
Aku menghela napas berkali-kali. Begitupun dengan lira yang tampak tak fokus menerima mata pelajaran matematika di hadapannya. Ia gelisah sama dengan apa yang kurasakan sekarang. Bagaimana tidak, malam ini rencananya kami akan menggeledah salah satu ruangan yang ada di sekolah. Aku sibuk mencoret-coret kertas, sampai pelajaran usai.
“Jadi kita harus gimana bintang?”
Suara lira terdengar putus asa. Nasibnya pun tak lebih sama denganku.
“Aku nggak tau lira, ide kak kevin kayaknya nggak usah diturutin. Taruhannya 75 banding 100 dan angka keselamatan hidup kita cuma 25 persen”
“Tapi dion, fika, sama kak naisyah setuju. Kita harus gimana? 4 lawan 2. Yah pastinya kita bakal kalah”
“Mending kita bicarakan dulu sekali lagi sama mereka. Semoga aja mereka bisa sedikit berpikir rasional akan keselamatan kita semua”
Aku berusaha menenangkan lira, tapi malah ragaku sendiri yang tak bisa tenang sekarang.
....
“Jadi keputusan terakhir gimana pilih satu atau dua?”
Suara kak kevin menggema di ruangan putih ukuran 3x3 meter yang kami tempati sekarang. Entah bagaimana ia bisa membujuk kepala sekolah kami yang bicara bahkan tersenyum pun jarang.
“Aku setuju sama ide kakak yang pertama”
Aku menatap kak naisyah yang tampak santai berbicara, sambil mengeluarkan pendapatnya. Mungkin dia sudah gila. Ide dari kak kevin sebenarnya tak ada yang rasional menurutku. Bayangkan saja, kita harus menggeledah ruang kepala sekolah bukannya itu sama saja seperti kita menyengsarakan diri sendiri. apalagi idenya yang kedua mana mau kami tepatnya aku secara pribadi mau menjadi tumbal untuk makhluk yang entah seperti apa bentuknya di dalam ruangan itu.
“Aku nggak setuju sama ide kakak”
“Kenapa?”
Lira menghirup oksigen di sekitarnya, sebelum akhirnya lanjut berbicara dengan kak kevin yang tengah serius menatap ke arahnya.
__ADS_1
“Ide kakak sebenarnya ngga terlalu rasional menurutku. Sebenarnya di ruang kepala sekolah kita bisa dapat informasi apa? Setahuku sekolah ini sebelumnya walaupun angker tapi belum ada desas-desus tentang kematian. Sampai gedung baru kelas-kelas akhirnya dibangun bertingkat. Dan ide tentang kita harus ke ruang bekas tempat bunuh diri kak renata. Memang kita akan dapat informasi apa disana. Selain tumpukan buku-buku, kardus, dan koran-koran bekas yang menggunung. Aku sih bukannya meragukan ide kakak tapi kemungkinan kita dapat informasi itu kecil, malah mungkin sangat sedikit. Atau bahkan tak dapat informasi sama sekali”
Kami semua kompak mengangguk secara berjamaah setelah lira mengungkapkan pendapatnya. Kecuali kak kevin yang dari raut wajahnya tetap teguh mempertahankan argumennya lebih tepatnya idenya yang gila itu.
“Terus mau kalian apa?”
Kami semua saling berpandangan. Sejujurnya aku tak punya ide. Tapi kalau menuruti ide yang kemungkinan kami di-skorsing atau malah di depak dari sekolah itu mungkin ide tergila yang kami harus lakukan.
“Sebenarnya tujuan kalian berdua bentuk kelompok dengan label jurnalis ini buat apa?”
Kak kevin menatap kami berdua, raut wajahnya tak pernah sekalipun bersahabat bahkan tak ada sunggingan kecil pada bibirnya saat kami bertemu dan berkumpul pertama kali.
“Karena kasus kematian kak renata”
Lira, menjawab dengan enggan. Aku tau itu ia mengenal kak renata dengan baik. Tetangga sekaligus sahabat baiknya semasa kecil hingga mereka tumbuh di lingkungan dan keluarga yang saling mengasihi satu sama lain.
“Tapi bukannya alasan utama orang depresi karena keinginannya sendiri yang terlalu tinggi. Bisa saja karena tekanan dari dalam dirinya sendiri yang buat ia bunuh diri”
“Tapi kak renata buka orang yang seperti itu kak. Aku kenal baik dengan dia”
“Dan karena alasan kamu kenal baik dengan dia, kamu juga bisa merasakan apa yang dia rasakan. Tidak kan?”
Aku menatap kek kevin dan lira secara bergantian. Mungkin kedepannya kelompok yang kami bentuk tak akan berjalan sesuai rencana jika di awal saja, kami saling berperang satu sama lain.
“Sudah. Intinya kita cuma perlu ide yang cukup rasional untuk tau informasi tentang jeritan dan tangisan yang beberapa dari kita pernah dengar”
Aku berusaha menengahi emosi dari lira, bibirnya tertutup kembali ketika dengan sengaja aku menyela ia untuk berbicara.
“Aku punya ide sih tapi, ini tetap ada hubungannya sama ide kak kevin”
__ADS_1
Setelah beberapa saat ruangan diselimuti dengan keheningan, suara fika akhirnya terdengar setelah sekian lama ia tak berbicara. Semua ekspresi dan raut wajah seolah menyimbolkan kata apa ke fika secara tak langsung.
“Aku punya kenalan. Namanya kak kinan. Dia bisa lihat sesuatu yang tak kasat mata. Karena biasanya jeritan dan tangisan itu muncul di ruangan itu. maka dari itu kita harus ke tempatnya langsung”
Aku menatap fika lama, sebelum akhirnya memalingkan muka. Aku tak tau itu ide yang bagus atau tidak. Hanya saja mungkin itu akan agak sedikit berbahaya. Bukan bagi kita tapi bagi seseorang yang fika sebut tadi kinan.
“Saya setuju. Dan kali ini saya harap tak ada penolakan dari kalian semua”
Kak kevin mentap kami satu persatu, entah apa yang sedang ia pikirkan sekarang. Sayangnya aku tak bisa membaca pikirannya.
“Iya, cuma itu yang bisa kita lakuin buat dapat informasi tentang kasus kematian, jeritan dan tangisan yang ada di ruangan itu”
Aku tak tau harus mengatakan apa, di satu sisi jika kami tak melakukan apapun maka resikonya kami tak akan mendapat satu pun petunjuk atau informasi apapun. Tapi di sisi lain, aku sendiri tak ingin kalau sampai seseorang yang fika sebut tadi namanya kinan sampai dalam bahaya.
“Aku setuju. Semakin cepat kita bergerak, maka semakin cepat juga kita bakal tau apa yang kita cari”
Sepertinya keputusan mereka sudah bulat. Lira menyentuh pundakku pelan. Membuatku mau tak mau berbalik ke arahnya. Ia tersenyum dam mengangguk mengisyaratkan setujui saja ide kali ini. Walau tanpa persetujuanku juga ide kali ini pasti akan kami laksanakan.
“Jadi satu atau dua?”
Kami saling berpandangan, ruangan putih dan bersih itu menjadi saksi kesepakatan kami ber-enam.
“DUA”
Kak kevin menyunggingkan senyum sekilas. Ia mungkin bangga akan idenya yang diterima. Walau ia tak tau pada akhirnya kesepakatan yang kami buat membahayakan nyawa seseorang di luar sana.
.....
Sore itu, di bawah mega mendung dan terselimutinya langit dengan awan yang berwarna ke abu-abuan. Misi pertama kami, akan dilaksanakan. Malam ini tepat jam sembilan malam. Kami akan berpetualang di dimensi lain dari kehidupan yang bersisian dengan alam nyata yang kami pijak.
__ADS_1