DARAH KELULUSAN

DARAH KELULUSAN
Kisah Para Penari Ronggeng


__ADS_3

Cerita pak wayan masih berlanjut, sedang kak naisyah juga masih tekun memperlancar gerakannya. Jam putih yang tergantung di samping kanan atas pak wayan sudah menunjukkan pukul 11 siang. Waktu bergulir sangat cepat, dan akhirnya bu anih berpamitan untuk pulang.


“Pak, kalau begitu saya pamit pulang dulu. Mau mengantarkan makanan ke suami saya di sawah”


Pak wayan mengangguk.


“Saya titip anak-anak ini di rumah bapak tak apa kan pak?”


Pak wayan hanya kembali mengangguk dan tersenyum.


“Justru saya senang sekali, kalau ada mereka. Saya bisa berbagi cerita dan pengalamn saya”


Kami semua tersenyum termasuk kak nasiyah yang masih serius berlatih tapi mampu mendengar percakapan dari kami.


“Yasudah kalau begitu ibu pulang dulu. Kalian hati-hati disini”


Kami serempak mengangguk, dan bu anih pun pulang sendiri menuju rumahnya.


“Lalu bagaimana dengan penari-penari ronggeng itu selanjutnya pak?”


“Akhirnya setelah beberapa lama diajar dan dilatih gerakannya oleh istri saya, anak-anak itu pun sudah mulai terbiasa. Gerakannya juga sudah mulai luwes, tapi ada beberapa anak yang waktu itu keluar karena tidak sanggup untuk latihan setaip hari. Waktu itu pertama kalinya anak-anak yang dilatih isteri saya tampil, di panggung yang ada di tanah lapang sana. Kalian sudah lihat?”


Kami semua mengangguk.


“Sudah pak, tadi bu anih mengajak kami kesana terlebih dahulu”


Lira mengajukan jawaban yang membuat pak wayan tersenyum.


“Panggung itu dulunya masih sangat kecil dan tidak ada dekorasinya sama sekali. Hingga warga di daerah sini akhirnya melihat penampilan pertama dari penari ronggeng yang istri saya telah latih, para warga sekaligus penonton waktu itu hanya berdecak kagum. Mungkin karena baru pertama kali melihat langsung penampilan atau pertunjukkan ronggeng. Hingga tahun-tahun berikutnya warga di sini semakin antusias untuk melihat pertunjukan itu. Bapak sangat senang sekali, dan beberapa bantuan dari warga yang ekonominya lebih akhirnya panggung ronggeng yang megah itu pun bisa seperti sekarang ini”


Kami tersenyum melihat pak wayan yang menggebu-gebu menceritakan perjalanan ronggengnya kepada kami.


“Em, apa bapak punya semacam anak didik kesayangan. Maksudnya apa istri bapak punya penari yang amat beliau senangi”


Pak wayan diam sambil berfikir akan pertanyaan yang lira ajukan.


“Ada beberapa termasuk orang yang kalian panggil bu anih tadi. Ada juga anak-anak yang lain. Tapi, ada satu anak yang sangat-sangat istri saya suka melihatnya”


“Siapa itu pak?”


Kami semua menatap pak wayan menanti jawaban dan nama yang akan keluar dari mulutnya.


“Nama anak itu sri weningsih”

__ADS_1


...


Sore menjelang bu anih juga telah kembali kesini untuk menjemput kami pulang. Akhirnya kami semua berpamitan kepada pak wayan.


“Terimakasih telah memperbolehkan saya menjadi penari ronggeng sementara di daerah sini pak, walaupun pada saat malam pergantian tahun baru saja”


Kak naisyah tertawa pelan, yang disambut hangat dengan senyum dari pak wayan.


“Iya nak, besok datanglah kemari untuk latihan lagi. Jangan sungkan-sungkan anggap saja bapak adalah keluargamu sendiri”


Setelah menyalim tangan pak wayan akhirnya kami semua mulai melangkahkan kaki meninggalkan rumah sederhana namun nyaman itu.


“Setelah lama tidak menari ronggeng lagi, badanku rasanya pegal-pegal”


Keluhan itu datang dari mulut kak naisyah sambil meringis memegang bagian lengannya.


“Itu karena kakak juga tidak sering berolahraga dan bergerak banyak jadinya seperti itu sekarang”


Kak naisyah mengangguk membetulkan perkataan dari fika.


“Bu, apa pak hasan dan teman-teman lira sudah ada di rumah?”


“Iya nak”


“Kalian dari mana?”


Dion langsung mengajukan pertanyaannya sebelum kami semua sempat duduk di bangku bambu yang ia duduki sekarang.


“Dari rumah pak wayan”


Dion mengernyit heran begitupun dengan kak kevin yang ada di sebelahnya.


“Beliau orang yang melatih penari ronggeng di daerah sini, karena kak naisyah ingin ikut makanya tadi pagi bu anih mengatar kami kesana”


Fika menjelaskan kepada dion sebelum ia sempat mengajukan pertanyaannya.


“Aku mau mandi dulu”


Kak naisyah akhirnya berlalu dari hadapan kami semua yang masih setia duduk berjejer di bangku bambu ini, kecualikan dion yang sudah terkapar sambil menutup matanya.


“Lalu kamu dan kak kevin, selama di sawah mengerjakan apa saja?”


“Tidak ada, kami hanya tidur-tiduran disana sambil menikmati suasana nyaman, tenang dan damai daerah sini”

__ADS_1


Ah pasti disana udaranya sangat sejuk sekali, ditambah angin sepoi-sepoi yang langsung menerpa tubuh. Aku terdiam sejenak menikmati bayangan ketenangan itu di dalam pikiranku.


“Besok kami akan ke rumah pak wayan lagi kalian mau ikut?”


Dion langsung bangun dari tidurnya dan membuka mata lebar-lebar.


“TIDAK”


Fika yang ada di sebelahnya langsung mengusap kupingnya dan memukul bahu dion dengan keras.


“Mulutmu itu ada speaker di dalamnya ya? Sampai-sampai suaramu seperti speaker di masjid”


Cecar fika yang langsung dihadiahkan tatapan maaf oleh dion.


“Tidak aku tidak ingin kesana, kalian saja yang pergi”


“Kenapa? Disana banyak mbak-mbak penari yang cantik loh”


Lira menggoda dion yang hanya dibalas dengan tatapan malas dari dion.


“Aku takut melihat acara ronggeng”


Fika yang ada di sebelah dion langsung terbahak-bahak, sambil sesekali mengusap ujung matanya yang mengeluarkan air mata akibat tertawa.


“Apa yang kamu takutkan dion? Penari-penari ronggeng itu tidak akan memakanmu atau menculikmu. Lagipula aku juga tidak pernah mendengar ata melihat orang yang mati jika menonton acara ronggeng. Lantas?”


Dion hanya mengangkat bahunya, ketika suara lira memecah kebisingan tawa fika.


“Tak ada alasan aku hanya takut. Para penari ronggeng itu bahkan ketika menari tidak pernah tersenyum. Apanya yang menarik dari itu semua?”


Aku membenarkan perkataan dion di dalam hati dan tersenyum, aku merasa seperti ada teman yang mendukung alasan tidak masuk akalku itu untuk tak menonton acara ronggeng di malam pergantian tahun baru.


“Tentu saja acara ronggeng itu menarik, disana nantinya kita bisa berinteraksi juga dengan warga di daerah sini. Ronggeng itu menarik dion, kamu tidak kagum dengan penarinya yang mampu konsisten dalam menghidupkan tarian itu. Ronggeng itu tarian yang penuh dengan kisah di dalamnya. Kalau kamu mengamati lebih baik lagi kamu pasti akan menyukainya”


“Ya terserah kamu sajalah ra, aku akan ikut saja menonton acara itu. Tidak mungkin juga kan aku tinggal di rumah ini sendirian. Itu lebih menakutkan lagi dibanding dengan menonton pertunjukan ronggeng”


Lirra mengangguk dan kami semua pun akhirnya masuk ke dalam rumah, membersihkan diri lalu makan malam bersama kembali dengan kelurga bu anih.


...


Terimakasih telah membaca karya saya. Tetap dukung karya ini dengan memberikan komentar, kritik dan saran yang membangun. jangan lupa juga untuk tekan tombol favorit dan like. Cerita ini saya usahakan terbit setiap hari seperti dulu jadi nantikan terus yah.


Thank's all. I hope you like it and enjoy read my story.

__ADS_1


__ADS_2