
Malam menjelang dengan cepat, dua gadis kembar beda usia itu terbangun. Bukan karena suara kokok ayam ataupun karena sudah waktunya bangun. Tapi karena suara pecahan kaca yang terdengar nyaring dan teriakan yang mungkin bisa memubat tetangga terbangun karena saking kencangnya suara itu.
“Aku takut kak”
Suara gadis kecil yang tengah duduk di kasur itu langsung mengalihkan pandangan nanar yang kakaknya lihat. Ia menutup pintu pelan serta menguncinya dan berjalan menuju adiknya, memeluk tubuh kecil itu dengan sayang.
“Jangan takut kak bintang ada disini”
Gadis dengan tubuh yang lebih besar itu mengusap lembut rambut hitam panjang yang adiknya miliki. Ketika suara teriakan, makian dan suara pintu yang terbanting keras itu sudah tak terdengar ia lalu melepaskan pelukannya dari tubuh gadis kecil itu. Kedua gadis itu lalu berjalan keluar dari kamar dan mendapati ibu mereka sedang memunguti pecahan piring itu sambil menangis tersedu-sedu. Bintang sudah besar untuk mengerti apa yang sedang terjadi dalam keluarganya. Sedang adiknya ia masih terlalu kecil ia masih kelas enam SDsedang dirinya sudah memasuki kelas satu SMA. Ia sudah amat bisa mengerti akan permasalah apa yang sedang keluarganya hadapi, ibunya yang selalu bekerja siang dan malam, sedang ayahnya yang suka menghabiskan uang untuk berjudi dan membeli minuman haram. Dan pulang dalam keadaan mabuk. Ia benci pria itu yang tidak lain ayahnya sendiri.
“Kalian kenapa tidak pergi mandi. Nanti kalian terlambat ke sekolah”
Gadis kecil itu melotot memperhatikan jam yang tergantung di sisi kiri meja makan, ia menepuk jidatnya dan langsung berlari menuju kamar mandi dan hanya perlu tiga kali siraman gadis kecil itu keluar dan langsung menuju kamar untuk bersiap ke sekolah. sedang sang ibu hanya bisa tertAwa melihta tingkah polos putri kecilnya yang tercinta itu. Sedangkan gadis yang satunya lagi hanya bisa memikirkan bagaimana cara balas dendam yang baik untuk membalas perlakuan seseorang yang ia sebut “ayah” itu.
....
Gadis dengan kacamata yang selalu bertengger manis di hidung lancipnya itu kini berjalan dengan santai ke arah kelasnya yang terletak tak jauh dari gedung ruangan kejadian bunuh diri seorang siswi yang ia ketahui bernama renata.
“Gila, aku merinding dengernya”
Suara seorang siswi yang duduk di depannya langsung membuat ia menajamkan pendengarannya.
“Jadi bener nih, kalau sih renata, renata itu nggak bunuh diri. Tapi dibunuh?”
Seorang gadis yang merupakan narasumber dari percakapan serius itu mengangguk membenarkan dugaan temannya yang langsung mengusap lengannya.
“Alah, paling itu berita bohongan. Jelas-jelas nggak ada sidik cari orang lain di tubuh korban, juga nggak ada bekas jejak sepatu atau sendal di TKP-nya. Paling berita itu cuman mau bikin kita takut aja”
Siswi dengan rambut bob dan bandana yang bertengger di kepalanya itu berusaha berpikir rasional. Walau mungkin didalam hatinya ia juga merasa parno dengan percakapan sebelumnya.
__ADS_1
“Udah deh. Daripada bahas yang ginian. Mending kita ke kantin aja”
Usulan dari seorang temannya itu akhirnya disetujui oleh anggota gengnya yang lain. Dan kini dikelas hanya ada bintang, yang mulai berpikir keras bagaimana cara agar ia bisa mengungkap semuanya sebelum itu terlambat. Setelah selesai dengan semua spekulasi yang mulai bermunculan di otaknya, ia kembali menarik selembar kertas putih dari tasnya dan mulai menggores tinta dengan kata yang indah di atas kertas itu.
....
Pelajaran sekolah yang selalu membosankan bagi bintang selesai dengan cepat, hanya perkenalan murid dengan guru yang mendominasi pelajaran hari ini. Tak ada yang menarik, tapi ketika langkahnya sudah ingin membawa tubuhnya pergi dari kelas yang ia tempati. Sebuah teriakan justru mau tak mau membuat ia berpaling dan berlari mencari arah sumber suara. Disana, pasti di tempat itu. Instingnya tak mungkin salah. Dan benar saja disana di tempat siswi yang bernama Renata bunuh diri sudah banyak guru berkerumun dan beberapa murid yang berdesakan ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi. Seorang guru laki-laki terlihat menggendong murid perempuan yang tadi bintang lihat, siswi teman satu kelasnya yang berambut bob dengan bandana yang masih ia kenakan.
“Kamu sudah sadar, ini munumlah”
Siswi itu hanya mengerjapkan matanya beberapa kali mungkin menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya, ia kemudain tersenyum dan menambil gelas berisi air mineral yang bintang berikan.
“Guru-guru sedang mengadakan rapat, jadi saya yang disuruh menjaga kamu di UKS”
“Terimakasih. Em namaku Lira Anastasia”
“Aku, Bintang Aurelina Putri, panggil saja bintang”
“Nama yang bagus” puji lira dengan tulus.
“Kenapa kamu ke ruangan peralatan olahraga?”
Lira tampak terkejut dengan pertanyaanku sedetik kemudian ia mengadu pelan kepalanya sakit.
“Nggak papa, kepalaku cuma berdenyut doang. Mungkin karena baru bangun terus disuruh mikir. Tapi tunggu, memang tadi aku ke ruang peralatan olahraga yah? Perasaan aku ke parkiran deh mau ngambil sepeda”
Lira hanya menatapku heran dan bukannya malah menjawab ia balik bertanya kepadaku. Apa dia tanpa sadar berjalan kesana. Tapi mana mungkin.
“Kamu nggak bohong kan?”
__ADS_1
“Untuk apa aku bohong bintang, kamu pikir aku berani apa ke ruangan sana, ditemenin pun aku nggak mau apalagi sendiri”
Aku mengusap pelipisku pelan. Ada apa sebenarnya. Faktanya memang lira ada di ruangan itu, ia berdiri dengan tatapan kosong sebelum akhirnya jatuh pingsan. Itu yang diceritakan Bu Sri ketika ia tanpa sengaja melewati ruang peralatan olahraga untuk ke ruang guru. Tapi dari mulut lira sendiri ia mengatakan kalau tak kesana. Raut wajahnya terlihat sangat menyakinkan untuk ukuran orang yang sedang berbohong ataupun sekedar bercanda. Aku menghembuskan napas pelan dan berdiri dari tempat duduk yang disediakan di UKS.
“Kalau gitu aku pulang dulu lira”
“Tunggu, aku ikut ke depan bintang”
Aku mengangguk dan menunggu lira memasang sepatunya. Di perjalanan menuju parkiran dan gerbang seklolah yang lumayan jauh aku kembali menanyakan pertanyaan yang sama kepada lira. Dan jawabannya pun tetap sama dengan apa yang ia ucapkan tadi. Bahwa ia berjalan menuju ke parkiran bukan ke ruang peralatan olahraga.
“Tapi”
Aku langsung berhenti ketika lira mengucapkan kata tapi. Kuharap ini sebuah petunjuk yang pasti.
“Sebelum, ke parkiran aku memang sempat mendengar suara seperti orang menangis dari dalam ruang peralatan olahraga. Tapi yah karena aku yang memang dasarnya penakut. Aku pergi dong. Tapi kamu malah bilang aku ke ruangan itu. Aneh nggak sih”
Tepat. Petunjuk itu yang kuinginkan, tidak salah lagi, aku juga mendegar suara itu ketika pertama kali datang ke sekolah ini. Dan bukan hanya tangis tapi jeritan yang keras juga terdengar. Anehnya disaat banyak orang berlalu lalang di tengah lapangan tak seorang pun menoleh ketika aku dengan sangat jelas mendengar teriakan dan jeritan itu yang mungkin sangat keras pantulannya.
“Binta...BINTANG?”
Lira mengguncang bahuku pelan. Aku menggeleng pelan, terseret kembali ke alam nyata tempatku sekarang berdiri.
“Kamu jangan melamun. Nanti kemasukan”
Tunggu. Apa jangan-jangan lira.
“Kamu betulan nggak kesana kan?”
“Aduh, bintang harus berapa kali sih aku bilang kalau aku itu nggak kesana dan nggak pernah mau kesana. Kecu...ali kalau aku dirasuki sesuatu”
__ADS_1
Kami saling berpandangan. Lira meneguk ludah secara paksa sedang aku pun sama sepertinya. Hingga kata dari lira membuatku kembali menyadari bahwa memang sekolah kami menyimpan banyak misteri.
“Jadi partnerku dan mari kita pecahkan misteri jeritan dan tangisan itu”