DARAH KELULUSAN

DARAH KELULUSAN
Kisah Aneh Penjaga Sekolah


__ADS_3

“Bapak mengalami kejadian aneh sejak pembangunan gedung baru itu”


Pak dito menunjuk gedung baru yang terlihat jelas dari sini.


“Kejadian aneh itu mulai dari suara jeritan keras yang terdengar di malam dan sore hari. Suara tangisan yang terdengar pada tengah malam. Dan angin kencang yang akan terjadi pada malam jum’at”


Jeritan, teriakan, dan tangisan itu beberapa dari kelompok “surgical glasses” mengalami hal yang sama seperti pak dito.


“Tetapi dari sekian banyak hal aneh yang terjadi, yang seperti bapak ceritakan tadi. Ada satu hal lagi yang lebih dari itu semua”


“APA pak?”


Lira meninggikan intonasi suaranya tepat di dekat telingaku dan memeluk lenganku ketakutan. Aku hanya bisa mengusap pelan kupingku. Rasanya agak panas.


“Bapak pernah dikejar sosok makhluk astral dari gedung baru itu”


Aku mendongak menatap pak dito. Bukan tak percaya hanya saja, apa mungkin makhluk itu ingin menampakkan dirinya.


“Tapi pak...”


Pak dito memotong perkataanku dengan mengangkat telapak tangannya tepat di depan wajahku.


“Dengarkan dulu nak. Selama bapak dikejar makhluk itu, bapak merasa itu semua bukan mimpi rasanya nyata. Ketakutan, keringat yang bercucuran di pelipis dan napas yang tersengal-sengal yang terdengar sendiri di telinga bapak. Semua itu terasa nyata untuk disebut sebuah mimpi. Tapi..”


Pak dito menjeda kalimatnya dan minum terlebih dahulu.


“Setelah bapak berlari dari ujung koridor ke koridor lainnya. Seluruh tenaga yang bapak punya seperti terkuras habis dan setelah berlari sekian lama, akhirnya bapak terjatuh tepat di depan ruang gudang. Dan tiba-tiba saja ketika sadar bapak sudah berada di tempat tinggal bapak, di rumah di kasur yang selalu bapak gunakan untuk tidur. Semua itu terasa nyata untuk disebut sebagai mimpi nak”


Pak dito menghela napas sambil menunduk menatap marmer putih yang kini kami pijak.


“Setelah itu apa yang bapak lakukan. Apa ada kejadian aneh lagi yang bapak alami?”


Kak naisyah bertanya dengan suara pelan yang hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh pak dito.


“Setelah saya mengalami kejadian aneh itu, dan mimpi yang sama selama beberapa bulan terakhir, akhirnya saya memberanikan diri mengikuti ajaran yang nenek saya ajarkan dulu. Yaitu memberi sesajen kepada arwah yang telah meninggal yang sosoknya masih bergentayangan di dunia”


Kami ber-empat kopak saling menolehkan kepala, dan berpandangan satu sama lain.


“Jadi bapak memberikan sesajen kepada arwah yang bapak maksud tadi itu?”


Aku menatap pak dito, sedangkan beliau hanya mengangguk. Kecurigaan kami akhirnya dijawab dengan sendirinya dari mulut sang tersangka.


.....


“Jadi kita hentikan saja misi kita ini”


Aku mengusulkan pendapat yang hanya ditatap dengan heran oleh anggota kelompok “surgical glasses” yang lain.


“Kenapa kamu begitu yakin kalau apa yang diceritakan pak dito itu nyata, bisa saja itu bualan beliau. Setelah mengetahui bahwa salah satu dari kita telah melihat apa yang dia lakukan pada saat itu”

__ADS_1


Aku tersenyum kepada kak kevin, orang ini sekali menjatuhkan kecurigaan kepada orang lain dia akan tetap tegas mempertahankan argumennya.


“Tapi kak, biar bagaimanapun kami telah menyelesaikan apa yang kakak minta”


Aku berusaha menenangkan intonasi suaraku.


“Tapi sebaiknya kakak tidak perlu melakukan rencana kakak dengan dion malam ini. Toh dengan adanya percakapan singkat kami dengan penjaga sekolah tadi sudah membuktikan bahwa memang beliau, hanya memberikan sesajen kepada arwah yang gentayangan di gedung itu karena dia takut”


“Benar kak daripada kita melakukan hal yang jelas-jelas sudah ada buktinya”


Kak kevin hanya mengangguk tanda menyetujui perkataan dion barusan.


“Jadi tersangka pertama kita, failed?”


Aku mengangguk dan kemudian disusul oleh anggota yang lain tentunya kak kevin hanya tetap diam.


“Biar bagaimana pun saya akan tetap mengawasi gerak-gerik penjaga sekolah”


Kami semua hanya mengangguk menyetujui rencana kak kevin pribadi.


....


Aku merebahkan diri ke kasur empuk nan nyaman. Pulang ke sekolah dengan keadaan rumah yang sepi dan hening tanpa ada ayah di rumah yang membanting barang-barang di rumah terasa sangat melegakan.


Apa kabarnya indah disana, di surga sana. Aku menatap langit-langit kamar, sambil membatin tentang sahabat masa kecilku. Indah dwi cantika. Perasaan bersalah itu langsung menelusup di dalam rongga dadaku. Aku memejamkan mata berusaha mencari ketenangan di dalam sana, hingga sebuah suara ketukan di pintu membuatku refleks membuka mataku.


Ibu duduk di kursi ruang tamu dan menaruh


keranjang tempat kue-kuenya di dekat meja.


“Adikmu kemana?”


Aku menatap ibu, bukannya tadi lintang meminta ijin kepadaku untuk ke tempat ibu. Dan ia sudah pergi dari jam 2 tadi.


“Tadi lintang minta ijin sama bintang ibu, untuk menyusul ibu di pasar. Memangnya ibu tidak ketemu lintang?”


“Tidak, ibu dari tadi di tempat jualan dan tidak ada lintang di tempat ibu”


Aku menautkan alis, kemana lintang pergi. Ia anak yang kurang suka bergaul dengan teman-temannya. Dan lagi, tak seorang teman pun yang lintang pernah ajak untuk bermain ke rumah atau ceritakan kepadaku.


“Coba kamu cari di luar nak, siapa tau lintang lagi main di sekitar sini”


Aku mengangguk dan kemudian berjalan ke luar rumah. Kakiku melangkah ke tempat lintang sering bermain. Tapi nihil ia tak berada di situ. Aku ke belakang rumah berharap lintang sedang memetik bunga melati disana, tapi lagi-lagi aku tak menemukan keberadaannya. Kemana adikku. Kemana lintang. Aku menghembuskan napas pelan, kakiku pegal berjalan kesana-kemari. Lintang tak pernah main jauh dari rumah. Dan ia pun jarang keluar rumah untuk bermain. Aku mendongak langit sudah ditutupi awan kelabu, menandakan sebentar lagi akan hujan. Dan aku masih belum menemukan lintang. Sebaiknya aku kembali rumah, siapa tau lintang sudah ada di sana. Aku berlari pelan, melewati tanaman yang tingginya sudah mencapa pinggangku.


“Ibu lintang sudah pulang?”


Aku mendapati ibu yang masih menunduk lesu sambil memegang kepalanya.


“Belum bintang, sebenarnya adikmu kemana?”

__ADS_1


Aku menggeleng, sambil menatap iba kepada ibu.


“Sabar bu, kita tunggu lintang sampai jam 5. Kalau nanti lintang belum pulang, bintang akan meminta bantuan ke teman-teman bintang. Siapa tau mereka bisa membantu mencari taU keberadaan lintang”


Ibu mengangguk, dan berjalan dengan lesu ke kamar. Aku menyenderkan tubuhku ke kursi berusaha berpikir dan menerka kemana perginya adikku. Beberapa menit berlalu, jam di atas meja makan terus saja berputar. Dan sampai sekarang lintang belum menunjukkan keberadaannya.


“KAK BINTANG... IBU”


Sauara teriakan dari luar membuatku refleks terbangun sedang ibu langsung berlari ke arah luar. Disana beberapa meter di hadapan kami lintang tersenyum tanpa ada beban kepada kedua orang yang mengkhawatirkannya (yaitu aku dan ibu).


“Kamu dari mana?”


Ibu memegang bahu lintang dengan erat.


“Dari bermain ibu”


Lintang menjawab dengan polos pertanyaan ibu. Dan langsung masuk kedalam rumah.


“Apa yang kamu lakukan lintang?”


Lintang mentapa ibu dengan tatapan bahagia beserta dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya yang mungil.


“Aku mau menonton dengan temanku ibu”


Ibu memandang ke arahku, yang hanya kubalas dengan eskpresi wajah tak tau akan apa yang lintang katakan barusan.


“Teman? Siapa? Tidak ada orang lagi selain kita bertiga disini lintang. Jangan mengada-ada”


Ibu memegang bahu lintang dengan keras, membuat lintang meringis kesakitan.


“Ibu jangan seperti itu”


Aku memegang bahu ibu dan berusaha untuk mengajaknya duduk di hadapan lintang.


“Apa maksud dari perkataanmu tadi lintang?”


Aku menatap lintang, yang hanya dibalas dengan senyum.


“Aku punya teman kak, namanya sila. Dia tinggal di rumah besar dekat rumah bu sulastri”


Aku menatap ibu, sedangkan ibu hanya menggengam jemariku.


“Tapi disana tida ada satu orang pun, rumahnya sudah lama ditinggal oleh pemiliknya”


Ibu menatap lintang dengan penuh harap, mungkin berharap apa yang lintang katakan tadi hanya sebuah omong kosong belaka.


“Tidak bu, rumah itu tidak kosong. Sila tinggal disana. Dan karena sila ingin ikut ke rumah jadi aku mengajaknya. Dan kami akan menonton film kartun, sila suka film kartun sama dengan lintang. Iyakan sila?”


Lintang berbalik ke arah kanan, sambil tersenyum. Genggaman di jemariku semakin kuat dan aku hanya berharap ayah tak pulang dalam waktu dekat.

__ADS_1


__ADS_2