DARAH KELULUSAN

DARAH KELULUSAN
Prolog...


__ADS_3

Namanya Lintang Aurelina Putri, seorang gadis SMA yang biasa saja, terlalu biasa malah. Mulai dari prestasinya disekolah, wajahnya yang terlalu standar, dan kehadirannya yang ada namun seperti tak dianggap. Kecuali ketika ia berada di ruangan putih dan bersih itu, ruangan dimana anak-anak berkacamata tebal dan sebutan “kutu buku” yang selalu melekat. Ruangan yang disediakan sekolah bagi para jurnalis yang selalu membuat topik hot di mading sekolah. mulai dari hubungan gelap murid dan guru, atau guru dengan guru lainnya, maupun misteri hilangnya pena yang selalu bisa membuat heboh seisi kelas. kelompok jurnalis mereka disebut dengan julukan “SURGICAL GLASSES”. Julukan yang telah ada sejak tahun dibentuknya kelompok penulis itu untuk pertama kali. Bukan kubu atau kelompok yang berpengaruh ataupun disegani di sekolah. Bukan pula geng yang sering memalak ataupun menindas yang lemah. Mereka hanya pencari fakta, sekelompok pelajar yang haus akan berita dan kata yang bisa membuat otak bekerja lebih keras. Semakin sulit dan susah berita itu didapatkan atau semakin sulit dan susah sebuah misteri itu dipecahkan sekelompok pelajar itu malah semakin tertantang dan berpacu adrenalinnya untuk mengungkap misteri yang telah lama disembunyikan. Dan dalam 36 hari yang diberikan pihak sekolah, mereka akan membantu para detektif mengungkap sebuah misteri yang sekolah mereka telah lama sembunyikan. Sebuah kisah kelam, akan nyawa yang selalu melayang ketika sekolah itu memberikan pengumuman kelulusan bagi para murid kelas tiga. Pencarian dan pembuktian fakta itu telah dimulai dari sekarang...


AWAL DARI SEGALANYA...


Sebuah sekolah dengan arsitektur bangunan yang mewah dan berkelas telah rampung diselesaikan. Sekolah yang awalnya hanya satu tingkat kini menjadi tiga tingkat berkat para bantuan dan donasi para orang tua murid untuk pembangunan infrastruktur yang lebih memadai. Para tukang mulai membereskan peralatan yang mereka telah bawa. Kemudian kembali ke rumah masing-masing dan tinggal menunggu upah besar yang akan mereka terima selanjutnya. Sedang di ruangan lain seorang pria paruh baya dengan kacamata yang menggantung di pangkal hidungnya, sibuk membolak-balikkan sebuah map kuning yang ia terima dari seorang laki-laki yang mewakili para pekerja itu untuk menagih upah yang akan diberikan. Dengan senyum penuh arti pria paruh baya itu menutup map kuning yang berisikan nominal uang yang harus ia berikan sebelum melangkah ke depan lemari besar. Tangannya sigap mengambil sebuah amplop tebal yang telah ia siapkan sebelumnya dan akhirnya memberikan amplop itu kepada pria di hadapannya.

__ADS_1


“Terimakasih pak, senang bekerjasama dengan anda. Terimakasih juga telah mempercayakan kami untuk menyelesaikan pembangunan sekolah ini” ucap pria itu dengan senyum tipis di bibirnya.


Pria paruh baya itu hanya mengangguk dan mengucapkan kata sama-sama yang pelan. Setelah berjabat tangan kontrak yang telah disepakati selesai.


.....

__ADS_1


“SEMUA MURID KELAS 12 DINYATAKAN... LULUS!”


Riuh tepuk tangan dan tangis bercampur menjadi satu, walau ada juga murid yang ekspresinya sudah bisa menebak bahwa angkatannya akan lulus 100%. Mana mungkin ada sekolah yang ingin citranya tercemar karena satu atau dua murid yang tidak dinyatakan lulus. Bisa-bisa tak akan ada lagi yang mau mendaftar di sekolah ini karena ada hal semacam itu yang terjadi.


“BESOK AKAN DIADAKAN ACARA PERPISAHAN UNTUK KELAS 12. YANG AKAN DISELENGGARAKAN DI GEDUNG BARU”

__ADS_1


Heboh. Para murid langsung berteriak dan menjerit. Bukan karena senang akan pemgumuman kepala sekolah yang baru saja beliau sampaikan tapi kenyataan bahwa, sebagian kecil dari para murid itu mengalami kesurupan massal. Murid lainnya yang masih sadar dan tidak terbawa menjauh. Bahkan berlari sejauh mungkin karena melihat pemandangan tak biasa itu. Para murid laki-laki yang masih sadar beserta dengan guru yang pada saat itu hanya berjumlah kurang dari dua puluh orang berusaha mengupayakan segala cara, untuk mengembalikan murid yang kesurupan itu kembali dari alam bawah sadar mereka. Setelah 30 menit berlangsung dengan teriakan dan jeritan memilukan yang terdengar, murid-murid kesurupan yang jumlahnya lebih dari 7 orang itu akhirnya sadar. Dengan keadaan kacau dan rambut yang acak-acakan serta seragam yang kusut. Murid-murid itu kembali menjadi diri mereka sendiri. helaaan napas lega terdengar dari guru-guru dan murid yang membantu. Rasa syukur tak henti-hentinya dipanjatkan kepada sang maha kuasa. Setelah kejadian itu akhirnya para murid dan guru pulang. Tenaga mereka terkuras habis setelah kejadian tak terduga. Hanya pria paruh baya itu yang masih tersisa beserta dengan guru olahraga baru yang ia telah terima bekerja. Mereka berdua sedang berjalan menuju gedung baru untuk menjadikan satu ruangannya sebagai tempat untuk peralatan olahraga di sana. Bau marmer baru tercium di sepanjang jalan mereka berdua berjalan. Ruangan olahraga tinggal satu belokan lagi dan sebelum pintu benar-benar terbuka satu penampakan yang dilihat kedua pria itu membuat degub jantung mereka kembali berpacu tak terkendali disertai dengan helaan napas yang tercekat di tenggorokan.


__ADS_2