DARAH KELULUSAN

DARAH KELULUSAN
Tuduhan Kecurigaan


__ADS_3

Setelah malam panjang yang kami lalui, kami ber-enam besoknya kembali mengikuti pelajaran seperti biasa. Seolah-olah tak ada yang pernah terjadi. Setelah kejadian itu, malamnya kami langsung pulang kerumah masing-masing tentunya diantar oleh kak kevin sedang kak kinan sampai sekarang ia masih belum ada kabar. Semoga saja ia baik-baik saja. Ditengah pembelajaran yang tengah berlangsung suara pengumuman melalui speaker di ruang kepala sekolah menggema di seisi kelas.


“DIHARAPKAN BAGI SEMUA SISWA DAN SISWI AGAR MENUJU KE LAPANGAN SEKARANG”


Bu yuli yang mengajar Bahasa Indonesia, langsung berhenti membacakan materi yang kami harus tulis. Beliau meminta kami keluar secepatnya dan menuju lapangan. Cuaca terik membuat semua orang yang ada dilapangan mengeluh tak terkecuali lira yang sudah mondar-mandir tak jelas di sampingku.


“Aduh kenapa kepala sekolah pake acara suruh kumpul sih. Beliau nggak tau apa kalau cuacanya panas terik kayak begini”


Aku menghelas napas, mendengar celoteh lira. Sejujurnya kalau kami tak melakukan ide konyol itu kemarin pasti tak akan ada acara seperti ini. Tak bisakah lira sadar bahwa “kelompok jurnalis” lah yang menyebabkan kita semua harus berkumpul. Apalagi dengan bukti dan fakta bahwa hampir saja kami ketahuan malam itu, membuatku yakin 100% bahwa apa yang disampaikan kepala sekolah pastinya mengenai hal itu.


“KEMARIN, JAM 10 MALAM, ADA BEBERAPA MURID YANG MENYELINAP MASUK KE SEKOLAH DAN MEMBUAT KERUSAKAN DI GUDANG...”


Heboh. Teman-teman langsung berbisik satu sama lain yang malah terdengar sekali di telingaku. Siswa dan siswi sibuk bertanya satu sama lain tentang siapakah sekelompok orang itu. aku menatap lira yang ada disampingku, raut wajahnya tegang dan satu bulir keringat sudah mengucur di pelipisnya.


“kita harus bagaimana?”


Lira berbisik kepadaku, suaranya agak gemetar. Bagaimana tidak, kalau kepala sekolah sampai tau bila kelompok kamilah yang menyebabkan kekacauan itu. maka resikonya kami akan di-skorsing atau yang lebih parah kami akan dikeluarkan dari sekolah.


“sudah, tenang saja”


Aku yakin malam itu, penjaga sekolah tak bisa melihat wajah kami. dan kami pun tak meninggalkan bukti apapun di tempat kejadian. Setelah berlari dan memanjat tembok dengan kecepatan maksimal dan seluruh tenaga yang terkuras habis, kami akhirnya bisa sampai ke mobil kak kevin tanpa penjaga sekolah yang terlihat keberadaanya.


“kamu yakin kita nggak ketahuan kan malam itu bi?”


Aku mengangguk mencoba meyakinkan lira.


“tak ada yang perlu ditakuti lir, selama


sekolah tidak punya bukti apapun, kita pasti tidak akan ketahuan”


Lira menatapku pasrah. Sedang aku hanya bisa terus memikirkan bagaimana nasib kak kinan. Apa yang terjadi. Kenapa kak kinan pingsan. Kami tak pernah berbuat sesuatu yang mengganggu makhluk yang ada di ruangan itu. tapi kenapa malam itu kaca jendela bisa sampai pecah.


....


Setelah pengumuman singkat dan pidato yang amat sangat panjang dari kepala sekolah kami akhirnya di-ijinkan untuk kembali melanjutkan pelajaran, tentunya dengan diberikan waktu istirahat selama 15 menit. Waktu istirahat itu aku dan lira gunakan untuk bertemu dengan anggota “surgical glasses” yang lain. Dan disinilah kami, kembali ke ruangan putih dengan ukuran 3x3 meter dengan beberapa meja dan kursi yang entah darimana lagi asalnya.


“Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang kak”


Dion bertanya dengan raut wajah tegang dan panik. Yah siapa yang tidak akan panik jika dilibatkan dalam situasi yang rumit seperti ini. Bahkan kak kevin pun pasti akan sama seperti kami.


“Selama tidak ada satu pun bukti yang mengarah kepada kita semua, maka dari itu jangan pernah ada yang menunjukkan gelagat mencurigakan. Tetap tenang seperti biasanya. Seolah bukan kita yang menyelinap malam itu ke sekolah. Mengerti?”

__ADS_1


“Tapi kak, bagaimana kal"


“Jangan pernah tunjukkan gelagat mencurigakan”


Fika yang ingin mengutarakan kalimatnya langsung bungkam, setelah tatapan tajam dan kalimat yang kak kevin lontarkan. Keadaan kembali hening tak ada percakapan yang berlangsung setelahnya. Hingga aku tiba-tiba saja teringat satu hal.


“Bagaimana dengan keadaan kak kinan?”


Aku menatap fika, yang menunduk. Ia kemudian mengangkat pandangannya dan menatapku.


“Setelah kak kinan sadar, dia tidak banyak bicara. Ketika ditanya pun ia cuma menjawab seadanya. Tapi ketika ditanya tentang hal itu, malam dimana kita semua ke gedung dan ruangan itu ia malah mengatakan tidak pernah pergi. Malah menuduhku berbicara bohong”


Kami semua serempak menatap fika, dan yang ditatap hanya mengangguk mengisyaratkan bahwa semua perkataannya itu benar.


“Satu-satunya petunjuk yang kita dapat, kak kinan semalam mengatakan ia ingin membalas dendam. Berarti makhluk yang ada dalam ruangan itu ingin membalas dendam tapi kepada siapa?”


Fika kembali berbicara, sedangkan kami mulai menduga dan berspekulasi dengan pikiran sendiri.


“apa makhluk itu ingin membalas dendam kepada kepala sekolah?”


Aku menatap dion sedang yang lain hanya mengangkat bahu pelan.


“Sejujurnya kukira tak ada yang bermasalah dengan kepala sekolah. tapi secara pegalaman beliau memang yang paling lama berada di sekolah ini kan?”


Kami semua akhirnya kembali larut dalam spekulasi dan pikiran kami masing-masing.


“Atau makhluk itu ingin balas dendam karena tempatnya telah digunakan sebagai tempat gedung baru?”


Kali ini dion kembali mengutarakan pendapatnya yang mempunyai keakuratan 50% iya dan 50% tidak. Saat ini terlalu banyak kemungkinan yang ada. Sampai kami lupa bahwa di luar sana ada seseorang yang malah mencurigai kami akan kasus malam itu.


....


Kami akhirnya kembali ke kelas masing-masing setelah waktu istirahat yang diberikan habis. Dikelas tampak sangat ramai entah apa yang sedang terjadi. Lira langsung menarik tanganku berusaha menerobos kerumunan itu untuk mencari sumber dan sebab para murid dari kelas lain masuk ke kelas kami.


“Jadi gitu, febi liat langsung ada orang di dalam gudang. Tapi pas dia intip lagi orang itu tiba-tiba hilang. Aneh kan?”


Aku meneguk ludah, orang yang bernama febi entah orang seperti apa dia. Sehingga bisa melihat secara sekilas makhluk yang kami kami cari semalam.


“Nah itu febi”


Semua mata memandang ke arah pintu. Disana gadis dengan rambut tergerai sebahu dan kacamata tebal menghiasi matanya tersenyum ramah kepada kami semua.

__ADS_1


“Pasti kalian mau tanya tentang hal itu kan?”


Kerumunan itu yang sebelumnya mengelilingi nadya teman sekelas kami yang sebelumnya berbicara. Akhirnya berpindah haluan memutari meja febi.


“Singkat aja yah, kemarin aku diminta tolong sama bu yuli, buat ke kantin. Beliin beliau makan siang. Yaudah karena ibu yang kayaknya capek banget. Akhirnya aku ke kantin yang di ada di belakang gudang itu. tau sendiri kan kantinnya mbak yu di belakang situ?”


Semua kepala mengangguk. Dan langsung fokus kembali mendengarkan febi melanjutkan ceritanya.


“Pas mau kembali ke ruangannya bu yuli sekilas aku balik keruangan itu dan aku lihat ada orang, aku kiranya itu siswi tapi buat apa dia kesana, akhirnya aku intip aja deh dari luar jendela yang pecah tapi setelah itu udah nggak ada orang lagi”


Aku diam-diam masih mendengarkan kalimat yang terlontar dari febi, sedang lira ia serius membaca buku tanpa menghiraukan percakapan itu.


“Lira, kamu dengar apa yang mereka bicarakan kan?”


“Iya dengar. Kenapa?”


“Menurut mu apa itu aneh?”


“Jelas sekali itu aneh bi, tapi dibanding itu aku masih takut. Takut kita ketahuan kalau menyelinap malam-malam ke sekolah dan membuat kaca jendela pecah...teman-teman juga masih sibuk mencari orang yang menyelinap ke sekolah. aku terlalu khawatir sama diriku sendiri sampai kalimat febi nggak ada pengaruhnya sama sekali”


Benar juga. Seharusnya kami waspada. Bisa saja ada seseorang yang melihat kami selain penjaga sekolah kemarin. Dan tentunya selain penjaga sekolah ada juga petugas kebersihan yang tempat tinggalnya juga di area sekolah juga. Kenapa semuanya semakin rumit.


....


Kelas sudah kosong, aku dan lira adalah murid terakhir yang keluar dari kelas. kami fokus berbincang-bincang mengenai tugas kelompok yang diberikan oleh bu siska tadi. Sampai suara yang familiar terdengar memanggil kami dari belakang.


“Kenapa?”


Dion terengah-engah di hadapan kami sekarang. Keringat mengucur dari dahinya membuat rambutnya sedikit basah dibagian depan.


“Petugas kebersihan itu curiga sama kita semua?”


Aku yang tak mengerti arah pembicaraan dion berusaha mengajaknya ke tepat duduk di dekat perpustakaan.


“Aku masih belum mengerti apa yang kamu bicarakan dion”


Lira mengangguk menyetujui apa yang ku ucapkan.


“Jadi, sebelum kita masuk kelas masing-masing. Petugas kebersihan itu lihat kita keluar dari ruangan yang kita tempati diskusi. Petugas kebersihan itu yang ku tau namanya pak nasir. Tiba-tiba bilang kayak begini di dekatku "jangan-jangan kalian yang semalam dibilang penjaga sekolah masuk diam-diam ke gudang?” aku yang ditanya seperti itu berusaha untuk tenang. Dan bilang bahwa bukan kita semua yang ada di sekolah semalam”


Aku mengusap wajahku pelan sedang lira hanya menghembuskan napasnya dengan keras.

__ADS_1


“Itu cuma tuduhan kecurigaan. Jadi jangan takut. Kan yang bentuk kelompok bukan hanya kita. Siapa tau pak nasir juga bilang seperti itu di setiap siswa yang membentuk geng atau kubunya masing-masing”


Berusaha berpikir rasional adalah jalan satu-satunya. Dan kuharap apa yang ku ucapkan itu terjadi. Jangan sampai kami ketahuan, atau kalau tidak kelompok yang kami bentuk akan sia-sia dan akhirnya misi yang kami emban selamanya tidak akan terselesaikan.


__ADS_2