Dance With Life

Dance With Life
Episode 36 Mimpi Buruk! (1)


__ADS_3

Bu Leny tetap diam dan tidak membalikan mukanya pada Darwin, Darwin semakin tertunduk lesu. “Mah, maafin Darwin yang udah buat Mamah kecewa, tapi tolong Mamah harus makan sama minum! Ini Darwin bawain Bubur Kacang Hijau buatan Mbok Darmi! Kata Mbok Darmi Mamah belum makan sama minum apa-apa sejak pulang tadi!”


“Mamah lagi nggak selera makan! Mamah juga lagi nggak mau liat muka kamu! Udah bawa keluar buburnya dan tinggalin Mamah sendiri!” jawab Bu Leny yang akhirnya menjawab, walau dengan ketus.


“Mah, Darwin bener-bener minta maaf! Ok Darwin mau keluar, tapi Mamah harus makan dulu Buburnya! Kalo Mamah cape, Darwin suapin ya!” jawab Darwin.


Akhirnya Bu Leny membalikan badannya dengan kesal. “Dasar anak Bengal! Kenapa sih dari tadi kamu ngelawan terus?! Kan Mamah udah bilang kalo Mamah lagi nggak selera makan! Ayo sana keluar!” bentaknya.


“Mah Darwin bener-bener minta maaf Mah! Ok kalo gitu, Darwin akan berhenti jadi Koki dan akan segera bekerja paruh waktu di kantor kita! Tapi Mamah harus makan ini! Kalo Mamah males makannya, sini Darwin suapin!” ujar Darwin sambil mengambil sesendok bubur itu dan menyodorkannya pada mulut Bu Leny.


Mendengar itu akhirnya Bu Leny luluh juga, dia mulai membuka mulutnya dan menyantap Bubur Kacang Hijau yang disodorkan oleh Darwin tersebut. “Mamah sih kelamaan, jadi aja buburnya dingin!” ucap Darwin.


Bu Leny terdiam, dia hanya terus menyantap Bubu Kacang Hijau yang disuapi Darwin tersebut sampai habis, setelah habis, Darwin lalu menyodorkan segelas air putih kepadanya. “Ini Mah, minumnya” Bu Leny pun lalu meneguk air itu sampai habis.


Setelah meminum air putih tersebut sampai habis, Bu Leny terus menatap Darwin yang selalu tersenyum itu, ya dia merasa tersentuh juga oleh ketulusan senyum anaknya yang menyuapinya makan tadi, hingga akhirnya dia berkata.


“Baiklah Win, saat ini kamu boleh melakukan apa saja yang kamu mau, tapi beberapa bulan lagi setelah kamu lulus kuliah nanti, kamu harus siap untuk mulai bekerja di perusahaan kita!”


Darwin yang mendengar itu merasa sangat senang, ia pun langsung memeluk Ibunya “Makasih ya Mah!” ucapnya pada Ibunya, Ibunya pun balas memeluknya.


“Suamiku, apa kau melihatnya? Anak kita bener-bener mirip kamu! Selalu aja bisa merayuku untuk memaafkan kesalahannya!” gumamnya dalam hati yang teringat kepada almarhum suaminya.


*****


Keesokan siang harinya, jam 11.30 tepat di café dekat sekolah SMA nya, Anisa sudah duduk di sana, ia sengaja datang lebih awal untuk mempersiapkan dirinya. “Oke! Gue udah putuskan mau nerima Darwin hari ini juga tanpa macem-macem lagi!” gumanya dalam hati.


Ia lalu melihat kesekeliling ia merasa heran karena café itu nampak sangat sepi, hanya ia sendiri yang berada di sana. “Heran! Kok cuma aku sendiri yang ada disini? Jangan-jangan ini idenya Darwin? Kayanya Darwin mau bikin kejutan buat aku! Uh So Sweet!” gumanya lagi dalam hati dengan girang.


Tak lama kemudian, Darwin pun datang, Anisa langsung melambai-lambaika tangannya sambil tersenyum, Darwin balas tersenyum pada Anisa lalu berjalan menghampirinya, tapi baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba ada empat orang yang berjubah putih dan berpakaian putih-putih, orang-orang itu segera menangkap Darwin dan membawanya pergi! Anisa yang kaget melihat kejadian itu, langsung berlari mengejar Darwin dan berteriak keras, “Darwinnnn!!!!!!”


“Hahhh!!!!” Anisa berteriak tertahan ketika dia terbangun, dia lalu melihat kesekelilingnya. “Astagfirullah! Mimpi buruk!” gumamnya sambil mengusap mukanya.

__ADS_1


Kemudian dia melihat ke jam weker yang berada disebelahnya, jam baru menunjukan pukul 4 shubuh tepat, tiba-tiba hatinya merasa sangat tidak enak, ia seperti mendapatkan firasat yang buruk pada Darwin. “Ya Allah, apa arti mimpiku barusan? Apa yang akan terjadi pada diri Darwin, semoga itu hanya mimpi dan Darwin baik-baik saja!” ucapnya dalam hati di antara kegundahan hatinya.


***


Pagi harinya, sekitar jam 9 pagi, Darwin yang sudah meminta izin untuk tidak masuk bekerja hari ini pada Mimi, menemui Dosen pembimbing skripsinya di rumah sang Dosen, untuk bimbingan skrispsinya. Pak Henry Dosen Pembimbing Darwin memberikan skrispsi Adrwin yang telah ia periksa.


“Jawaban untuk identifikasi pertama sudah tepat, tinggal membetulkan pengetikan yang salah salah saja, kamu sudah boleh melanjutkan untuk menjawab Identifikasi masalah yang kedua!”


Darwin mengangguk. “Terima kasih Pak!” ia lalu melihat-lihat bunga-bunga di taman halaman rumah Pak Henry, ada satu bunga yang sangat menarik hatinya.


“Lho Pak ini bunga mawar ya? Tapi warnanya putih, sungguh cantik!”


“Yak betul Win, itu bunga mawar, aku melakukan beberapa penelitian dan itulah hasilnya, bunga mawar putih yang kuberi nama BIANCA yang artinya putih!” jawab Pak Henry.


Darwin terpesona melihat bunga mawar putih itu, apalagi wanginya yang sangat semerbak. “Hmm… Gimana kalau aku ngasih ini ke Anisa ya?” gumamnya dalam hati, “Kamu suka bunga itu Win? Kalau suka silakan petik beberapa tangkai!” tawar Pak Henry.


Darwin pun mengangguk senang. “Terima kasih Pak!” ucapnya, kemudian Pak Henry memetikan beberapa tangkai bunga itu.


Gadis penggemar style denim tersebut sudah dandan minimalis tapi nampak cantik sekali, Anisa tidak takut untuk menyembunyikan kulitnya yang gelap dengan balutan make up serta bedak, ia hanya mengenakan make up secukupnya, rambutnya yang hitam panjang lurus, dilengkapi dengan sepatu kets berwarna putih, seulas senyum yang manis terlukis pada bibirnya yang tipis dan ranum.


Sementara itu di perjalanan menuju ke café dekat sekolah SMA nya, Darwin semakin merasa pusing, telinganya berdengung hebat, semakin lama semakin hebat pusing di kepalanya tersebut. “Ya Tuhan! Kepalaku!” ratapnya.


Beberapa saat kemudian, ia merasa semakin pusing, lalu dengan terpaksa ia menepikan mobilnya sampai masuk ke trotoar jalan, dan membuka uendela mobilnya. “Astaga! Kepalaku! Tapi aku harus cepat menemui Anisa, kalau aku tidak menemuinya, dia akan…” dan kepala Darwin terkulai lemas, ia kehilangan kesadarannya! Orang-orang yang sedang berjalan disekitarnya segera mengahampiri Darwin dan memanggilkan ambulans!


Jam sudah menunjukan pukul 2 siang lebih 15 menit, Anisa masih menunggu di café itu, dia sudah kesal karena orang yang ia tunggu tidak datang-datang juga! “Sialan si Darwin! Dia itu kenapa sih?! Di sms, LINE, sama telepon ga diangkat-angkat! Apa dia mau ingkar janji?!” makinya dalam hati.


Hingga lima menit kemudian Anisa berdiri dan melangkah meninggalkan café itu. “Darwin ****! Dia udah menyia-nyiakan kesempatan yang gue kasih! Ya udah! Gue nggak mau tahu lagi tentang dia!” gerutu Anisa dalam hatinya.


Setelah ia keluar dan dalam perjalanan pulang dengan taksinya, tiba-tiba teleponnya berbunyi dan bergetar! Dia langsung mengangkatnya. “Halo Mut, ada apa?” tanyanya pada Mutia yang menelponnya.


“Gawat Nis! Darwin masuk rumah sakit!” jawab Mutia dengan panik.

__ADS_1


Bagaikan disambar petir disiang bolong, Anisa sangat kaget medengarnya “Ok Mut, gue segera kesana!” jawabnya.


“Jadi Darwin nggak dateng gara-gara dia sakit, sekarang dia masuk rumah sakit! Ya Tuhan! Win maafin akuya karena udah ngira yg macem-macem sama kamu!” ucap Anisa dalam hati, sepanjang perjalanan dia terus merasa khawatir pada Darwin.


Di rumah sakit, Darwin perlahan membuka matanya, setelah sadar sepenuhnya, dia lalu melihat kesekelilingnya. “Dimana aku?” tanyanya.


“Alhamdullilah! Akhirnya kamu sadar juga Win! Kamu sekarang sedang di rumah sakit!” jawab Dokter Yudi.


Darwin kaget mendengarnya! “Apa? Jam berapa sekarang?! Celaka! Aku ada janji jam 12 siang ini!”


“Sekarang jam 3 sore Win!” jawab Dokter Yudi.


“Apa jam 3??? Seharusnya aku menepati janjiku untuk menemuinya jam 12 tadi!” ucap Darwin dengan penuh sesal.


Dokter Yudi lalu mendekati Darwin. “Sudahlah Win, sebaiknya kamu istirahat dulu, kemarin kamu dibawa kemari oleh orang-orang yang menemukanmu pingsan di pinggir jalan!”


Darwin tercengang mendengarnya “Apa? Kemarin? Jadi aku…”


Dokter Yudi menepuk bahu Darwin. “Ya, kamu pingsan kurang-lebih selama 27 jam!” Darwin kaget dan terdiam mengetahui bahwa dirinya tak sadarkan diri selama 27 jam itu.


“Oya teman-teman kamu juga sedang menunggumu diluar, apa kamu ingin bertemu dengan mereka sekarang?” tanya Dokter Yudi.


“Apa? Mereka ada disini sekarang? Lalu apakah mereka tahu apa yang terjadi denganku? Apa Dokter memberi tahu mereka yang sebenarnya?” tanya Darwin dengan gelisah.


Dokter Yudi tersenyum. “Tenang saja Win, aku paham betul maksudmu, aku memberi tahu pada mereka kalau kamu ini sakit Anemia dan kecapean, begitu juga pada Ibumu!”


Darwin mengangguk. “Oh begitu, lalu apakah Ibuku lama menungguiku?”


Dokter Yudi mengangguk sambil tersenyum. “Ya Win, Ibumu tadi malam menginap disini, tapi tadi pagi ia berangkat bekerja, oya temanmu juga yang bernama Anisa tadi malam menginap disini dan menungguimu semalaman! Tadi pagi ia pulang dulu, tapi sekarang sudah disini lagi!”


Darwin tersenyum senang mendengarnya. “Ternyata Mamah masih sayang padaku, dan kamu Anisa, makasih juga udah mau menungguiku semalaman, maaf aku tak bisa memenuhi janjiku kemarin!” ucapnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2