
Langkah kami terhenti tepat di depan mobil ambulans yang susul menyusul datang ke sekolah. Tak ada lagi teriakan dan jeritan, yang ada hanya isakan pilu yang terdengar menyayat. Aku meninggalkan lira yang masih mematung. Menuju ke suatu tempat, yaitu tempat dimana para korban itu terbunuh. Kakiku terus melangkah menuju ruangan itu, tak peduli bagaimana detak jantungku yang berpacu kian cepat. Aku menelan ludah, melihat tetesan darah yang tersebar di lantai menuju tempat terkutuk itu. Hawa dingin langsung menyergapku, disana masih ada pak ridwan, penjaga sekolah, dan petugas kebersihan. Aku langsung berlari menghampiri mereka tanpa memperhatikan langkahku yang justru menginjak darah yang berceceran itu dan membuatnya tercetak di bagian bawah sepatuku.
“Apa... Apa yang terjadi pak?”
Aku menghampri pak ridwan yang terduduk lesu di pinggiran lantai tepat di depan ruangan itu. Pak ridwan yang mendengar suaraku langsung tersentak kaget menyadari keberadaanku yang datang secara tiba-tiba.
“Apa yang kamu lakukan disini bintang?”
Bukannya menjawab pertanyaanku pak ridwan malah mengajukan pertanyaan kembali.
“Saya hanya ingin tau apa yang sedang terjadi pak?”
Pak ridwan berdiri dan langsung menjauhkan ku dari depan ruangan itu.
“Lebih baik kamu pulang dulu. Tidak baik jika kamu terus berada di sini”
Aku menautkan alisku. Perkataan pak ridwan memang benar, hanya saja rasa penasaranku terus saja membuncah.
“Saya hanya ingin tau pak?”
“Kamu tunggu disini bintang”
Pak ridwan tak menggubris pertanyaanku dan malah kembali ke depan ruangan itu. setelah beberapa menit aku berdiri di sini, penjaga sekolah menghampiriku.
“Bapak disuruh mengantar kamu sampai ke gerbang”
Aku menatap penjaga sekolah sedang yang ditatap hanya tersenyum tulus.
“Bapak khawatir kalau kamu disini, kamu bisa kenapa-napa. Mari bapak antar sampai ke gerbang”
Aku tak tau apa yang harus kulakukan, dan desakan dari penjaga sekolah mau tak mau membuatku mengikuti langkahnya.
“Bapak tau kamu pasti penasaran akan apa yang sudah terjadi?”
Aku mendongak menatap penjaga sekolah lalu mengangguk.
“Dengar nak”
Penjaga sekolah menghentikan langkahnya yang refleks membuat langkahku juga ikut terhenti.
“Sekolah kita sekarang sedang tak aman”
Aku masih tetap menatap penjaga sekolah, bingung akan maksud dari perkataannya.
“Maksud bapak?”
“Di ruangan itu, ada korban lagi sebanyak lima orang siswi”
Aku sudah tau itu, kak kevin sudah menyampaikannya tadi.
“Bintang hanya ingin tau kenapa hal itu bisa terjadi pak. Bukannya ruangan itu selalu dikunci lantas kenapa lima orang siswi itu bisa masuk?”
Penjaga sekolah mengusap wajahnya dan duduk di bangku panjang di dekat ku.
“Bapak juga tidak tau nak, bapak jelas-jelas mengunci ruangan itu dan jendelanya juga sudah di perbaiki. Tak ada celah jika kita ingin masuk ke dalam sana”
“Apa bapak yang memegang kuncinya?”
__ADS_1
Penjaga sekolah itu mengangguk.
“Dan bapak selalu menyimpannya di rumah. Bapak sengaja memisahkan kunci itu agar mudah bapak temukan kalau suatu waktu kunci itu dibutuhkan”
“Apa kunci itu masih ada di rumah bapak?”
Penjaga sekolah itu kembali mengangguk.
“Iya. Sewaktu bapak ke depan untuk membuka gerbang, kunci itu masih ada tergantung di tempat gantungan baju yang bapak punya"
Aku menatap kasihan kepada penjaga sekolah, pasti ia amat merasa bersalah sekarang. Bagaimana tidak, ia yang telah diberi kepercayaan untuk menjaga ruangan itu tapi ternyata hal seperti ini malah terjadi.
“Apa pintu di ruangan itu rusak pak?”
Penjaga sekolah mendongak menatapku lekat.
“Tidak, tidak ada bekas kerusakan di pintu itu. Bapak juga heran kenapa pintu ruangan itu tidak rusak padahal kalau dibuka tanpa kunci pastinya ada kerusakan”
Aku langsung mengingat kejadian malam itu, malam dimana kami ber-tujuh memasuki ruangan terkutuk itu. Kak kevin berhasil membobol pintu ruangan dan membukanya tanpa ada kerusakan.
“Tidak mungkin juga para siswi itu yang melakukan hal tersebut. Untuk apa juga mereka memasuki ruangan itu”
Aku mengangguk tidak ada orang yang berani memasuki ruangan itu, kecuali kami kelompok “SURGICAL GLASSES” yang bahkan rela mendatangi tempat terkutuk itu pada malam hari.
“Apa bapak tidak melihat kejadian apa yang terjadi tadi?”
Penjaga sekolah itu menggeleng keras.
“Tidak nak, bapak ada di pos jaga. Setelah sorakan dan teriakan kebahagiaan anak kelas 12 yang dinyatakan lulus bapak mendegar jeritan dari beberapa siswa-siswi yang ada di lapangan”
“Terus apa yang terjadi pak?”
“Apa mungkin ke-lima korban yang ada di ruangan itu juga kerasukan pak?”
“Iya, karena jika dalam keadaan normal mungkin saja mereka tidak akan pergi ke dalam ruangan itu”
Aku terdiam selama beberapa menit. Orang kerasukan tidak mungkin bisa membobol pintu ruangan itu apalagi masuk melalui jendela? Mungkin itu tindakan yang paling konyol yang bisa dilakukan oleh orang yang kerasukan. Tapi kenapa mereka bisa masuk ke dalam ruangan itu? aku terus saja berdiskusi dengan diriku sendiri, sampai suara dari kepala sekolah menyadarkan ku. Aku tersenyum kepada kepala sekolah yang hanya dibalas dengan senyum kecil dan anggukan darinya.
“Bapak bisa ikut ke ruangan saya?”
Penjaga sekolah itu kemudian mengangguk dan berdiri dari duduknya.
“Maaf nak, bapak tidak bisa mengantar kamu sampai ke gerbang”
“Iya tak apa pak”
Penjaga sekolah itu hanya tersenyum kemudian berjalan mengikuti langkah kepala sekolah menuju ruangannya.
...
Aku terus berjalan meawati lorong sekolah, kejadian itu membuat sekolah yang awalnya sangat ramai karena teriakan dan jeritan langsung hening, hanya ada beberapa guru yang berlalu lalang dan ada juga yang sudah bergegas pulang.
“BINTANG...”
Aku mendongak dan mendapati lira yang tengah berlari ke arahku.
“Kamu dari mana, kenapa kamu tinggalin aku bintang”
__ADS_1
Lira memberenggut kesal.
“Kalau aku juga kerasukan bagaimana?”
Aku menatap lira tanpa berekspresi apapun.
“Bi.. Bintang kamu kenapa?”
Lira mundur beberapa langkah dariku, sedang aku dengan refleks maju ke arahnya.
“BINTANG”
Lira menepuk keras pundakku, membuatku meringis.
“Aduh sakit tau ra. Jadi kuli saja sana, tenagamu cocok sekali jadi kuli”
Lira hanya meghembuskan napas lega sedang aku masih mengelus pundak ku yang masih perih karena pukulan mendadak dari lira.
“Lagian kamu bikin takut aja. Udah mukanya pucat terus ekspresinya kayak tadi, siapa yang nggak takut coba”
“Iya deh”
Aku melangkah mendahului lira.
“Kamu mau kemana bi?”
“Mau pulang. Kita kan nggak ada urusan lagi disini”
“Kamu nggak mau ke ruangan “SURGICAL GLASSES”. Siapa tau yang lain masih ada di sana”
Aku terdiam sejenak dan mengangguk menyetujui kalimat lira.
“Ya sudah ayo kita ke sana”
Aku dan lira berjalan kembali ke ruangan dimana anggota yang lain tadi berada, kami kembali melewati lorong yang hawanya masih seperti tadi dingin dan menakutkan.
“Tidak ada orang di dalam bi”
Lira berjinjit mencoba untuk melihat ke dalam ruangan, karena pintu ruangan ini sudah terkunci.
“Kita pulang saja ra”
Lira mengangguk lemah, dan kami pun memilih untuk pulang. Baru beberapa langkah kami berjalan, suara dari arah depan refleks membuat langkah kami terhenti.
“Ada apa dion?”
Lira langsung menghampiri dion yang berjongkok beberapa meter di hadapan kami.
“Kak kevin... Kak kevin kecelakaan”
Perkataan dari dion sukses membuatku mundur beberapa langkah dari tempat lira dan dion berada. Dan kalimat yang sama terus menggema di dalam benakku. Apa perkataan kak kinan memang benar terjadi.
Kalian akan mati secara bergilir.
...
Note :
__ADS_1
Terimakasih kepada pembaca sekalian yang telah mampir dan membaca cerita ini. Terus dukung cerita DARAH KELULUSAN dengan memberikan like dan komentar yang baik.
Jangan bosan untuk menunggu next partnya. Sekali lagi terimakasih kepada readers yang telah membaca cerita ini.