Dance With Life

Dance With Life
Episode 25 - Teman Lama Atau CLBK? (1)


__ADS_3

Darwin diam tidak menjawab Hasan, dia lalu bergegas meninggalkan café itu tanpa berkata sepatah katapun! Anisa melongo melihat kepergian Darwin dengan tatapan kosong, ada perasaan tidak enak pada Darwin karena Darwin melihat dirinya sedang makan malam bersama Hasan setelah kejadian tadi siang, “Ckckck… Kayanya Darwin bener-bener marah sama kamu Nis, sampai dia ga mau nerima tawaranku.” ucap Hasan yang sengaja memanas-manasi Anisa.


Anisa terdiam mendengar ucapan Hasan tersebut, dia tahu kalau ucapan Hasan itu tidak tepat, Darwin marah bukan pada dirinya karena kejadian tadi siang, tapi karena cemburu melihatnya sedang bersama Hasan! Namun karena emosi Anisa pada saat itu sedang labil, ucapan Hasan tersebut ikut mempengaruhinya. “Huh! Biarlah si Darwin tahu kalo aku bisa jalan dengan cowok lain! Dan inilah akibatnya karena kamu udah nyakitin hati aku!” ucap Anisa dalam hati.


Sementara itu Darwin mengemudikan mobilnya dengan mengebut! Dia merasa sangat sakit hati atas sikap Anisa terhadap dirinya! Baru tadi siang mereka ribut besar, sekarang dengan mudahnya Anisa melupakan semua itu dan makan malam bersama Hasan! Hatinya benar-benar bagaikan tersayat sembilu yang tajam kemudian lukanya ditaburi garam! “Nis tega banget kamu!” lirihnya.


Darwin terus menginjak gas mobilnya, dia mulai mengira kalau cintanya bertepuk sebelah tangan, Anisa hanya menganggapnya sebagai sahabatnya tak lebih! Hingga setelah keributan besar tadi siang di antara mereka Anisa masih bisa bersenang-senang dengan Hasan! Hasan adalah teman satu SMA mereka, dulu ia pernah mendekati Anisa, Anisa juga sempat membalas ‘sinyal’ dari Hasan, namun sebelum sempat mereka jadian, Hasan mengatakan kalau keluarga mereka harus pindah ke Malaysia dan iapun akan kuliah di Malaysia hingga akhirnya mereka berpisah.


Dulu Darwin merasa sangat panas dengan hubungan antara Anisa dengan Hasan tersebut, namun rasa gengsinya menahannya untuk memperlihatkan perasaannya pada Anisa. Darwin tidak pernah tahu kalau sebenarnya Anisa mempunyai maksud tertentu pada Hasan!


Dan yang membuatnya heran, mengapa tiba-tiba Hasan bisa hadir kembali di tengah-tengah mereka, tapi mengenai kejadian di café barusan, Darwin bisa menebak kalau ini adalah akal-akalannya Samuel.


Ya memang ini semua adalah rencana Samuel yang kebetulan terlaksana setelah Anisa dan Darwin ribut besar tadi siang, dia menyuruh Hasan yang meminta pertolongannya untuk mendekatkan dirinya dengan Anisa, untuk mengajak Anisa makan malam di café dekat sekolah SMA mereka, kemudian dia menghubungi Darwin agar dia melihat keakraban Anisa dengan Hasan, Hasan menyetuji rencana itu karena dia tahu kalau Darwin adalah saingannya untuk mendapatkan hati Anisa!


Rencana itu sukses dan Anisa tidak tahu sedikitpun tentang rencanaya Samuel ini, Samuel puas karena merasa telah bisa membalaskan sakit hatinya pada Darwin!


Setelah pulang, Anisa rebahan diatas kasurnya, kejadian di café tadi terus membayanginya. Ada perasaan menyesal dan tidak karena Darwin melihatnya sedang makan bersama Hasan, wajah Darwin yang membisu dengan ekspresi bercampur aduk itu bagaikan terus terlihat di pelupuk matanya, tapi ia buru-buru menepis perasaan dan bayangan Darwin itu.


“Huh ngapain gue harus kasian sama si Darwin?! Gue harusnya seneng supaya si Darwin tahu kalo dia nggak bisa macem-macem ama gue!”


*****


Keesokan harinya di kampus, Darwin berpapasan dengan Anisa, Anisa nampak cuek dan hendak terus berlalu, namun Darwin segera menahannya “Tunggu Nis!”


Anisa segera meronta. “Apaan lagi sih Win?”


“Nis, please Nis! Kasih aku kesempatan buat bicara!” ucap Darwin.

__ADS_1


Namun Anisa tidak mempedulikannya, ia terus berlalu, Darwin terus mengejar Anisa “Anisa! Anisa!” panggilnya, namun ketika dilihatnya Anisa menghampiri Samuel, dia berhenti dan terdiam.


“Eh Sam, hari ini Hasan mau ke kampus kita nggak?” Tanya Anisa pada Samuel.


Sebelum menjawab, Samuel melirik sebentar pada Darwin dengan senyum culas, baru menjawab. “Iya Nis, katanya dia mau jemput kamu!” jawabnya. Mendengar itu, Darwinpun tertunduk lesu dan berlalu menuju ke kantin kampus.


Darwin duduk sendiri dengan lesu, tak lama kemudian datanglah Fina, Togar, dan Dony menghampirinya. “Hei kenapa pula kau ini? Lesu kali kau ini!” sapa Togar sambil menepuk punggungg Darwin dengan keras dan kasar.


“Eh ga apa-apa kok Gar…” jawab Darwin dengan lemas. Togar dan yang lainnya merasa heran, biasanya mendapati sapaan ‘kasar’ dari Togar, Darwin akan melawannya sehingga terjadilah keributan di antara mereka, namun kali ini Darwin tidak melawannya, dia hanya tertunduk lesu.


“Kamu kenapa Win? Lagi ada masalah ya dengan Anisa?” Tanya Fina.


Darwin menggelengkan kepalanya. “Enggak kok Fin!” jawabnya berbohong.


“Tapi ada apa dengan si Anisa sih? Tadi aku liat dia lagi ngumpul bareng Samuel dan kawan-kawannya! Terus aku ngajak dia buat ngumpul bareng disini, eh dia nolak! Apa dia nggak inget Samuel itu siapa?! apa dia mau ngemusuhin kita?!” ucap Fina dengan ketus.


“Tapi bener kan lu nggak apa-apa Bro? Lu nggak lagi sakit kan?” Tanya Dony, Darwin menggelengkan kealanya sambil tersenyum kecil, sementara Fina curiga kalau di antara Darwin dengan Anisa memang sedang ada masalah.


Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut! Mutia berlari-lari sambil dikejar oleh seorang gadis berabut panjang. “Hei Mutia! Tunggu lu! Bayar dulu utangmu!” teriak gadis yang mengejar Mutia tersebut.


Darwin yang mendengar suara teriakan itu merasa sangat mengenal suara itu, belum dia berhasil mengingat suara siapa itu, tiba-tiba Mutia mendekapnya! “Win tolongin gue Win! Gue dikejar-kejar sama Debt. Collector!” ucapnya sambil terengah-engah.


“Hah Debt. Collector?” Tanya Darwin.


Pada saat itu gadis yang mengejar Mutia tiba disitu “Mutia lu bayar hutang lu! Lu…”, ucapan gadis itu terputus ketika melihat Darwin di sana “Mimi!” seru Darwin, “Darwin!” seru gadis bertubuh mungil, dan berwajah imut seperti anak kecil, dengan rambut panjang lurus berwarna cokelat gelap bercampur biru dan ungu yang dikuncir dua. Dan kemudian untuk beberapa saat mereka saling beradu pandang tanpa mengucapkan satu patah katapun.


Sosok Mimi yang tiba-tiba hadir secara nyata didepan mata Darwin membuatnya teringat akan masa lalunya bersama gadis yang bertampang polos dan innocent tersebut, begitupun dengan Mimi, sosok Darwin yang selama ini selalu hadir dalam relung hatinya itu kini berada tepat dihadapannya! Dadanya serasa bergemuruh dahsyat!

__ADS_1


Jantungnya berdegup kencang ketika dia menatap mata pria berkacamata yang tajam namun selalu nampak teduh tersebut!


Setelah bisa menguasai dirinya kembali, Darwin pun menyapa Mimi. "Mimi! Kamu udah pulang?"


Mimi menjawab sambil menundukan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang memerah. "Eh iya Win, sekarang aku tinggal di Jakarta lagi."


"Sejak kapan? Kamu kok nggak ngasih tahu aku?" Tanya Darwin.


"Eh sebenranya aku udah pulang sejak 6 bulan yang lalu Win, sekarang aku kuliah di jurusan akutansi." jawab Mimi dengan suara pelan karena menahan deburan gejolak dihatinya.


Darwin mengangkat alisnya. "Jurusan Akutansi? Lho kampus kita kan sama, cuma gedung kuliahnya aja yang bersebrangan! Kamu kok nggak ngasih tahu aku kalo kamu kuliah satu kampus denganku?"


Mimi terdiam sejenak. "Aku emang sengaja nggak ngasih tahu kamu karena aku masih belum bisa lupain kamu Win! Aku takut akan terjatuh semakin dalam dan terus mengharapkanmu!" lirih Mimi dalam hatinya.


"Eh sebenernya Mutia udah tahu kok kalo aku udah di Jakarta lagi, malahan dia ngutang banyak banget Bolu Kukusku!" ujar gadis yang bergaya ala girlband Korea tersebut.


Darwin lalu melirik pada Mutia. "Oh itu alesannya kamu dikejar-kejar sama depkolektor? kenapa kamu nggak cerita kalo Mimi udah pulang Mut?"


Mutia hanya tertawa cengengesan sambil mengangguk perlahan. "Maaf Win, kukira kamu udah tahu."


Kemudian Darwin dan Mimi asyik mengobrol, Fina cs memperhatikan keakraban mereka. Mimi dan Darwin berteman sejak mereka SD, Mimi adalah teman satu SD Darwin, mereka berteman cukup akrab, meski pada waktu SMP mereka berbeda sekolah, tapi pada saat SMA mereka satu sekolah lagi, dan malah bisa dibilang Darwin lebih dekat pada Mimi disbandingkan dengan Fina, Mutia, Togar, dan Dony, karena mereka baru berteman pada saat SMA, keakraban Darwin dengan Mimi hampir seakrab dengan Anisa.


Mimi dan Darwin berpisah pada saat Mimi hendak kuliah di Australia, waktu itu Mimi sangat berat untuk meninggalkan Darwin karena benih-benih cintanya pada Darwin telah terlanjur tumbuh subur! Namun dia juga tidak dapat menolak ajakan orang tuanya yang harus pindah ke Australia untuk urusan bisnis, maka dengan berat hati dan berurai air mata, dia meninggalkan Darwin.


Kini setelah 3 tahun lebih dia kembali Indonesia, perasaan terhadap Darwin masih belum bisa ia hapuskan! Setiap kali melihat Darwin di situs jejaring social, membuatnya menjadi semakin rindu pada Darwin!


Maka dia memutuskan untuk tidak memberi tahukan kepulangannya pada Darwin dan mengubur semua perasaannya, tetapi kini secara tidak sengaja ia bertemu lagi dengan pria yang sangat ia idamkan itu!

__ADS_1


__ADS_2