Dance With Life

Dance With Life
Episode 21 - Sahabat Masa Kecil (5)


__ADS_3

Anisa terdiam sejenak, sekilas ia teringat pada masalah Darwin sendiri yang hampir serupa dengan masalah Nicole, kemudian dia tersenyum dan menatap Darwin dengan tajam dan penuh keseriusan “Jawabannya simple banget kok Win! Aku mau membantu Nicole karena ingin melihat ia tersenyum bahagia bersama orang-orang yang ia sayangi!” tegasnya dengan mantap.


Darwin tersenyum mendengar jawaban itu, ia kemudian mengangguk-ngangguk. “Ok, kalo gitu, aku akan nemenin kamu dalam membantu masalahnya Nicole ini!” Kemudian merekapun bermalam didalam mobilnya Darwin, meskipun dengan perasaan yang tidak menentu karena mereka tidur bersama dalam satu mobil dan khawatir akan ada patroli polisi. Anisa berjanji dalam hatinya akan membantu menyelesaikan masalah Nicole ini sampai tuntas!


Mentari pagi bersinar cerah pada pagi hari itu, cahayanya menyeruak masuk kedalam mobil Darwin melalui kacanya, Anisa membuka matanya dengan perlahan, dengan mata yang masih berat ia menggeliat, setelah ia sadar sepenuhnya, ia celingukan mencari Darwin. “Eh ke mana si Darwin?” tanyanya.


Tak lama kemudian Darwin datang dengan membawa dua mangkuk bubur ayam, Anisa lalu buru-buru membukakan pintu mobil Darwin. “Nih Nis buat kamu.” ucap Darwin sambil menyodorkan satu mangkuk buburnya.


“Makasih Win!” jawab Anisa.


“Gimana tidurmu semalam Nis? Nyenyak?” Tanya Darwin.


“Eh, kurang nyenyak sih, aku nggak biasa tidur didalam mobil, kakiku ama leherku agak pegel-pegel nih!” jawab Anisa sambil menyantap buburnya.


Darwin lalu mengeluarkan beberapa koyo dari sakunya. “Sama aku juga Nis, makanya tadi aku beli ini, coba deh pake biar nggak pegel-pegel lagi.”


“Makasih Win.” jawab Anisa, kemudian setelah selesai sarapan bubur ayam tersebut, Anisa dan Darwin sama-sama memasangkan koyo-koyo itu di kakinya, ketika hendak memasangkan koyo di pundaknya, Anisa merasa kesulitan, Darwin yang melihat itu segera mengambil koyo yang dipegang Anisa. “Sini Nis, biar aku bantu.”


Anisa mengangguk perlahan.


“Eh makasih Win”.


Kemudian Darwin secera perlahan menyibakan rambut panjang Anisa, dengan hati-hati dan lembut, ia memasangkan koyo tersebut, muka Anisa memerah ketika Darwin melakukan itu, perasaan bercampur aduk, senang iya, tapi deg-degan juga, apalagi ketika nafas Darwin mengenai tengkuknya, ia jadi menggeliat sedikit “Hei jangan gerak dulu Nis!” ucap Darwin ketika Anisa menggeliat, “Nah udah selesai” ucapnya ketika selesai memasangkan koyonya di pundak Anisa.

__ADS_1


Setelah itu mereka berdua saling terdiam, Anisa menundukan wajahnya yang memerah, Darwin juga terdiam ketika teringat kejadian yang baru saja dialaminya ketika ia sedang memasangkan koyonya pada Anisa, tapi momen itu tidak berlangsung lama, tak lama kemudian mereka melihat Nicole dan Ibunya keluar dari rumahnya untuk membersihkan halaman rumah mereka.


“Nis, itu mereka keluar!” ucap Darwin sambil menunjuk Nicole dan Ibunya.


Tanpa banyak bicara lagi Anisa segera keluar dri mobil Darwin dan berlari menghampiri mereka berdua. “Nicole!” serunya.


Nicole yang melihat kedatangan Anisa segera memasang muka juteknya. “Hmmpphhh… gue kira lo udah pulang?! Mau ngapain lagi lo?!”


“Nicole, please Nicole! Tolong lu ikut gue dan membicarakan semuanya sama ayah lu, bentar aja Nicole!” pinta Anisa.


“Gue bilang ogah ya ogah! Ngarti nggak sih LO!” bentak Nicole!


Pada saat itu HP Anisa berbunyi dan bergetar, ternyata itu telepon dari Carla “Hallo Carl ada apa?” Tanya Anisa.


“Nis gawat Nis! Om Tomy masuk rumah sakit! Kemaren malem jantungnya kumat dan sekarang dia udah ada di rumah sakit! Sekarang keadaannya lagi kritis!” jawab Carla dalam telepon dengan tergesa-gesa.


“Apa?!” pekik Bu Rosy, bukan main terkejutnya ia ketika mendengar kabar itu, “Baik, Tante sama Nicole akan segera ke rumah sakit sekarang!”


“Enggak Mah! Nicole nggak akan ke rumah sakit! Nicole nggak mau nengokin orang yang udah nelantarin Nicole selama ini!” ucap Nicole.


“Tapi Nicole…” sela Anisa.


“Enggak! Gue nggak akan nengok dia! Titik!” setelah mengatakan itu, Nicole langsung melangkah masuk kedalam rumahnya.

__ADS_1


Bu Rosy terdiam sejenak melihat tingkah laku Nicole, kemudian dia menoleh lagi pada Anisa. “Oke Nis, Tante akan segera ke rumah sakit!”


“Baik Tante, kebetulan itu teman saya bawa mobil.” jawab Anisa, Bu Rosy masuk sebentar kedalam rumahnya untuk berganti pakaian, tak lama kemudian dia keluar lagi, mereka segera masuk kedalam mobilnya Darwin dan langsung berangka ke rumah sakit!


Sesampainya di rumah sakit, sesuai dengan kabar yang diberikan Carla, mereka segera menuju ke ruangan tempat Pak Tomy dirawat, Bu Rosy tidak dapat menahan air matanya ketika melihat keadaan Pak Tomy, dengan lemah Pak Tomy bertanya.


“Nicole… dimana Nicole Ros?”


Anisa, Carla, dan Bu Rosy saling pandang, mereka tidak tahu harus menjawab apa, “Nicole… aku ingin bertemu Nicole!” ucap Pak Tomy lagi dengan lemah.


“Gimana keadaannya Carl?” Tanya Anisa.


“Kata Dokter, Om Tomy harus segera dioperasi By Pass, untuk melancarkan peredaran darahnya dari jantung! Tapi Om Tomy menolaknya, dia ingin melihat Nicole dulu sebelum dioperasi!” jawab Carla.


Darwin yang menyaksikan itu merasa terharu juga, dia jadi mengerti perjuangan Anisa yang ingin menyatukan kembali Nicole dengan Pak Tomy ayahnya, “Baik Nis! Aku akan bantu kamu!” gumamnya dalam hati, kemudian dengan diam-diam dia pergi meninggalkan mereka.


“Lho ke mana si Darwin?” Tanya Anisa beberapa saat kemudian ketika dia menyadari kalau Darwin sudah tidak ada lagi di ruangan itu, Carla mengangkat bahunya, “Enggak tahu Nis.”


Sembilan puluh menit kemudian, tiba-tiba Nicole masuk keruangan itu, dia tercengang melihat keadaan Pak Tomy. “Papah…” desahnya perlahan, Anisa, Bu Rosy, dan Carla kaget melihat kedatangan Nicole tersebut.


Pak Tomy menoleh dengan susah payah dan menatap Nicole dengan lemah. “Nicole…” ucapnya lemah,


“Papah!” seru Nicole seraya berlari dan langsung mendekap Ayahnya yang sedang terkulai lemah tersebut.

__ADS_1


Pada saat itu Darwin masuk juga ke ruangan itu, Anisa menatap Darwin. “Win, apa yang kamu lakukan pada Nicole?” Tanya Anisa.


Darwin hanya tersenyum-senyum saja. “Eh sebaiknya kita kasih tahu Dokter kalo ayahnya Nicole sudah siap dioperasi.” jawab Darwin yang tidak menjawab pertanyaan Anisa.


__ADS_2