DARAH KELULUSAN

DARAH KELULUSAN
Korban Selanjutnya


__ADS_3

Aku dan lira sampai di ruangan putih tempat dimana kelompok “SURGICAL GLASSES” sering berkumpul.


"kenapa yang lain belum datang?”


Lira hanya mengedikkan bahu, sedang aku memilih duduk di kursi panjang dekat jendela.


“Sekarang sudah pukul tujuh lewat beberapa menit”


Lira memperhatikan jam di pergelangan tangannya.


“Apa fika dan dion sedang mengerjai kita bi?”


“Tidak mungkin lira. Lagipula untuk apa dion dan fika mengerjai kita? Tidak ada manfaatnya juga kan?”


Aku melirik sekilas pada lira sambil tersenyum dan kembali memperhatikan ilalang yang tumbuh semakin tinggi.


“Bisa saja karena mereka iseng”


Lira cemberut dan duduk di dekatku. Beberapa menit lenggang suara pintu yang berderit mampu membuat fokus kami berdua langsung mengarah ke pintu.


“Kalian cepat sekali datangnya”


Kak naisyah tersenyum kepada kami berdua.


“Iya kak, gara-gara bintang yang takut datang terlambat akhirnya kami datang terlalu cepat”


Aku mendelik kepada lira, bukannya yang tadi heboh dan hampir memakai seragam sekolah ke sini itu dia.


“Kak pengumuman kelulusan kelas 12 dilaksanakan kapan?”


“kemungkinan jam sepuluh bintang. Kenapa memangnya?”


“Tidak kak”


Aku menggeleng dan kembali fokus menatap ilalang. Ruangan ini tak sesepi tadi, kak naisyah dan lira asyik berbincang-bincang dan mengerjakan TTS di buku yang kak naisyah bawa.


“Kalian sudah berapa lama disini?”


Suara berat nan tegas mengalihkan


l pandangan kami semua ke sumber suara. Di ambang pintu ada kak kevin, fika, dan dion yang tersenyum kepada kami, kecualikan kak kevin yang hanya memandang kami semua dengan datar.


“Sudah dari jam tujuh kak”


Kak kevin hanya mengangguk dan duduk di hadapan kamu semua.


“Saya hanya ingin merayakan acara kecil-kecilan setelah pengumuman kelulusan nanti, di tempat ini. Makanan dan minumannya ada di bagasi mobil”


Kami semua serempak menampilkan senyum sumringah. Tapi hanya sebentar mengingat kelompok yang kami bentuk sudah akan ditinggal oleh satu anggota. Yaitu kak kevin.

__ADS_1


“Saya akan melanjutkan pendidikan di kota malang. Tempat saya dilahirkan. Kalian tetap semangat untuk memecahkan misteri itu, jangan sampai ada korban lagi seperti kejadian sebelumnya”


“Baik kak”


Seruan kami menggema, di ruangan dengan nuansa putih yang kami tempati sekarang.


“Saya akan ke lapangan sekarang, kalian tunggu disini saja”


Kami semua mengangguk patuh dan keheningan menyelimuti ruangan ini setelah langkah kaki milik kak kevin tak terdengar lagi dan menghilang.


...


“Aku tak bisa mendengar apapun dari sini”


Kak naisyah membuka jendela yang ada di dekatnya dan menutupnya kembali.


“Iya kak, sama sekali tak ada suara. Bahkan kepala sekolah yang mungkin menyampaikan arahan dari pengeras suara tidak kedengaran suaranya”


Aku mengangguk dan menyusul bintang keluar dari ruangan.


“Kita tunggu saja disini, lagipula pasti kepala sekolah sedang memberikan ceramah atau wejangan terlebih dahulu kepada kelas 12”


“Benar kata dion”


Aku kembali ke dalam ruangan disusul lira yang langsung duduk di dekat kak naisyah yang kembali sibuk mengisi buku TTS nya.


Kami semua saling berpandangan kecuali kak naisyah yang melontarkan pertanyaan mendadak tadi.


“Aku cuma pernah mengintip ruangan itu kak, tapi tidak ada sesuatu yang mencurigakan atau pun penampakan kecuali tumpukan buku-buku lama dan peralatan olahraga yang sudah tidak dipakai”


Fika menatap kak naisyah yang masih fokus mengerjakan TTS nya.


“Kalau yang lain?”


Jantungku kembali berpacu dan lira hanya bisa menatapku lamat-lamat.


“Aku dan bintang tidak pernah kak, kecuali kalau melewati ruangan itu kami pernah”


Jantungku masih berdetak tidak normal di dalam sana. Sedang lira tampak tenang menjawab pertanyaan dari kak naisyah.


“Kita, sudah beberapa bulan tidak mengecek ruangan itu kan? Dan beberapa bulan belakangan ini tidak ada kejadian semacam orang pingsan di dalam ruangan itu lagi. Apa menurut kalian itu aneh?”


Kami semua saling menatap. Tak ada orang yang pingsan bukannya itu bagus. Kemungkinan ruangan itu memang sudah tak ada makhluk astralnya lagi.


“Itu malah lebih baik kak”


Kak naisyah menatapku sedang fika dan dion sibuk membaca buku.


“Iya, tapi kakak merasa aneh saja. seperti sesuatu itu pernah ada tapi kemudian menghilang begitu saja, apa itu masuk akal. Apa mahkluk itu pergi begitu saja?”

__ADS_1


Aku mengangguk dan kembali mengutarakan pendapatku.


“Aku juga heran kak. Beberapa bulan belakangan memang sudah tak ada suara jeritan dan teriakan dari dalam ruangan itu. Sejujurnya itu hal yang baik. Sekolah kita setidaknya sudah tak ada gangguan dari makhluk gaib. Tapi aku setuju dengan pendapat kakak, apa makhluk itu memang pergi begitu saja?”


Aku menatap kak naisyah dan ia hanya mengangguk membetulkan kalimat yang kusampaikan sedang fika dan dion langsung menghampiri kami yang duduk di kursi panjang dekat jendela.


“Aku juga heran kak, beberapa kali aku lewat di depan ruangan itu untuk ke kantin mbak yu, hawa di sekitar ruangan itu tidak menakutkan seperti dulu pada saat aku dan teman-temanku lewat disana”


Dion langsung menimpali ketika ia sampai di hadapan kami.


“Eh sekarang sudah jam berapa?”


Suara dari fika membuat kami semua kaget dan langsung melirik jam yang tergantung di atas pintu yang tertutup.


“Sudah pukul sebelas, kenapa tidak ada suara sama sekali dari luar. Padahal kalaupun ada teriakan pasti akan terdengar walau samar. Apalagi jika kakak kelas berteriak heboh karena mereka semua lulus pasti akan terdengar”


Dion menatap kami bergantian dan aku hanya mengangguk.


“Iya aku juga heran”


Lira menimpali perkataan dion dan membuka jendela di dekatnya.


“Tak ada suara bahkan kalau jendela ini dibuka”


Kami semua saling berpandangan.


“Kalau begitu ayo kita keluar saja”


Ajakan dion langsung disetujui oleh kami semua. Baru beberapa langkah kami hampir sampai ke pintu teriakan heboh samar-samar terdengar. Kami semua saling menatap dan tersenyum. Teriakan itu masih tidak berhenti dan membuat kami semua yang berada di dalam ruangan penasaran akan apa yang terjadi di luar. Baru saja dion hendak memegang gagang pintu, pintu itu malah terbuka secara paksa dari luar dan memperlihatkan kak kevin dengan seragam yang acak-acakan serta keringat yang menetes di bagian pelipisnya langsung mengagetkan kami semua.


“Ada apa kak?”


Fika langsung menghampiri kak kevin yang terduduk lesu sambil menyembunyikan wajahnya di telapak tangan.


“Kita terlambat”


“Terlambat apa maksud kakak?”


“Makhluk itu... makhluk itu kembali dan korban yang ia ambil bukan hanya satu tapi lima orang”


Aku dan lira langsung berlari meninggalkan ke-empat anggota “SURGICAL GLASSES” di dalam ruangan itu. Kami berdua terus berlari di lorong yang diselimuti hawa dingin yang menusuk, dan sesampainya di tempat tujuan. Suara tangisan langsung menyambut kedatangan kami. Tak ada kebahagiaan yang terpancar di hari yang seharusnya istimewa kelas 12, yang ada hanya jeritan pilu dan tangis tertahan yang mampu mengantarkan kepergian lima korban dari makhluk gaib itu kembali.


...


Note :


Terimakasih kepada pembaca sekalian yang telah mampir dan membaca cerita ini. Terus dukung cerita DARAH KELULUSAN dengan memberikan like dan komentar yang baik.


Jangan bosan untuk menunggu next partnya. Sekali lagi terimakasih kepada readers yang telah membaca cerita ini.

__ADS_1


__ADS_2