
Lira berpamitan kepada ayah dan ibu di ruang tamu, sedang aku hanya bisa mengatarkan ia sampai ke depan pintu rumah.
“Maaf ya bi. Aku tidak bisa menginap”
Aku mengangguk dan tersenyum memaklumi kepada lira. Ibunya tiba-tiba jatuh dari tangga dan kakinya terkilir. Dan ayah lira datang menjemputnya di rumah untuk pulang merawat ibunya.
“Tak apa. Ibumu butuh kamu ra, pasti ibumu membutuhkan bantuanmu di rumah”
Lira mengangguk kemudian masuk ke dalam mobil sambil melambaikan tangannya kepadaku. Aku masuk kedalam rumah setelah kupastikan bahwa mobil lira sudah benar-benar pergi.
“Aku tetap tidak setuju, kalau ayah membawa lintang pergi”
Aku duduk di sebelah ibu yang mengusap rambut lintang yang tergerai.
“Pikirkan sekali lagi bintang. Kamu jangan egois”
“Yah, bintang bukannya egois hanya saja ayah snediri pun tidak bisa menjamin keselamatan lintang. Lantas apa yang akan ayah ajukan jika tiba-tiba peyakit ayah kambuh dan membunuh lintang seperti indah pada waktu itu bagaimana?”
Ibu menepuk pelan lenganku dan mengusap jemariku.
“Ayah tidak punya solusi selain itu bintang”
“Bagaimana kalau tabib itu saja yang kita undang ke rumah”
“Tidak bisa bintang, ayah sudah ke kampung untuk meminta tabib itu datang, tapi ia malah meminta lintang yang harus datang sendiri ke rumahnya”
Aku menatap gusar pada ayah. Apa tak ada jalan keluar lain.
“Ayah akan berusaha mencari jalan keluar”
“Memang itu tugas ayah, dan lagi jangan pernah lupakan hal yang terjadi pada masa lalu. Harusnya ayah belajar dari kejadian itu”
“Bintang jangan bicara seperti itu pada ayahmu”
“Terus bintang harus apa bu? Melupakan kejadian mengerikan itu? berusaha memaklumi perbuatan ayah pada indah?”
“Ayah melakukan hal itu karena ayah tidak bisa mengedalikan diri bintang. Kamu kira ayah akan melakukan hal sekeji itu ketika ayah sadar?”
Aku menatap ibu, perkataan ibu memang benar, hanya saja aku masih tak bisa menerima perlakukan ayah pada indah, sahabat masa kecilku, teman sepermainanku. Orang yang selalu bisa melindungiku, ia dibunuh oleh ayahku sendiri. Dan bukan hanya itu indah mati mengenaskan dengan kaki yang digantung di kamar yang sekarang ku tempati dengan lintang. Indah mati terbunuh dengan pisau yang menancap di dadanya, dan sialnya aku melihat kejadian itu tepat di depan mataku sendiri. bahkan aku yang masih umur 5 tahun dan indah yang berumur 8 tahun, harus mengalami kejadian seperti itu. Aku melihat ayah yang menusuk setiap bagian tubuh indah dengan ganas, sampai-sampai darahnya yang terciprat mengenai wajahku. Baunya amis dan yang lebih ku sesali adalah aku tak bisa melakukan apapun pada saat itu. Setelah kejadian itu, ayah mengubur mayat indah di belakang rumah tepatnya di gudang belakang rumah kami. Tempatku sering bermain dengan indah dahulu.
“Aku mengerti yah, hanya saja aku masih khawatir akan keselamatan lintang”
Ibu mengusap pelan punggungku.
“Bukan hanya kamu yang khawatir, ayah sendiri pun masih tidak yakin bintang. Tapi ayah juga tak ingin lintang sama seperti ayah nak”
__ADS_1
Aku menatap iba kepada ayah, pasti hari-hari yang ayah lalui sangat berat ditambah lagi pergaulannya dengan kuli bangunan itu.
“Ayah janji akan membawa lintang pulang dengan selamat, jadi jangan khawatir”
Ayah memelukku dan mengusap lembut rambutku. Rasa hangat langsung menjalar di sekujur tubuhku. Kasih sayang ayah yang ku rindukan ahirnya aku bisa merasakannya lagi. Sayangnya aku tau kasih sayang yang aku dapatkan pada akhirnya pasti hanya akan menjadi kesengsaraan yang harus ku alami kedepannya jika masih terus bertahan untuk hidup bersama kembali.
“Besok pagi-pagi ayah akan membawa lintang. Kemungkinan sampai ke kampung, jam 12 siang. Itupun kalau jalanan yang kami lewati tidak ada halangan”
Aku memejamkan mataku berusaha berpikir di sela-sela kalutnya pikiranku saat ini.
“Aku ada solusi bu, yah”
Aku menatap kedua orang tuaku bergantian. Semoga saja pendapatku bisa diterima oleh ayah dan ibu.
“Bagaimana kalau ibu ikut saja ke kampung ayah”
Ibu menatapku kaget.
“Tidak bisa, ibu tidak bisa meninggalkan kamu sendirian disini bintang. Apalagi beberapa hari kedepan kamu akan menghadapi ujian kenaikan kelas. kamu pasti akan repot jika tinggal sendirian”
Aku mengusap lengan ibu berusaha meyakinkannya.
“Tak apa bu, ini semua demi kebaikan lintang. Aku tak ingin lintang menghadapi masalah yang rumit kedepannya”
Aku berbalik melihat lintang yang tertidur di kursi.
Aku mengangguk dan ayah pun melangkah menuju ke kamar bersama dengan lintang yang berada di gendongannya.
“Bu, aku mohon ibu ikut bersama ayah. Aku masih tidak yakin dengan sikap ayah yang bisa saja berubah kapan saja. Ditambah lagi....Jika ayah mengetahui kemampuan lintang, pasti ayah akan sangat marah besar. Aku hanya tidak ingin lintang bernasib sama dengan indah, dan dulu ayah sangat marah besar ketika mengetahui indah punya kemampunan sama sperti bintang dan lintang kan? Ibu sendiri yang berkata demikian?”
Ibu mengangguk dan tersenyum kepadaku.
“Ibu akan ikut, jangan khawatir ibu akan menjaga lintang dengan baik. Doakan kami selamat sampai tujuan dan kembali juga dalam keadaan selamat”
Ibu memelukku dan aku hanya bisa membalas pelukannya.
“Tapi kamu akan susah jika tinggal sendirian di rumah bintang”
“Aku sudah memikirkan akan menginap di rumah lira, selama ibu ayah dan lintang pergi”
“Apa kamu sudah membicarakan ini dengan lira”
“Belum bu, tapi sore ini aku akan ke rumah lira menyampaikan niatku”
“Kalau orang tuanya tidak mengijinkan bagaimana nak?”
__ADS_1
“Aku yakin orang tua lira mengijinkan bu. Yakin saja”
Aku mengusap kembali lengan ibu, mencoba menghalau rasa khawatirnya.
“Em, yasudah bu kalau begitu bintang ke rumah lira dulu. Mungkin lebih cepat lebih baik. Supaya ibu bisa merasa lega”
Ibu hanya mengangguk dan aku langsung bergegas mengganti baju untuk ke rumah lira.
.....
“Kamu kenapa bintang?”
Aku tersentak ketika mendengar suara lira.
“Tak apa, aku cuma lagi memikirkan tugas dan persiapan untuk ujian”
“Kita memang tidak berteman dari dulu bi, tapi satu tahun cukup untuk aku mengenal setiap permasalahan yang kamu hadapi”
Aku menoleh kepada lira, dan menghembuskan napas berat.
“Aku akan sangat senang jika kamu mau berbagi permasalahanmu kepadaku bi. Kita sahabat dan sudah seharusnya aku membantumu menyelesaikan masalahmu taau memberimu solusi plus saran untuk setiap hal yang kamu hadapi sekarang”
“Maaf lira, saat ini aku tak bisa menceritakan permasalahnku”
Lira hanya menepuk bahuku pelan.
“Aku mengerti bi. Tapi kalau kamu butuh teman untuk berbagi masalah kamu bisa datang kepadaku”
Lira tersenyum di sampingku, membuat perasaanku sedikit merasa lebih lega.
“Tapi serius kan ibu dan ayahmu mengijinkan aku menginap disini selama beberapa hari sampai orang tuaku pulang dari kampung”
“Tenang saja, ibu dan ayahku malah akan senang jika aku punya teman ketika mereka sedang sibuk, dan lagi kamu bisa membantuku merawat ibuku selama beberapa hari”
Aku mengangguk dan berpamitan pada lira untuk pulang kembali ke rumah, agar bisa memberitahukan hal ini kepada ibu. Tuhan selamatkan semua orang yang kusayangi. Jagalah mereka dan lindungilah mereka. Lintang adik yang paling kakak sayangi, semoga kamu bisa sembuh.
...
Note :
Terimakasih kepada pembaca sekalian yang telah mampir dan membaca cerita ini. Terus dukung cerita DARAH KELULUSAN dengan memberikan like dan komentar yang baik.
Jangan bosan untuk menunggu next partnya. Sekali lagi terimakasih kepada readers yang telah membaca cerita ini.
...
__ADS_1
FOR READERS FROM AUTHOR :
Kepada readers sekalian yang masih setia menunggu cerita darah kelulusan, author sangat mengucapkan terimakasih banyak. Maafkan author yang dari beberapa hari yang lalu tidak mem-publish kelanjutan cerita ini, dikarenakan tugas-tugas author yang harus dikerjakan.