Dance With Life

Dance With Life
Episode 34 - Ambil Keputusan! (2)


__ADS_3

Mimi mengangguk “Ya aku paham dengan maksud Darwin, itulah sebabnya dia selalu siap membantu dan menolong orang lain tanpa memikirkan dirinya sendiri, tapi siapa yang akan menolong dan membantumu kalau kamu lagi dalam kesusahan Win?” gumam Mimi dalam hati.


Mimi lalu mengepalkan tangannya “Ok, kamu udah banyak menolongku dari dulu Win, sekarang saatnya aku yang nolongin kamu!” ucap Mimi dalam hati, dia lalu berdiri dan meninggalkan dapur.


Di halaman belakang, Anisa terdiam sambil menundukan kepalanya, dia merasa sangat sulit untuk mengutarakan maksud hatinya pada Hasan, “Ayo katakan saja Nis, jangan ragu!” ucap Hasan.


Sebenarnya Hasan sendiripun merasa tegang dan tidak enak dengan keadaan ini, karena sebenarnya diapun sudah tahu apa yang hendak diutarakan oleh Anisa, “Nis, maksud kamu mengajakku kemari untuk membicarakan soal Darwin bukan?”


Anisa merasa kaget karena ternyata Hasan sudah mengetahui maksudnya. “Eh iya San…” jawabnya pelan.


“Kalau begitu katakanlah apa yang hendak kamu katakan Anisa Pramudyawardhani! Aku sudah siap mendengar semuanya!” ucap Hasan.


Anisa terdiam sejenak, lalu menghela nafas panjang. “San, sebenernya, sebenenya aku… Eh sebaiknya kita sudahi hubungan kita yang seperti ini, aku minta maaf padamu San karena telah melakukan semua ini! Aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri kalau sebenernya aku hanya mencintai Darwin seorang!”


Hasan sebenarnya sudah bisa menebak bahwa Anisa akan mengatakan hal itu, selama ini dirinya hanya menjadi pelampiasan kekesalan Anisa kepada Darwin, namun ia memutuskan menunggu Anisa yang mengutarakannya sendiri, akan tetapi, walaupun ia sudah mengetahui hal ini, hatinya tetap merasa sangat sakit!


“Tapi kenapa Nis?! Kenapa?! Aku sudah berusaha untuk memberikan yang terbaik untukmu! Aku selalu memenuhi keinginanmu, sampai menjadi pelayan di café ini! Nis aku tuh cinta kamu! Sejak SMA aku nggak bisa ngelupain kamu!”


Anisa dapat merasakan kekecawaan dan sakitnya hati Hasan, ia juga menyadari kesalahannya pada Hasan, namun ia sudah membuat keputusan bulat karena di hatinya hanya ada Darwin seorang.


“San, maafin aku ya, jujur waktu SMA aku memang sempet tertarik sama kamu, tapi hanya tertarik San, karena dihatiku cuma ada Darwin, aku udah suka sama Darwin sejak kecil! Sekali lagi, maafin aku ya San!”


Hasan menundukan kepalanya karena merasa sangat kecewa! “Ok Nis, kalo gitu, aku duluan ya, tolong bilangin sama Mimi aku mau duluan!” ucap Hasan dengan lemah.


“San! Tunggu San!” cegah Anisa, namun Hasan terus berlalu, Anisa lalu duduk sendirian di bangku di halaman belakang itu, dia jadi merasa serba salah dan tidak enak, dia menyesali semua kesalahnnya, andaikata dia tidak memilih cara ini karena toh di antara Darwin dengan Mimi juga tidak ada apa-apa.


Disaat ia sedang termenung seperti itu, tiba-tiba Mimi datang menyapanya. “Hai Nis, kamu kenapa kok melamun sendiri? Hasannya ke mana?”


“Oh, nggak apa-apa kok Mi! Oya Hasan pulang duluan, dia titip pesen sama kamu, katanya dia lagi kurang enak badan.” jawab Anisa.


Mimi mengangguk, “Oh gitu, ya udah nggak apa-apa! Oya aku pengen ngobrol sama kamu Nis!”


Anisa mengangkat alisnya, “Ngobrol apa Mi?” Mimi terdiam sejenak, dia berusaha menekan gejolak perasaan yang menyesakan dadanya “Tentang Darwin Nis!”


Anisa terdiam dan jantungnya berdegup kencang ketika mendengar apa yang akan diobrolkan oleh Mimi tersebut, Mimi lalu mengela nafas panjang.


“Nis, terus terang aku tuh suka banget sama Darwin, aku sayang sama Darwin! Tapi sayang… Darwin cuma nganggep aku sebagai sahabatnya!”


Anisa menatap wajah Mimi yang tampak dengan ekspresi yang bercampur aduk, dia menelan ludahnya. “Nis, aku mau minta tolong sama kamu, tolong baikan sama Darwin Nis! Kasian Darwin! Dia kayanya terpukul banget sama kejadian tadi sore, dia butuh kamu Nis!”


“Lho kenapa dia butuh aku Mi? Kan kamu bisa nemenin dia, dan masih ada Fina dan yang lainnya yang biasa nemenin dia” Tanya Anisa.

__ADS_1


“Kamu nggak ngerti Nis!” sergah Mimi, Anisa agak kaget dengan sergahan Mimi tersebut.


“Walaupun kita semua nemenin dia, tapi yang dia harepin itu kamu Nis! Aku tahu dari cerita Fina sama Mutia kalo semenjak kalian ribut dan kamu terus bareng sama Hasan, sikap Darwin berubah! Dia yang asalnya periang dan selalu semangat jadi nampak selalu lesu! Nis, Darwin butuh kamu Nis!”


Anisa tersentak hatinya oleh ucapan Mimi itu, lalu dilihatnya Mimi menundukan kepalanya. “Nis, terus terang ini berat buatku! Selama 3 tahun lebih aku tinggal di Australia, aku nggak bisa ngelupain Darwin! Tapi aku juga pingin lihat Darwin tersenyum bahagia, makanya dengan senang hati aku mau nitipin Darwin ke kamu Nis, karena cuma kamu yang bisa buat Darwin bahagia!”


Anisa terdiam sejenak, hatinya merasa lega dan senang mendengar itu, namun ia juga ikut merasa prihatin pada Mimi, maka ia segera memeluk Mimi. “Mimi makasih ya! Aku… Aku…” Anisa tidak dapat menahan rasa terharunya, air matanya perlahan mulai menetes


Mimipun menitikan air matanya dan membalas pelukan Anisa.


“Ah sudahlah Nis! Aku udah banyak berhutang budi sama Darwin, cuma dengan cara ini aku bisa membayarnya! Sekarang, cepet samperin Darwinnya Nis, dia membutuhkan kehadiranmu segera!”


Anisa mengangguk. “Ok Mi!” setelah itu Anisa pun melangkah meninggalkan Mimi menuju ke dapur, Mimi hanya menatap Anisa yang melangkah meninggalkannya. “Selamat ya Nis! Aku titip Darwin ke kamu! Tolong jangan sakitin dia lagi ya Nis! Dan semoga kalian bisa berbahagia selalu!” gumamnya dalam hati.


Anisa sampai di dapur, namun ia tidak melihat batang hidung Darwin di sana, “Lho ke mana Darwinnya Fin?” Tanya Anisa pada Fina yang sedang mencuci piring.


“Tadi kami suruh Darwin buat pulang duluan, kasian dia, keliatannya tertekan gara-gara Ibunya tadi! Tapi ngapain kamu nanyain Darwin Nis? Bukannya lu barengnya sama Hasan?” jawab Fina sambil menyindir Anisa.


Anisa merasa tidak enak dengan sindiran Fina tersebut, kemudian dia menceritakan semuanya pada Fina, “Oh jadi gitu, jadi kamu cuma pake Hasan buat manas-manasin Darwin?”


Anisa pun mengangguk. “Iya Fin!”


“Lalu masalah lukisanmu itu, apa kamu udah maafin Darwin?”


“Kalo gitu, aku mau Tanya sesuatu sama kamu Nis, kamu menganggap Darwin itu siapanya kamu?” Tanya Fina lagi.


Anisa tampak kebingungan untuk menjawab pertanyaan Fina tersebut. “Eh, aku juga bingung Fin!”


Fina lalu menuliskan sesuatu di kertas, “Kalo gitu, coba deh kamu baca ini Nis!” Anisa pun lalu membaca kertas itu, tulisan dalam kertas itu adalah :


10 CARA MENGETAHUI APAKAH KAMU JATUH CINTA PADA SESEORANG



kamu berbicara dengan dia sampai larut malam dan masih terus memikirkan dia ketika kamu akan pergi tidur


kamu jalan sangat perlahan ketika kamu bersamanya


kamu selalu merasa tidak nyaman ketika dia jauh


kamu tersenyum ketika mendengar suaranya

__ADS_1


dia adalah segalanya dari apa yang kamu fikirkan


kamu tersenyum setiap kamu melihatnya


ada seseorang dalam fikiranmu ketika kamu membaca ini


kamu terlalu sibuk memikirkan orang tersebut sampai sampai kamu tidak menyadari kalo nomer 6 itu tidak ada


setelah kamu cek kalo memang benar tidak ada, kamu tertawa perlahan sendiri.



“Hah! Aku baru sadar kalo nomor 6 nya gak ada!” ucap Anisa.


Fina tertawa. “Hahaha… berarti kamu emang suka sama Darwin! Dan semua point disini emang terjadi ama kamu kan?”


Anisa mengangguk perlahan “Eh iya Fin!” Fina menepuk pundak Anisa.


“Nah kalo gitu, tunggu apa lagi Nis?! Udah jadian aja!”


Anisa tersipu malu, “Ya Fin, terus terang, dia udah 2 kali menyatakan perasaannya sama aku, tapi selalu dibarengi ulahnya yang bikin aku sakit hati!”


“Tapi kamu masih suka sama Darwinnya kan? Kalo kamu masih suka, kasih dia kesempatan lagi buat menyatakan perasaannya ke kamu Nis!” ujar Fina.


“Ok, keep fighting Nis!” ucap Fina sambil mengepalkan tangannya.


Anisa pun mengacunkan jempolnya “Sip!”


Anisa lalu keluar dari pintu belakang café, tiba-tiba ada seseorang yang berkata.


“Ya, aku denger semuanya Nis! Sejujurnya kamu nganggep aku ini siapamu?”


Anisa kaget bukan main mendengar itu, dia lalu menoleh, ternyata di sudut yang gelap disebelah pintu berdiri seseorang yang sangat ia kenal! “Oh jadi kamu nguping Win?! Ih dasar orang usil!” ucap Anisa dengan nada sebal.


Orang itu memang Darwin adanya, dia lalu melangkah mendekati Anisa. “Nis, maukan kamu memaafkan aku? Aku pingin kita seperti dulu lagi, eh bukan aku ingin…” Darwin nampak ragu untuk meneruskan ucapannya.


“Pingin apa?” Tanya Anisa.


“Sebelum kamu mengatakan apa keinginanmu, gimana soal lukisanku?” Tanya Anisa yang masih tahan harga dengan senyum sinis.


“Maafkan aku kalau aku benar-benar membuatmu tersinggung, tapi… Kan sudah kubilang, kalo aku nggak bisa ngembaliin lukisan-lukisanmu karena aku sudah terlanjur suka sama lukisan-lukisanmu itu!” jawab Darwin dengan mantap.

__ADS_1


“Ok aku maafin soal itu, Sekarang sekarang udah malem jadi cepetan katakan apa yang ingin kamu katakana kepadaku!” Tanya Anisa sambil memonyongkan bibirnya yang tipis dan ranum.


Darwin tersenyum sambil menatap wajah Anisa. “Satu bulan yang lalu, aku… Ketika aku mengatakan aku suka padamu, aku sangat terkesan memaksakan kehendakku agar kamu mau menerimaku, tapi… Tapi itu Karena… Karena aku mebutuhkanmu Nis! Sejak kecil kamu selalu ada untukku dalam suka maupun duka! Aku merasa aman dan nyaman saat berada didekatmu, aku merasa kesepian kalau kamu jauh dariku! Dan… aku tak biasa tanpa kamu disisiku!”


__ADS_2