
Malam semakin larut tapi aku tidak bisa tertidur. Setelah pembicaraanku dengan lira yang tiba-tiba bersikeras ingin menginap di rumah pembantunya dulu, akhirnya aku mengalah dan mengikuti kemauannya. Lira sudah tertidur dari tadi. Aku mengulang perkataan itu di pikiranku. Apa yang harus kulakukan sekarang. Aku juga tak bisa menulis, aku tak membawa kotak itu kesini. Lintang, bagaimana kabarnya apa ibu dan ayah selamat sampai tujuan. Apa mereka berhasil membawa lintang ke tabib yang ayah sebut itu. Apa lintang akan sembuh? pertanyaan yang aku pun tak tahu jawabannya berseliweran di pikiranku. Kulirik jam kecil yang ada di atas nakas sudah pukul satu dini hari, lebih baik aku mencoba untuk tidur.
...
“BINTANG”
Suara lira dari arah belakang membuatku berbalik sekilas dan kembali menyiram tanaman bunga di halaman rumahnya.
“Aku sudah siram yang bagian belakang, kamu masih lama?”
Aku menggeleng, dan kembali melanjutkan menyiram tanaman.
“Sudah selesai. Kamu simpan embernya dimana?”
Lira menunjuk ember berwarna merah yang ia bawa tadi, di dekat kolam ikan milik keluarganya.
“Mau ke rumah sakit lagi?”
“untuk apa?”
Aku menatap heran lira yang sekarang berjalan di sebelahku.
“Menjenguk kak kevin”
Aku kembali dibuat heran oleh lira, sangat tidak mungkin ia mau menjenguk kak kevin jika tidak ada hal penting yang ia ingin bicarakan dengan orang itu.
“Tumben kamu antusias sekali ingin menjenguk kak kevin”
“Kan dia yang akan mengantar kita semua ke rumah bu anih, aku ingin tau kejelasan kita akan berangkat hari apa. Supaya aku tidak penasaran lagi bi”
Astaga. Aku menggeleng menatap lira, kalau ada yang ingin tahu seantusias apa lira. Ia sama seperti orang yang sedang bermain monopoli dan sangat ingin mengambil semua denda yang yang ada di tengah kertas permainan itu.
“Ayo sekarang kita ganti baju bintang”
Aku hanya mengangguk pelan dan mengikuti langkah bintang masuk ke dalam rumahnya yang megah. Setelah beberapa menit menunggu di ruang tamu akhirnya lira muncul di hadapanku. Ia mengikat rambut bobnya yang malah membuat rambut pendeknya yang bagian bawah membandel tak ingin diikat dan malah keluar.
“lebih baik rambut mu tidak usah diikat lira”
“Kenapa memangnya?”
Ia menatapku sambil berjalan keluar rumah.
“Lihat saja di kaca mobil”
Ia buru-buru berlari kecil ke arah mobil ayahnya dan bercermin disana.
__ADS_1
“Padahal aku sudah bersusah payah mengikatnya, tapi malah seperti ini”
Ia melepas ikatan rambutnya dengan jengkel dan memasukannya ke dalam tas kecil yang ia kenakan.
“Kamu sudah meminta ijin kan ra, kalau kita ingin pergi”
“Tenang saja bintang, aku sudah membicarakannya pagi-pagi sekali tadi dengan ibu dan ayahku. Dan mereka mengijinkan kita asalkan jangan pulang melewati pukul empat sore”
Aku mengangguk dan masuk ke dalam mobil lira. Di dalam mobil audah ada lira beserta dengan kedua orangtuanya. Yang kutahu mereka berdua ingin mengunjungi nenek lira di kampung sebelah. Dan akan pulang pada saat maghrib.
“Kalian kalau urusannya sudah selesai, nanti langsung pulang ke rumah. Jangan singgah-singgah lagi”
Suara tegas dari mulut ayah lira membuatku sedikit merasa tidak enak.
“Ayah cuma tidak ingin kalian berdua kenapa-napa kalau pulang malam jangan salah paham bintang”
Aku tersenyum dan mengangguk. Perasanku sedikit membaik karenap perkataan ayah lira.
“Kalian ingin turun di mana?”
“Di depan rumah sakit saja bagaimana bi?”
Lira menatapku dan aku hanya mengangguk mengiyakan.
“yasudah aku dan bintang turun di di depan rumah sakit saja yah”
“Aku sudah tak sabar ingin ke rumah bu anih. Ayo bintang”
Lira menarik tanganku dan aku hanya bisa mengikuti langkahnya yang sangat semangat meghentak di lantai putih rumah sakit.
...
“Bagaimana keadaan kakak sekarang?”
Lira menatap lekat kak kevin yang duduk bersandar di ranjang kamar rawat inapnya.
“Lebih baik dari kemarin”
Aku mengucap syukur pelan begitu juga dengan lira.
“Kapan rencananya kakak akan ke rumah bu anih?”
“Mungkin lusa kita semua sudah bisa pergi. Dan kemarin juga saya sudah memberitahu dion”
“Lantas bagaimana dengan fika dan kak naisyah?”
__ADS_1
Aku menatap kak kevin dan hanya dibalas dengan senyum tipis.
“Mudah saja, pasti dion menyampaikan hal itu kepada mereka. Aku sudah berpesan kepada dion untuk menyampaikan hal itu kepada fika dan naisyah jadi tenang saja”
Lira menggengam sangat erat jemariku, rasanya perih. Ia meluapkan kesenangannya dan naasnya malah jariku yang jadi korban.
“Rencanya begini kak, aku dan bintang mungkin akan bermalam di rumah bu anih. Jadi, kalau kakak ingin pulang duluan bersama dengan yang lain tak apa. Aku bisa meminta ayahku untuk menjemput”
Lenggang sejenak, kak kevin seperti memikirkan sesuatu.
“Baik kalau begitu. Tapi jika memungkinkan kita semua akan menginap beberapa hari disana, sekalian menikmati waktu liburan. Besok saya akan ke rumah dion untuk membicarakan hal itu”
Lira semakin kegirangan dan sebelum ia melampiaskan kesenangannya kepadaku aku memilih menghindar dan pindah ke sebelah kiri sisi ranjang.
“Apa kalian sudah ada rencana hal apa yang akan kita lakukan disana?”
Kak kevin menatap kami berdua serius sedang aku dan lira hanya menggelengkan kepala.
“Rencana awal kita hanya akan mengunujungi rumah bu anih, lalu setelah itu kita akan menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan anaknya yang bernama sri weningsih”
Lira berbicara pelan dan aku hnaya mengangguk mengiyakan kalimatnya.
“Bagaimana kalau misalnya kakak dan teman-teman yag lain jadi menginap kita semua bisa menonton acara ronggeng di daerah itu. Bu anih pernah mengajak kami sekeluarga kesana untuk menonton ronggeng itu. Tapi, hanya satu kali. Dan kudengar acara ronggeng itu hanya diadakan satu tahun sekali di akhir tahun”
“Boleh sepertinya itu akan sangat meyenangkan”
Aku meneguk ludah, perasaanku tiba-tiba saja tidak enak. Seperti ada hal yang mengganjal di dalam sana tapi aku tidak bisa mengetahui hal apa itu.
“Kamu kenapa bintang?”
Lira mengahmpiriku, dan aku hnaya tersenyum membalas perkataannya.
“Tak apa. Aku cuma sedikit paranoid saja ketika mendengar kata ronggeng”
Lira tertawa, sedang aku dan kak kevin hanya bisa menatapnya penuh heran.
“Pasti kamu memikirkan hal aneh yang akan terjadi kalau kita menonton ronggeng itu kan. Astaga bintang itu hanya acara ronggeng, tidak akan ada hal mistis yang terjadi. Tenang saja”
Aku kembali mengangguk, walau tanganku sudah berkeringat dingin sedari tadi.
“Tak apa selama kita disana bisa saling menjaga saya yakin tidak akan ada hal buruk yang terjadi”
“Iya kuharap tidak akan ada sesuatu yang terjadi”
Aku kembali meneguk saliva dengan susah payah, berusaha menghilangkan bayang-bayang sesuatu itu yang ada di dalam pikiranku. Kuharap kami semua bisa pulang dengan selamat.
__ADS_1
...