
Aku masih terus berdiri terpaku di tempatku, mencoba menetralkan degub jantung yang semakin berdetak dengan cepat.
“Lebih baik kamu duduk dulu di sini”
Kak kevin membawaku ke sebuah kursi yang sudah rusak di beberapa bagiannya.
“Saya minta maaf. Tak seharusnya saya bertindak ceroboh apalagi mengajakmu untuk ke sekolah malam ini”
“Tidak kak”
Aku menggeleng setelah perasaanku normal kembali.
“Aku cuma terlau kaget. Padahal dulu aku sangat sering melihat kejadian seperti ini”
Kak kevin menatapku lamat-lamat. Berusaha mencari penjelasan akan perkataanku barusan.
“Maaf kak, tapi aku belum bisa menceritakan atau memberitahukan hal itu kepada kakak”
Kak kevin hanya mengangguk mengerti.
“Tapi aku masih heran bintang. Siapa orang yang dengan tega melakukan hal itu kepada hewan tadi”
“Aku juga masih penasaran kak. Apakah orang yang melakukan hal itu orang gila?”
Kak kevin tertawa pelan.
“Orang gila pun tidak akan melakukan hal sekeji itu. lagipula ini sekolah yang dijaga bintang, mana mungkin orang gila bisa masuk”
Aku mengangguk menyetujui kalimat kak kevin.
“Kak bagaimana kita bisa keluar sekarang dari tempat ini?”
Aku memperhatikan sekeliling kembali. Bau amis darah masih tercium dari tempatku duduk. Dan lagi siapa orang yang dengan tega melakukan hal sekeji itu kepada hewan tersebut. Bau anyir itu asalnya dari beberapa kucing yang tergantung, yang di tubuhnya banyak sekali bekas sayatan, hingga menyebabkan darah segar mengalir dari tubuh kucing itu. Dan tak cuma satu kucing tapi ada lima.
“Kamu tunggu disini saya akan mengecek ke jendela yang di sebelah sana”
Kak kevin menunjuk sebuah jendela yang tertutup. Dan aku hanya mengangguk menuruti perkataannya. Kak kevin mulai berjalan perlahan, dan mencoba membuka jendela itu dengan kawat yang ia masih sempat bawa. Ia melambaikan tangannya kepadaku, dan aku hanya menurut untuk mendekat ke arahnya.
“Bagaimana kak?”
“Syukur. Jendela ini bisa dibuka. Sekarang cepat kita keluar”
Aku menaiki balok kayu yang tersusun dan melompat keluar jendela disusul oleh kak kevin.
“Sekarang kita kemana kak?”
Aku berbisik sambil terus berjalan di belakang kak kevin.
“Ikut saja dan jangan terlalu berisik. Saya yakin jalan keluarnya pasti tidak jauh dari disini”
Kami terus saja berjalan mengikuti tembok tinggi yang menjadi penunjuk jalan keluar bagi kami. setelah berjalan agak lama aku menghembuskan napas lega setelah melihat mobil kak kevin di sela-sela kawat. Dan tak perlu waktu yang lama aku dan kak kevin bisa keluar dari tempat terkutuk dan mengerikan itu.
.........
“Bi...Bintang...Bintang?”
Aku tersentak ketika mendegar suara pelan dari lira.
__ADS_1
“Eh... Iya kenapa?”
“Kamu dari tadi melamun, makanya aku panggil. Takut kesambet”
Aku hanya mengangguk.
“Bi ada yang mau aku tanyakan”
Aku menoleh ke samping dan lira hanya mendekatkan kursinya di sebelahku.
“Apa kamu kemarin ke sekolah?”
Aku kembali menoleh kepada lira dan yang ditatap hanya memasang ekspresi penasaran.
“Kemarin malam rencananya aku mau menginap di rumahmu. Setelah pergi kesana ternyata kamu tidak ada di rumah dan sialnya lagi kamu bilang ke ibumu bahwa kamu mau kerja kelompok di rumahku. Bintang-bintang, hampir saja aku kena serangangan jantung mendadak. Untung aku masih bisa berpikir dalam keadaan seperti itu. kamu sebenarnya ke sekolah itu untuk apa?”
Aku mengedikkan bahu, sejujurnya aku tak punya alasan lain untuk ke sekolah malam itu. Kecuali karena ancaman kak kevin.
“Karena diajak kak kevin? Kalian kenapa tidak mengajak kami juga?”
“Kak kevin mengancam akan memberitahukan semua orang di sekolah kalau aku mempunyai kemampuan melihat makhluk astral lira. Alasan itu cukup membuatku takut, takut aku dianggap gila atau pun dijauhi oleh teman-teman yang lain”
“Kamu tidak perlu takut akan hal itu bi. Aku yakin pikiran kita semua disni sudah dewasa, bisa berpikir logis dan tidak egois. Kalau pun dulu temanmu melakukan hal itu, toh tidak ada pengaruhnya juga untukmu”
Aku tersenyum menanggpi kalimat lira, sayangnya ia tidak akan pernah merasakan ada di posisiku. Betapa menakutkan dan mengerikannya masa kecilku yang seharusnya menjadi masa-masa kesenangan dan membentuk kenangan indah.
“Jadi kalian ke ruangan itu kemarin?”
“Iya. Lantas mau kemana lagi kita kalau bukan ke ruangan itu”
“Terus apa yang kamu lihat kemarin? Apa sosok perempuan itu menampakkan dirinya lagi?”
“Tidak. Dia tidakmenampakkan dirinya lagi lira. Tapi ada sesuatu hal yang kami lihat malam itu, sesuatu yang lebih mengerikan dari sosok perempuan di gudang tepatnya di ruangan itu”
“Apa?”
Lira menatapku dengan serius, bahkan aku belum menceritakan kejadian yang aku dan kak kevin lihat kemarin malam, tapi deru napas lira sudah terdengar beradu. Menandakan ketakutan akan cerita yang akan kusampaikan padanya.
“Kami berdua hampir........ ditangkap oleh penjaga sekolah dan petugas kebersihan”
Lira menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Ada lagi”
Lira kembali menatapku.
“Setelah kami ketahuan, aku dan kak kevin akhirnya kabur dari ruangan itu. tapi sayangnya, kami kabur ke tempat yang salah”
Aku berhenti sejenak, mengambil pasokan oksigen untuk mengisi paru-paruku.
“Aku dan kak kevin kabur ke perumahan di belakang sekolah. Dan salah satu dari perumahan itu tepatnya tempat yang kami tempati untuk bersembunyi ternyata berisi mayat-mayat kucing yang digantung”
Lira yang sebelumnya ingin minum langsung menghentikan aktivitasnya. Ia langsung berekspresi ingin muntah.
“Astaga. Siapa yang melakukan hal setega itu bi?’
Aku menggeleng. Tentu aku pun tidak tau siapa pelaku hal sekeji itu kepada kucing-kucing tersebut.
__ADS_1
“Aku ingin pergi ke tempat itu bi”
Lira sudah berdiri dan aku hanya bisa menahan tangannya.
“Jangan gegabah lira. Aku tidak tau tempat atau rumah mana yang kami tempati untuk bersembunyi malam itu. Dan di belakang gedung baru ini. perumahan yang kosong bukan hanya satu atau dua tapi semuanya”
“Kita tanyakan saja kepada penjaga sekolah....Ayo”
Aku menghembuskan napas.
“Aku sudah bilang jangan gegabah. Bisa saja pelaku kejadian keji itu penjaga sekolah atau pun petugas kebersihan”
“Tapi bintang, aku rasa kalau penjaga sekolah tidak akan melaukan hal itu”
“Aku juga percaya kalau penjaga sekolah tidak akan melakukan hal itu lira. Tapi kita tetap harus menjaga rahasia ini”
“Tapi aku penasaran siapa pelakunya bintang”
“Kamu saja yang tidak melihat langsung hal itu sangat ingin tau pelakunya apalagi aku yang melihat secara langsung”
Lira hanya menghembuskan napas berat, rasa penasaran pasti menjalar di seluruh pikirannya. Dan yang kami bisa lakukan sekarang hanyalah menebak-nebak siapa pelakunya.
....
“Bintang ke sini sebentar nak?”
Aku pulang ke rumah jam lima sore dan tentunya sudah ada ibu di rumah.
“Ada apa bu?”
Aku duduk di dekatnya dan menaruh tas di meja depan televisi.
“Tadi ayahmu pulang ke rumah”
Aku membulatkan mata, menatap kaget akan hal yang ibu sampaikan kepadaku secara tiba-tiba.
“Apa yang ayah lakukan. Ibu tidak kenapa-napa kan?”
“Tidak nak, tapi ayahmu ingin membawa lintang pergi ke kampung halamannya”
“Apa bu?”
Aku berdiri dan langsung berlari ke arah kamar. Aku mengucap syukur, di kasur masih ada lintang yang tidur dengan nyenyak.
“Ayahmu masih belum membawa lintang. Ia pergi lagi setelah temannya datang kerumah. Ibu juga tidak tau kemana ayah pergi. Tapi ayahmu berjanji akan kembali lagi dan membawa lintang pergi”
“Tidak bisa bu. Ayah pasti akan menelantarkan lintang, ayah saja tidak becus untuk mengurus dirinya sendiri, apalagi jika harus membawa lintang juga”
“Tenang. Ibu akan berusaha untuk mencegah ayah supaya tidak mengambil lintang pergi”
Aku hanya menghembuskan napas berat. Kali ini aku tak akan membiarkan ayah membawa lintang, apapun yang terjadi, kalau tidak lintang akan bernasib sama seperti indah yang malang.
...
Note :
Terimakasih kepada pembaca sekalian yang telah mampir dan membaca cerita ini. Terus dukung cerita DARAH KELULUSAN dengan memberikan like dan komentar yang baik.
__ADS_1
Jangan bosan untuk menunggu next partnya. Sekali lagi terimakasih kepada readers yang telah membaca cerita ini.