
Perkataan kak kinan terus-menerus terngiang di kepalaku, mati secara bergilir? Siapa yang tidak takut mendengar hal itu. Nyaliku untuk mengungkit misteri itu langsung pudar, tergantikan dengan rasa cemas dan takut sesuatu yang buruk itu (kematian) menimpa kami semua. Sejujurnya pasti bukan hanya aku yang takut tapi semua orang yang ada di kelompok “surgical glasses” semuanya mengalami kecemasan itu. Tapi niat tetaplah niat, bagaimana pun kami berusaha menepis keinginan untuk berhenti, rasa penasaran itu terus saja tumbuh tanpa tau kematian itu tepat berada di depan mata kami. Seperti yang terjadi kemarin, setelah mendengar perkataan kak kinan dan mengobrol sebentar dengan ibunya. Kami akhirnya pamit ketika mentari telah berada di kaki langit. Obrolan mengenai kematian secara bergilir itu terus saja mendominasi perjalanan kami pulang. Dan saat itulah kelompok kami terbagi menjadi kelompok A yang tetap mendukung misi ini terus berlanjut dan kelompok B yang ingin mengakhiri misi ini dengan alasan sebelum ada salah satu bahkan semua anggota yang ada di kelompok ini mati secara tak wajar.
“*Kak, apa yang ingin kakak dapatkan sebenarnya dari misi ini?”
Kak kevin yang tetap teguh dengan pendiriannya untuk melaksanakan misi ini, hanya tersenyum sambil terkekeh pelan.
“Bukannya kalian dulu yang mengajak kami ber-4 untuk bergabung dengan kalian. Seharusnya saya yang mempertanyakan hal itu dari awal”
“Tapi kak, kakak dengar sendiri kan dari mulut kak kinan, bahaya itu tepat ada di depan mata kita semua. Dan kakak rela kami, semua mati. Termasuk kakak sendiri?”
“Lantas, kalian ingin berhenti, bagaimana kalau setelah kita menghentikan misi ini akan ada korban lagi yang bunuh diri di ruangan itu? apa kamu mau kita yang mengetahui hal gaib ini. mengorbankan nyawa teman-teman kita yang tidak tau apa-apa? Begitu?”
Lira menghela napas berat di dekatku. Hal ini membuat kami semua bingung. Di satu sisi nyawa kami semua dalam bahaya dan di sisi lain, nyawa teman-teman kami juga dalam bahaya.
“Tapi kak, penjaga sekolah itu pun juga masih curiga dengan kelompok kita. Bagaimana kalau lambat laun dia mengetahui kalau memang kita yang menyelinap ke sekolah malam itu?”
Suara dion memecah keheningan di dalam mobil.
“Benar apa kata dion kak. Aku takut masalah ini semakin runyam dan kita semua...”
“Dan terus kalian ingin berhenti? Kalau itu mau kalian. Silahkan berhenti saja. tapi saya akan tetap melanjutkan misi ini walau pun sendiri”
Aku menatap kak kevin melalui kaca spion tengah mobil. Ia masih terus fokus menyetir dengan santai tanpa menghiraukan maksud dari perkataanya. Dan untuk kali ini mungkin aku akan tetap berada di pihaknya*.
....
“Kak...kakak”
Lintang memukul pelan pahaku, adik kecilku yang satu ini tau saja kalau aku sedang melamun.
“Ada apa?”
Aku bertanya dengan intonasi pelan sambil menatap kedua manik matanya yang hitam.
__ADS_1
“Tidak, kakak tadi mengkhayal. kata ibu kalau orang mengkhayal di tepuk saja. Siapa tau nanti kemasukan”
Aku terkekeh pelan.
“Mana mungkin kemasukan. Kakak kan berteman dengan makhluk-makhluk itu. mana berani dia memasuki kakak”
Lintang hanya menatapku dengan tatapan tak mengerti. Sedang aku kembali tertawa dengan pelan melihat eksprersi bingungnya.
“Bercanda, kakak bukan lagi menghayal. Cuma lagi memikirkan misi saja”
“misi? Yang kayak detektif conan itu?”
Aku mengangguk, sedang adikku dengan antusias tinggi sekarang menarik kursi kayu yang berada tak jauh darinya dan mulai duduk dengan posisi siap mendengarkan.
“Misi apa kak?”
“Ada deh”
Aku tersenyum kemudian berbalik ke meja belajar dan membelakanginya.
“Ikut apa?”
“Ikut di misi kakak”
“Kan kakak sudah pernah bilang. Kalau lintang itu sudah jadi bagian dari kelompok kakak. Kan kemarin sudah ada kesepakatan. Jadi kalau lintang ada ide cukup utarakan saja”
Aku menatap matanya yang berbinar. Ia benar-benar polos.
“Aku punya ide kak”
Aku langsung mengalihkan fokusku ke arah lintang. Sedang yang di tatap hanya tersenyum jahil. Entah apa maksudnya.
“Bagaimana kalau kita tembak orang itu pakai senapannya ayah? Supaya kakinya berdarah dan tidak bisa jalan terus kita bawa deh ke kantor polisi. Gimana kak, bagus kan ideku?”
__ADS_1
Aku lagi-lagi tersenyum, memangnya apa yang sedang ku bicarakan dengan adikku yang polos ini. orang? Andai itu orang maka mungkin kami akan lebih cepat menangkapnya. Sayangnya, kasus ini lebih dari mencari seorang pembunuh di antar kerumunan orang.
“Kalau ternyata yang kita mau tangkap itu bukan orang bagaimana?”
“Eh, kakak memangnya mau tangkap apa kalau bukan orang?”
Ia balik bertanya dengan tingkah polosnya.
“Kalau yang kita tangkap bukan orang.. tapi hantu bagaimana?”
Ia mundur beberapa langkah. Pupilnya bergerak kesana-kemari. Menandakan ia sedang gugup. Yah itulah Lintang Aurelina Putri saudariku, adikku dan kembaranku yang jiwa dan raganya persis dengan diriku. Aku adalah lintang di masa kecil dan lintang akan menjadi seperti diriku di masa depan.
.....
Setelah obrolan singkatku dengan lintang yang agak sensitif untuk anak seumuran dengannya. Akhirnya dengan ketakutan dan badan yang gemetar, ia berlari ke kamar ibu dan tidur disana. Sedangkan aku, aku terbangun di jam 12 lewat beberapa menit malam ini lagi. Tak apa setidaknya aku bisa kembali melanjutkan coretanku di atas kertas putih itu. aku mengambil kotak kayu di bawah tempat tidur, beberapa debu terlihat menempel di peti kayu itu. berarti sudah lama sekali aku tak pernah membukanya lagi.
DUUKK! Suara pukulan di pintu depan mengagetkanku, hampir saja kota kayu yang ku pegang terjatuh. Aku mendecak sebal. Pasti dia lagi.
DUUKK! Lagi, dan akan seperti itu sampai tangannya memerah dan kembali esok dengan mata merah menyala. Menampar ibu, memecahkan gelas dan piring serta memarahiku dengan lintang bergantian. Orang itu tak akan pernah berhenti sampai kami merasa tak tenang. Sesoerang itu adaah ayahku. Ayah yang dulu selalu dibanggakan oleh keluarganya. Ayah yang dulu sangat menyayangi kami dan ayah yang dulu selalu memberikan kami tatapan kasih sayang semuanya lenyap tergantikan dengan amarah yang kian hari menguasai dirinya.
Entah sebab apa, beliau seperti itu. Tetapi yang kutau semenjak ia bergabung dengan kuli bangunan yang mengerjakan proyek sekolah yang sekarang adalah sekolahku, sikap tempramennya seakan terlihat dan mulai muncul sejak saat itu. Dan saat itulah sikapnya berubah seratus delpan puluh derajat dengan dirinya yang dulu.
Sejujurnya dari lubuh hatiku yang paling dalam aku amat menyayanginya. Teramat sangat, tapi itu dulu. Sebelum aku mengetahui fakta yang telah disembunyikan rapat olehnya. Sebuah peristiwa yang pernah ia lakukan yang tak akan pernah membuatku lupa. Bahwa setiap tetes darah yang pernah tanpa sengaja mengenai wajahku, haruslah dibayar dengan darah pula.
...
note :
Terimakasih telah membaca karya saya. Tetap dukung karya ini dengan memberikan komentar, kritik dan saran yang membangun. jangan lupa juga untuk tekan tombol favorit dan like.
cerita ini saya usahakan terbit setiap hari jadi nantikan terus yah.
Thank's all. I hope you like it and enjoy read my story.
__ADS_1
love from gery.