
Aku ke sekolah dengan wajah yang berbinar, setelah beberapa hari kepergian ayah yang tak tau sekarang keberadaanya ada dimana. Rumah seakan menjadi tempat ternyaman bagiku, yang dulu sempat menjadi neraka sementara setiap kehadirannya. Teman sekelas yang ku kenal tersenyum kepadaku dan aku hanya membalasnya dengan senyum kikuk. Aku tak tau harus bersikap seperti apa, karena aku tak pernah punya pengalaman berteman yang baik di masa lampau.
“Hai bi?”
Lira yang ada di belakangku menepuk pelan pundakku, dan menyamakan langkahnya denganku.
“Hai”
“Setelah beberapa hari akhirnya kita bisa tenang juga tanpa ada masalah”
Aku berbalik ke arah lira, ia sedang tersenyum. Sedang aku hanya mengangguk.
“Apa kamu mau berhenti lira?”
“Berhenti untuk melanjutkan misi maksudmu?”
Aku mengangguk kembali. Sedang lira hanya hanya mendongak menatap langit biru yang sangat cerah pagi ini.
“Kalau pada akhirnya dengan dijalankannya misi ini nyawa kita semua dalam bahaya. Apa ada alasan logis untuk melanjutkan misi ini kembali?”
“Yah sepertinya memang tak ada alasan lain”
Aku menghembuskan napas pelan. Pada akhirnya kelompok yang awalnya kupikir bisa memecahkan misteri itu malah berhenti di awal misi.
“Kamu tak pernah berpikir kalau dengan misi ini dihentikan kemungkinan akan ada korban lagi?”
“Sejujurnya aku tak pernah benar-benar mau berhenti bintang, hanya saja jika kita semua mati sebelum mengungkap misteri itu, apa semua akan berubah?”
Aku menatap lira, wajahnya nampak sedang menanggung beban berat tak kasat mata.
“Kamu bisa jamin jika kita melanjutkan misi ini kita bisa selamat? Dan kalau pada akhirnya kita semua mati tanpa mendapat hasil apa-apa dari misi ini. kita harus bagaimana?”
Aku bingung. Sama halnya ketika diminta untuk memecahkan soal matematika di kelas. semuanya terasa membingungkan.
....
Setelah jam pertama dan kedua usai, kami akhirnya bisa beristirahat dengan tenang. Bunyi otot yang direnggangkan memenuhi seisi kelas. Dan setelah itu kelas kosong menyisakan aku dan lira yang sibuk dengan urusan masing-masing.
“Bi, kamu mau ke kantin?”
Aku menggeleng, aku sudah makan tadi di rumah dan perutku masih merasa kenyang.
“Kalau begitu mau ke perpustakaan?”
Aku berpikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk dan menyimpan kertas putih yang sudah setengah tulisan ke dalam tas. Kami berjalan beriringan menuju perpustakaan. Dan setelah tiba disana kami melihat dion, kak naisyah dan kak kevin sedang menempel sesuatu di mading dekat perpustakaan. Lira buru-buru menarikku yang sempat terhenti karena memperhatikan mereka.
__ADS_1
“Kakak lagi tempel apa?”
Lira mendekati kak nasiyah. Sedang kak naisyah yang tengah fokus hanya melirik lira sekilas.
“Ini cerpen yang aku sama kak kevin buat semalam”
Aku membaca beberapa cerpen yang kak naisyah tulis. Lalu beralih ke cerpen dengan nama yang disingkat KAS di bawah cerpen itu.
“Berarti kelompok kita masih tetap utuh kan kak?”
Aku dengan ragu bertanya dengan kak kevin, sedang yang ditatap hanya acuh dan fokus membaca karyanya sendiri yang telah ia tempel.
“Memang kamu pernah ngomong mau berhenti atau mau keluar dari kelompok ini? selama kamu belum mengucapkan itu saya rasa kelompok ini masih tetap seperti dulu”
Aku mengangguk dan tersenyum kepada lira. Dan dengan antusias tinggi kami mulai menempelkan beberapa karya cerpen yang ditulis oleh teman-teman dari kak naisyah dan dion yang menyumbang karyanya secara cuma-cuma. Acara kami yang sedang seru-serunya terhenti ketika suara yang tak familiar menyapa indera pendengaran kami.
“Bagus juga karya kalian”
Aku berbalik ke arah kanan dan mendapati pak petugas kebersihan yang sedang fokus menatap setiap kata yang tertulis di kertas yang kami tempel.
“Maaf telah menuduh kalian yang tidak-tidak, saya hanya saat itu panik dan takut dimarahi oleh kepala sekolah karena tidak menjaga sekolah dengan baik bersama dengan penjaga sekolah. Sekali lagi saya minta maaf.”
Penjaga sekolah itu yang katanya dion bernama pak nasir, tersenyum menampilkan kerutan di wajahnya yang tercetak jelas.
Kak kevin dengan bijak berkata seperti itu sambil tersenyum dengan mata yang menyipit, memperlihatkan lesung pipi yang berada tak jauh di bawah matanya.
“Kalau begitu saya permisi dulu. Mari nak”
Pak nasir lewat di dekatku sambil membungkukkan badannya dengan sopan. Sedang aku hanya tersenyum kepadanya. Aku memperhatikan langkah pak nasir, yang semakin menjauh hingga fokusku hilang ketika dengan tiba-tiba pupilku menangkap seseorang yang sedang berlari ke arah kami.
“Fika ada apa?”
Pertanyaan yang keluar dari mulutku sukses membuatku semua mata tertuju kepadaku dan fika.
“Itu kak.... aku dengar... kabar tadi pagi, kalau...kak kinan masuk... ke rumah sakit”
Aku mengerutkan dahiku bingung. Apa yang terjadi pada kinan.
“Kenapa bisa masuk kerumah sakit, kamu dapat informasi darimana?”
“Nggak tau juga kak, tapi kata teman satu kelasku yang rumahnya agak dekat dari kak kinan. Ia lihat tadi pagi ada ambulans yang datang kerumahnya kak kinan”
“Ambulans? Apa separah itu?”
Fika hanya menggeleng dan dengan keputusan yang bulat kami akan mengujungi rumah sakit tempat kak kinan dirawat. Semoga ia baik-baik saja.
__ADS_1
....
Dari luar kaca persegi yang ada di hadapanku, aku bisa melihat kak kinan yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit. Ibu kak kinan sudah menceritakan alasan kenapa ia bisa seperti itu. Sederhananya kak kinan awalnya kesurupan, setelah menjerit-jerit tidak jelas tubuhnya kemudian kejang-kejang dan ia pun muntah darah. Ibunya yang panik langsung menelpon ambulans karena ayah kak kinan pada saat itu tak berada di rumah.
“Kenapa kak kinan bisa kesurupan ya bi?”
Lira sekarang sudah berada di sebelahku, menatap kak kinan dari luar melalui kaca yang ada di hadapannya.
“Nggak tau, tapi karena kak kinan bisa berinterkasi dengan makhluk tak kasat mata. Jadi bisa saja ia kerasukan. Seseorang saja yang tak punya kemampuan seperti itu pernah apalagi kak kinan yang jelas-jelas punya akses untuk berinteraksi dengan mereka”
“Tapi aku tidak pernah kerasukan. Memang kamu pernah?”
Lira menatapku dengan raut wajah terkejut, sedang aku hanya bisa tersenyum.
“Pernah, dan sering sekali. Sewaktu aku masih kecil”
“Sering?”
Aku hanya mengangguk sedang lira hanya memasang ekspresi terkejutnya.
“Seberapa sering?”
“Kalau aku bilang setiap hari. Pasti kamu tidak percaya?”
Lira menautkan alisnya, dahinya berkerut. Ia tidak akan percaya jika aku mengatakan itu, aku pun sendiri tidak percaya tapi itulah yang ibu katakan. Dan setelah melihat lintang sewaktu kecil yang juga mengalami hal yang sama sepertiku, aku pun percaya itu.
“Kamu bukan orang yang akan berbohong dengan hal seperti itu bi. Jadi anggap saja aku percaya. Tapi aku penasaran kenapa orang-orang bisa kesurupan. Apa mentalnya yang lemah kah? Hingga seseorang bisa seperti itu?”
Lira duduk di kursi berjejer di depan ruang rawat kak kinan, dan aku pun menyusulnya dan duduk di dekatnya.
“Mental lemah. Itu adalah salah satu alasannya. Tapi ada satu alasan lagi yang mungkin orang-orang seperti kamu dan orang di luar sana yang tidak pernah kerasukan tidak tau akan alasan itu”
Lira menatapku lama, seolah-olah mengatakan apa itu secara tidak langsung melalui raut wajahnya.
“Itu karena kami bisa berinteraksi dengan mereka”
....
Note :
Terimakasih telah membaca karya saya. Tetap dukung karya ini dengan memberikan komentar, kritik dan saran yang membangun. jangan lupa juga untuk tekan tombol favorit dan like.
cerita ini saya usahakan terbit setiap hari jadi nantikan terus yah.
Thank's all. I hope you like it and enjoy read my story.
__ADS_1