya lagi, ia menerjang Togar lagi! Dengan mudahnya Togar menangkap tangan Ody, lalu mengirimkan tumitnya pada perut Ody ditambah dengan satu bogem mentah yang kembali medarat di muka Ody! Saking kerasnya pukulan dari orang tinggi besar itu, Tubuh Ody berputar dan kemudian jatuh tersungkur hingga tidak sanggup untuk berdiri lagi!
Melihat Ody yang sudah tidak berdaya, Togar segera berlari menghampiri Heru yang sedang tergeletak dengan luka yang masih terus mengeluarkan darah, Cynthiapun segera menghampiri Heru. “Heru kamu nggak apa-apa?!” Tanya Cynthia dengan panik.
Heru memaksakan tersenyum di antara rasa sakitnya itu “Ah aku nggak apa-apa kok Cyn!”
Pada saat itu datanglah Devi bersama beberapa petugas keamanan, para petugas keamanan itu segera mengamankan Ody, sementara Devi menghambur pada Cynthia. “Cyn, Her, kalian nggak apa-apa?”
“Aku nggak apa-apa Dev! Tapi Heru…” jawab Cynthia sambil menangis.
“Kau sendiri nggak apa-apa Dev?” Tanya Togar yang melihat kepala Devi mengucurkan darah akibat terbentur ketika didorong oleh Ody tadi.
“Ah aku nggak apa-apa kok Gar, sebaiknya kita segera nelepon ambulance!” jawab Devi.
*****
Di lain tempat, Doni sedang berjalan seorang diri, muka pria bertubuh subur itu sangat muram “Haduh… laper, pengen jajan, tapi kantong gue lagi kering banget, halah…”.
Tiba-tiba matanya melotot melihat selembar uang yang tergeletak di bawah. “Wah duit merah yang gambarnya Pak Karno nih!” gumamnya, ia pun lalu celingak-celinguk melihat kesekitarnya. “Duit sapa nih? Hmm… kebeneran gua lagi bokek nih!” ia lalu jongkok dan mencoba mengambil uang itu, namun uang itu ternyata terjepit oleh ban mobil yang parkir diatasnya. “Ah sial! Kejepit!” makinya dalam hati.
Doni lalu buru-buru berdiri, ia melihat ada sebuah warung kopi beberapa meter dari sana. “Ah gua ngopi dulu aja, sambil nungguin ni mobil pegi, begitu ni mobil pegi gua sikat dah uangnya!” pikirnya, kemudian ia meninggalkan tempat itu menuju ke warung kopi tersebut karena takut dikira mau maling mobil yang sedang parkir itu.
__ADS_1
Di dekat warung kopi itu ada seorang pengemis tuna netra yang menegadahkan tangannya, Doni lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan uang Rp. 500 untuk pengemis itu, ia lalu masuk ke warung kopi tersebut, “Bu Kopinya satu!” pesannya.
Saat ia sedang menyeruput kopi itu, ada satu orang yang keluar dari warung itu, Doni berhenti menyeruput kopinya dan memperhatikan orang itu, “Yang punya mobil ntu bukan ya?” gumamnya, saking fokusnya pada orang itu dia tidak ingat kalau cangkir kopinya masih ia pegang hingga kopi itu sedikit tumpah membasahi celanya. “Uhhh Panas!” umpatnya ketika menyadari kopi itu tumpah, ia lalu mengelap celanya dengan tissue sambil terus memperhatikan orang itu.
Tapi ternyata orang itu hanya berjalan melewati mobil itu, Doni bernapas lega, ia lalu memesan lagi. “Bu gemblongnya satu!” pesannya pada si Ibu pemilik warung kopi itu.
Tepat saat gemblongnya datang, ada satu orang yang keluar dari warung kopi itu, Doni segera memusatkan perhatiannya pada orang itu, dan benar saja, orang itu adalah pemilik mobil tersebut, pada saat mobil itu berjalan meninggalkan tempat parkir itu, orang-orang yang ada di warung kopi tersebut berhamburan untuk mengambil uang 100 ribu yang tergeletak di jalan itu, namun sebelum orang-orang itu mendapatkan uang tersebut, si pengemis tuna netra tadi keburu mengambilnya dan kabur dari tempat itu!
Mendapati kejadian tersebut, Doni hanya bisa menggerutu menahan kedongkolannya. “Ah sialan! Gua ketipu ama detektif kacamata cengdem! Gope gue liwat dah!”
Disaat ia sedang menggerutu, HPnya berbunyi, ternyata telepon dari Togar. “Hallo Gar ade ape? Apa? Heru masuk rumah sakit?! Ok gue kesana sekarang!” jawabnya, ia pun segera meninggalkan tempat itu.
Di ruang tunggu ICU rumah sakit itu, Cynthia, Devi, Togar, Doni, Anisa, Mutia, Yumi, dan Fina sedang gelisah menunggu hasil operasi Heru, “Aduh mudah-mudahan Heru nggak apa-apa!” ucap Cynthia sambil menangis.
Devi yang kepalanya juga dibalut perban segera merangkul sahabatnya itu “Tenang Cyn! Heru pasti nggak kenapa-napa!”
“Sudah Nis, mereka langsung menuju kesini dari Bandung!” jawab Darwin.
“Darwin aku mau nanya sesuatu.” ucap Cynthia tiba-tiba disela-sela tangisnya.
“Oya? Apa itu Cyn?” Tanya Darwin.
“Kenapa sih si Heru baik banget sama aku, sampe-sampe dia kena musibah ini?” Sahut Cynthia.
“Lho kenapa nanyanya ke aku Cyn?” Tanya Darwin.
“Karena aku liat akhir-akhir ini kalian sering bareng, kamu teman baiknya kan? Pasti tahu alesannya kenapa?” Tanya Cynthia lagi.
__ADS_1
Darwin tersenyum sambil menatap Cynthia. “Hehehe Cyn, sebaiknya kamu tanya sendiri sama Heru biar jelas”, Cynthia terdiam mendengar jawaban Darwin tersebut, maka ia pun memutuskan untuk menanyakan sendiri pada Heru seperti yang disarankan oleh Darwin.
Beberapa jam kemudian, Heru sudah selesai diporasi, dia sudah siuman, setelah orang tuanya meninggalkan ruangan itu untuk mengurus administrasi, Heru tersenyum sambil menatap Cynthia, Darwin yang menangkap sinyal itu segera mengerti dan mengajak yang lainnya meninggalkan kamar Heru. “Eh kita nunggu diluar ya Her.” ucapnya pada Heru, Heru pun mengangguk.
Ketika Cynthia juga hendak ikut keluar bersama yang lainnya, Darwin menahannya. “Cyn, kayanya Heru mau ngobrol bentar sama kamu.” Cynthia terdiam sejenak, setelah ia mengerti maksud Darwin iapun mengangguk.
“Her, makasih ya udah nolongin aku!” ucap Cynthia sambil memegang tangan Heru.
Heru pun tersenyum “Ah nggak apa-apa kok Cyn.”
“Sebenernya aku pingin tahu, kenapa sih kamu baik banget sama aku?” Tanya Cynthia.
“Lho kenapa kamu tanyain itu Cyn? Aku nggak mau liat kamu nangis dan bersedih! Aku maunya selalu liat kamu tersenyum bahagia Cyn!” jawab Heru.
“Iya tapi kenapa mesti gitu Her? Sampai-sampai kamu juga pernah ngikutin status di Twitterku!’ Tanya Cynthia lagi.
Akhirnya Heru tidak bisa lagi menahan gejolak di dadanya, dengan jantungberdegup cepat akhirnya ia menjawab. “Kamu nggak tahu Cyn? Itu semua aku lakukan karena aku sayang sama kamu! Aku sayang banget sama kamu Cyn!”
Mendengar itu Cynthia membisu, Heru jadi merasa tidak enak melihat ekspresi wajah Cynthia. “Ah kenapa aku keceplosan ngomongnya disini? Tanpa seikat bunga mawar yang aku berikan pas dinner yang romantis di restoran? Ya tentu aja kalo Cynthia nolak aku juga…” gumamnya dalam hati.
Dan akhirnya Cynthia menjawab juga. “Maafin aku Her, sebenernya aku belum siap buat pacaran lagi karena masih trauma sama masalahnya si Ody!”
Heru langsung memalingkan wajahnya mendengar itu, dia merasa sedih sebab jawaban Cynthia tersebut, tapi Cynthia membuka suaranya lagi. “Tapi setelah liat kamu belain aku tadi pas diganggu sama Ody, aku jadi… aku juga jadi sayang sama kamu Her!”
__ADS_1