DARAH KELULUSAN

DARAH KELULUSAN
Menjadi Penari Ronggeng Sementara


__ADS_3

Setelah mendengar persetujuan dari kak naisyah, kami semua pun akhirnya memutuskan untuk mengunjungi rumah pak wayan yang tak lain adalah pemilik panggung sekaligus pengurus para penari ronggeng di daerah ini. Kak naisyah dengan semangat melangkahkan kakinya, dan sesekali bersenandung. Apa yang menarik dari menjadi penari ronggeng? Sekelabat pertanyaan itu terus menggema di pikiranku. Bayanganku tentang penari ronggeng masih sama, yaitu penuh misteri. Tariannya yang gemulai disertai dengan alat musik tradisional semakin menambah kesan mistis dari tari ronggeng tersebut. Bukannya tidak menyukai hanya saja kesan pertamaku untuk sesuatu hal tentang ronggeng masih sangat jauh dari kata menarik. Tapi karena agenda ronggeng masuk ke dalam daftar hal yang akan kami lakukan maka mau tak mau aku harus mengikuti agenda tersebut.


“Apa rumahnya masih jauh bu?”


Lira memecah kebisingan dari suara jangkrik yang terdengar bersahut-sahutan. Pohon-pohon dan rumput liar menjadi pemandangan tak mengenakkan yang sepanjang jalan kulihat menuju tempat tinggal seseorang yang bernama pak wayan.


“Sudah hampir sampai”


Bu anih menjawab pertanyaan lira dan kembali menatap lurus ke depan jalan yang kami lalui.


“Apa ibu juga dulunya pernah menjadi penari ronggeng?”


Bu anih tersenyum kepada kak naisyah dan mengangguk pelan.


“Itu sudah sangat lama sekali. Ibu belajar tari ronggeng sudah dari kecil dan pertama kali tampil itu sewaktu masih seumuran denganmu, tapi setelah menikah ibu memutuskan berhenti untuk menjadi penari ronggeng”


“Kenapa bu?”


Kak naisyah menatap heran bu anih.


“Ibu hanya ingin fokus membangun keluarga kecil yang ibu miliki. Karena itulah ibu keluar”


Aku menatap lurus ke depan sebuah rumah panggung yang tidak tinggi berhasil membuatku berdecak kagum di dalam hati.


“Rumahnya bagus sekali bu”


Perkataan lira menjadi perwakilan dari pemikiranku tentang rumah yang sekarang ada di hadapanku ini. Semua bangunannya terbuat dari kayu membuat kesan sederhana sekaligus nyaman bagi siapa saja yang melihat. Tanpa perlu berpikir panjang kami semua langsung naik ke sana. Para penari ronggeng dengan kain batik dan selendang merah menyambut kedatangan kami.


“PAK WAYAN”


Bu anih berteriak, di tengah keheningan di dalam rumah ini. Tapi suara tersebut tak membuat penari-penari ronggeng tersebut terganggu. Hingga seorang laki-laki yang perawakannya sudah jauh dari kata muda menghampiri kami.


“Assalamualaikum pak, ini saya srianih”


“Waalaikumsalam”


Bu anih menyalim tangan pak wayan dan kami semua pun mengikuti hal yang beliau lakukan. Beberapa menit tak ada jawaban dari pak wayan, kami semua hanya saling tatap-tatapan. Apa pak wayan lupa dengan bu anih?

__ADS_1


“Kamu penari ronggeng yang dulu keluar itu?”


Bu anih mengangguk dengan cepat ketika mendengar suara dari pak wayan.


“Silahkan duduk”


Perintah dari pak wayan membuat kami semua refleks duduk di kursi kayu miliknya.


“Jadi ada gerangan apa kamu kesini nak dan siapa rombongan yang kamu bawa ini?”


Pertanyaan pak wayan membuat bu anih mengalihkan pandangannya dari penari-penari ronggeng dihadapan kami.


“Ini anak majikan saya dulu ketika bekerja di daerah kampung melati 11 pak. Dan yang lainnya adalah teman-teman dari anak majikan saya”


Pak wayan terlihat mengangguk sekilas.


“Kedatangan saya kesini, karena salah satu dari anak-anak ini ingin menjadi penari ronggeng sementara di malam pergantian tahun pak”


“Yang mana orangnya”


Tatapan mata kami kecuali pak wayan langsung mengarah pada kak naisyah sedang yang ditatap hanya mengangguk kemudian tersenyum simpul ke arah pak wayan.


Pak wayan beranjak dari kursinya setelah mengatakan kalimat tersebut kepada kak naisyah. Sekembalinya beliau, sudah ada kain batik dan selendang merah di tangannya dan itu semua akhirnya ia serahkan kepada kak naisyah.


“Bergabunglah dengan penari-penari lain. Kalau kamu serius ingin mempelajari gerakannya, dua hari sudah cukup untukmu”


Kak naisyah hanya kembali tersenyum kemudian melangkah dan bergabung ke baris terakhir dari para penari ronggeng tersebut.


“Bapak akan membuat minum untuk kalian”


Pak wayan langsung melangkah menuju ke arah belakang. Sedangkan aku masih fokus menatap serius para penari-penari ronggeng di hadapanku. Tangan dan tubuh mereka gemulai sekali, hanya sayang tak ada senyum yang mereka tampilkan. Entah memang kebiasaan atau seperti itulah sistem kerjanya yang pasti aku masih paranoid terhadap hal yang sekarang ada di hadapanku ini. Kak naisyah masih terlihat kaku jika dibandingkan dengan para penari-penari ronggeng tersebut, gerakan tangan dan kakinya masih sering salah. Tapi karena ini masih latihan dan kak naisyah pun baru bergabung maka hal itu bisa dimaklumi.


“Silahkan diminum”


Pak wayan meletakkan sebuah nampan beberapa gelas berisi teh yang uap panasnya masih mengepul dari dalam gelas tersebut.


“Terimakasih pak”

__ADS_1


Hanya kalimat itu yang serempak keluar dari mulut kami semua yang sekarang disuguhi segelas teh hangat di pagi hari.


“Jadi siapa nama anak-anak cantik sekalian ini?”


Pertanyaan itu membuat kami semua berbalik ke arah pak wayan.


“Nama saya lira pak dan yang latihan menari itu kak naisyah”


“Saya fika pak”


“Saya bintang”


Setelah acara perkenalan itu kami semua langsung mengalihkan perhatian kembali pada penari ronggeng di hadapan kami.


“Bapak punya kisah menarik”


Kami semua yang penasaran langsung mengalihkan perhatian kepada pak wayan yang sekarang sedang tersenyum. Sedangkan bu anih masih serius menatap para penari ronggeng tersebut. Mungkin beliau sudah mendengar kisah menarik tersebut, secara bu anih sudah lebih dulu ada di daerah ini dan pernah menjadi penari ronggeng disini.


“Kisah menarik seperti apa pak?”


Suara lira terdengar di telingaku, ia pasti sangat penasaran sekarang ini tak terkecuali aku dan fika yang menatap serius ke arah pak wayan.


“Bapak akan menceritakannya”


Suara tarikan nafas dari pak wayan membuat kami tak mengalihkan pandangan dari beliau.


“Orang pertama yang istri bapak ajarkan tari ronggeng itu adalah orang yang sekarang membawa kalian ke tempat ini”


Kami semua langsung menatap bu anih yang hanya tersenyum simpul. Sepertinya pak wayan sudah mengingat bu anih dengan jelas.


“Waktu itu karena rumah saya dan istri dengan orang tua anih berdekatan, jadi anih sering bermain di rumah bapak. Istri bapak yang memang dulunya adalah penari ronggeng, akhirnya mengenalkan dan mengajarkan tari ronggeng tersebut kepada anih. Hingga setelah beberapa lama akhirnya istri saya membuka kelas tari ronggeng, waktu itu rumah kami bukan rumah panggung seperti ini jadi istri saya tidak mengajar di dalam rumah tapi di halaman depan rumah kami. Jumlah anak yang waktu itu ingin belajar tari ronggeng ada beberapa bapak tidak ingat yang pasti jumlahnya ada berapa, mungkin lebih dari lima, atau mungkin juga lebih dari itu”


Kulirik bu anih, beliau hanya mengangguk. Pak wayan kembali meneruskan ceritanya yang membuat kami terkejut sekaligus kagum akan sosok istrinya yang telah tiada. Dan selanjutnya kisah dari para penari roggeng itu masih berlanjut di ruangan dengan arsitektur kayu yang kami tempati sekarang ini.


...


Note :

__ADS_1


Terimakasih telah membaca karya saya. Tetap dukung karya ini dengan memberikan komentar, kritik dan saran yang membangun. jangan lupa juga untuk tekan tombol favorit dan like. Cerita ini saya usahakan terbit setiap hari seperti dulu jadi nantikan terus yah.


Thank's all. I hope you like it and enjoy read my story.


__ADS_2