
Langkah kaki yang terdengar bergemuruh seketika terhenti di lapangan tepat di hadapan sumber suara.
“KALIAN SEMUA TELAH MENGIKUTI UJIAN DAN MEMBERIKAN KEMAMPUAN YANG TERBAIK. TANPA PERLU BERPANJANG LEBAR, PIHAK SEKOLAH MEMBERI WAKTU KALIAN LIBUR SELAMA DUA PEKAN”
Suara teriakan heboh dan jerit kesenangan mengudara. Teriakan dan sorak bahagia terdengar riuh tanpa ingin berhenti.
“GUNAKAN WAKTU LIBUR KALIAN UNTUK KEGIATAN BERMANFAAT DAN JANGAN LUPA UNTUK TERUS BELAJAR DAN MENCARI REFERENSI BACAAN. BAIK SEBELUM KITA SEMUA PULANG, MARI BERDOA UNTUK KESELAMATAN KITA SEMUA. BERDOA DI MULAI”
Suara riuh itu terhenti dan diganti dengan tundukan khusyuk. Beberapa saat lenggang teriakan heboh itu kembali mengudara saat suara dari pengeras suara tersebut mempersilahkan kami untuk bubar.
“BINTANG...”
Aku berbalik dan mendapati lira yang sedang berlari menerobos kerumunan.
“Kamu dari mana, aku mencarimu sedari tadi?”
Aku menatap lira, rambutnya yang biasa rapi terlihat acak-acakan dan pakaian seragamnya sangat kusut.
“Kamu dari mana lira?”
Aku kembali bertanya, sedang lira hanya menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
“Aku haus”
Hanya kalimat itu yang terdengar dari bibir lira dan aku pun mengeluarkan air mineral dari dalam tas. Ia meneguk air mineral itu sampai tandas dan membuang botolnya di tempat sampah dekat pos jaga.
“Aku tadi dari perumahan guru”
Aku membulatkan mataku. Kaget? Tentu saja, kenapa lira begitu nekat ke tempat itu.
“Tunggu, sebelum kamu marah ada sesuatu yang ingin ku sampaikan”
Aku langsung diam, baru saja ingin menyemprot lira dengan kalimat yang entah berisi pujian, hinaan, cacian dan makian kepadanya langsung urung.
“Aku akan menceritakannya ketika kita sampai di rumah”
Lira berjalan mendahuluiku dan aku hanya bisa mengikuti langkahnya. Tentunya karena aku masih menginap di rumah milik kedua orang tuanya.
...
Kami sampai, ketika jam menunjukkan pukul 2 siang. Setelah mengganti seragam yang ku kenakan aku langsung menuju ke kamar lira dan mendapati ia sedang duduk di meja belajarnya.
“Hal apa yang ingin kamu sampaikan lira?”
Lira menoleh dan menyuruhku untuk duduk di pinggiran ranjangnya.
“Kamu pasti sangat penasaran bi”
__ADS_1
Aku mengangguk dan lira hanya tersenyum sekilas kepadaku.
“Aku tadi masuk ke dalam rumah itu, tempat dimana kamu dan kak kevin melihat kucing-kucing yang digantung itu”
Aku menatap tak percaya kepada lira, apakah ia bersungguh-sungguh dengan apa yang ia katakan.
“Aku serius bintang”
“Kamu pasti sudah gila lira. Untuk apa kamu sendirian kesana? Dan lagi bagaimana kamu bisa masuk ke tepat itu di antara berpuluh-puluh rumah di perumahan tersebut”
“Entahlah bi, aku sendiri tidak tau kenapa aku sampai bisa sangat berani pergi sendirian kesana. Aku hanya penasaran dan kamu tau apa yang aku lihat di tempat itu?”
Aku menggeleng, tentu saja aku tak mengetahuinya.
“Ada mayat-mayat kucing baru yang darahnya masih menetes di lantai putih itu. aku melihatnya sendiri”
Aku membelalakkan mataku. Entah bagaimana wujud atau rupa si pembunuh kucing-kucing malang itu, yang pasti tindakannya amat sangat kejam.
“Apa kamu melihat orang yang melakukan itu?”
“Sayangnya tidak, tapi aku mencurigai seseorang”
“Siapa?”
Lira hanya terdiam sedangkan jantungku sudah berpacu sedemikian cepat demi mendengar seeorang yang akan lira sebut selanjutnya.
Aku mengangguk, bukan karena setuju akan orang yang lira sebut barusan. Tapi, mungkin saja kecurigaan lira benar. Nyatanya kepala sekolah tadi tidak berada di tempatnya, dan bukan beliau juga yang menyampaikan arahan kepada kami.
“Lantas kita harus bagaiamana sekarang? Tentunya walaupun kita menaruh kecurigaan kepada kepala sekolah kita tidak punya bukti bahwa memang beliau yang melakukan hal itu”
Lira hanya mengedikkan bahunya, dan menatapku lekat.
“Kita cari tau saja sendiri. Bagaimana?”
“Caranya?”
Entah ide gila apa lagi yang akan lira lakukan, tentunya aku tak akan melibatkan diriku dengannya untuk hal tersebut.
“Aku akan ke sekolah besok dan mengintai siapa pelaku hal keji itu”
Aku menggelengkan kepalaku. Aku jenuh dan bosan mendengar semua hal nekat yang lira akan lakukan.
“Aku tidak akan melarangmu lira, tapi aku tidak akan dan tidak mau untuk terlibat dalam aksi nekat yang akan kamu jalankan”
“Ayolah bi, kamu pasti juga penasaran kan siapa pelakunya? Apa memang benar itu kelakuan kepala sekolah. Aku tau kamu pasti sangat-sangat ingin mengetahui pelakunya”
“Sebesar apapun rasa penasaranku akan hal itu, aku tetap tidak akan mau membahayakan diriku sendiri lira”
__ADS_1
“Terus kamu mau kita seperti ini terus, berdiam diri tanpa melakukan hal apapun dan membiarkan manusia itu membunuh hewan tidak bersalah setiap harinya”
Aku menatap jengah kepada lira, entah terbuat dari apa kepalanya sampai bisa sekeras itu.
“Nyatanya hal yang akan kamu lakukan itu mempunyai dampak yang besar bagi kelangsungan hidup kita di sekolah lira, entah harus berapa kali aku memperingatkanmu”
Lira menghembuskan napas berat. Lira sama dengan kak kevin mereka berdua mempunyai ambisi yang kaut dan watak keras kepala yang sama. Belum lagi kita bahkan belum menemukan sesuatu apapun di gudang tepatnya di ruangan itu.
“Misi kita yang utama adalah mencari tau apa yang sebenarnya ruangan itu sembunyikan, hal apa yang pernah terjadi di dalam sana. Singkirkanlah dulu egomu lira, kalaupun kau penasaran kita bisa mencari tau siapa pelakunya tanpa membahayakan diri kita sendiri”
“Lantas apa yang ingin kamu lakukan ha?”
Nada bicara lira naik satu oktaf, membuatku agak merasa bersalah sekaligus jengkel dalam waktu yang bersamaan.
“Aku akan memberi tau hal ini kepada penjaga sekolah”
Lenggang menyelimuti kamar lira, tak ada kata yang keluar dari mulutnya hingga beberapa detik kami berada di ruangan ini.
“Kamu tau bintang, idemu itu lebih gila daripada hal yang kusampaikan kepadamu tadi”
Lira menatapku sinis dan berjalan menuju keluar kamar.
“Lira, tidak ada hal yang bisa kita lakukan selain itu”
“Selain apa ha? Kalau saja pelakunya memang penjga sekolah bagaimana? Itu sama saja kamu menyerahkan dirimu sendiri ke dalam bahaya bintang”
“Aku percaya kepada penjaga sekolah, beliau orang yang baik. Dan dari apa yang kulihat dia pasti akan membantu kita”
“Kita punya keputusan yang berbeda sedang kita berdua dalam satu kelompok yang sama apa hal itu masuk akal?”
“Maksudmu?”
Aku memperhatikan lira, dan mengikuti langkahnya. Tentu saja berbeda pendapat dalam suatu tim itu hal yang wajar.
“Aku akan melakukan hal yang ingin kulakukan dan kamu boleh melakukan hal yang ingin kamu lakukan juga. Walau kita dalam satu kelompok, kita tetap saja memilki pendapat yang berbeda, dan lagi tujuan utama kelompok kita adalah mengetahui hal yang pernah terjadi di dalam ruangan itu”
Lira berbalik menatapku dan tersenyum.
“Kalau itu mau mu bi, mari kita lakukan ini sesuai jalan kita masing-masing”
Aku hanya tersenyum dan dibalas dengan anggukan dari lira, aku dan lira memilih jalan yang berbeda untuk mengungkap siapa pelaku kejahatan di perumahan guru itu. Entah siapa yang akan lebih dulu menemukan si pelaku yang pasti setiap hal yang dilakukan selalu akan mendapat sebuah resiko entah itu baik ataupun buruk.
....
Note :
Terimakasih kepada pembaca sekalian yang telah mampir dan membaca cerita ini. Terus dukung cerita DARAH KELULUSAN dengan memberikan like dan komentar yang baik.
__ADS_1
Jangan bosan untuk menunggu next partnya. Sekali lagi terimakasih kepada readers yang telah membaca cerita ini.