DARAH KELULUSAN

DARAH KELULUSAN
Masa Kelam Ayah (1)


__ADS_3

Aku kembali terbangun jam 12 malam, diluar hujan masih sangat deras. Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak setelah perkataan ibu tadi sore dan beberapa hal yang kupikirkan belakangan ini. Aku melangkah ke meja belajar dan mengambil kertas. Menulis setiap hal yang bertebaran dalam pikiranku. Apa yang harus kulakukan jika ayah kembali ke rumah, aku tak ingin lintang pergi. Apalagi bersama ayah, yang sikapnya berubah-ubah setiap saat. ayahku sejujurnya mempunyai kepribadian ganda, hal itu ku ketahui beberapa hari yang lalu dari mulut ibu sendiri, dan sikap ayah yang pemarah belakangan ini akibat tekanan yang ia miliki dan pekerjaannya serta pengaruh buruk dari temannya. Tapi kata ibu sikap atau kepribadian ayah yang ganda sudah ada sebelum aku lahir. Tak ada hal yang ibu ketahui selain ayah yang memiliki kepribadian ganda, penyebabnya dan cara penyebuhannya ibu bahkan ayah tak pernah tau. Tapi yang kami (aku dan ibu) ketahui selama ayah memiliki kepribadian itu, maka sifat ayah akan berubah 180%. Sikapnya yang penyayang akan berubah menjadi pemarah dan lebih parah adalah hal yang ia lakukan kepada indah teman masa kecilku yang ibu rawat karena orang tuanya yang meninggal, dan yang sudi merawat indah hanyalah ibu. tapi naasnya indah yang memimpikan kebahagiaan keluarga yang utuh kembali harus meregang nyawa pada orang yang baru saja ia panggil ayah, pada orang yang awalnya telah ia anggap sebagai ayah. Yaitu ayahku sendiri.


....


“Kamu belum tidur bintang?”


Suara dari arah belakang membuatku langsung berbalik dan mendapati ibu yang tengah tersenyum.


“Belum bu, bintang tadi terbangung dan haus jadinya kesini untuk minum”


Ibu hanya mengangguk dan kemudian menghampiriku, menuang air ke dalam gelas dan meneguknya perlahan.


“Ibu sendiri kenapa belum tidur?"


“Ibu belum bisa tidur”


“Apa karena memikirkan lintang?”


“Entah ibu tidak bisa tidur, karena memikirkan lintang atau karena ha yang lain. Tapi intinya perasaan ibu hanya tidak tenang saja”


Aku menoleh pada ibu dan meletakkan gelas yang kupegang. Lantas mengajaknya duduk di meja makan.


“Ada hal yang aku ingin bicarakan bu. Ini tentang indah”


Ibu membulatkan matanya dan menatapku lama.


“Jangan mengungkit masa lalu kelam ayahmu sendiri bintang”


“Bu, bintang hanya ingin memastikan. Siapa tau saja bintang bisa menyembuhkan penyakit ayah”


“Itu bukan Penayakit bintang”


“Lantas apa bu? Ibu ingin bilang kalau permasalahan natau penyakit yang di derita ayah itu karnuia dari Tuhan”


“Nak, ibu tidak pernah bilang kalau hal yang dihadapi ayahmu itu merupakan sebuah karunia. Tapi penyakit itu merupakan hal yang diturunkan dari kakekmu”


Aku menatap ibu, apa maksud dari perkataan ibu barusan. Kenapa beliau baru sekarang memberitahukan hal itu. Apa yang ibu sembunyikan dariku.


“Apa maksud ibu?”


“Sebentar lagi umurmu 17 tahun kan?”


Aku mengangguk, pengumuman kelulusan bertepatan dengan pertambahan umurku, yang tinggal 2 minggu lagi.

__ADS_1


“Kenapa bu?”


Ibu mendekat ke arahku sedang aku hanya bisa menatap ibu tanpa berbicara sepatah kata pun.


“Kepribadian ganda yang dimiliki ayahmu itu merupakan penyakit keturuan ibu tidak tau harus menyebut hal itu dengan sebutan apa jadi ibu menyebutnya penyakit supaya lebih mudah. Kakekmu mendapat penyakit itu dari nenek moyangnya dan kakekmu menurunkan itu kepada ayahmu. Dan karena itu merupakan penyakit keturuan atau sesuatu hal yang diturunkan maka salah atu dari kalian pasti akan mendapatkan itu”


Aku menahan napas lalu menghembuskannya dengan berat.


“Kapan ibu tau? Kenapa baru sekarang menceritakannya kepada bintang”


“Ibu baru tau tadi nak, pada saat ayahmu datang ke rumah. Ia menceritakan semuanya. Ayahmu menderita penyakit itu pada saat umurnya 15 tahun. Dan semua orang-orang terdahulunya mengalami itu pada saat umur yang sama yaitu umur 15 tahun”


“Itu berarti kalau aku tidak mengalami hal yang seperti ayah maka....”


Ibu mengangguk, dan aku hanya bisa bungkam tanpa tau harus berkata apalagi. Semua hal yang terjadi seperti tidak nyata.


“Dan kalau kau tidak memiliki kepribadian ganda yang diturunkan oleh ayahmu, maka pasti penyakit itu diturunkan kepada lintang. Adikmu”


Aku mengusap keringat yang menetes di pelipisku di tengah dinginya malam aku malah berkeringat dingin.


“Terus apa hubungannya dengan ayah yang ingin membawa lintang pergi”


“Penyakit itu bisa disembuhkan jika anak yang memiliki kepribadin ganda masih dibawah umur lima belas tahun. Jadi ayah ingin membawa lintang ke rumah kakemu. Ke kampung halamannya. Disana ada seorang tabib yang katanya bisa menyembuhkan penyakit yang seperti itu”


“Tapi bu... Tetap saja kita tak bisa membiarkan lintang pergi dengan ayah. Bagaimana jika sifat atau penyakit ayah kambuh dan sedang bersama lintang. Ayah bisa saja membunuh lintang dengan tangannya sendiri ditambah lagi kemampuan yang lintang miliki pasti ayah akan sangat marah besar dan melakukan hal yang sama seperti yang terjadi pada indah”


“Bintang juga tidak ingin bu, tapi kita juga harus memikirkan keselamatan lintang jika bersama dengan ayah”


“Ibu tidak tau harus bagaimana bintang, ibu hanya tidak ingin lintang memiliki sifat seperti ayahmu”


Aku memeluk ibu yang sudah mulai sesegukan. Kenapa keluarga kami selalu hidup dalam ketakutan. Aku hanya ingin lepas dari semua ini. Ditambah lagi lintang memiliki kemampuan sepertiku, bagaimana kedepannya hidup yang akan ia jalani. Tuhan lindungilah adikku lintang. Aku hanya ingin ia bahagia ke depannya.


.....


Aku berjalan keluar dari lingkungan sekolah bersama lira, pihak sekolah akhirnya memberi kami waktu libur selama 3 hari. Dan karena jatah libur yang kami dapat ada 3 hari rencananya satu hari akan digunakan lira untuk menginap di rumahku.


“Aku tidak sabar ingin bertemu lintang, bi"


Aku menoleh ke samping dan mendapati lira yang sedang tersenyum.


“Kamu serius ingin menginap di rumahku?”


Lira menghembuskan napasnya dan menatapku dengan gusar.

__ADS_1


“Aduh harus berapa kali aku bilang, kalau aku serius untuk menginap bintang”


Lira menghentakkan sepatu yang ia kenakan ke jalanan belum diaspal yang kami lewati.


“Aku hanya ingin mestikan”


Lira hanya mengangguk dan perjalanan pulang kami hanya diisi dengan pembicaraan mengenai ujian yang akan kami hadapi kedepannya.


“Lintang?”


Aku masuk ke dalam rumah dan mendapai lintang yang sedang sibuk menonton televisi sambil memakan bubur. Apa ibu sudah pulang ini kan masih jam 2. Aku mempersilahkan lira duduk terlebih dahulu dan berjalan ke arah dapur.


“Ayah?”


Aku membulatkan mataku, ketika menangkap bayangan ayah di dalam dapur. Di depan kompor yang jaraknya beberapa meter dariku, ayah tersenyum sambil melambaikan tangannya kepadaku, menyuruhku untuk mengahampirinya.


“Kenapa ayah pulang?”


Ayah hanya tertawa pelan dan memelukku.


“Tentunya karena ayah rindu kepada putri-putri ayah. Kamu sudah tinggi sekarang bintang”


Aku melepaskan pelukan ayah, jujur di dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku sangat rindu dengan sosok yang sekarang berdiri di hadapanku, tapi aku juga masih tidak bisa melupakan masa lalu itu. yang jelas sekali terekam dengan sempurna di ingatanku.


“Yah, jangan bawa lintang pergi”


“Kamu pasti sudah diberitahukan oleh ibu”


“Iya. Dan aku tidak akan membiarkan ayah membawa lintang pergi”


“Jangan egois bintang, ayah hanya ingin lintang sembuh dan hidup seperti orang yang tidak memilki kepribadian ganda seperti ayah. Ayah hanya ingin hidup lintang kedepannya tidak seperti yang ayah alami”


“Aku juga tidak ingin membahayakan nyawa lintang. Ayah mungkin bisa menjamin kesembuhan lintang setelah berobat dengan tabib itu. Tapi apa ayah bisa menjamin keselamatan lintang dari tangan ayah sendiri”


Ayah menunduk menatap lantai putih yang kami pijak. Perkataanku mungkin benar-benar menusuk ulu hatinya. Tapi kuharap itu bisa membuatnya sadar dan tak membawa lintang pergi bersamanya.


“Terus apa yang harus ayah lakukan. Apa yang akan kita lakukan jika akhirnya lintang tumbuh dan mengalami hal yang seperti ayah alami terdahulu. Bagaimana jika lintang membunuh seseorang dengan tangannya sendiri. Apa kamu mau lintang seperti itu?”


Aku menggeleng, sambil mengusap wajahku dengan gusar. Apa yang harus kulakukan sekarang, kalau aku menahan ayah pergi membawa lintang ke tabib itu maka kedepannya lintang akan menjadi seperti ayah. Tapi kalau aku membiarkan lintang pergi maka keselamatan lintang juga tak bisa dijamin bisa saja ia meninggal di tangan ayah kandungnya sendiri. Tuhan tolong beri kami jalan petunjuk dan jalan keluar.


...


Note :

__ADS_1


Terimakasih kepada pembaca sekalian yang telah mampir dan membaca cerita ini. Terus dukung cerita DARAH KELULUSAN dengan memberikan like dan komentar yang baik.


Jangan bosan untuk menunggu next partnya. Sekali lagi terimakasih kepada readers yang telah membaca cerita ini.


__ADS_2