
Sementara itu Darwin yang sudah berpakaian rapih itu terdiam didalam mobilnya sambil menatap ke rumah Anisa, jantungnya berdegup kencang! “Haduh, gue kok jadi tegang gini ya?” tanyanya pada diri sendiri. Darwin belum berani turun dari mobilnya, ia masih duduk didalam mobilnya dengan gelisah. “Ngomong-ngomong ada apa ya kok Om Hady ngundang aku makan malem bersama dirumahnya? Jangan-jangan…” pikiran dan lamunannya melayang ke mana-mana, ia lalu tersenyum-senum sendiri. “Alah Darwin! Elu kok jadi mikir yang enggak-enggak sih!” ucapnya sambil menepuk keningnya, kemudian setelah ia menarik nafas panjang dan menenangkan dirinya, lalu keluar dari mobilnya dan melangkah masuk kedalam rumah Anisa.
Ketika Darwin sudah dipersilahkan masuk, Bu Hady segera menyambutnya. “Eh Nak Darwin sudah datang, Nis! Anisa! Ini Darwin udah dateng!”
Darwin menangguk sambil tersenyum “Makasih Tante.”
Pada saat itu, Pak Hady ayah Anisa juga datang menghampiri Darwin. “Ayo Win masuk! Ga usah malu-malu!”
Darwin mengangguk lagi sambil tersenyum. “Iya, makasih Om.”
Tak lama kemudian Anisa datang ke ruang tamu itu, Darwin tercengang ketika melihat Anisa yang sudah berpakaian rapih, namun sayang muka Anisa pada saat itu sedang cemberut, Bu Hady jadi agak kurang enak pada Darwin melihat putri bungsunya itu cemberut ketika menyambut kedatangan Darwin. “Anisa kok kamu cemberut gitu sih?” tanyanya.
Anisa melirik sebentar pada Darwin dengan muka cemberutnya, Darwin hanya keheranan dengan muka cemberutnya Anisa karena saat itu mereka sedang tidak bertengkar, setelah itu baru kemudian Anisa menjawab. “Enggak apa-apa kok Mah!”
“Ya udah, sekarang ajak Darwinnya ke meja makan sana!” perintah Bu Hady.
“Ok Mah!” kemudian Anisa melirik pada Darwin, “Ayo makan dulu sana! Ada mie ayam special tuh!” ajaknya dengan ketus pada Darwin.
“Mie ayam? Kok kamu masakin Darwin Mie ayam sih Nis? Kan menu utama kita malam ini Sop Buntut?” Tanya Pak Hady.
“Kan namanya juga special Pah!” jawab Anisa, “Udah ayo makan!” ucapnya dengan ketus sambil melangkah meninggalkan mereka.
Darwin hanya melongo dengan sikap Anisa itu, “Aduh nak Darwin maafin Anisa ya, ya walaupun kalian udah berteman dekat dari kecil, tapi sikap Anisa yang sekarang agak keterlaluan karena dia sudah besar.”
“Ah nggak apa-apa kok Tante, udah biasa hehehe…” jawab Darwi sambil tersenyum, kemudian mereka pun menuju meja makan, Darwin berjalan dibelakang Pak Hady dan Bu Hady.
“Eh Darwin! Gimana kabarnya? Udah lama nggak ketemu” sapa Linda.
“Alhamdulillah baik Kak” jawab Darwin.
__ADS_1
“Iya, akhir-akhir ini kamu jarang main kesini, mainlah, kan rumah kita deket cuma beda blok doang!” ucap Linda lagi.
Darwin mengangguk sambil tersenyum. “Iya Kak, nanti aku pasti mampir lagi”.
“Jadi Ibumu belum pulang Win?” Tanya Pak Hady. “Iya belum Om.” jawab Darwin.
“Yah sebenarnya aku mengundang kamu sama Ibumu buat makan malam kali ini, kami sudah lama tidak bertemu dengan Ibumu, oya bagaimana kabarnya Ibumu akhir-akhir ini?” Ujar Pak Hady.
Darwin terdiam sejenak, ada sedikit perasaan tidak enak tentang Ibunya itu, dengan menunduk dia menjawab. “Ya begitulah Om, Mamah akhir-akhir ini semakin sibuk saja.”
Pak Hady mengangguk-ngangguk. “Ya… Ya… aku mengerti kalau Ibumu sangat sibuk, menjadi pimmpinan di perusahaan sebesar itu pasti menyita banyak waktunya.”
Anisa yang baru datang dari dapur dengan membawa semangkuk Mie, ikutan nyeletuk “Iya terlalu sibuk! Sampai-sampai menelantarkan urusan keluarganya!”
“Anisa!” ucap Bu Hady sambil melotot pada Anisa.
“Aduh Win, maafin anak ini ya, biasa kalo lagi cemberut dia pasti jadi kaya gini! Kamu juga udah hafal kan?” ucap Linda.
Anisa memberikan semangkuk mie ayam pada Darwin. “Ini buat kamu Win! Mie ayam Rica special buatanku, khusus buat kamu!”
Darwin melongo melihat warna mie itu yang sangat merah dan bertebaran biji cabai itu, tapi ia tersenyum lagi. “Oh, makasih ya Nis…”
“Lho Nis, kita kan udah masak Sop Buntut buat menu utama makan malam kita?” tanya Bu Hady.
“Ah Mamah! Ini kan Nisa masakin special buat Darwin! Ya maklumin aja dong, Nisa kan baru bisa masak yang gampang-gampang!” jawab Anisa setengah merengek.
Mendengar itu, hati Darwin jadi merasa senang, meskipun terbit syak wasangka kalau Anisa sedang mengerjai dirinya, setelah mendengar jawaban Anisa itu, dia memutuskan untuk menghabiskan mie ayam rica special buatan Anisa dengan senang hati. “Ah nggak apa-apa kok Tante, saya malahan senang karena sudah dimasakin mie ini sama Anisa.”
Akhirnya setelah berdoa, acara makan malam itu pun dimulai, Darwin pun mulai mencicipi mie buatan Anisa itu, baru satu suap, matanya langsung melotot dan keringatnya mengucur, mukanya jadi agak merah, Anisa yang melihat itu tersenyum. “Gimana? Enak mie buatanku?” tanyanya sambil tersenyum.
Darwin segera menguasai dirinya lagi, dia tahu kalau Anisa sedang mengerjai dirinya dengan sengaja menyediakan makanan yang super pedas itu! Padahal dia tahu kalau Darwin paling tidak tahan dengan makanan pedas! “Enak banget lho Nis! Makasih ya!” jawabnya sambil tersenyum.
Anisa tersenyum jahil mendapati jawaban itu, tapi ia kemudian terkejut ketika Darwin segera menyantap lagi mienya dengan lahap, walau mukanya menjadi semakin merah dan keringat bercucuran, sementara Linda, Pak Hady, dan Bu Hady saling pandang melihat peristiwa itu.
__ADS_1
Dalam keadaan normal, mungkin Darwin sudah menyerah dengan mie pedas itu pada saat ia pertama mencicipinya, tapi sekarang terdorong oleh perasaannya yang menggebu-gebu pada Anisa, dia tidak mempedulikan rasa pedas yang membakari lidah dan kerongkongannya! Melihat Darwin yang begitu lahap menyantap mie buatannya, Anisa jadi merasa bersalah, “Win udah aja! Jangan diterusin! Kamu makan yang lain aja ya!”
“Ah nggak apa-apa kok Nis! Mienya enak banget kok!” jawab Darwin sambil tersenyum, walau mukanya makin merah karena menahan rasa pedas yang memenuhi mulutnya.
Mendengar itu, Anisa yang duduk disebelahnya langsung menarik mangkok itu. “Udah Win! Udah! Aku tuh sengaja ngerjain kamu pake mie ini tahu!”
Darwin menatap Anisa sambil tersenyum. “Aku tahu Nis kalo kamu lagi ngerjain aku, tapi karena kamu bilang kamu masak mie ini khusus buatku, dengan senang hati aku akan menghabiskannya!”
Anisa tercengang mendapati jawaban itu, perasaan bercampur aduk segera menyeruak dihatinya, namun perasaan senang lah yang paling dominan, sementara Linda tersenyum lebar, kini dia mengetahui perasaan antara Anisa dan Darwin, Pak Hady dan Bu Hady pun saling pandang dengan tersenyum. “Ehem… ayo kita teruskan makannya.” ucap Pak Hady. Anisa pun mengambilkan sepiring nasi dan sop buntutnya untuk Darwin setelah membereskan mie ayam rica super pedasnya itu.
Setelah selesai makan, Darwin dan Anisa mengobrol di halaman belakang sambil menatap bayangan bintang di kolam renang, tiba-tiba dengan manjanya Ibra, kucing kesayangan Anisa melompat pada pelukan Anisa. “Wah Ibra kayanya makin gemuk aja Nis, bulunya juga tambah lebat!” ucap Darwin.
“Iya nih, makannya banyak amat sih!” jawab Anisa sambil mengelus-elus Ibra.
“Ya yang pasti makanan Ibra yang bergizi, bukan mie rica siper pedas!” ucap Darwin dengan menyindir Anisa. “Nyindir nih?” Tanya Anisa.
“Ah enggak kok, cuma asal nebak aja!” jawab Darwin sambil mesem-mesem.
“Oya ngomong-ngomong soal kucing, kamu tahu masih inget nggak rasanya susu kucing?” Tanya Darwin samba tertawa.
“Masih dong! Rasanya asem-asem pait gimana gitu hahaha…” jawan Anisa sambil tertawa.
Pak Hady dan Bu Hady yang mengintip mereka dari jendela ruang keluarga saling tersenyum. “Kayanya mereka emang cocok Pah, selain itu mereka kan dari kecil udah berteman baik” ucap Bu Hady.
“Iya, keliatannya Anisa juga suka sama Darwin Mah.” sahut Pak Hady.
“Mamah juga seneng banget sama Darwin Pah, orangnya sopan, ramah dan kalem, dan nilai plusnya kita kan tahu latar belakang keluarganya kaya gimana, terus keliatannya Darwin orangnya baik” ujar Bu Hady
“Iya, aku melihat banyak yang berubah dari Darwin, dia jadi nampak sudah sangat dewasa, tidak urakan kaya dulu lagi, dan wajahnya serta sikapnya itu benar-benar mirip sama Almarhum Sunarya, teman baikku!” jawab Pak Hady.
__ADS_1