
Suara sirine ambulans menggema di jalanan sepi sebelum akhirnya sampai kepada sebuah bangunan bertingkat tiga yang baru diselesaikan beberapa hari yang lalu itu. Petugas berseragam putih dengan tandu yang mereka bawa segera berlari ke tempat kejadian. Disana sudah ada empat orang yang menunggu. Kepala sekolah, guru olahraga, dan orang tua murid yang tiba-tiba datang karena firasat mereka yang berkata demikian. Suara tangis dan jeritan memillukan keluar dari ibu si gadis yang pakaiannya telah bercampur dengan darah segar dari beberapa bagian tubuhnya yang seperti tersayat dan memang benar-benar tersayat. Tubuh putih pucat itu langsung ditandu petugas ke dalam ambulans dan dibawa ke rumah sakit untuk dilaukan tes forensik. Setelah menghubungi polisi kepala sekolah itu duduk sambil memijat pangkal hidunya yang sebelumnya telah ia lepas kacamata yang bertengger disana. Guru olahraga baru itu sama terkejutnya dengan sang kepala sekolah. keringat dingin sedari tadi terus mengucur di pelipisnya. Ia baru diterima dan baru saja merasakan kebahagiaan akan semua itu. Tapi akhirnya harus melihat kejadian tak terduga yang membuat sebagian raganya serasa menghilang. Mengundurkan diri? Mana mungkin ia akan melakukannya. Istrinya baru saja melahirkan dan ia butuh modal untuk semua keperluan anak mereka. Mungkin bertahan adalah pilihan terakhir yang bisa ia lakukan. Walau selama bekerja disini ia akan terus terbayang dengan pemandangan tak biasa itu.
“Permisi pak, kami dari pihak kepolisian”
Suara berat nan tegas, memecah keheningan dari dua pria tersebut.
“Kami akan melakukan beberapa penyelidikan dan mohon kerjasama Bapak untuk menceritakan kejadian yang anda lihat di TKP”
__ADS_1
Pria paruh baya dan guru olahraga itu hanya mengangguk lemah. Disertai dengan raut wajah tegang dan keringat dingin yang terus mengucur.
“Kami yang awalnya ingin memeriksa ruangan baru yang akan dijadikan tempat menyimpan peralatan olahraga menjadi berhenti tepat di luar ruangan. Dikarenakan pintu yang saya buka langsung menampakkan pemandangan yang amat memilukan. Siswi kami yang saya kenal namanya renata putri dari wali murid yang setiap tahunnya memberikan donasi yang tidak sedikit kepada sekolah. sudah tergantung mengenaskan di dekat jendela disana. Bukan hanya itu tapi darah segar mengalir dari beberapa bagian tubuhnya seperti lengan, leher dan betis siswi itu”
Kepala sekolah menceritakan kejadian itu kepada polisi yang sedang memeriksa TKP dan mengambil sampel darah yang masih tergenang di lantai marmer putih itu. Sedang guru olahraga itu hanya mengangguk membenarkan apa yang kepala sekolah itu katakan. Ia masih tak berani bersuara, akibat guncangan kecil yang diterima oleh sarafnya setelah kejadian itu. Setelah beberapa saat, penyelidikan yang dilakukan. Polisi itu pun pamit kepada kepala sekolah untuk ke rumah sakit dan memberikan sampel yang mereka bawa kepada ahli forensik.
Setelah beberapa hari sekolah ditutup dikarenakan kejadian dan beberapa test yang mengharuskan polisi memeriksa TKP. Akhirnya, sekolah kembali dibuka. Orang tua murid telah menerima kepergian putrinya yang dinyatakan bunuh diri oleh pihak forensik. Dikarenakan tak ada bukti ataupun sidik jari selain miliknya yang terdapat pada tubuh korban. Orang tua murid juga tak mengajukan kasus itu kepada pihak pengadilan dikarenakan bukti yang tak kuat dan hanya dugaan yang tak pasti. Jadi menerima dan mengikhlaskan adalah hal yang terakhir yang mereka bisa pilih.
__ADS_1
Ribuan calon murid yang ingin mendaftar terlihat memadati lapangan sekolah ditengah teriknya matahari yang berada tepat di atas kepala, semangat calon murid baru itu seperti terbakar juga. Kaki-kaki mereka bergerak kesana kemari. Helaan napas dan cekikikan terdengar memenuhi lapangan sekolah. kasus itu sebenarnya telah menyebar di masyarakat tapi karena pernyataan sekolah yang menyatakan bahwa kasus dan kejadian beberapa hari yang lalu hanya murni karena bunuh diri akhirnya calon murid baru dan para orang tua tak terlalu memperdulikan hal itu. Asal selalu memantau anak mereka agar jangan sampai depresi karena belajar tentunya hal itu bisa dihindari. Pikir orang tua murid pada saa itu.
“DIHARAPKAN KEPADA MURID BARU AGAR MENGUMPULKAN FORMULIR YANG TELAH DIBAGIKAN SESUAI DENGAN TANDANYA MASING-MASING KEPADA PANITIA”
Ribuan kaki itu melangkah kesana kemari mencari panitia mereka masing-masing, helaan napas marah yang tertahan, ekspresi kesal dan marah, serta kata maaf memenuhi suara di lapangan itu. Setelah pengembalian formulir, beberapa murid sudah ada yang langsung pulang kerumah tapi yang lainnya masih sibuk mengelilingi gedung bertingkat itu untuk melihat bagaimana kelas yang akan mereka tempati nantinya. Kata “WOW” tak henti-hentinya gerombolan murid baru itu ucapkan setiap kali memasuki kelas yang baru dengan latar warna yang berbeda setiap kelasnya. Berbeda dengan murid berkacamata tebal dengan rambutnya yang dikuncir kuda itu, ia lebih memilih mendatangi ruangan dimana kejadian beberapa hari yang lalu heboh di kalangan masyarakat. Ia membuka pintu bercat cokelat itu tanpa rasa takut sedikitpun. Ruangan itu sebagian sudah terisi dengan beberapa peralatan olahraga. Dua rak yang ditempati untuk menaruh bola bakset, voli dan bola sepak. Serta rak kecil yang digunakan untuk menaruh bola rugby, bola tenis dan bola kasti. Sedang peralatan yang lainnya dibiarkan tergelatak walau dengan teratur di lantai. Setelah melihat sekeliling gadis itu pun menutup pintu itu dan sebelum ia benar-benar keluar ada sebuah senyum, entah senyum kebahagiaan atau prihatin yang terbit di bibirnya.
.....
__ADS_1
Malam telah larut, sedang gadis berkuncir kuda dengan kacamata tebal yang bertengger di pangkal hidungnya yang lancip, masih terjaga. Ia bukan tidak bisa tidur ia hanya sedang membuat sebuah artikel, artikel yang mungkin suatu saat nanti akan berguna bagi kelangsungan sekolah itu. Setelah menyelesaikan artikelnya, ia akhirnya menyimpan lembaran kertas itu di sebuah kotak kayu yang ia buat sendiri dan tak lupa menguncinya dengan gembok yang ia miliki. Ini satu-satunya bukti dan harus dijaga jangan sampai hilang. ia membatin di tengah gelapnya malam. Gadis itu kemudian beranjak dari kursi kayu tempatnya menulis dan menuju sebuah kasur yang telah diisi oleh satu orang yang wajahnya mirip dengannya walau dengan umur yang berbeda. Adiknya telah terlelap dengan sangat pulas dan seperti kebiasaan sebelumnya adiknya lupa melepas kacamata yang ia kenakan sebelum tidur.