DARAH KELULUSAN

DARAH KELULUSAN
Kabar Buruk


__ADS_3

Sudah lebih dari seminggu kami tak mengadakan pertemuan. Hal itu dikarenakan untuk menghindari tingkat kecurigaan teman-teman maupun petugas kebersihan yang kemarin sempat mengutarakan langsung kecurigaannya kepada kelompok kami. Dan atas usulan kak kevin, kami akan mengadakan kembali pertemuan itu tentunya tidak di sekolah tapi di rumah lira. Aku sudah berada di sebuah rumah bertingkat dengan ornamen putih di setiap perabotan rumah. Mulai dari sofa, meja ruang tamu, kursi dan meja makan semuanya warna putih. Benar-benar mewah. Di rumah lira sekarang sudah ada dion, kak naisyah, aku dan lira. Kak kevin dan fika masih belum hadir, entah karena alasan apa. Tapi kuharap kami semua bisa datang saat ini. Obrolan ringan tentang tugas sekolah, guru-guru menyebalkan dan baik hati mendominasi pembicaraan kami. hingga pintu di dekat ruang tamu berderit perlahan menandakan ada seseorang di luar sana. Dan benar saja di sana sudah ada kak kevin dan fika.


“Kalian kenapa terlambat?”


“Tadi ada latihan futsal mendadak”


Kak kevin berbicara dengan wajah datar. Sedang fika ia masih mengumpulkan energi sebelum berbicara. Terlihat dari caranya menghirup oksigen secara rakus.


“Kalau aku habis dari rumahnya kak kinan”


Aku menatap fika dengan tatapan heran. Untuk apa kesana bukannya kak kinan baik-baik saja.


“Memangnya kak kinan kenapa?”


Aku memberanikan diri bertanya sedang fika hanya menghela napas lesu di hadapan kami semua. Ada apa sebenarnya.


“Ada apa fika?”


Kak naisyah yang mengetahui gelagat aneh dari fika akhirnya memegang pundak fika dan mengeluspnya dengan pelan.


“Kak kinan, dari beberapa hari yang lalu tidak pernah mau makan. Ibunya khawatir, soalnya belum pernah kak kinan seperti itu. apalagi ibunya kak kinan bilang kalau sudah beberapa hari ini kak kinan menangis di tengah malam, entah karena sebab apa.... aku takut kak, itu semua salahku yang melibatkan kak kinan malam itu”


Kak naisyah, kembali mengelus rambut panjang nan hitam milik fika. Wajar saja fika merasa amat sangat bersalah. Alasannya karena ialah yang menyarankan kami menggunakan jasa dari orang yang bernama kinan, hingga akhirnya keadaanya seperti itu sekarang. Tapi di satu sisi fika hanya ingin memecahkan misteri itu niatnya baik, walau harus mengorbankan orang lain. Dan itu semua bukan hanya kesalahan fika melainkan kesalahan kami semua dan tentunya karena kebodohanku yang membiarkan kak kinan sendiri di dalam ruangan itu pada saat dia pingsan.


“Bagaimana kalau kita pergi saja menjenguk kak kinan kerumahnya”

__ADS_1


Usul lira langsung disetujui oleh kami semua, dan dengan menggunakan mobil kak kevin kami semua akan mengunjungi orang yang bernama kinan.


....


Kami ber-enam sampai di rumah kak kinan yang tampak sangat sepi. Suara derap kaki terdengar di telinga kami masing-masing. Setelah fika mengetuk pintu, terlihat seorang wanita paruh baya yang menyambut kami dengan senyum yang kuyakini ia adalah ibu kak kinan.


“Permisi tante, kami semua mau jenguk kak kinan”


Wanita paruh baya itu kemudian mempersilahkan kami masuk. Mataku menjelajahi seluruh sudut ruangan ini. Dan di dinding tepat di depan pintu foto keluarga kak kinan menyambut kami.


“Kinan ada di kamar, sudah lebih dari seminggu tidak pernah keluar kamar. Tante mau buat minum dulu untuk kalian. Kalian diantar sama fika saja ke kamarnya kinan yah”


Kami semua mengangguk, dan mengikuti langkah fika. Aku menarik napas dan menghembuskannya dengan pelan, berusaha menghilangkan rasa cemas yang kurasakan. Pintu kamar dengan cat warna coklat itu terbuka. Menampakkan sang empunya kamar yang tengah menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Kak kinan sempat berbalik ketika pintu itu berderit dan kemudian kembali menatap ke luar lagi setelah melihat kami.


“Kak, teman-temanku datang menjenguk”


“Kak, teman-temanku ini yang datang ke sekolah malam itu. Apa kakak masih tidak ingat”


Kak kinan berbalik dan menatap kami semua, sorot matanya tajam dan kami semua serempak menahan napas karena tatapan itu.


“Apa kakak masih menganggap fika berbohong mengenai kejadian itu. Kak tolong katakan sesuatu”


Fika mencoba memegang lengan kak kinan, sedang kak kinan seperti tidak perduli. Mungkin pemandangan di luar sana lebih indah dari wajah kami.


“Kak tante widi khawatir sama kakak. Tolong jangan seperti ini”

__ADS_1


Tante widi? Ah mungkin dia ibu kak kinan. Fika kembali membujuk kak kinan untuk tak bersikap dingin seperti itu, hingga sebuah kalimat terlontar dari bibirnya yang membuat kami semua bungkam di detik dan menit itu juga.


“Jangan ganggu dia...”


Kami saling menatap satu sama lain, dia siapa?


“Dia siapa kak?”


Lira mewakili pertanyaan dari batinku. Dan batin semua orang yang ada di ruangan itu.


“Jangan ganggu dia...”


Kak kinan hanya menggumamkan kata-kata yang sama, dan itu membuat kami semua semakin bingung. Dia siapa? Tak mungkin kak kinan mengatakan itu untuk dirinya sendiri. dan mana mungkin kak kinan menggunakan kata dia untuk menyebut dirinya sendiri. Aku memperhatikan wajah kak kinan yang sangat pucat. Apa mungkin makhluk yang ada di ruangan itu yang kak kinan sebut.


“Tapi, kenapa kak. Kita tak pernah mengganggu dia?”


Aku melontarkan kalimat yang semakin membuat semua orang di ruangan itu bingung kecuali aku dan kak kinan.


“Dia tak suka di ganggu. Dan kedatangan kita kemarin membuat ia marah”


Kak kinan akhirnya berbalik tepat ke arahku.


“Jangan pernah datang lagi ke tempat itu... atau... kalian semua akan mendapat bahaya”


Perkataan itu sukses membuat jantung kami berpacu lebih cepat dari keadaan normalnya.

__ADS_1


"Atau yang lebih parah...kalian semua akan mati secara bergilir”


__ADS_2