DARAH KELULUSAN

DARAH KELULUSAN
Rumah Sri Weningsih


__ADS_3

Kak kevin menghentikan laju mobilnya ketika kami sampai ke sebuah rumah panggung dengan papan nama di depan pagar kayu yang bertuliskan Rumah Sri weningsih. Kalimat itu mampu membuatku meneguk salivaku dengan rasa tak nyaman. Kami semua Akhirnya turun dari mobil dan membongkar barang-barang kami di bagasi mobil. Lira dengan langkah yang menggebu, langsung berteriak di depan rumah yang terlihat sepi itu.


“ASSALAMUALAIKUM, BU. BU ANIH, INI LIRA”


“BU ANIH”


Setelah berteriak dengan sekuat tenaga akhirnya lira berhenti dan memilih duduk di bangku yang terbuat dari bambu yang besarnya bisa menampung kita semua sekaligus barang yang kami bawa.


“Halamannya bersih, dan juga terawat. Sangat tidak mungkin kalau rumah ini tidak ada penghuninya”


Dion berkata demikian lalu beranjak dari duduknya dan menengok ke atas pohon mangga yang ada di depan rumah milik keluarga bu anih.


“Iya, apa bu anih sedang tidak ada di rumah ya bi?”


Lira bertanya kepadaku yang hanya kujawab dengan gelengan kepala tanda tidak tahu.


“Lalu kita harus bagaimana?”


Fika bertanya dengan intonasi pelan dan merebahkan tubuhnya di atas bangku bambu ini. diikuti juga dengan kak naisyah.


“Kita tunggu saja beberapa menit”


Kami yang perempuan mengangguk, sedang dion dan kak kevin memilih duduk di batang bawah pohon mangga. Beberapa menit berlalu tidak ada tanda-tanda kehadiran seseorang ataupun ada orang yang menyahut dari dalam rumah. Para tetangga di rumah bu anih juga tidak ada yang muncul, seberapa keras lira memanggilnya. Lira sudah ingin naik ke rumah panggung itu tapi sebelum niatnya terlaksanakan jari telunjuk dion membuat kami semua berbalik ke belakang.


“Kalian siapa?”


Aku melirik lira sedang ia langsung mengembangkan senyumnya, dan berhambur memeluk seorang ibu yang mungkin lebih tua dari ibunya.


“Lira sudah dari tadi disini. Tapi ibu tidak ada. Ibu darimana?”


Kamu semua menyalim perempuan paruh baya di hadapan kami yang tak lain adalah bu anih, ibu dari sri weningsih.


“Oalah kamu lira toh? adu kamu sudah sebesar ini sekarang nak. Ibu dari sawah, mengatarkan makanan ke suami ibu”


Lira hanya tersenyum merespon ucapan bu anih.


“Aduh kalian ramai-ramai datang kesini, tapi rumah ibu kecil saja. tidak apa kan?”


Kami semua mengangguk dan mengikuti langkah kaki bu anih masuk ke dalam rumah.


“Kalian disini saja dulu, ibu tadi membuat ubi rebus. Sebentar ibu ambilkan”


Bu anih melangkah ke dalam ruangan dan naik melalui tangga kecil di dalam rumah. Sedangkan kami sibuk menata barang-barang yang kami bawa dengan rapi di satu tempat. Beberapa menit berlalu bu anih kembali ke tempat kami dengan membawa nampan yang berisi teh dan ubi rebus. Sebuah makanan yang sangat enak dimakan apalagi perjalanan kami kesini yang walaupun tidak jauh tapi tetap saja menguras tenaga. Aku mengucapkan kata terimakasih kepada bu anih yang sekarang ada di sampingku dan bu anih hanya tersenyum sambil menyuruhku untuk mengambil lagi ubi rebus. Setelah acara makan siang dengan ubi rebus dan segelas teh hangat. Kami yang perempuan akhirnya memilih beristirahat sejenak dan merebahkan tubuh di kasur yang ada di lantai satu rumah panggung milik bu anih.


“Aku sangat kenyang, sampai-sampai mau tertidur”

__ADS_1


Kami semua mengangguk menanggapi ucapan kak naisyah. Kekenyangan membuat mataku sedikit demi sedikit terpejam dan akhirnya kami semua tidur dalam posisi yang sangat kacau.


...


Jam kecil yang tergantung di papan tripleks menunjukkan pukul dua tepat. Aku merenggangkan tubuhku dan berdiri menuju ke luar rumah bagian belakang tempat kamar mandi berada. Aku membasuh wajahku dan merinding pelan merasakan dinginnya air yang menyentuh kulitku. Ah rasanya segar sekali. Aku berujar demikian dan langsung kembali ke dalam rumah. Aku berpapasan dengan kak naisyah di ambang pintu yang bilang bahwa dirinya kebelet pipis. Aku hanya tersenyum sambil melanjutkan langkahku dan bertemu dengan fika dan lira yang duduk bersebelahan di tepi ranjang.


“Aku sangat mengantuk, tapi kalau tidur terus itu mungkin bukan pilihan yang tepat”


Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan fika.


“Kamu sudah dari tadi bangun bi?”


Lira bertanya kepadaku dengan mata yang masih susah untuk terbuka dengan normal.


“Tidak juga, tapi aku sudah membasuh wajahku dengan air. Jadi aku tidak mengantuk lagi”


Aku membuka mataku lebar-lebar di hadapan lira.


“Yasudah kalau begitu aku juga ingin ke kamar mandi”


Lira sudah berdiri tapi aku langsung menarik tangannya.


“Di kamar mandi ada kak naisyah, jadi kamu tunggu disini saja dulu”


Lira mengangguk dan kembali duduk dengan lesu di tepi ranjang.


Aku bertanya kepada kedua orang yang ada di hadapanku sekarang.


“Enaknya sih pergi ke luar jalan-jalan atau sekedar menghirup udara segara di daerah sini”


Lira langsung mengangkat jempolnya tepat di hadapaan fika yang membuat fika langsung membelalakkan matanya.


“Astaga aku kaget tau ra”


Fika mengusap dadanya pelan.


“Lagi serius ngobrolin apa nih?”


Suara kak naisyah yang baru muncul membuat kami semua langsung menatap ke arahnya.


“Lagi mikirin rencana yang pas buat habisin waktu disIni kak”


“Ide yang bagus tuh”


Kak naisyah langsung menarik sebuah kursi kayu kecil yang ada di dalam rumah dan duduk di hadapan kami semua.

__ADS_1


“Apa kakak punya ide?”


Aku melontarkan pertanyaan kepada kak naisyah sedang kak naisyah hanya memegang dagunya sambil menatap ke atas.


“Mungkin jalan-jalan ke sawah milik bu anih itu seru”


Kami semua saling bertatapan dan hanya dengan satu anggukan kepala kami menyetujui ide dari kak naisyah.


...


Aku keluar dari dalam rumah dan bertemu kak kevin dan dion yang sedang membantu bu anih menjemur mangga yang sudah di potong kecil-kecil.


“Ini apa bu?”


Lira yang mungkin baru pertama kali melihat hal seperti itu langsung bertanya kepada bu anih.


“Ini mangga yang ibu sudah potong lira. Ibu mau jemur ini, supaya bisa dijadikan bahan masakan”


“Bahan masakan?”


Lira yang kembali bingung lantas mengajukan pertanyaan lagi kepada bu anih.


“Iya. Biasanya kalau ada ikan yang suami ibu beli di pasar, nanti mangga-mangga yang sudah kering ini ibu jadikan sebagai pengganti asam”


Lira mengangguk, dan setelah pertanyaannya sudah tidak ada lagi ia membantu bu anih untuk menjemur mangga-mangga muda itu.


“Bu rencananya aku sama teman-teman mau ke sawah, sekalian jalan-jalan”


“Iya silahkan, ibu juga akan pergi ke sana. Tapi kalau kalian mau pergi tunggu sampai sore, kalau masih jam segini kita pergi kesana masih sangat panas sekali”


Kami semua serempak mengangguk, dan melanjutkan kembali membantu bu anih. Waktu berjalan dengan cepat setelah menghabiskan waktu untuk menjemur beberapa mangga muda yang telah dipotong menjadi beberapa bagian, kami pun bersiap-siap untuk pergi ke sawah.


“Oh iya bu, tadi lira kan berteriak-teriak di depan rumah ibu. Tapi, tidak ada satu pun dari tetangga ibu yang keluar rumah atau merasa terganggu. Apa di samping kanan dan kiri rumah ini tidak ada penghuninya?”


Lira bertanya sambil berjalan pelan di samping bu anih.


“Ada nak, tapi biasanya ibu-bu dari penghuni rumah itu ketika pagi pergi memetik teh di kebun. Dan baru pulang ketika adzan maghrib. Kalau untuk suaminya pekerjaannya sama seperti suami ibu yaitu mengurusi dan menjaga sawah”


Bu anih berujar pelan dan kami semua menganggukkan kepala tanda mengerti akan perkataan bu anih.


“Kalau ibu sendiri setelah mengantarkan makanan ke sawah untuk bapak, ibu hanya di rumah?”


Bu anih menggeleng dan tersenyum.


“Tidak ibu biasanya juga pergi ke kebun teh setelah mengantar makanan untuk bapak. Ibu memilih bekerja sebagai pemetik daun teh supaya tidak bosan dan hanya di rumah terus. Tapi berhubung kalian ada disini mungkin ibu hanya akan tinggal dulu di rumah selama beberapa hari”

__ADS_1


Kami semua tersenyum dan berjalan dengan antusias menuju ke sawah milik suami dari bu anih. Hari ini di sore yang sangat hangat kami akan menghabiskan waktu yang menyenangkan untuk bermain di sawah.


...


__ADS_2