
Aku berjalan gontai ke dalam rumah. Setelah mengerjakan tugas kelompok dengan lira, aku langsung pulang. Di dalam rumah sudah ada lintang yang menyambutku dengan pipi yang mengembang akibat senyumnya yang merekah. Aku sangat gemas ingin mencubit pipinya.
“Ibu belum pulang?”
Aku duduk di sebelahnya sambil menyenderkan punggungku di kursi kayu.
“Belum kak, mungkin sebentar lagi”
Aku hanya mengangguk dan kemudian pergi ke kamar untuk mengganti baju.
“Kak tadi aku cerita ke temanku kalau di belakangnya dia ada nenek-nenek ikut. Tapi dia tidak percaya dan malah laporin ke guru kalau aku takut-takutin dia”
Aku menghelas napas, seharusnya aku dan ibu sudah memikirkan resiko ini jauh-jauh hari. Tapi karena aku yang sibuk dengan tugas sekolah dan ancaman tiba-tiba yang kudapatkan, aku tak bisa memikirkan penyelesaian untuk masalah lintang sekarang.
“Terus gurunya lintang bilang apa?”
“Cuma nasehatin lintang. Kalau jangan nakal sama takut-takutin teman. Setelah itu lintang disuruh ke kelas”
“Ibu nggak dipanggil kan? Atau ada surat dari sekolah?”
Lintang menggeleng. Aku bersyukur setidaknya untuk saat ini aku tak perlu menceritakan hal ini kepada ibu, dan ibu tak perlu tau masalah ini.
“Lintang tidak usah beritahu ibu hal yang tadi ya. Nanti ibu khawatir. Bisa kan?”
Lintang mengangguk dengan cepat, dan kembali ke ruang tamu untuk menonton televisi.
Apa yang harus kulakukan sekarang. Aku tak bisa pergi ke sekolah malam ini. Tapi, aku juga tak ingin kalau berita itu menyebar. Tuhan apa yang harus kulakukan.
Aku duduk di pinggiran kasur dan menunduk memperhatikan lantai putih yang ku pijak. Semoga aku tak mengambil keputusan yang salah.
.....
Suara deru mobil terdengar. Aku langsung menuju ke pintu setelah mendengar ketukan di depan sana.
“Kamu sudah mau pergi bintang?”
“Iya bu”
Aku akhirnya berpamitan dari ibu, setelah meminta ijin keluar dengan alasan ingin mengerjakan tugas di rumah lira. Seperti alasan yang kugunakan pada pertama kali kita pergi ke sekolah malam itu.
“Yasudah hati-hati. Pulangnya jangan terlalu larut malam”
Aku kembali mengangguk ketika mendengar nasihat dari ibu.
“Well, kamu memilih keputusan yang tepat”
Ia menyunggingkan senyum. Yang malah membuatku tambah muak dengan orang sepertinya.
“Jadi apa yang harus kita lakukan malam ini?”
__ADS_1
Ia menautkan alisnya, sambil terus fokus menyetir.
“Bukannya seharusnya kamu tau apa yang harus kamu lakukan. Kenapa bertanya kepada saya”
“Aku memang tau hal apa yang harus ku lakukan kak, tapi sayangnya aku tak bisa menebak jalan pikiran kakak yang tingkat kegilaannya berubah-ubah setiap saat”
Ia tertawa pelan.
“Gila? Saya akui saya memang gila. Tapi apa yang lebih parah dari sekedar sifat gila yang saya miliki dengan sifat mementingkan diri sendiri yang kamu punya?”
Kalimat sarkatisnya mampu membuatku diam, bukan karena aku menerima begitu saja perkataannya tepatnya karena aku tak ingin berdebat dengan orang yang tak ingin mengalah. Membuang-buang tenaga saja.
“Jadi apa yang akan kamu lakukan?”
“Pergi ke ruangan itu dan setelahnya pulang”
Kak kevin berbalik sekilas kepadaku.
“Terus apa yang kakak harapkan? Kakak mau aku memanggil hantu atau makhluk astral itu? Dengar ya kak. Aku itu bukan pemanggil setan. Aku cuma orang yang diberi entah itu kelebihan atau kerkurangan. Aku juga tak tau. Intinya aku hanya bisa berinteraksi dengan mereka, melihat mereka, dan mendengarkan keluh kesah mereka. Itu pun kalau makhluk-makhluk itu dengan senang hati menampakkan wujudnya. Tapi kalau makhluk yang kita datangi tak seperti itu, maka kita akan pulang dengan sia-sia malam ini”
Kak kevin hanya mengangguk tanpa mengatakan satu kata pun kepadaku. Entah karena ia pasrah atau malas tau dengan apa yang aku katakan. Tapi itu terserah dia. Toh aku hanya akan menjalankan tugasku.
....
Kami sekarang sudah ada di lingkungan sekolah. Rintik hujan menyambut kedatangan kami, dan beberapa menit setelahnya hujan mengguyur area sekolah.
“Pintunya terkunci”
“Terus kita harus bagaimana kak?”
Aku menunduk memperhatikan di dalam ruangan melalui celah lubang kunci.
“Cari cara lah, supaya kita bisa masuk”
“Kenapa harus aku, kan kakak yang mengajak kesini”
“Tapi kamu juga kan mau”
“Ya kalau bukan karena ancaman kakak yang konyol itu. Aku tidak akan kesini”
Aku mendengus sebal. Sedang kak kevin sudah mengeluarkan sebuah kawat dari dalam tasnya.
“Kakak memang berbakat menjadi penjahat”
“Terimakasih atas pujiannya”
Ia hanya berbalik sekilas kepadaku, dan mulai masuk ke dalam ruangan itu.
“Jangan cuma berdiam diri di situ. Kamu mau ditangkap penjaga sekolah”
__ADS_1
Aku berjalan gontai kedalam ruangan. Hawa dingin langsung menyeruak ke dalam tubuhku yang di tutupi oleh jaket tebal.
“Kamu bisa merasakan sesuatu?”
“Disini dingin”
“Saya tidak sedang bercanda bintang”
“Aku juga sedang lagi serius kak kevin. Disini memang dingin dan gelap”
Ia mengeluarkan senter kecil dari dalam tasnya dan menyalakan senter itu. Cahayanya hanya titik kecil dan remang-remang. Itu pasti senter hadiah makanan ringan. Sama seperti yang lintang dapat seminggu yang lalu.
“Senter ini walau kecil setidaknya beguna. Bukan seperti kamu yang sudah jelas-jelas memiliki kemampuan tapi tak bisa menggunakannya dan tak berguna bagi kelompok kita”
Aku tersenyum sinis. Hanya karena aku memiliki kemampuan itu ia bisa seenaknya mengatakan hal seperti itu.
“Kak. Dengar ya, aku memang memiliki kemampuan yang tak berguna seperti yang kakak bilang. Kalau memang kakak mau. Aku akan dengan senang hati memberikan kemampuanku kepada kakak. Puas”
Aku melangkah keluar ruangan dan membanting pintu dengan keras. Menyisakan suara debaman yang menggema di seluruh koridor. Aku mengusap pelan wajahku.
“SIAPA DISANA?”
Seperti dejavu aku seperti tertarik kembali ke masa saat pertama kali kami ke sekolah.
“Lari”
Kak kevin menarik tanganku, dan aku masih terus menatap kosong kepada setiap kelas dan ruangan yang ku lalui.
“Bintang sadar...Bintang...Bintang?”
Aku melihat sekeliling ruangan yang gelap dan pengap. Guncangan dibahuku membuat beberapa persen saraf di otakku bekerja dengan stabil.
“Kita dimana sekarang kak?”
Kak kevin menempelkan jari telunjuk di bibirnya, menyuruhku untuk diam.
“Saya juga tidak tau. Tapi yang pasti kita akan aman disini”
Aku memeluk lututku di dekat tumpukan balok kayu usang dan berdebu. Aku takut.
“Saya yakin penjaga sekolah dan petugas kebersihan tidak tau kalau kita ke sini. Jadi jangan takut”
Aku mengangguk, dan tetap diam. Hanya suara jangkrik dan katak yang bersahut-sahutan setelah hujan agak reda.
“Disini bau anyir kak?”
Kak kevin mendekat ke arahku, dan menyalakan senter kecilnya. Ia terus mencari sumber bau anyir itu dan setelah mencari sekian menit, aku melihat sumber bau anyir itu. mulutku sudah ingin berteriak.
“sst!”
__ADS_1
Kak kevin dengan sigap membekap mulutku dengan tangannya. Dan hanya suara jeritan tertahan yang dapat kulakukan.
....