DARAH KELULUSAN

DARAH KELULUSAN
Hari Keberangkatan


__ADS_3

Aku dan lira sudah mengemas pakaian ke dalam tas besar yang akan kami bawa. Setelah keputusan bahwa tim “SURGICAL GLASSES” semuanya akan menginap dan berlibur disana kami semua akhirnya menyiapkan untuk membawa perlengkapan yang dibutuhkan untuk menginap selama lima hari di rumah bu anih.


“Pasti bu anih akan kaget melihat kedatangan kita nanti bi”


Au mengangguk, hanya saja lira belum memberitahu kepada orang yang ia sebut tadi bahwa kami akan bermalam di rumahnya. Mengetahui kami akan datang saja beliau tidak mengetahuinya. Kalau misalnya orangnya telah pindah, atau orangnya sudah tak tinggal lagi di rumahnya bagaimana. Aku menggelengkan kepalaku dan berusaha untuk tidak memikirkan hal tersebut. Tapi tetap saja hal itu membuatku kepalaku sedikit pening.


“Tapi kan kita belum Pernah sekalipun memberitahu hal ini kepada bu anih lira, kalau sampai keluraganya ternyata sudah tak disana bagaimana?”


Lira tersenyum.


“Tenang saja. Aku yakin beliau masih ada disana. Lagipula aku tak pernah mendengar bu anih menceritakan sanak keluarganya yang di luar kota, mungkin saja memang hanya disana tempat tinggalnya”


Lira mencoba menenangkanku dan aku hanya mengangguk kepadanya.


Suara klakson mobil menyadarkan kami berdua. Lira buru-buru melangkah ke arah pintu dan membukanya dengan satu kali tarikan.


“Sepertinya kamu sangat bersemangat sekali lira”


kak kevin tertawa pelan, melihat lira yang ada di hadapannya begitu juga dengan teman-teman yang lain.


“Iya, sampai-sampai ia tidak membiarkanku tidur demi membicarakan hal apa saja yang akan kita semua lakukan disana”


Tawa menggema di ruang tamu lira.


“Aku juga sudah tidak sabar ingin berlibur di tempat yang berbeda. Selama ini aku hanya satu kali diajak berlibur oleh keluarga”


Fika menimpali yang hanya dibalas dengan tatapan kasihan dari yang lain. Kita senasib fika. Aku membantin dan tersenyum dalam diam.


“Kalian sudah mau berangkat?”


Suara dari arah belakang membuat kami semua berbalik dan mendapati ayah lira yang tengah tersenyum menatap kami semua.


“Iya om”


Kami semua serempak menjawab kecuali lira yang hanya mengangguk menjawab pertanyaan ayahnya.


“Yasudah kalian hati-hati, saling mengingatkan dan menjaga satu sama lain. Jangan sampai ada yang celaka”


Kami semua mengangguk dan mulai berpamitan kepada ayah dan ibu lira.

__ADS_1


“Kalau begitu kami semua berangkat dulu yah, bu”


Lira memeluk ayah dan ibunya lalu menyusul kami yang sudah ada di mobil. Mobil kak kevin melaju dengan sempurna setelah mengecek barang dan perlengkapan yang telah rampung.


...


“Aku tidak menyangka kalau penyelidikan kita akan berlanjut”


Kak naisyah mengintrupsi keheningan diantara kami.


“Iya kak, aku kira setelah acara kelulusan kak kevin kita semua hanya akan duduk di rumah berdiam diri sambil menunggu waktu sekolah tiba lagi. Tapi ternyata, membayangkannya saja sudah membuatku ingin terbang. Apalgi kalau kita sudah sampai ke tempat tujuan”


Fika menutup matanya lama dan tersenyum, membayangkan kegiatan apa saja yang akan kami lakukan disana.


“Jangan cuma memikirkan liburan saja, kita kan kesana mau menyelidik kasus juga”


Suara dion yang melontarkan kalimat itu langsung diambut dengan huruf vokal U dari fika dan lira.


“Kamu membuat imajinasiku tentang liburan jadi tidak asik”


Fika memukul bahu dion yang ada di kursi depan bersebelahan dengan kak kevin. Sedang kami yang lain hanya bisa tertawa melihat tingkah kedua orang ini.


“Tenang kak nanti lira tunjukkann jalannya. Seterusnya masih lurus saja kak nanti kalau ada simpang dua baru kita belok ke kanan”


Lira memajukan sedikit tubuhnya dan berbicara dengan kak kevin.


“Saya salut sama kamu, sudah lama tidak kesini tapi masih ingat jalan untuk kerumah orang yang pernah bekerja di rumahmu”


“Iyalah kak, kan memoriku dilengakpi dengan 100 GB RAM. Jadi, semua data-datanya lengkap. Apalagi daerahnya tidak terlalu jauh”


Kami semua tertawa atas guyonan lira. Beberapa menit mobil melewati jalanan yang belum diaspal, kami akhirnya sampai ke sebuah daerah pemukiman dengan tulisan kamboja 12 di papan penunjuk jalannya.


“Ikuti saja arah papannya kak”


Kak kevin mengangguk dan kembali melajukan mobilnya setelah mengambil waktu istirahat selama beberapa menit tadi.


“Punggungku rasanya mau encok”


Dion merenggangkan badanya dan terdengar bunyi kretek di depan sana. Padahal kami baru beberapa menit, belum juga sampai satu jam tapi sudah memasuki daerah kamboja. Aku langsung mengingat sri weningsih, gadis pintar dan cantik yang masa depannya harus terenggut paksa karena ia telah mati.

__ADS_1


“Aku membawa beberapa cemilan, aku akan mengambilnya”


Lira langsung berbalik ke belakang, dan meraih tas yang berisi makanan ringan. Lira membagikannya kepada kami satu persatu kecuali kak kevin yang menolak karena ia sedang fokus menyetir.


“Pemandangannya bagus ra”


Aku berujar pelan kepada lira dan ia hanya mengangguk dengan mulut yang penuh keripik.


“pelan-pelan saja, tidak akan ada yang mengambil bagianmu”


Aku berujar dengan pelan sambil menepuk punggung lira yang terbatuk-batuk hebat karena aksinya tadi.


“Tunggu”


Kak kevin menghentikan mobilnya setelah berujar demikian.


“Apa yang terjadi kak?”


Lira memperbaiki posisi duduknya dan memiringkan kepalanya untuk melihat kak kevin.


“Apa kita tidak salah arah? Kenapa rumah warga semakin tidak ada”


Lira tertawa mendengar pertanyaan dari kak kevin.


“Tidak kak. Memang di daerah sini. Rumahnya tidak dibangun di sepanjang jalan. Terus saja nanti juga rumah warga akan banyak sekali di depan. Mungkin sedikit lagi”


Kak kevin hanya mengangguk, dan kami yang lainnya kecuali lira hanya bisa resah. Semoga saja kita tidak kesasar. Perjalanan kami selanjutnya hanya diisi oleh keheningan tak ada kata lagi yang terlontar. Kami sibuk menikmati pemandangan sawah dan kebun teh yang berjejer di daerah ini. walaupun tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami, tapi daerah disini layaknya pedesaan. Hangat dan sejuk. Pemukiman warga sudah terlihat dari sini, para pekerja di kebun teh terlihat menggedong bakulnya di belakang punggung. Ada yang masih setengah dan ada juga yang sudah penuh. Para pekerja di sawah pun terlihat sibuk memantau perkembangan padi-padinya yang sudah mulai tumbuh. Ada juga anak kecil yang terlihat menggembalakan sapi-sapi di padang rumput di atas bukit. Sapi-sapi itu menurut dan mengikuti arahan si anak kecil. Pemandangan ini sangat damai dan membuat pikiranku sedikit lebih jernih.


“Aku sangat suka sekali dengan suasana di daerah ini. kita seperti memasuki area pedesaan padahal letaknya tidak terlalu jauh dengan tempat tinggal kita”


Yang lain hanya mengangguk menanggapi kalimat yang keluar dari mulut kak naisyah.


“Sebentar lagi kita akan sampai”


Kami semua kecuali kak kevin menatap lira dengan antusias.


“Kakak tinggal belok kanan lagi ketika ada simpang dua di depan nantinya”


Kak kevin mengangguk dan kami semua hanya bisa menampilkan senyum yang merekah. Liburan yang menyenangkan kami datang.

__ADS_1


...


__ADS_2