DARAH KELULUSAN

DARAH KELULUSAN
Keistimewaan Lintang


__ADS_3

Malam semakin larut dan hujan turun sangat lebat. Aku dan ibu sekarang sedang duduk di ruang tamu. Sedang lintang sudah tertidur dari tadi.


“Bintang. Apa yang harus kita lakukan sekarang nak”


Ibu menatap wajahku dengan sayu, guratan kekhawatiran sangat tergambar dengan jelas di wajahnya sekarang.


“Bintang juga tidak tau bu. Bintang hanya berharap ayah tak pulang dalam waktu dekat”


atau malah tak perlu kembali lagi. Aku membatin, mana mungkin aku mengutarakan itu kepada ibu.


Ibu terlihat mengangguk pelan. Sedangkan aku sibuk memperhatikan layar televisi kecil kami yang menayangkan berita malam.


“Nak, maafkan ibu yang tidak bisa melindungi kalian”


Aku berbalik, menatap ibu.


“Tak apa bu, aku yakin lintang akan baik-baik saja. Selama ayah tak mengetahui kalau lintang memiliki kemampuan sama seperti bintang. Aku yakin lintang tidak akan kenapa-napa bu”


“Semoga saja bintang”


Ibu melangkah perlahan ke kamarnya. Meninggalkan aku sendirian di ruang tamu, yang masih berharap ayah tak pulang malam ini dan hari-hari berikutnya.


....


“Kak. Kakak darimana?”


Aku terlonjak kaget mendengar suara dari sisi kiriku. Lintang menatapku yang sedang duduk bersandar di kursi meja belajar.


“Dari menonton berita. Kakak tadi tidak bisa tidur. Jadi keluar dulu”


Lintang hanya megangguk dan kembali memperhatikan langit-langit kamar.


“Ada apa? Kenapa lintang belum tidur?”


“lintang sudah tidur tadi kak, tapi tiba-tiba terbangun. Gara-gara suara teriakan dan suara berisik”


Aku menatap lintang kasihan, tapi aku bisa apa. Aku juga pernah mengalami hal seperti itu malah lebih kecil dari umur lintang yang sekarang.


“Apa lintang bisa lihat kalau disamping kakak ada orang?”


Lintang bangun dan duduk di pinggiran kasur. Ia mengucek matanya pelan dan kembali menatap tepat di sampingku.


“Iya, perempuan memakai gaun putin dan rambut hitam yang panjang. Wajahnya pucat kak”


Ia tersenyum memperhatikanku dan sesekali menatap ke arah samping kiriku.


“Ada siapa lagi di ruangan ini?”


Lintang mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Tapi kemudian dia menggeleng.


“Tidak ada lagi kak. Hanya kita bertiga yang ada disini”


Aku tersenyum, lintang memang bisa melihat makhluk astral yang ada di sebelahku. Tapi tidak dengan mahkluk lain yang ada di ruangan ini. yang jumlahnya lebih dari lima. Keistimewaannya belum terlalu sempurna. Keistimewaan. Aku selalu menyebutnya dengan sebutan seperti itu. berusaha untuk menghilangkan rasa takut dan kekesalan yang ada di diriku sendiri.


“lintang serius tidak melihat ada lagi yang lain. Seperti anak kecil atau siapa pun itu?”


Aku kembali bertanya memastikan isyarat gelengan kepala lintang tadi.

__ADS_1


“Iya kak di ruangan ini hanya ada kita bertiga. Memang ada lagi?”


Aku menggeleng. Mana mungkin aku mengatakan kepada lintang bahwa tepat di bahunya ada makhluk yng sedang bergelayut dan memainkan rambutnya. Dengan darah dan kuku yang sangat panjang.


“Tidak. Soalnya kakak hanya melihat hanya ada kita berdua di ruangan ini. Dan kamu bilang bahwa kita ada tiga orang. Kamu pasti bercanda”


Lintang berdiri dari duduknya dan menghampiriku.


“Lintang serius kak, di samping kakak memang ada orang. Masa kakak tidak lihat. Dia menatap kakak dari tadi. Kakinya juga berdarah. Jejak telapak kakinya yang merah juga membekas di lantai. Besok pasti kita akan dimarahi sama ibu. Kalau tidak cepat-cepat dibersihkan”


Mana mungkin ibu bisa melihat jejak telapak kaki itu.


“Mana? kakak tidak lihat ada jejak telapak kaki”


Lintang berjalan tepat ke depan lemari pakaian kami dan berjongkok di depannya.


“Ini loh kak. Masa kakak tidak lihat”


Ia menunjuk jejak telapak kaki yang sekarang berada di hadapannya.


“Iya kakak lihat. Tapi besok tidak usah bilang ke ibu kalau ada jejak telapak kaki disitu yah. Nanti kakak yang bersihkan”


“Iya kak”


Lintang kembali ke kasur dan merebahkan dirinya disana.


“Kak lintang mau tidur lagi. Nanti lintang terlambat bangun ”


Aku mengangguk dan menyimpan kertas yang sudah penuh dengan tulisan dan coretan dimana-mana. Kakiku melangkah kemudian merebahkan diri di kasur di samping kanan lintang. Aku mengusap lembut rambutnya berusaha menyalurkan kasih sayang kepadanya.


Kamu anak yang baik lintang. Kuharap ayah tak mengetahui kemampuanmu, atau kalau tidak, kau akan bernasib sama dengan indah.


.....


“Kamu selalu datang pagi?”


Suara bisikan dari belakang membuatku terlonjak dan refleks berbalik.


“Kak kevin?!”


“Itu pertanyaan atau pernyataan”


Aku menghembuskan napas pelan, pasti ada hal penting yang akan kak kevin sampaikan. Kalau tidak mana mau ia menemuiku tanpa anggota “surgical glasses” yang lain.


“Ada hal penting yang saya mau bicarakan”


Tuh kan.


“Hal penting apa kak?”


Ia menunjuk kursi panjang yang ada di dekat mading dan mengajakku duduk disana.


“Kamu bisa melihat makhluk itu kan?”


Aku baru mau duduk di sebelahnya, tapi urung ketika pertanyaan itu terlontar dari mulutnya.


“Maksud kakak?”

__ADS_1


Ia tersenyum dengan sinis. Sambil berdiri tepat di depanku.


“Entah kamu sedang berpura-pura bodoh atau memang ingin mengelak dari pertanyaan. Tapi saya yakin kamu memang memiliki kemapuan seperti itu”


Aku mendecak sebal, untuk apa ia mengajakku berbicara hal yang sudah ia ketahui jawabannya. Benar-benar kurang kerjaan.


“Kamu memiliki kemampuan seperti itu dan tidak ingin memberitahu kami semua. Dan malah melibatkan orang yang bernama kinan, yang kemampuannya jauh di bawahmu. Apa itu bukan seperti memanfaatkan dan membahayakan keselamatan orang lain”


Aku menggeleng. Aku tak pernah ingin membahayakan nyawa kak kinan. Aku sudah memperingatkan hal itu sebelum kami melakukan investigasi berbahaya malam itu. tapi orang yang sekarang ada dihadapanku ini malah bersikukuh ingin melanjutkan. Kenapa sekarang ia menyalahkanku.


“Kak. Aku tidak pernah berniat untuk mmbahayakan nyawa kak kinan”


“Buktinya kamu menerima tawaran dari fika. Padahal kamu memiliki kemampuan yang jelas-jelas lebih dari kinan. Apa itu bukan membahayakan nyawa orang lain”


“Aku mau ke kelas kak, jadi permisi”


Aku langsung berjalan dengan cepat melewati kak kevin. Berurusan dengan orang yang memiliki kepribadian tak terduga dari orang sepertinya hanya akan menambah sekelumit beban di pikiranku.


“KAMU ORANG YANG EGOIS BINTANG”


Teriakan itu menggema di sekeliling indera pendengaranku. Dengan langkah gusar aku kembali tepat di hadapannya.


“Lalu, apa yang kakak mau sebenarnya?”


Ia tersenyum. Senyum yang membuatku merasa ingin mencabik-cabik wajahnya yang dibuat sok polos.


“Saya mau kamu ke sekolah malam ini”


Aku? Ke sekolah? malam ini? orang gila macam apa yang ingin membahayakan nyawanya sendiri.


“Saya tidak menyuruhmu untuk pergi sendiri. Saya juga akan pergi. Jadi kita berdua malam ini akan ke sekolah. Jangan ada penolakan”


“Untuk apa aku menuruti keinginan kakak yang gila itu”


Ia kembali tersenyum sinis, dan aku sangat-sangat tidak suka senyum meremehkan itu.


“Untuk apa?...maksud perkataanmu mungkin tepatnya resiko apa yang akan ditimbulkan kalau kamu tidak menuruti kenginan saya. Begitu kan?”


Aku hanya mengangguk pasrah. Di sekolah ini hanya lira yang mengetahui kemampuan ku dan ia menerima hal itu, sesuatu yang sangat ku syukuri. Tapi tidak dengan semua orang yang ada di sekolah. mereka mungkin akan mengatakan jika aku pembawa sial.


“Kalau tidak. Resikonya simpel saya hanya akan menulis pengumuman di mading bahwa siswi di sekolah ini yang bernama BINTANG AURELINA PUTRI memiliki kemampuan untuk bisa melihat makhluk astral. Simpel kan tapi akibat yang akan ditimbulkan sepeti bom yang siap meledak kapan saja dan menghancurkan siapa saja”


Ia berlalu di hadapanku dan sebelum ia benar-benar pergi langkahnya terhenti tepat di sampingku. Tepukan di pundakku dan kalimatnya yang ia lontarkan membuatku semakin pasrah akan keadaan.


“Pikirkan sekali lagi. Atau akibat dari penolakan itu......Akan saya sebar besok pagi-pagi sekali”


Langkah kaki yang menggema di koridor membuat lututku lemas dan aku hanya bisa duduk sambil mengusap wajahku dengan perasaan yang campur aduk.


.....


note :


Terimakasih kepada pembaca sekalian yang telah memberikan like dan komentar dengan kalimat yang membangun. Author berharap semoga cerita ini bisa menjadi penghibur di waktu luang kalian semua.


Jangan bosan untuk menunggu next partnya. Sekali lagi terimakasih kepada readers yang telah membaca cerita ini


__ADS_1


Thanks all i hope you enjoy and like my story.


__ADS_2