Dance With Life

Dance With Life
Episode 31 - Teman Lama atau CLBK? (7)


__ADS_3

Pria paruh baya itu pun menoleh, Mimipun seperti mendapatkan harapan ketika melihat pria yang datang tersebut. “Darwin, tolong!” teriaknya, namun pria paruh baya itu seperti tidak mempedulikan kedatangan Darwin, dia berbalik lagi dan mencengkram Mimi serta berusaha untuk merobek baju Mimi!


“Kurang ajar!” teriak Darwin, dia langsung menarik orang itu dan Desshhhh!!!!


Pukulan Darwin mendarat telak di muka orang itu, orang itu pun terjungkal! Darwin langsung mencengkram kerah orang itu dan hendak meninjunya lagi dengan sangat bernafsu, namun tangannya keburu dipegang ole Mimi. “Win jangan Win!”


Sontak keributan itu mengundang Anisa, Hasan, Fina, dan yang lainnya untuk menuju ke ruangan kantor café tersebut, meerka tercengang ketika melihat Darwin sedang dicegah oleh Mimi yang hendak memukul seorang pria paruh baya tersebut, “Win udah cukup Win!” cegah Mimi pada Darwin yang nafasnya memburu karena sangat bernafsu pada pria itu.


“Lepaskan! Lepaskan!” teriak pria itu sambil meronta, “Udah Win, lepasin aja!” ucap Mimi dengan lembut untuk menenangkan Darwin, akhirnya Darwinpun melepaskan pria itu.


“Brengsek! Berani-beraninya kau memukulku!” bentak pria itu sambil bangkit berdiri.


“Kau yang duluan berbuat kurang ajar BRENGSEK!” bentak Darwin! Semua yang ada disitu terkejut mendengar bentakan Darwin tersebut, terutama Anisa, selama dia berteman dengan Darwin, belum pernah ia melihat Darwin semarah ini!


Pria itu lalu menunjuk Darwin. “Hei bocah ingusan! Kau tahu siapa aku?! Aku Jelal pemilik PT. Jaya Utama! Kalian dan café ini akan aku tuntut!”


Darwin mendengus “Silahkan! Aku tunggu!”


Mimi pun ikut menimpali “Dan aku akan bersaksi atas perbuatan anda yang mencoba untuk memperkosaku!” Pria itu lalu mengangguk-ngangguk “Baik! Kalau begitu tunggulah!” kemudian ia melangkah pergi dari tempat itu.


Untuk beberapa saat, keadaan menjadi hening, hanya suara nafas Darwin yang masih memburu karena menahan luapan emosinya yang terdengar, setelah dirinya agak tenang, Mimi menepuk pundak Darwin. “Win…” ucapnya dengan lemah, namun Darwin seperti tidak mendengarnya, dia langsung melangkah keluar menuju kehalaman belakang.


Melihat itu Anisa terheran-heran. “Win ada apa sebenarnya?” tanyanya dalam hati.


Di halaman belakang, Darwin menghela nafas panjang, dia berusaha menenangkan dirinya. “Ah, kenapa aku tidak bisa menahan diri? Pasti tadi masih ada cara lain untuk menolong Mimi, sekarang urusannya pasti bakalan panjang!” desahnya dalam hati.

__ADS_1


Kemudian pikirannya kembali tertuju pada Anisa. “Ah Anisa, kenapa tadi aku bisa mengatakan hal bodoh itu pada Anisa?! Nis, maafin aku, aku…” dia lalu menghela nafas panjang lagi.


“Oh Ya Allah! Aku tahu kalau aku sedang sekarat! Aku tidak berhak untuk mencintaimu demi kebahagianmu! Tapi… Tapi Aku tak bisa berhenti mencintai Anisa!” teriaknya dalam hati, kini ia tahu kalau penyebab emosinya yang tak terkendali tadi adalah akibat akumulasi perasaan dan pikirannya pada Anisa yang bercampur aduk.


Saat ia sedang berdiri termenung seorang diri seperti itu, datanglah Mimi mendekatinya “Win, makasih ya udah nolongin aku.”


Lagi-lagi Darwin menghela nafas panjang. “Huff…. Akhirnya aku melakukan itu, Mi, aku jminta maaf ya, karena kelakuanku yang tadi yang tidak bisa mengontrol emosi bisa berbuntut panjang pada kita semua…”


Gadis berkacamata berwajah imut seperti anak-anak ini terdiam, dia tidak langsung menjawab Darwin, hanya matanya menatap tajam pada mata pria yang sangat ia kagumi itu yang sudah berkali-kali menolongnya, dada Mimi bergemuruh dahsyat, dan enath sadar atau tidak, ia langsung memeluk Darwin.


“Win, makasih ya! Udah nggak keitung berapa kali kamu menolongku! Kamu bagaikan seorang Superhero buatku!”


Merasa tersanjung dengan sikap dan perkataan gadis berambut cokelat gelap serta biru dan ungu yang dikuncir dua tersebut, Darwinpun memeluk Mimi, tanpa mereka sadari, Anisa mengintip mereka berdua.


Untuk beberapa saat Mimi dan Darwin terdiam sambil berpelukan, hingga akhirnya Darwin membuka suara. “Sudahlah Mi, kita kan sahabat baik! Aku pasti akan selalu berada disisimu dsaat kamu membutuhkanku!”


Gadis mungil berlesung pipi ini tersentak mendengar ucapan Darwin tersebut. “Apa sahabat?” tanyanya, “Iya kita kan bersahabat Mi, malah aku udah nganggap kamu seperti adikku sendiri!” jawab Darwin.


Kepala Mimi langsung terasa pusing, hatinya merasa kecewa dengan jawaban Darwin tersebut, ia pun melepaskan pelukannya. “Sekali lagi, makasih ya Win!” ucapnya, kemudian ia pun berlalu dari tempat itu, butiran air matanya mulai menetes!


“Sahabat? Sahabat katanya? Malah sudah dianggap Adik sendiri?! Win aku tuh cinta sama kamu! Tapi kamu cuma nganggep aku sahabatmu!” lirihnya dalam hati.


Beberapa saat kemudian, cafépun ttutp, dan mereka pulang ke rumahnya masing-masing, Hasan yang mengatar Anisa kembali merasa heran ketika melihat Anisa menangis. “Lho kamu kenapa Nis?”


Anisa menggelengkan kepalanya sambil mengusap air matanya. “Enggak apa-apa kok San!” jawabnya.

__ADS_1


Tapi jawaban Anisa tersebut tidak dapat menghilangkan pertanyaan-pertanyaan di benak Hasan, dia merasa curiga setelah melihat tingkah-laku Anisa malam ini, dan hatinya semakin merasa penasaran untuk mencari tahu apa yang sebenanya telah terjadi!


Hari demi hari terus berjalan, hubungan antara Anisa dengan Darwin semakin renggang. Anisa yang merasa sakit hati karena melihat Darwin yang sedang berpelukan dengan Mimi tempo hari, semakin mendekatkan dirinya dengan Hasan, hubungan mereka semakin akrab saja sampai terlihat seperti sepasang kekasih padahal mereka belum jadian, dia tidak tahu kalau itu hanyalah kesalah pahaman saja.


Kedekatan mereka sengaja ia perlihatkan pada Darwin, sehingga Darwin semakin merasa panas dan sakit hati, dia hanya bisa mengelus dadanya dan berusaha untuk bersabar karena dia berpikir Anisa yang tidak mengetahui alasannya untuk mundur, akan lebih baik untuk jalan bersama Hasan saja.


Keadaan di café Mimi itu pun menjadi sedikit tidak enak karena Fina cs merasa kurang suka pada sikap Anisa tersebut, “Gue rasa kelakuan si Anisa sama si Hasan udah keterlaluan deh! Harusnya mereka kalo emang mau pacaran jangan pas lagi kerja gini!” ujar Fina.


“Tapi apa kalian nggak aneh sama sikapnya Anisa yang sekarang? Biasanya kan dia deketnya ama Darwin, mpe nempel terus kaya perangko, tapi kok sekarang mereka kaya yang lagi musuhan gitu ya? Gue jadi mikir, apa jangan-jangan kedekatan Anisa sama Hasan itu cuma buat manas-manasin Darwin?” sahut Nicole.


“Iya gue juga curiganya ya gitu, secara kan Anisa sama Darwin udah deket banget!” ucap Carla yang setuju dengan sepupunya Nicole.


“Tapi kasian Darwinnya kalo itu cuma akal-akalannya Anisa!” ucap Yumi.


Mutia yang dari tadi diam ikut bicara. “Tapi apa mungkin Anisa jadi gitu gara-gara dia cemburu sama Mimi? Darwin kan deket juga sama Mimi!”


Fina mengangguk.


“Ya boleh jadi ya gitu! Tapi setahu gue, di antara Darwin sama Mimi nggak ada apa-apanya kok, mereka cuma temenan!”


“Tapi masa sih cuma temenan Fin? Soalnya Darwin yang biasanya kalem itu keliatannya marah banget pas ada orang yang macem-macem sama Mimi! Sampe dia mukulin orang itu!” Tanya Cynthia.


“Enggak Cyn, soalnya gue tahu banget hubungan Darwin sama Mimi, walaupun mereka deket, tapi Darwin nganggep Mimi tuh sahabatnya, malah katanya Mimi udah dia anggap kaya adiknya sendiri!” jawab Fina.


Demikianlah keadaan di café Mimi tersebut, suasannya menjadi kurang mengenakan, karena ketidak harmonisan hubungan Darwin dengan Anisa, Mimi sendiri masih merasa kecewa karena Darwin hanya menganggapnya sebagai sahabatnya, bukan kekasihnya. Keadaan inilah yang membuat Darwin semakin tertekan, untunglah ada Togar dan Dony, kedua kawannya yang periang itu, hingga hatinya merasa sedikit terhibur.

__ADS_1


__ADS_2