
Aku seperti tertarik kembali ke masa lalu, suasana di daerah ini membuatku seperti sangat-sangat ingin kembali ke masa kanak-kanak. Aku dan teman-teman yang lain serta bu anih masih terus berjalan menelusuri pinggiran sawah yang hanya bisa di lalui satu orang. Jadilah rombongan kami seperti ular yang memanjang.
“Hati-hati disini sering ada ular yang melintas”
“AAAHHH”
Kami semua tersentak mendengar kak naisyah yang menjerit, tatapan mata kini tertuju pada kak naisyah yang berada paling belakang barisan.
“Ah maaf aku salah lihat kukira yang tadi itu ular”
Kami hanya bisa menatap kak nasiyah lamat-lamat dengan pemikiran yang berbeda, sedang bu anih hanya tersenyum memaklumi.
“Oh iya bu, bukannya rumah ibu waktu lira datang pertama kali itu hanya rumah panggung? Kenapa sekarang bisa jadi rumah seperti itu?”
Aku yang berjalan di belakang lira juga dibuat bingung, baru kali ini aku melihat rumah panggung yang ada bagian bawah seperti sebuah rumah tingkat dua hanya saja yang membedakan adalah tangga yang ada di luar rumah.
“Dulu, setelah mengendar kabar bahwa wening sudah tidak ada. Sanak keluarga entah dari ibu atau suami ibu pernah beberapa kali datang berkunjung ke rumah. Karena rumah ibu yang di atas sangat sempit akhirnya suami ibu memutuskan untuk membuat rumah di bagian yang kosong yaitu di bawah rumah”
“Berarti ibu harus membongkar rumah ibu yang di bagian atas?”
Bu anih berbalik kepada lira dan mengangguk.
“Alhamdulilah warga di sekitar mau membantu suami ibu jadinya, pengerjaannya bisa di selesaikan dengan cepat”
Aku mengangguk dan berbalik ke belakang, memperhatikan teman-teman yang berada di baris belakang. Semuanya terlihat santai melangkah ditambah lagi suasana sore yang dingin dan udara sejuk di daerah ini yang seperti pedesaan, rasanya aku ingin terus berada di sini.
“Lihat disana, itu rumah-rumahan yang dibuat suami ibu untuk beristriahat sambil menjaga sawahnya”
Kami semua menoleh ke samping kanan dan masih satu kelokan lagi kami semua sampai di rumah kecil itu yang bu anih tunjuk tadi. Kami semua melambai ke arah suami bu anih yang di hanya dibalasdengan lambaian tangan juga dari beliau. Setelah melewati jalanan yang membelok itu akhirnya kami sampai di tempat tujuan.
“Assalamualaikum pak”
Kami semua mengucap salam dengan serempak dan dibalas oleh bapak-bapak yang duduk di rumah kecilnya.
“Waalaikumsalam, wah kita kedatangan tamu ternyata bu?”
__ADS_1
Bu anih menyalim tangan suaminya disertai kami juga yang melakukan aktivitas yang sama dengan bu anih.
“Iya pak, ini lira anak majikan ibu dulu. Yang pernah datang kesini pas masih kelas enam SD”
Lira tersenyum malu, dan kami semua akhirnya disuruh duduk di rumah jaga kecil itu. setidaknya rumah kecil ini mampu menampung kami semua. Walau harus duduk berdempet-dempetan.
“Sekarang kamu sudah sebesar ini nak, dulu waktu pertama kali kesini kamu tingginya masih segini”
Suami bu anih yang ku ketahui ternyata bernama pak hasan menunjuk bagian pingganya.
“Iya pak sekarang kan lira sudah SMA, kan tidak lucu kalau anak SMA tingginya masih di pinggang bapak”
Kami semua tertawa mendengar guyonan dari lira. Suasana di rumah kecil ini jadi sangat ramai sekali karena pembicaraan kami yang semakin tidak berarah mulai dari perjalanan kami ke rumah keluarga bu anih, kendala yang kami hadapi di jalan sampai pembahasan ubi rebus dan segelas teh hangat yang enak sekali tak luput dari pembicaraan kami. Ditambah lagi dion yang memang sering menawarkan humor garing dan receh yang semakin menambah meriah suasana. Rasanya aku ingin terus berada di sini bersama mereka semua.
...
Sore menjelang dan senja mulai menggoreskan pemangan indahnya di langit, pemandangan senja disini sangat jelas sekali terlihat. Suasana yang tidak pernah kudapatkan semenjak aku tinggal di daerahku bersama dengan ayah, ibu dan juga lintang. Ah apa kabarnya mereka semua, aku sangat ingin bertemu dan mungkin jika berkesempatan aku ingin megajak mereka semua kesini. Ke daerah ini. Aku terus saja menghayal dan berandai-andai sampai suara dan tepukan di bahuku membuatku sedikit tersentak.
“Ayo kita pulang nak”
“Iya bu”
Aku mengangguk lalu memasang sendalku dan menyusul rombongan kami untuk pulang. Perjalanan beberapa menit kami di pinggiran sawah diisi dengan nyanyian tak jelas dari fika dan dion yang sangat-sangat PD menyebut bahwa suara mereka sekeren artis terkenal. Benar-benar gila, mungkin mereka overdosis makan ubi rebus sehingga kelakukannya seperti itu.
“Kalian jika ingin mandi harus bergantian ya nak, soalnya kamar mandi ibu cuma satu itu pun ada di belakang”
Kami semua mengangguk dan mulai bersiap-siap untuk membersihkan diri. Dimulai dengan kami yang perempuan dan terakhir anak laki-laki.
“Segar sekali. Berasa lagi di puncak”
Seru dion yang terkahir bergabung bersama kami di ruang makan. Bu anih tak memiliki meja serta kursi untuk makan beliau biasanya duduk dan makan di dekat dapur. Itu kebiasaan orang yang tinggal di daerah sini.
“Kalian kalau mau tambah silahkan, jangan sungkan-sungkan”
Dion dan kak kevin langsung berebut mengambil sendok nasi dan menambahkan lauk di piring mereka masing-masing.
__ADS_1
“Kakak dan dion walaupun bu anih bilang jangan sungkan-sungkan seengaknya jangan malu-maluin kayak gini dong”
Dion dan kak kevin langsung melepas sendok nasi yang mereka pegang sedang fika langsung tersenyum dan megambil nasi lagi di bakul. Ah fika ternyata kamu sama saja. kami semua tertawa pelan melihat aksi fika, suasana makan malam ini adalah yang paling ramai yang pernah kulalui. Dulu kami paling berkumpul hanya batas maksimal lima orang karena ditambah dengan indah. Tapi semenjak indah meninggal dan ayah yang mengidap penyakit tersebut, akhirnya hanya aku, lintang dan ibu yang mengisi meja makan. Aku merindukan mereka, sangat-sangat rindu.
“Biar kami saja yang membersihkan piring kotornya bu”
Kak naisyah langsung mengambil piring kotor dari tangan bu anih dan membawanya ke tempat cuci piring.
“Ibu dan bapak istirahat saja atau tidak mengobrol lah dengan kak kevin dan dion”
Aku berkata pelan kepada bu anih dan beliau hanya tersenyum.
“Ibu tidak ingin merepotkan kalian. Kan disini kalian sebagai tamu”
“Walaupun kami tamu tapi kami tidak ingin merepotkan tuan rumah dengan pekerjaan yang jelas-jelas bisa kami lakukan bu. Biar kami saja yang membereskan ini. dijamin akan bersih bu, tenang saja”
Bu anih memukul pelan bahu lira dan tersenyum, lalu berjalan menuju ruang tamu menyusul suaminya.
“Aku sangat-sangat senang berada disini. Aku langsung tidak mau pulang”
Fika merengek sambil mengelap papan rumah bu anih yang masih kotor.
“Sama fika, aku juga tidak ingin pulang. Baru beberapa jam kita dinisi aku sudah sangat betah”
Lira menimpali perkataan fika dan sibuk menata piring yang sudah ku bilas dengan air.
“Sayang sekali kita disini hanya lima hari”
Hanya lima hari. Itu adalah kesepakatan yang kami buat, hanya lima hari. Walaupun kami libur selama dua minggu tapi kak kevin harus mengurus surat-surat yang ia butuhkan untuk masuk ke perguruan tignggi negeri di kota yang akan ia tuju. Maka dari itu kita hanya akan menginap disini selama lima hari.
“Walaupun begitu mari kita semua manfaatkan waktu yang ada untuk bersenang-senang, tapi jangan lupa juga untuk misi awal yang sudah kita rencanakan”
Kami semua serempak mengangguk menanggapi kalimat kak naisyah dan detik selanjutnya kegiatan yang kami lakukan berlanjut dan kami pun sibuk pada kegiatan masing-masing.
...
__ADS_1