DARAH KELULUSAN

DARAH KELULUSAN
Malam Yang Mencekam


__ADS_3

Kami sekarang berada di rumah lira. Orang yang bernama kinan juga telah datang bersama dengan afika. Kami mulai berkenalan dan berbincang sedikit dengannya, tentang ia yang diberikan kelebihan oleh Tuhan untuk melihat makhluk tak kasat mata itu.


“Sejujurnya aku tak bisa melihat mereka, tapi aku hanya bisa berinteraksi dengan mereka”


Kami semua saling berpandangan, terdapat raut gelisah yang tercetak jelas di wajah kami masing-masing. Tapi tekad kami sudah bulat. Sekarang atau tidak sama sekali. Itulah yang diserukan oleh kak naisyah, yang berusaha memberi kami semua semangat.


“Jadi, kalian semua tetap akan kesana malam ini?”


Kami semua kompak mengangguk setelah mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir kak kinan. Ia tersenyum sebelum akhirnya berdiri dan menuju jendela di dekat ruang tamu.


“Kalian tau, sebagian dari mereka ada yang tak ingin di ganggu, ada pula yang malah minta bantuan secara langsung. Setengah dari mereka yang tidak ingin diganggu biasanya akan membuat sesuatu yang membuat mental kalian ciut, membuat kalian merasa takut, cemas, dan terakhir gila dan bunuh diri akibat depresi yang kalian alami. Ada juga dari mereka yang malah meminta bantuan, sebagian ini bisa jadi karena urusannya belum terselesaikan di dunia. Maka dari itu mereka kembali sebelum akhirnya pergi dengan tenang. Berbeda dengan mereka yang datang dengan dendam dan amarah yang besar. Bisa jadi setelah ia membalas dendam ia akan semakin berbuat sesuatu yang menyengsarakan bagi orang lain dikarenakan mereka ingin orang-orang itu mengalami hal yang sama seperti mereka”


Kak kinan menatap kami, secara bergantian. Membuat bulu kuduk kami secara tak langsung merinding.


“Kak kinan pernah diminta bantuan sebelumnya mengenai hal-hal berbau mistis seperti ini?”


Aku bertanya, dengan intonasi tenang. Sejujurnya dibanding keselamatan kami, aku lebih khawatir akan keselamatan perempuan yang sekarang ada di hadapan kami ini. Yang dengan kemurahan hatinya mau membantu kami yang secara langsung membahayakan dirinya sendiri.


“Aku pernah beberapa kali mendapat kasus seperti ini, jadi jangan khawatir”


Ia tersenyum, sebelum akhirnya kembali duduk dan bergabung dengan kami. Kuharap ke-khawatiran ku tak akan terjadi. Kami duduk dalam keheningan yang menyelimuti, hanya suara detak jam dinding yang terdengar di ruang tamu luas milik lira. Mata kami secara bergantian melirik jam besar itu dan sesekali mencuri pandang satu sama lain melihat ekspresi masing-masing. Aku berharap waktu secara tiba-tiba terhenti atau ide konyol ini tak benar-benar kami laksanakan. Sayangnya bagaimana pun aku berharap waktu itu tetap saja tak mau behenti bergerak. Dan sebentar lagi tepat jarum jam menunjuk angka sembilan, kami akan menjemput maut kami di sekolah itu.


....


Mobil kak kevin yang membawa kami berhenti di depan rumah kosong di dekat sekolah, kami turun dari mobil secara hati-hati dan gerakan yang tenang. Seperti pencuri yang ulung, kami bergerak cepat menuju gerbang sekolah, tentunya gerbang itu terkunci dari dalam. Tapi persiapan yang kami lakukan jauh lebih siap dari penjaga sekolah.


“Tembok di samping sekolah tidak terlalu tinggi, kalau kita mau bahu-membahu, aku yakin kita bisa lewat dan masuk dari situ”


Kak kevin berbicara dengan pelan, sambil terus mengendap-endap. Sedangkan kami hanya bisa mengikutinya dengan pasrah.

__ADS_1


“Satu persatu dari kalian bisa naik ke bahuku atau bahu dion”


Kami saling melirik satu sama lain, apa ini sedikit berlebihan. Tapi sayang tak ada cara lain. Kecuali kalau lira, aku atau salah satu dari kami yang perempuan mau meminjamkan bahunya. Tapi itu tidak mungkin.


“Ayo cepat”


Kami pasrah. Akhirnya setelah perjuangan panjang itu dan umpatan kasar yang tak sengaja keluar dari mulut dion dan kak kevin kami semua bisa masuk ke sekolah ini dengan selamat. Rumah penjaga sekolah letaknya ada digedung belakang kelas baru jadi kemungkinan kami tidak akan ketahuan.


“Mana senter yang kalian bawa”


Aku mengeluarkan satu senter dari tasku begitupun dengan lira, tugas kami berdua adalah membawa benda itu. sedang kak naisyah membawa kotak p3k. Berjaga-jaga bila ada sesuatu yang menggores kaki atau lengan kami. Kami terus mengendap-endap melewati ruang guru dan ruang kepala sekolah serta perpustakaan dan akhirnya sampai di gedung paling akhir tempat dimana ruangan itu berada. Di sekitar sini gelap selain karena pohon-pohon yang menghalangi cahaya masuk ada juga besi-besi bekas dan tumpukan barang-barang berkarat lainnya di depan ruangan ini. Cahaya senter yang remang-remang setidaknya membantu kami untuk melihat jalan yang bisa kami lalui tadi. Kak kevin yang paling depan barisan kami akhirnya mencoba membuka pintu itu, tapi nihil pintu itu terkunci dengan rapat.


“Mana linggis kecil yang kamu bawa?”


“Ini kak”


Berkat bantuan linggis kecil yang telah dipersiapkan dion, akhirnya pintu itu bisa terbuka tanpa ada kerusakan sedikitpun. Syukurlah, dengan begitu kami tak akan ketahuan jika telah membobol ruangan ini.


Pertanyaan kak kevin membuat lira mengertakan pelukannya pada lenganku sedang fika menggengam erat tangan kak naisyah mencoba menyalurkan ketakutan mereka masing-masing.


“Sejauh ini tak ada, ruangan ini seperti tak menyimpan suatu misteri apapun”


Aku menatap kearah kinan. Ia tak mersakan sesuatu, itu aneh.


“Tunggu”


Ia memejamkan matanya sambil meraba setiap sudut ruangan ini dan menyusuri temboknya yang halus.


“Ada dendam dan amarah besar yang ia rasakan saat ini....”

__ADS_1


Kak kinan mulai berbicara sendiri, sambil terus mengelilingi ruangan ini. Napas kami memburu satu sama lain. Semoga tak terjadi hal yang membahayakan.


“Ia benci. marah. Dan ingin balas dendam...”


Aku menutup mata, menghembuskan napas pelan. Aku takut sesuatu yang berbahaya itu akan terjadi. Dan sebelum semuanya terlambat aku harus melakukannya.


“Lebih baik kita semua pulang”


Langkah kak kinan berhenti, matanya terbuka menatapku dan semua orang yang ada dalam ruangan itu langsung menatapku dengan ekspresi berbeda masing-masing.


“Ck menyusahkan. Kalau dari awal kau tak ingin ikut, lebih baik bilang saja”


“Itu akan lebih baik untuk keselamatan kita semua kak. Kenapa kakak egois. Kita bisa saja terbunuh disini. Atau bisa saja kita tertangkap basah oleh penjaga sekolah”


“Dengar. apapun alasanmu, kita semua harus tetap ada di ruangan ini sampai kita menemukan sebuah petunjuk”


Aku menatap jengkel pada kak kevin. Bisa-bisanya ada orang se-egois sepertinya. Setelah perdebatan dan keheningan yang menguras waktu. Akhirnya kak kinan kembali melakukan ritualnya yaitu mengelilingi ruangan ini sambil menutup matanya. Jantungku berdegup kencang, pohon-pohon yang ada di depan ruangan ini pun daunnya ikut terbang kesana kemari tertiup angin malam. Apa yang harus kulakukan, bahaya itu semakin mendekat dan tak ada seorang pun yang tau kecuali diriku.


“Ia...ingin...membalas dendam.....kepada....


Belum selesai kak kinan berbicara, angin kencang tiba-tiba bertiup, membuat pintu yang awalnya di biarkan terbuka akhirnya terbanting dengan keras dan tertutup. Senter yang kami bawa tak menyala, walau kak kevin dan dion sudah mencoba menyalakannya tapi hasilnya tetap nihil. Kak kevin berlari menuju pintu berusaha membukanya dengan linggis kecil yang ia pegang. Tapi usaha itu sia-sia. Sedang kak kinan ia terus menunduk memperhatikan marmer putih yang ia pijak sekarang. Kami semua panik, degub jantung berpacu dengan tak beraturan menyisakan kepanikan yang malah membuat kami lebih dalam bahaya.


“AAAAAAAAAAHHHH”


PRANG!! Jendela itu pecah, hancur berkeping-keping menyisakan kaca tajam yang masih menempel dan tergantung di sisi jendela tersebut. kami langsung berlari ke arah pintu meninggalkan kak kinan sendiri di pojok ruangan. Berusaha membuka pintu membantu kak kevin. Angin semakin bertiup dengan kecang, membuat pohon-pohon itu seperti akan tercabut dari akarnya. Langkah kaki menggema di ruangan yang kami tempati, asalnya dari luar. Derap kaki itu semakin cepat berlari. Dan kami masih terjebak di dalam ruangan ini. Apa yang harus kami lakukan. Hingga angin kencang itu kembali membuat pintu terbanting dengan keras sekali lagi. Menampakkan pemandangan luar yang diselimuti gelap dan petir yang terdengar memekakkan telinga. Kami semua keluar, kecuali kak kevin yang masuk kedalam ruangan untuk mencari kak kinan. Langkah itu semakin dekat, bayangannya terlihat dari balik pohon cemara tempat kami bersembunyi.


“SIAPA DISANA”


Suara itu mampu membuatku semakin panik begitupun dengan kak naisyah, lira, fika dan dion. Kak kevin keluar dengan meggendong kak renata yang tubuhnya sudah lemas tak berdaya.

__ADS_1


“Cepat ke mobil”


Kami semua langsung berlari, tanpa memerdulikan kerikil-kerikil kecil yang tak sengaja kami injak. Yang ada di pikiran kami hanya satu lari. Sedangkan derap kaki itu mengikuti arah kami berlari. Setiap detik seperti sangat lama, jalanan yang kami lewati seperti semakin jauh, yang padahal sebelumnya sangat mudah kami sampai di ruangan itu. tembok hijau itu telah terlihat, suara napas memburu satu sama lain. Dan sebelum semuanya seperti mimpi kami telah berada dalam mobil yang melaju dengan kecepatan penuh.


__ADS_2