DARAH KELULUSAN

DARAH KELULUSAN
Pertunjukan Ronggeng Dimulai


__ADS_3

Ketekunan kak naisyah belajar tari ronggeng selama dua hari di rumah pak wayan membuahkan hasil yang tidak terduga bagi kita semua. Kak naisyah mampu menguasai semua gerakan penari ronggeng tersebut dengan cepat, dan malam ini kami semua akan menuju ke tempat tanah lapang dimana panggung megah itu berada.


“Aku sudah tak sabar ingin melihat penampilan kak naisyah dan penari ronggeng lainnya di panggung itu nanti bi”


Lira berbicara pelan kepadaku sembari menunggu pertunjukan tersebut dimulai. Sebenarnya acaranya akan dimulai jam 12 malam tapi karena antusias warga di daerah sini akhirnya kami bergegas untuk ke tempat dimana panggung itu berada agar bisa duduk di barisan depan panggung. Tentunya itu buka ide dariku melainkan ide dari lira yang dengan cepat dan senang disetujui oleh bu anih dan pak hasan.


“Warga di daerah sini sudah mulai berdatangan bi, berbaliklah kebelakang”


Atas perintah dari lira, aku akhirnya memutar leherku untuk menengok ke tempat yang ia suruhkan tadi. Disana beberapa meter dari kami para warga di daerah kamboja 12 berbondong-bondong datang ke arah kami. teriakan dan kehebohan dari mulut anak kecil di daerah ini menjadikan suasana disini semakin terasa menyenangkan.


“Sebentar lagi jam 12 malam”


Aku mengangguk menanggapi ucapan lira, dan kembali fokus menatap ke arah panggung. Kain lebar di hadpan masih belum terbuka sedangkan warga yang datang sudah mulai sedikit karena sebagian besar sudah berkumpul disini sedari tadi. Suasana riuh menggema di langit disertai dengan tepuk tangan meriah ketika kain lebar yang menutupi seluruh panggung itu terbuka dan menampilkan sang penari dengan pemain musik tradisional di depan mata. Aku mengerjapakan mataku pelan, berusaha memfokuskan indera penglihatanku ke para penari di panggung besar tersebut.


“KAK NAISYAH”


Teriakan lira bergabung dengan antusias warga daerah sini yang saling meneriakkan nama-nama penari ronggeng tersebut. mereka berlomba-lomba adu kekuatan suara untuk meneriakkan salah satu penari yang mereka sukai, hal itu sudah biasa masing-masing orang tentunya mempunyai pilihan. Dan tugas kami sekarang adalah meneriakkan nama kak naisyah, karena dia merupakan salah satu teman kami. suara bisik-bisik dari arah belakangku terdengar, yang mengatakan kalau kak naisyah yang paling cantik di antara penari ronggeng di panggung tersebut. Aku tersenyum memang kak naisyah cantik, hanya saja malam ini ia pun sama seperti penari lainnya sorot matanya tajam dan ia tak menampakkan senyum manis sperti biasanya. Benar-benar berbeda dari kak naisyah yang biasanya.


“Kenapa kak naisyah tidak tersenyum sekalipun ra?”


“APA, AKU TIDAK MENDENGAR SUARAMU”


Aku menghembuskan nafas berat, seharusnya aku tak bertanya kepada lira disaat-saat seperti ini. Aku menggeleng kepada lira yang masih setia menatapku dan setelahnya ia kembali serius menonton pertunjukan ronggeng tersebut disertai decak kagum yang sesekali terlontar dari mulutnya. Apa aku pergi saja dari sini, tapi aku harus kemana? Aku berbalik menatap semua kerumunan orang yang sangat antusias menonton pertunjukan tersebut. Hanya aku yang tidak bersemangat disini, aku melirik pergelangan tangan lira yang dilingkari jam sudah pukul satu dini hari tahun telah berganti. Dan itu artinya rombongan kami sudah lebih dari satu jam disini. Acara tersebut masih saja berlanjut, bahkan musiknya semakin keras terdengar di telinga.


“Kamu pasti bosan”


Aku berbalik kesebelah kanan kak kevin masih menatap lurus ke panggung itu tapi aku yakin sekali mendengar suaranya. Dan tepukan dibahuku membuatku kembali berbalik ke sebelah kanan.


“Mari kita pergi dari sini”

__ADS_1


Kak kevin melangkah terlebih dahulu keluar dari barisan penonton yang sama sekali tak tergganggu. Aku ragu-ragu melangkah, dan akhirnya sampai ke tempat kak kevin. Kami akhirnya menuju barisan yang paling belakang dari kerumunan orang itu. aku tersu mengikuti langkah kak kevin hingga kami akhirnya berhenti di baris yang paling belakang, dan disana sudah ada dion yang tersenyum simpul kepadaku dan kak kevin.


“Pantas saja aku tidak melihatmu dion, ternyata kamu disini”


“iya, untuk apa juga aku ke baris depan. Bisa-bisa aku diamuk warga karena tidak bisa diam. Aku bosan sekali”


Aku mengangguk menyetujui perkataan dion.


“Ada sesuatu hal yang ingin saya bicarakan kepada kalian berdua”


Aku langsung duduk di dekat kak kevin yang berada di samping kanan dion.


“Hal apa kak?”


Kami berdua menatap kak kevin dengan serius.


“Apa kalian tidak merasakan sesuatu yang aneh di rumah bu anih?”


“Sosok sri weningsih sebenarnya sedang mengikuti kita kak”


Dion membelalakkan matanya, sedang kak kevin hanya menatap datar panggung besar di hadapan kami dengan datar.


“Darimana kamu bisa tahu bintang. Kamu pasti bercanda kan?”


Pertanyaan dion yang disertai dengan suara yang agak gemetar di awal kalimat membuatku jadi tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini.


“Aku hanya menebak dion. Jadi, tenang saja”


Aku berusaha tersenyum di hadapan kak kevin dan dion yang masing-masing memberi tatapan berbeda kepadaku.

__ADS_1


“Syukurlah, aku kira kamu akan serius dengan perkataanmu”


Aku tersenyum getir, entah untuk berapa lama aku membohongi anggota timku yang lain. Aku sangat ingin mengatakkannya tapi bayangan tentang mereka yang akan menjauhiku membuatku langsung mengurungkan niat dan harus berpikir dua kali untuk melakukan hal itu.


“Saya mengalami kejadian aneh kemarin malam”


Lagi-lagi suara dari kak kevin membuat kami dengan serius menatapnya.


“Kemarin malam saya mendengar suara tangis dan nyanyian sinden dari arah kamar yang kalian tempati. Entah kalian percaya atau tidak, tapi saya tetap harus menceritakannya karena kita dalam satu tim”


Tatapan kak kevin langsung mengarah kepadaku dan aku hanya mampu menguk salivaku karena perasaan yang tidak enak itu langsung muncul. Kita dalam satu tim. Kata itu tepat sekali ia tujukan untukku.


“Mungkin kakak salah dengar, atau mungkin salah satu dari teman-teman kita yang membuat-buat hal tersebut. Supaya kita jadi ketakutan, iyakan bintang?”


Tatapan dion seperti menyatakan bilang iya saja bintang. Daripada menghibur kak kevin ia malah seperti ingin menyakinkan diri sendiri bahwa ia tidak takut.


“Kami semua kemarin tidur dengan pulas”


Dan perkataan itu sukses membuat dion menghembuskan nafas berat.


“Dan satu lagi dion soal perkataanku yang tadi aku serius mengatakannya bahwa sebenarnya sosok wening tengah mengikuti kita”


Bersamaan dengan keterkejutan dari dion suara musik yang mengiringi penari tersebut terhenti, suara gaduh dari warga langsung memenuhi area tanah lapang yang kami tempati sekarang dan diantara puluhan suara dan kegaduhan yang timbul dari mulut warga sekitar kata seorang gadis pingsan diatas panggung mampu membuat lututku lemas seketika.


...


Note :


Terimakasih telah membaca karya saya. Tetap dukung karya ini dengan memberikan komentar, kritik dan saran yang membangun. jangan lupa juga untuk tekan tombol favorit dan like. cerita ini saya usahakan terbit setiap hari jadi nantikan terus yah.

__ADS_1


Thank's all. I hope you like it and enjoy read my story.


__ADS_2