
Nicole mengangguk-ngangguk, dia benar-benar marah sekarang. “Oh… jadi kalian ngajak aku makan siang buat ngomongin ini?! Gue tuh nggak butuh bantuan kalian tahu! Udah gue duluan!” Nicole lalu berdiri dan dengan tergesa-gesa meninggalkan mereka!
Carla berusaha untuk menahan Nicole. “Nicole tunggu Nicole!” namun nampaknya Nicole benar-benar sudah marah! Dia terus berjalan meninggalkan mereka.
“Nicole!” ratap Carla dengan lemah, Anisa yang dari tadi belum tahu apa masalah yang sedang dialami Nicole, bertanya pada Carla. “Carl, sebenernya apa sih masalahnya Nicole? Kok kayanya dia sampai marah banget kaya gitu?”
Carla menjawab dengan lemas. “Nis, kamu tahu kan kalau semenjak kecil Nicole cuma dibesarkan sama Ibunya dan dia tidak mengenal ayahnya?”
Anisa mengangguk, kemudian Carla meneruskan ceritanya. “Gini ceritanya, sebulan yang lalu, tiba-tiba ada seorang pria yang mengaku sebagai ayahnya Nicole! Dia dateng kerumahnya Nicole, dia bilang dia merasa berdosa banget karena udah ninggalin Nicole waktu dia masih kecil, tapi Nicole dan Ibunya marah lalu mengusir pria itu!”
Carla lalu meneguk es juicenya sebelum meneruskan ceritanya. “Tapi ternyata pria itu ga meneyerah begitu aja, dia terus mendatangi rumah Nicole, hingga akhirnya Ibunya menerima permintaan maafnya walau dia menolak untuk rujuk dengan pria itu, tapi Nicole masih nggak mau memaafkannya, dia masih dendam sama Ayahnya itu dan sangat membencinya! Aku jadi kasihan melihat hubungan mereka karena aku melihat Ayahnya Nicole sangat tulus untuk meminta maaf pada Nicole walaupun Nicole nampak sangat membencinya!”
Anisa termanggu mendengar itu, sekilas dia jadi teringat pada Darwin yang sedang mengalami masalah yang hampir sama. “Ya aku bisa mengerti gimana sakitnya hati Nicole sama ayahnya itu, tapi kalau benar ayahnya meminta maaf dengan tulus pada Nicole dan sudah menyadari kesalahannya…” Anisa terdiam sejenak sebelum meneruskan ucapannya.
__ADS_1
“Bagaimanapun nggak ada yang lebih bahagia di dunia ini selain kita bisa jalan berdampingan dengan orang tua, saudara, teman, dan orang-orang yang kita sayangi!” lanjutnya.
“Maksudmu Nis?” Tanya Carla.
“Ya aku akan membantu memperbaiki hubungan antara ayahnya Nicole dengan Nicole!” jawab Anisa mantap.
Carla mengangkat alisnya. “Lalu apa rencanamu?”
“Pertama-tama kita kunjungi ayahnya Nicole dulu sekarang juga! Kamu tahu alamatnya kan?” sahut Anisa, Carla pun mengangguk, mereka segera keluar dari café itu dan menuju ke alamat ayahnya Nicole.
Setelah Anisa dan Carla selesai mengobrol dan meninggalkan café itu, tinggalah Darwin yang sedang merenung mendengar percakapan antara Anisa dengan Carla tadi. “Aku kok jadi merasa bersalah sama kamu Nis! Maaf ya aku udah berprasangka jelek sama kamu! Dan masalah Nicole dengan ayahnya itu… Ah sebaiknya aku ikuti Anisa, aku khawatir dia akan mendapat kesulitan!” dia pun keluar dari café itu. Di halaman café dia melihat Anisa dan Carla baru akan menaiki sebuah taksi, dia buru-buru menuju ke mobilnya dan mengikuti taksi yang dinaiki oleh Anisa.
Di restoran hotel itu, Anisa dan Carla berbincang dengan ayahnya Nicole. “Makasih Carl, kamu udah mau bantuin Om, oya ini temen baiknya Nicole ya? Kenalin saya Tomy ayahnya Nicole!” ucap pria paruh baya berambut kelabu yang wajahnya mirip dengan Nicole.
Anisa pun mengangguk sambil tersenyum ramah. “Maaf menyusahkanmu Carl, aku memang minta tolong pada Carla untuk membujukan Nicole agar dia mau menerima permintaan maafku…”
Pak Tomy terdiam sebentar, air matanya kemudian mulai mengucur. “Aku… Aku… Aku tidak minta apa-apa pada Nicole! Aku hanya ingin dia menerima permintaan maafku karena aku sudah meninggalkannya ketika ia masih kecil dulu!”
__ADS_1
Air mata Pak Tomy terus bercucuran, di pelupuk matanya seolah tergambar jelas peristiwa beberapa belas tahun yang silam itu. “Dulu aku menikahi Ibunya Nicole tanpa persetujuan kedua orang tuaku, karena ibunya Nicole hanya orang biasa-biasa saja bukan dari keluarga terpandang, tapi aku tidak peduli! Aku hanya mencintai wanita yang bernama Rosy itu hingga aku nekat menikahinya! Kehidupan kami sangat bahagia dan berkecukupan hingga kami dikaruniai seorang bayi perempuan yang kami beri nama Nicole!”
Anisa dan Carla terdiam menyimak cerita dari Pak Tony tersebut, mereka seakan bisa ikut merasakan kepedihan hati Pak Tomy, setelah mengelap air matanya Pak Tomy melanjutkan. “Dan petaka itu datang! Keluargaku memaksaku untuk meninggalkan anak istriku! Mereka megancam akan mengambil seluruh harta kekayaanku kalau aku menolaknya, maka dengan sangat terpaksa aku meninggalkan anak istriku yang sangat aku cintai itu dan menikahi seorang perempuan yang dipilih oleh keluargaku! Dan seiring waktu berjalan, aku semakin… Aku Semakin menyesal karena telah meninggalkan mereka! Aku menyesal karena telah bersikap pengecut!”
Anisa dan Carla saling pandang, mereka bisa ikut merasakan kesedihan di hati Pak Tomy itu, hingga Anisa mengepalkan tangannya. “Tenang saja Om! Kami akan membantu Om untuk meminta maaf pada Nicole!”
“Apa yang akan kamu lakukan Nis?” Tanya Carla.
“Carl, aku akan ke rumah Nicole sekarang juga, sementara kamu tunggu di lobby hotel ini, ntar aku akan menghubungimu kalau Nicole sudah mau menemui Om Tomy! Ntar kamu anterin om Tomy ke rumah Nicole” jawab Anisa. Carla berpikir sejenak, “Tapi apa kamu nggakapa-apa sedirian?” tanyanya.
“Enggak apa-apa kok! Percaya deh sama aku!” jawab Anisa, Akhirnya Carla mengangguk tanda setuju, Anisa pun mulai melangkah meninggalkan hotel itu, sebenranya dia sendiri tidak tahu apa yang akan ia lakukan pada Nicole, hanya bermodalkan semangat ia bertekad untuk membantu menyelesaikan masalah sahabatnya ini.
Darwin melihat Anisa keluar dari Hotel tersebut, tadinya dia bermaksud untuk mengantar Anisa pergi, namun selagi ia menyetater mobilnya Anisa sudah keburu naik taksi, maka Darwin buru-buru mengikuti taksi itu. Didalam taksi Anisa duduk dengan gelisah, dia terus memikirkan apa yang akan dia katakana pada Nicole. “Eh tapi apa yang akan kukatakan pada Nicole nanti?” gumamnya dalam hati.
Dia lalu teringat pada hidupnya sendiri yang tidak kurang suatu apa, dia mempunyai kedua orang tua yang sangat menyanyanginya, dia juga punya Linda, Kakaknya yang selalu menyayanginya, kini ia mendapati kehidupan sahabatnya Nicole yang berbeda dengan dirinya, ia jadi ikut merasa sedih, dan berkewajiban untuk membahagiakan sahabatnya itu. “Nicole… Nicole, sebagai seorang sahabat aku akan selalu membantumu apapun kesulitan yang kamu hadapi!” tekadnya dalam hati.
__ADS_1