DARAH KELULUSAN

DARAH KELULUSAN
Hidup atau Mati?


__ADS_3

Langkah kaki kami menggema di sepanjang koridor rumah sakit. Setelah menanyakan kamar rawat kak kevin kami langsung bergegas menuju ke sana.


“Permisi bu”


Lira menyapa seorang wanita, yang ku yakini beliau adalah ibu dari kak kevin.


“Kalian pasti teman-teman kevin. Duduk di sini nak”


Aku dan lira duduk di kursi tunggu yang disediakan di depan kamar rawat kak kevin. Sedang dion ia masih berdiri dan sesekali menengok ke dalam ruangan melalui jendela persegi yang tertutup kain.


“Apa yang terjadi bu, kenapa kak kevin bisa sampai kecelakaan”


Ibu itu menggeleng dan masih menyembunyikan isakannya di dalam telapak tangannya. Lira dengan sigap mengelus punggungnya.


“Jangan bersedih, kita berdoa saja supaya kak kevin selamat bu”


Wanita paruh baya di hadapan kami hanya mengulas senyum, berusaha tegar akan cobaan yang sedang menimpanya.


“Kalian kenapa bisa ada di sini, siapa yang memberitahu kalian”


Aku dan lira refleks menatap dion, sedang yang ditatap langsung menuju ke arah kami.


“Saya yang memberitahu mereka bu”


“Apa kamu tahu, kenapa anak saya bisa kecelakaan?”


Dion terlihat berpikir sejenak kemudian menggeleng di hadapan kami semua.


“Saya tidak tahu penyebab kecelakaan yang dialami kak kevin bu, tapi mendengar dari warga yang menolong kak kevin tadi, katanya ketika ia mengendarai mobilnya tiba-tiba saja mobil itu hilang kendali”


“Maksudnya?”


Lira menatap heran kepada dion, sedang aku hanya memasang ekspresi yang sama bingungnya dengan lira.


“Hilang kendali? Apa remnya blong? Atau apa? Aku tidak mengerti”


Lira melayangkan pertanyaan bertubi-tubi kepada dion yang hanya dibalas dengan gelengan kepala.

__ADS_1


“Aku juga tidak tau ra, bagaimana detailnya hal yang dialami kak kevin. Aku hanya mendengar obrolan dari warga sekitar yang mungkin melihat kecelakaan itu”


Setelah percakapan yang lira dan dion lakukan, keadaan kembali hening. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Kecuali isakan dan sesegukan dari ibu kak kevin yang terdengar. Pintu ruang rawat kak kevin masih belum terbuka, kata ibu dari kak kevin dokter masih melakukan penangan serius. Aku berdiri dan mengintip dari celah kain di dalam ruangan, benar saja dokter dan beberapa perawat masih ada di dalam ruangan itu mengelilingi kak kevin.


...


Waktu terus bergulir, setelah sekian lama tim medis itu berada di dalam ruangan akhirnya mereka keluar. Ibu kak kevin langsung menghampiri dokter yang menangani anaknya. setelah berbincang-bincang cukup lama akhirnya ibu kak kevin masuk ke dalam ruangan itu. kami bertiga masih di luar, berusaha memberikan ruang untuk ibu kak kevin bertemu dengan anaknya. tak ada perbincangan yang kami bertiga lakukan, hanya tatapan bingung dan penasaran yang masing-masing dari kami isyaratkan.


“Aduh, harus berapa lama kita di luar sini. Aku juga mau masuk”


Lira berbicara dengan nada kesal kepadaku.


“Tenang saja. Kita akan masuk, tapi kita harus memberikan waktu untuk ibu kak kevin dulu. Beliau sangat shock”


“Benar kata bintang, ra. Kita tunggu disini saja dulu”


Setelah perkataan dariku dan dio, akhirnya lira bisa duduk dengan tenang dan tidak lagi berjalan mondar-mandir di hadapanku. Beberapa menit kami menunggu, akhirnya ibu kak kevin keluar dari ruang rawat. Wajahnya yang semula dihiasi raut kekhawatiran berganti dengan raut wajah lega dan senyum tipis yang menggantung di bibirnya.


“Kalian pasti ingin bertemu dengan kevin, silahkan masuk ibu mau ke toilet dulu”


Lira langsung berdiri dari duduknya dan mendahului kami tentunya setelah mengucapkan terimakasih kepada ibu kak kevin. Bau obat-obatan langsung menyeruak di indera penciumanku, dan aku sangat tidak menyukai bau obat-obatan itu.


Dion yang sudah berada di dekat kak kevin langsung melontarkan pertanyaannya.


“Jauh lebih baik dari saya mengalami kecelakaan itu”


Kak kevin menjawab pertanyaan dion disertai dengan senyum kecil.


“Apa yang terjadi kak? Bagaimana bisa kakak kecelakaan?”


Lira yang sedari tadi mulutnya gatal ingin menanyakan hal tersebut, akhirnya bernapas lega karena bisa menanyakannya kepada sumbernya langsung.


“Saya tidak yakin, apa yang saya lihat sebelum kecelakaan itu benar atau tidak”


Kami semua menatap kak kevin, matanya masih mengerjap berusaha menerima cahaya dari lampu kamar rawat inapnya.


“Apa...apa yang kakak lihat?”

__ADS_1


Aku menatap ke samping, deru napas lira mengejar. Ia sangat antusias sekali jika telah menyangkut hal-hal berbau mistis seperti ini.


“Saya melihat seorang siswi yang memakai seragam yang sama persis dengan yang dikenakan anak-anak perempuan di sekolah kita. Ia berada di tengah jalan, dan hanya diam sambil terus menerus melihat ke arah mobil yang saya kendarai. Waktu ingin menghentikan mobil tiba-tiba saja rem mobil saya tidak bisa berfungsi, akhirnya dengan sangat terpaksa saya membelokkan stirnya dan sialnya ban belakangnya malah melindas batu besar. Dan hasilnya saya jadi seperti sekarang ini”


Aku menatap lamat-lamat kak kevin. Siswi dengan seragam yang sama dengan yang kami kenakan. Apa mungkin ia sosok yang ku lihat di ruangan itu. Tapi kenapa ia bisa sampai mengikuti kak kevin.


“Apa kakak melihat wajahnya?”


Kak kevin menggeleng pelan, menjawab pertanyaan dariku.


“Tidak, wajahnya tertutup rambut panjangnya yang acak-acakan. Dan lagi sebelum saya dibawa warga ke rumah sakit. Saya lihat siswi itu sudah tidak berada disana”


Aku mengangguk, paham akan penyampaian singkat dari kak kevin. Tentu saja ia tidak akan berlama-lama disana, karena tempat sebenarnya ia berada hanya di ruangan itu. Tempat yang sekarang dijadikan gudang oleh kepala sekolah, sekaligus tempat yang sudah mengambil enam nyawa dari siswi perempuan di sekolah ini.


“Oh iya kak, aku masih penasaran dengan apa yang terjadi di sekolah. Setiap guru-guru yang ku tanya tadi, hanya menggeleng dan pergi begitu saja”


Kak kevin memejaman matanya lama, setelah mendengar kalimat dari lira. Keningnya mengerut membentuk garis yang tidak beraturan.


“Saya juga tidak tau pasti apa yang terjadi lira, tapi setelah pengumuman kelulusan yang dibacakan oleh kepada sekolah dan rencana acara kelulusan yng akan dilaksanakan di gedung yang baru. Sebagian dari murid kelas 12 mengalami kerasukan. Saya yang panik hanya bisa menjauh dan setelah kerusuhan akibat sebagian pelajar yang kerasukan itu berita tentang kematian lima orang siswi perempuan muncul dan setelah itu saya kembali ke ruangan untuk membritahu kalian”


Aku menunduk berusaha menghindari kontak mata dari kak kevin. Tatapan matanya seperti menuntuk penjelasan sesuatu hal kepadaku. Dan aku hanya bisa terdiam, sambil menunduk.


“Aku masih heran kak Kenapa bisa teman-teman kakak kesurupan massal seperti itu?”


Kak kevin kembali menggeleng. Dan kami semua hanya bisa diam tak ada percakapan lagi


.


“Dion, bisa saya minta bantuanmu?”


Kulirik dion hanya mengangguk dan serius menatap kak kevin.


“Tolong susul ibu saya, dan bilang bahwa saya ingin makan jeruk”


Hanya kata iya yang keluar dari mulut dion dan selanjutnya langkah kakinya menggema di ruangan serba putih ini yang sekarang hanya ada kak kevin, lira, dan aku.


“Karena dion sudah pergi. Apa kamu siap menceritakan hal yang kamu ketahui tentang siswi yang saya hampir tabrak tadi bintang”

__ADS_1


Tatapan mata serta kalimat tiba-tiba dari kak kevin membatku hanya bia meneguk salivaku dengan berat. Apakah sudah saatnya aku menceritakan hal itu. Kalimat yang sama terus tergiang di kepalaku dan dalam satu tarikan napas panjang, kalimat-kalimat sederhana itu keluar dari mulutku.


...


__ADS_2